
Astaga! Satu minggu yang padat, benar-benar padat. Tidak ada celah untuk seorang Mery berlibur, atau sekadar bercongkel suwiran ayam yang hinggap di gigi. Tidak ada waktu! Sialan. Kerjaan menumpuk, minim liburan. Ngadem sih ngadem, tapi kalau otaknya di suruh panas ya gimana ya, jadinya bentrok.
"Hari ini kita survei ke gudang besar PT. Cayao. Tempatnya lumayan jauh dari Villa. Kalian siap?!" tanya Bayu dengan semangat terkobar. Ayo! Sedikit lagi dan pulang. Untuk rombongan Investigasi sesungguhnya, garis bawahi sesungguhnya.
"Siap Mr!!" sertak mereka, sama semangatnya.
Dan perjalanan pun di lakukan dengan mobil, dua mobil untuk mengangkut mereka dan barang-barang yang dibutuhkan.
Benar kata Bayu, perjalanannya cukup memakan waktu, ditambah tadi dipertengahan jalan ada evaluasi kecelakaan beruntun yang menewaskan empat orang, dan dua orang luka-luka. Ambulans tentu memenuhi wilayah kejadian, mobil polisi pun ikut serta.
Membuat macet mendadak. Tapi untungnya, penanganan cepat dan jalanan kembali normal.
Perjalanan kali ini cukup banyak drama, dari yang terhalang evaluasi korban kecelakaan, Tuti yang mabuk darat..
"Aku—hoek..."
"ASTAGA!! TUTI HOEK!!" pelik Leli dan segera membuang molen goreng, untuk diambil plastiknya.
"Leli! Molennya kau buang??" tanya Mery melonggo. Masih sebanyak itu dan berakhir berhamburan di aspal?
"Ya Allah! Leli! Saya belum makan uwes mbok guwang? Innalillahi!! Molen sini padahal enak." geruntu Bayu, mengeluarkan logat jawanya.
"Ya Tuhan! Perut saya masih lapar ini.." sahut Satya.
"Hoek... Maaf, ini saya lagi mabuk. Kok kalian semua malah ribut molen, gak kasihan sama saya?" tanya Tuti sedih.
"Gimana gak mabuk, kamu aja tadi habiskan nasi satu magic com!" celetuk Bayu.
Bukan hanya itu, drama masih di mulai dari Pak Bayu yang tidak mau mengaku kentut, dan berakhir berhenti dulu ke pom bensin, guna setoran. Astaga! Memusingkan, karena semua orang yang ada di mobil sudah mabuk karena kentut Pak Bayu, katanya kebanyakan makan jengkol dan pete.
"Yang kebelet sekalian kekamar mandi." ucap Mery, mendesah kesal.
"Iya, ayo ke kamar dulu.." sahut Pak Satya dan semua rombongan masuk kamar mandi, tak terkecuali Mery.
Sesudahnya, mereka semua mampir ke restoran khas masakan Bandung, yang letakkan tidak jauh dari Pom Bensin. Padahal belum waktunya makan siang, tapi tidak papa, sekalian saja.
Sebenarnya kebersamaan rombongan Investigasi cukup baik, di selingi canda tawa ditengah kemumetan mereka mengatasi banyak masalah. Kekompakkan pun terjalin baik. Mery akui, perusahaan tempat ia berkerja kali ini benar-benar lebih baik dari dari perusahaannya dulu.
Tidak ada yang namanya saling hujat atau menggurusi hidup orang lain. Dan, itu yang Mery mau. Tidak banyak drama.
"Sudah ya.. Ini benar-benar berangkat kita. Gak ada acara berhenti-berhenti. Benar ya? Gak mau ke kamar mandi? Gak mau makan lagi? Gak mau apa-apa. Anteng ya.." ucap Pak Bayu, menengok ke belakang.
Spontan, semua kepala mengangguk mantap.
"Siip! Jalan Mas pardi" ucap Pak Bayu pada supir, yang bernama Pardi.
