
"Ini terakhir kalinya kakek masuk ke kamar Mery!" ucap Agriel dengan wajah kesalnya.
Nandhaya pun tidak kalah tajam, dia memukul kepala cucunya itu dengan tongkat andalannya.
"Panggil aku Master!" ucapnya.
"Ck! Kau kakekku! Bukan master!"
"Sudah aku bilang, aku tidak suka panggilan kakek! Kau buta, ha? Atau mungkin baru katarak?" tanya Nandhaya membuat Agriel memutar bola matanya malas.
"Aku segagah ini kau panggil Kakek? Di mana harga diriku, kawan?" Gayanya bagaikan punya otot kekar, padahal sudah kempes. Nandhaya seakan lupa, tidak memakai gigi palsunya.
"Gagah dari mana, makan bakwan saja terseok-seok!" ucap Agriel keceplosan. Menutup mulutnya rapat, dan berdoa semoga telinga tua bangka di depannya itu sudah sedikit budeg.
"KAU BICARA APA AGRIEL?" teriak Nandhaya, melotot tajam.
"Ingat tanda tanganku nanti—"
"Kau tidak akan mendapatkan harta gono-gini. Hidupmu akan melarat, dan miskin. Mery mu pun akan pergi, bersama ku. Dan kau menjadi duda paling menyedihkan." potong Agriel, menirukan ucapan Nadhaya.
"Ingatanku bagus 'kan, Master?" tanya Agriel, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kau sedang mengejekku, lalu berdalih dan memintaku memujimu? Cucu kurang ajar!" dengus Nandhaya marah.
"Ada apa sampai Master ke kamar Mery?" tanya Agriel mulai serius. Menuntun Nandhaya menuju sofa panjang dekat palang tangga. Sofa yang kerap ia gunakan untuk menjaga Mernya. Mery tidak mnegizinkan Agriel untuk tidur bersamanya, walau kadang sedikit bebal dari Agriel. Namun, nampaknya Agriel sedikit sadar dir, dan memilih tidur di sofa panjang besar itu. Bukan ukuran sofa kecil yang kalian bayangkan.
"Aku kecolongan, bodoh!" umpat Nandhaya. Begitu susah untuknya menggagalkan transaksi itu. Desta begitu licik dan teliti. Bagaimana pun Desta adalah anaknya, wajar bukan jika sifatnya sebelas dua belas dengan dirinya.
"Biarkan," ucap Agriel santai.
"Apa rencanamu?" tanya Nandhaya serius.
Agriel tertawa pelan, menatap Nandhaya dengan wajah jenaka. "Bukankah aku yang seharusnya bertanya demikian, Master?" Alisnya terangkat, dengan senyuman khas yang membuat lawan kebingungan.
Nandhaya mengusap wajahnya, "ya kau pintar untuk kali ini" puji Nandhaya.
"Tapi.. Aku tidak suka caramu, Master" ujar Agriel tegas. Menatap Nandhaya tajam.
"Aku tahu, Anouk memang ikut serta dalam rencana ini. Tapi, dia sedang mengandung. Bayi itu adalah pewaris pertama di tiga tahta tertinggi. Aku sudah menyayangi keponakan ku itu. Tidak memandang bagaimana orangtuanya" tegas Agriel.
"Jangan lemah, Agriel!" balas Nandhaya tegas. Membuang jauh wajah jenaka itu.
"Dia memang akan menjadi ahli waris dari tiga tanta tertinggi ku, tapi tetap saja dia anak Desta bagaimana pun dia juga anak Anouk. Bisa kau bayangkan? Darah suci yang di berkati Tuhan sudah tercemar." lanjutnya.
Agriel menghelakan napas, "tidak ada yang suci di sini. Aku, master, papa, bunda, paman dan semua orang. Kita adalah debuan yang di beri singgah sesaat. Debu sombong, penuh akan dosa. Kesalahan begitupun kebajikan. Kita sama Master. Tidak ada yang berbeda. Dosa-dosa seakan adalah beban terberat di bahu masing orang. Semua manusia adalah mulia, tapi pun semua manusia adalah kejahatan. Iblis jahat, malaikat baik, manusia? Bisa keduanya. Aku mencintai keponakanku, dan melindungi dia. Entah laki-laki atau perempuan, kelak dia harus menjadi anakku. Aku akan mengadopsinya. Ku didik dia dengan segala ajaran Tuhan. Sebisa mungkin."
"Aku tidak peduli tentang Anouk, apalagi Desta! Aku tidak peduli! Kau bunuh dan dagingnya kau jadikan menu makan malam pun aku tidak peduli. Tapi, ingat satu hal Master, aku peduli akan gumpalan darah tidak berdosa itu. Kesucian Tuhan seakan ada di dalam aliran darahnya. Aku tidak akan bisa membunuh ciptan berkat dari yang kuasa." lanjut Agriel, meloroh tajam.
