
Film itu pun selesai dengan ending yang mengharukan, di mana hubungan yang hampir retak itu akhirnya bisa di rekatkan kembali. Dari sana Mery seakan mendapatkan pelajaran berharga, bahwa kepercayaan, saling mendukung, menghormati dan menghargai pasangan masing-masing adalah kunci menuju keluarga bahagia.
Bell rumah Agriel berbunyi. Membuat tangan Mery yang hendak menyentuh ponsel itu, di urungkan. Mery lantas berdiri, namun sudah di dahului oleh Agriel. Walau pun begitu, Mery tetap berlari menyusul Agriel, tepat di belakang punggung cowok itu.
"Siapa, sayang?" tanya Mery.
"Ini, teman yang aku bicarakan tadi, Mery" jawab Agriel, menuntun temannya itu.
"Anouk?" gumam Mery, membelakkan matanya. Begitu pun dengan Anouk yang bahkan menutup mulut.
"Jadi, prasangka ku benar?" ujarnya tersenyum.
"Sejak kamu memberikan aku foto pacar mu, membuatku sedikit menerka, apakah benar ini teman lamaku? Ternyata, benar." jelas Anouk.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Agriel.
Mery mengangguk menjawab. "Dia sahabat ku, di kampus"
"Astaga! Sepertinya aku sangat mengganggu kalian. Tapi memang rasa penasaran ku begitu besar. Saat Agriel memberi kabar bahwa dia pulang, aku sudah merencanakan akan berkunjung ke rumahnya."
"Tidak. Kami sudah hampir selesai dengan list kami. Duduk dulu, An. Aku akan buatkan minum." ucap Mery, dan bergegas menuju dapur.
***
Mery, Anouk, Agriel. Tiga orang itu sering bersama. Orang yang melihat sekilas, akan berpikir bahwa Agriel mempunyai istri dua. Tinggal hitungan hari, Agriel akan kembali ke Belanda. Sungguh, itu membuat Mery sedikit tidak rela.
"Mery, Agriel... Biasakah kalian menemaniku besok malam?" tanya Anouk tersirat nada memohon.
"Kemana, An?" tanya Mery, bersandar di bahu kokoh Agriel. Sedangkan Agriel nampak acuh pada permohonan Anouk, dia sibuk mengelus dan memanjakan Mery—cewek kesayangannya.
"Ke sebuah pesta dansa. Aku di undang oleh teman ku, dulu dia pernah satu kampus denganku. Tapi, lulus cepat, karena memang selisih umur kita terpaut cukup jauh." jelas Anouk, dengan logatnya.
Mery mendongak, menatap Agriel. Agriel yang di tatap sedemikian, hanya diam, seolah tidak tahu maksud tatapan Mery.
"Besok?" ulang Mery.
"Ya. Tapi kalau kamu busy, tidak apa-apa." sanggahnya cepat.
"Aku belum pernah pergi ke pesta." Tersirat nada memohon izin pada Agriel.
"Kau ingin pergi ke pesta?" tanya Agriel.
Lantas, Mery tersenyum merekah. "Iya. Bersama mu" ucap Mery.
"Jadi.. Kita pergi bertiga?" ulang Anouk tersenyum.
"Ya, seperti yang kamu pikirkan." balas Mery.
***
Acara pesta anak orang kaya, ya itulah yang Mery tangkap setelah melihat dekorasi serta tamu undangan yang hadir di sana.
Malam ini Mery mengenakan gaun panjang dengan potongan bahu—menampilkan bahu mulus dan leher jenjang Mery—di hiasi kalung huruf M. Tangan ramping Mery ia selampirkan di tangan kokoh Agriel. Agriel pun mengenakan pakaian formal dengan jas hitam licin.
Di depan, Anouk menyambut Mery dan Agriel antusias. Anouk mengenakan gaun dengan punggung terbuka lebar dengan warna hitam, glamor. Wajahnya nampak tidak pucat, karena di poles beberapa make up.
"Akhirnya kalian datang. Aku sudah takut kalau saja kalian tidak datang. Ditambah, aku pergi duluan." ucap Anouk.
"Tidak, mungkin kami tidak datang" jawab Mery tersenyum senang. Tatapan Mery mengedar penuh melihat nuansa yang baru ia lihat kali ini.
"Baiklah, ayo kita jalan bertiga menuju si tuan rumah—penyelenggara pesta ini" ajak Anouk dan berjalan di sebelah Agriel.
Sekarang, posisi Agriel berada ditengah dengan sisi kanan ada Mery, sisi kiri ada Anouk. Keduanya sama-sama merangkul tangan Agriel. Atensi beberapa orang terlihat tertuju pada mereka. Mery yang terlalu sibuk dengan dunia kekagumannya tidal begitu pusing dengan tatapan banyak mata manusia di sana.