***
Letak gudang itu benar-benar strategis, jauh dari lingkungan kota. Dibuat jalanan lebar yang kokoh, nampak di peruntunkan untuk truk bermuatan besar. Sekelilingnya di tumbuhi banyak pohon, sekilas seperti hutan buatan. Udaranya tentu saja sejuk, pohon dengan daun yang rindang itu seperti AC buatan. Meneduhkan dan meminalisir baunya gudang penyimpanan.
Mobil yang di tumpangi rombongan Investigasi berhenti di depan gudang pas. Tanpa banyak bicara semua manusia di dalamnya keluar. Menatap bangunan besar dengan minim ventilasi udara. Hanya ada satu pintu utama yang amat besar nan lebar, yang di gunakan sebagi akses keluar-masuk.
"Ayo! Semangat!" ucap Pak Bayu, mengepalkan tangan dan menjunjungnya tinggi. Bagi rombongan Investigasi yang asli, ini adalah hari terakhir mereka melakukan survei. Beda lagi dengan Mery yang harus bertempur dulu dengan Agriel.
"Semangat!" balas mereka tak kalah semangat.
Rombongan itu masuk, dan di sambut baik oleh pemimpin perusahaan sendiri, direktur pemasaran.
"Selamat datang tim survei investigasi dari Ele's Group. Sebuah kehormatan kami, menjadi bahan investigasi survei." sambutnya dengan senyuman paling cerah. Mungkin sinat matahari jadi tersaingi.
"Terima kasih atas sambutan ini. Suatu apresiasi paling tinggi, kami di perkenankan mensurvei perusahaan Cayao." balas Pak Bayu.
Pembagian tugas pun di lakukan, dibawah naungan perusahaan Cayao. Mery yang mendapatkan jatah menuju bagian penyetoran barang kepada para konsumen dan pihak distribusi.
"Keuntungan yang di raup lumayan besar juga," ucap Mery tersenyum ramah.
"Benar Miss Mery, kami sendiri terus melakukan pembenahan dan introspeksi diri untuk menjadi lebih baik." jawab perempuan di sebelah Mery, yang bernama Reri.
Mery mengangguk, menatap sekeliling dan mencatatnya.
"Pintu apa itu?" tanya Mery, menunjuk pada pintu besar di samping penyimpan barang siap antar.
"Gudang juga, Miss Mery. Anda ingin masuk? Sekadar melihat-lihat?" tawar Reri.
Mery menggeleng, melakukan pengamatan di bagian sini saja belum selesai. Menurut Mery gudang itu pun juga sama, menyimpan barang siap setor.
"Di sana tidak hanya berisi barang siap antar. Tapi produksi beberapa barang di lakukan di sini, guna menjaga bahan pokok produksi." ucapnya membuat Mery meleliti pintu besar itu seksama.
"Bukannya di rumah produksi sudah ada?" tanya Mery.
"Benar Miss Mery. Rumah produksi kami memang ada. Tapi untuk pembuatan barang satu ini sedikit beda. Karena kami sangat menjaga kualitasnya, dan jumlah pertahun hanya dapat menghasilkan empat puluh barang. Berbeda dengan barang kami yang lain, dapat memperoduksi ratusan barang setiap tahun. Produk ini pun hanya akan di ekspor ke luar negeri. Penyedian barang di dalam negeri hanya sepuluh persen dari total barang." jelas Reri.
Mery mengangguk, dan dia berjalan menuju proses pengemasan. Di sana banyak pengawai membungkus barang yang siap di setorkan.
Reri berjalan cepat, menyusul Mery. "Miss Mery, saya tinggal sebentar ke depan, ya. Ada sedikit masalah di sana."
"Iya. Terimakasih atas penjelasan mu, tadi." ucap Mery, dan diangguki oleh Reri.
Matanya tidak lepas mengamati pekerja pabrik yang nampak cekatan, mengemas produk.
"Boleh saya mencoba?" tanya Mery, dan diangguki mereka.
"Silakahkan, Nona." sahut salah satu dari mereka.