Nandhaya menyandarkan punggung rentanya. Menatap langit-langit atap mansion itu dengan banyak bayangan masa lalu. Tawa gentir tersahut tangis yang tertahan.
"Ah! Kenapa harus kau, yang menurunkan watak Anin, Agriel" gumam Nandhaya.
"Ya kau benar, kata-katamu seakan membuka pintu berkat itu sendiri. Firman Tuhan yang menjadi patokan dalam kehidupanmu. Maafkan aku yang terlalu gegabah." lanjut Nandhaya.
"Bagaimana keadaan Anouk? Aku yakin dia sudah tidak berbentuk manusia normal" tanya Agriel, menerawang. Mengingat betapa bengisnya pamannya itu. Tidak kenal ampun dan tidak kenal lawn jenis. Semua dimatanya rata, dan sama.
Nandhaya menggeleng, "aku tidak tahu.. Tapi kabar terakhir yang aku dengar, Desta membawa Anouk ke pulau pribadinya" jawab Nandhaya seadanya.
"Aku sudah berusaha melacak keberadaan Anouk, tapi wanita gila itu hilang tanpa jejak. Desta benar-benar mengurung Anouk bagaikan hewan."
"Aku bantu. Cicitku ada di sana. Aku harus melindungi ahli waris ku sendiri." ucapan itu membuat Agriel tersenyum merekah.
"Ini yang aku inginkan, Kek. Yang pecah biarlah pecah. Aku yang hanya sisa dari kegagalan masa lalu, hanya mempunyai tugas mempersatukan tali kesaudaraan itu. Tidak lebih." Nandhaya terbangun, dan merangkul Agriel, menepuk dua kali punggung kekar itu. "Ya kau benar. Akan aku dukung semuanya Agriel. Harapan satu-satunya hanya kau. Bersihkan Tiga tahta tertinggi dari klan singa putih ini. Putihkan kembali, karena aku menolak singa loreng."
"Loreng cukup untuk zebra." lanjut Nandhaya.
"Oh iya.." celetuk Nandhaya tiba-tiba teringat sesuatu.
"Apa?" tanya Agriel bingung.
"Belikan aku gigi palsu. Malu aku, pdkt dengan gigi rata dengan gusi seperti ini."
"Aku tidak mau mempunyai nenek. Satu kakek saja sudah banyak mau!"
"Yakin? Calon nenekmu masih muda, Agriel."
"Elemery Desinton dan Nandhaya Brahtara. Cocok tidak?" tanya Nandhaya menyulutkan emosi Agriel.
Agriel berdiri dan langsung masuk ke dalam kamar Mery, tidak lupa menutup kencang pintu itu. Tawa Nandhaya terdengar keras, bahkan sampai dadanya mulai sesak. Air mata pun tidak luput keluar, saking lucunya wajah Agriel.
Nandhaya menggeleng pelan, "sampai kapanpun peran Anin dalam hidupku, tetap abadi." lirih kakek tua itu dengan senyuman penuh rindu.
Oh Aninnya, wanita yang amat dia cintai sepanjang hidupnya. Anin, wanita dengan paras elok namun juga penuh dengan misteri.
***
Basta, tertawa keras di dalam ruangan kerjanya. Melihat wajah baru dari semakin melebarnya bisnis raksasa yang ia jalani. Obrama dan Exanta Group, sudah menjadi miliknya. Rasa senang yang membuncah terselimut sebuah kepuasan. Tidak pernah Basta bayangkan, akan seperti ini kejayaan yang ia terima.
Memutar kursi kerjanya dan memainkan pulpen hitam ditangan dengan gaya casual. Lirikan tajam Basta dengan senyuman tidak luntur dari bibir tebal itu.
"Tuan Basta.." panggil Erial, seorang asisten sekaligus sekretaris pribadi Basta. Orang yang amat Basta percayai melebihi dirinya sendiri.
"Duduklah, Erial. Duduk!" ucap Basta dengan nada gembira.
Erial tersenyum disambut kekehan geli, "Tuan sedang sangat bahagia, rupanya"
"Ck! Jangan pura-pura kolot dan bodoh, Erial. Kau tahu sendiri, rencanaku berhasil. Separuh saham Obrama ada di tanganku, sedikit lagi.. Dan semua menjadi milikku." Katanya sombong, menaikkan dadanya gagah.
Erial berdecak kagum, "kau hebat, Tuan. Aku tidak menyangka semudah itu dan secapat itu. Seakan proses hukum di negara ini tidak berlaku." sahut Erial.