Mery pun ikut menimbrung, dan terjadilah beberapa obrolan panjang di selingi canda tawa.
Serine tanda bahaya terdengar, begitu cepat sampai-sampai membuat semua orang yang ada di dalam gudang itu panik. Lari ke sana kemari penuh kekalutan. Mereka semua berteriak, menambah kesan bingung. Berhamburan mencari jalan keluar, Mery dibuat bingung. Semua orang menubruknya, dia sendiri juga berusaha menenangkan dan mencari pintu keluar.
"KELUAR! KELUAR! KEBAKARAN!!!" teriak mereka. Asap mengepul begitu saja, berasal dari ruang pengendali mesin. Sepertinya terjadi kesalahan di sana.
Asap, api, kepanikan. Mery kembali mengingat waktu itu, dimana dirinya kalut mencari Bella dan pertolongan.
Antara banyak manusia yang menyelamatkan diri, Merya malah berjongkok. Menutup telinga, dengan keringat dingin membanjiri tubuhnya. Kepalanya mendadak pusing, kacau dengan masa lalu yang membuat trauma. Tidak ada yang peduli, karena mereka semua sibuk menyelamatkan diri masing-masing.
Pandangannya mendadak kosong, ada sebuah tangis kehilangan yang sampai saat ini belum bisa ia keluarkan.
"BELLA!! BELLA!! SAYANG, KAMU DI MANA, NAK!!" teriak Mery, kalut. Berdiri dan semakin masuk ke dalam kobaran api yang kian membakar habis produk yang sudah di kemas itu.
Sedangkan di luar, para rombongan investigasi dan beberapa karyawan di gudang itu, sudah keluar dengan kondisi lemas dan syok.
"Masih ada orang?" tanya salah satu karyawan laki-laki takut.
"Tidak, semua sudah keluar sepertinya."
"HEI! AKU MENDENGAR TERIAKAN PEREMPUAN DI DALAM!!" teriak supir truk bertubuh gempal yang langsung mengajak beberapa pria untuk masuk ke dalam.
BUM!!
Entahlah, ledakkan apa yang ada di dalam, sampai suaranya memekik begitu kencang menebus gendang telinga mereka. Rasa takut semakin menjadi.
"Lebih baik, menunggu pemadam kebakaran datang. Terlalu beresiko!"
"Tapi, Ya Allah." ucapnya pasrah. Merasa kasihan dengan orang yang masih ada di dalam.
"GAWAT!!" teriak Leli, langsung berdiri.
"Ada apa Leli? Kau kenapa??" tanya Tuti, dengan napas terengah.
"Miss—Mery!! Miss Mery tidak ada? Berarti—"
"ASTAGA!!!" pekik Bayu, dengan kepala pening.
"Ya Allah, Nyonya masih di dalam. Bisa mati besok kita, tuan Agriel sampai tahu...."
"Cepat ayo pak Bayu!!" ucap Satya.
"Tolong Miss Mery!!" lanjutnya tersirat nada takut.
"Bahaya Pak! Suara ledakan terus berbunyi dari dalam. Hiksss.... Miss Mery.. Semoga berkat Tuhan selalu di jiwa dan raga mu." gumam Leli, dengan tangan bergetar.
Di tempat lain.
"Tuan—" ucap Ree dengan napas tersendat.
"Ada apa?" tanya Agriel, meletakkan pulpen di tangannya.
"Gudang tempat rombongan Investigasi kebakaran. Dan, Miss Mery terjebak di sana. Maaf—"
Bugh
Satu bogeman mentah, melayang begitu saja mengenai rahang Ree. Ree yang merasa bersalah pun, menunduk takut.
"Tidak becus! Kalau sampai Mery ku kenapa-napa, habis riwayat mu!" umpat Agriel dan berlari meninggalkan Ree.
Ree pun langsung menyusul, dengan jantung yang berdegup kencang.
***
Alam bawah sadar Mery,
"Mery... Nak" ucap seorang pria tua dengan keriput memenuhi kulit tangannya.
Mata Mery mengejap singkat, memegang kepalanya yang begitu sakit. Kornea matanya menyesuaikan cahaya yang ada di sana. Begitu silau. Dengan aroma tumbuhan bercampur tanah, yang begitu pekat.
"Bangun, Nak." ucapnya lagi, mengelus kepala Mery lembut.
Kesadaran telah menguap, membuat Mery menatap kaget orang yang ada di depannya. Desinton, ayahnya.
"Yah?" gumam Mery dengan sesak yang menjalari hatinya.
Bohong jika hati Mery tidak merindukan ayahnya. Di lubuk hatinya terdalam, nama Desinton tetaplah abadi.
"Iya, nak.. Ini ayahmu.." lirih Desinton, dengan air mata berkaca-kaca. Menatap Merynya teduh.
"Bangun, nak..." perintahnya, memegang tubuh Mery. Menuntun anaknya itu untuk bangun.
"Gak bisa, yah. Badan Mery sakit semua.." gumamnya.
"Mery, masih banyak hal yang belum diselesaikan. Bangun nak," ucap Desinton lagi.
Mery menggeleng, entah kenapa dia sudah nyaman tidur di sini. Akar-akar tumbuhan nampak tumbuh apik di tubuhnya. Mery menyukainya, dengan tumbuhan Mery terasa di peluk Tuhan. Tubuhnya seakan menyatu dengan tanah.
"Mery... Anak ayah yang baik. Maafkan ayah, tidak pernah ada di sampingmu. Ayah, terlalu egois untuk menjadi nahkoda rumah tangga. Putri ayah, maafkan ayah karena harus menduakan mu, nak." bisiknya.
Mery menangis, menatap sedu orang yang ada di belakang ayahnya. Di sana, ada Sela dan Elina. Elina.. Gadis itu cantik sekali. Bagaikan bidadari, wajahnya pun tidak sepucat dulu. Sekarang, Mery merasa tersaingi.
"Ucapkan, maaf pada Neanra. Sungguh, aku mencintainya setulus hatiku. Maafkan kesalahan ku, yang mudah terlena pada kepuasan. Neanra, wanita itu.. Adalah cinta pertamaku. Penyesalanku, memang terlalu terlambat."
"Mery... Kembalilah, nak. Masih ada orang yang menunggumu. Tempatmu, bukanlah di sini.." bisik Desinton.
Mery menggeleng, dia tidak bisa. Bagaikan tubuhnya di lem, bahkan untuk bicara panjang saja, lidah Mery terasa kelu.
"Kakak... Maafkan aku dan Buna, ya. Aku sayang kakak.. Lina bantu kakak ya?" suaranya sayup, mata Mery terpejam. Gelap, dengan suara Elina yang masih terdengar.
"Mery sayang.. Maafkan aku. Akan ku jaga mereka. Semoga kelak kita bisa berkumpul. Semoga.. Kamu tidak keberatan, berkumpul bersamaku, dan Elina. Aku, Sela.. Meminta maaf padamu, nak"
Sungguh, hati Mery tertusuk beribu jarum. Kenapa? Ada apa ini? Sela, Desinton dan Elina. Mereka, adalah orang-orang baik yang terjebak diantara kekejaman dunia. Mery berharap, kepakan sayap malaikat senantiasa melindungi mereka.
"Untukmu, Tuhan terkasih. Berkatilah keduanya, lindungi mereka. Berkatmu senantiasa ku cari, akan ku beri pada mereka. Tenangkan arwahnya, semoga engkau berkenan mengampuni dosa-dosanya. Segenap hati, aku telah memaafkan mereka. Biarkan keabadian dunia yang menjadi saksi bisu ketidakadilan. Jadikan, surgamu menjadi pelabuhan terakhir." Mery hanyut dalam dekapan tanah dan akar yang menyelimuti tubuhnya. Terlalu hangat, untuk Mery lepaskan begitu saja.
BERSAMBUNG...
Hei! aku doubel update, tungguin bab setelah ini yah 😁 DUKUNGANYA YUK 🤩🌸