Tawa Basta malah kembali besar, seakan melayang dengan pujian yang Erial berikan. Pujian, itu lah yang dia mau. Telinga Basta suka di puji, daun telinga itu akan bersemu merah, dengan senyuman memamerkan deretan gigi—yang sebagian menguning.
"Ya kau benar. Aku sungguh hebat. Dengan sekali trik saja wanita bodoh itu dengan mudah menurut. Tahu begini, dulu aku tidak akan pernah menikahkan anakku dengannya. Menyesal sudah. Tapi tidak masalah, karena pada akhirnya akulah yang penguasa"
"Andaikan saja Tuan."
"Huhhhfft" helaan napas Basta, menyandarkan punggungnya di kursi kerja empuk itu. Mendongak, dengan tatapan penuh penyesalan. "Aku juga sebenarnya tidak setega itu pada Agriel, Erial. Dia anakku, anak semata wayangku. Yang aku inginkan pun ingin anakku menikah dengan wanita yang amat dia cintai."
"Lalu kenapa Tuan menikahkan Anouk dan Tuan muda Agriel saat itu?, yang aku dengar dari ucapan Tuan. Tuan sudah tahu siapa wanita itu" tanya Erial, menaikkan katamata tipis bentuk persegi panjang itu.
"Panjang, tapi yang jelas... Aku merasa ketakutan setiap melihat wajah Mery, wanita yang anakku sukai." celetuk Basta membuat kening Erial berkerut.
"Maksud ada Tuan?" tanya Erial.
Tatapan Basta terpatok pada tatapan Erial yang penuh dengan rasa penasaran. "Aku tidak pernah cerita ini dengan siapapun. Tapi, hari ini perkecualian, untuk mu juga yang bertanya" ucap Basta serius.
Erial diam menyimak, dengan wajah polos bak bayi baru lahir. Tidak ada sama sekali kecurigaan di wajah itu. Membuat Basta duduk tegak, menatap Erial.
"Elemery Desinton. Kau kenal dengan trah Wick-hely?" tanya Basta.
Mata Erial membola, dia berdiri dan bangkit. Bersujud di lantai, ketika mendengar nama trah itu saja. Trah penguasa sepertiga daratan China, kepandaian dalam bidang kedokteran maupun bisnis, sudah meraja lela ke seluruh penjuru dunia. Siapa yang tidak kenal dengan Wick Herlen? Semua orang kenal dengan dokter ahli bedah paling tersohor itu.
Trah Wick-Hely memang menang dalam kekuatan otak. Mereka seakan terlahir untuk pandai.
"Elemery Desinton bukanlah nama aslinya. Mery bernama asli Elemery Wick-Hely. Dia merupakan keturunan terakhir trah Wick-Hely. Kisahnya panjang, karena tidak mungkin Yudha—ayah Neanra, ibu Mery—yang saat itu merupakan pengusaha kaya raya menjdohkan anaknya dengan orang sepele. Desinton Wick-Hely merupakan si bungsu paling nakal, tidak mau susah belajar dan memilih pergi, dan mencintai gila seorang wanita bernama Neanra." cerita Basta, mengingat semua hal di masa lalu.
Rahasia yang ia simpan begitu rapatnya, kini terbongkar begitu saja. Di depan Erial.
"Tuan—demi-demi Yesus? Trah itu masih ada?' tanya Erial penuh tanda tanya.
"Ya kamu benar Erial. Wick-Hely masih ada. Mery satu-satunya pewaris di trah itu" jawab Basta.
"Bagaimana bisa??? Astaga.. Aku syok, Tuan!" pekik Erial tercekik, kaget.
"Hahahaha.. Aku tahu segala hal Erial." decak Basta sombong.
"Kalau boleh saya tahu, dari mana anda tahu Tuan?" tanya Erial menyelidik.
"Lilyana dulu pernah bekerja di Mansion keluarga Yudha." jawab Besta enteng.
"Maksud anda—nyonya?" tanya Erial bingung. Karena setahunya nyonyanya itu tidak pernah bekerja sebagai maid, tapi seorang pengusaha kecil toko pembuatan lilin di ujung kota.
"Bukan. Dia Ai-ku. Lilyana, ja*lang kesayanganku dulu pernah bekerja di sana, di pecat karena ketahuan memasukkan bubuk perangsang ke dalam kopi Yudha, saat itu. Kau tahu sendiri bukan bagaimana Nyonya Yudha saat itu? Sangat galak. Bahkan aku enggan berurusan dengannya, jika tidak mendesak!"
Astaga, sungguh rumit dan panjang sekali hidupmu Mery.
BERSAMBUNG...
Selamat membaca orang baik 💖 dukungannya yaaa, yuk follow juga akun Nana 🤩🧚♀