"Hallo, Cellia" sapa Anouk dan cipika cipiki dengan Cellia, yang nampak anggun dengan balutan dress tanpa lengan berwarna peach.
"Hai Anouk. Astaga! Miss you!!" seru Cellia memeluk Anouk erat.
"Too. Sejak kau lulus kita sudah jarang bertemu"
Dan obrolan mereka pun berlanjut panjang. Agriel dan Mery hanya sesekali tersenyum.
"Kamu bosan?" bisik Agriel. Dan diangguki oleh Mery.
"Sama. Ayo kita pergi mencicip beberapa makanan" ajak Agriel, dan tentu saja Mery sangat senang. Makanan di sana sungguh menggugah nafsu makannya.
"Oh iya sampai lupa. Kenalkan dia Agriel, cowok jutek dengan bahasa Belanda kakunya" ucap Anouk, membuat langkah Agriel maupun Mery berhenti.
"Hallo Agriel. Kau tampan sekali" puji Cellia ramah.
"Terimakasih." jawabnya singkat.
"Siapa perempuan rusia di samping mu itu?" tanya Cellia.
"Dia Mery,"
"Kekasihku" lanjut Agriel cepat.
"Kamu juga cantik. Secara tidak langsung, kakek ku dulu campuran Rusia-Indo." jawab Mery.
"Aku yakin, Ibu mu pasti cantik. Bisa kau berbagi kecantikan denganku? Astaga, aku menjadi iri" canda Cellia. Mery terkekeh, padahal Cellia juga sama cantiknya dengannya.
"Wanita cantik dengan ciri khasnya masing-masing." ujar Mery.
"Tapi maaf, Cellia. Kekasihku ini belum makan." sela Agriel.
Cellia tertawa gemas. "Baiklah. Silahkan nikmati hidangannya. Karena sebentar lagi acara utama akan di mulai. Berdansa di aula atas"
"Maafkan kekasihku yang juga sama laparnya ini, Cellia" kata Mery terkekeh.
Agriel dan Mery sibuk dengan dunianya, meninggalkan Anouk yang masih terdiam.
"Bisa bicara?" tanya Anouk mencegah pelayan pembawa minum.
***
Tak hentinya jari lentik itu menyomot beberapa kue manis di depannya. Meja bundar berbahan kaca dengan interior bertingkat, diisi banyak kue manis, ada pula puding dan beberapa minuman. Senyuman merekah, bak bunga baru saja mekar di bibir Mery.
"Ternyata yang namanya pesta sangat seru." ungkapnya, berbalik menyuapi Agriel puding cokelat dengan hiasan messes di atasnya.
"Besok, kita buat pesta juga." ucap Agriel.
"Pernikahan? Yang hanya kebohongan itu, Griel?" sindir Mery. Katanya, sebelum pergi ke Belanda ia sudah sah menjadi istri Agriel, nyatanya? Oh realita memang kadang menyakitkan.
"Maaf, Sayang. Kalau saja, Papa setuju aku sudah menikahi mu." ucap Agriel sungguh-sungguh.
"Tunggu aku. Tunggu aku bisa lepas dan mandiri, aku akan membahagiakan mu, Mery" lanjutnya. Mery baru tahu, bahwa ayah Agriel orang yang keras kepala. Aromanya sih calon mertua galak sama mantu.
"Fine. Aku juga ingin lulus kuliah dulu" ucap Mery, menenangkan.
"Kamu membuat aku takut Mery. Apalagi saat mengungkit itu. Merasa jadi pria pembohong."
"Pria memang seperti itu. Pandai membual. Tapi tidak apa-apa, sudah kondrat sepertinya" ucap Mery, lagi, terselip sindiran.
Agriel tersenyum masam. Mery ya seperti itu, kalau kesal atau kecewa nyindirnya sampai tua. Belum lagi ingatan tajamnya. Makhluk tuhan berwujud perempuan memang berbeda. Tapi juga istimewa, karena Tuhan hanya menitipkan anugerahnya pada seorang perempuan.
"Sayang..." rengek Agriel, berharap Mery tidak menyindirnya.
"Oke. Bantu bawa beberapa kue ini, Griel. Lalu kita duduk di sana" tunjuk Mery pada meja bundar yang di selimuti kain putih berkilau dengan kursi yang mengelilingi, meja tersebut nampak kosong. Segera kesana, sebelum di tempati oranglain.
***
Seorang pelayan yang bertugas menghantar minuman itu, berjalan ke arah meja Agriel dan Mery berada. Kedua manusia itu sangat sibuk dengan canda gurau, serta hal romantis lainya.
"Permisi.." ucapnya sopan.
Agriel segera mengambil minuman dengan berbagai ukuran itu. Tangannya terulur mengambil minuman beralkohol yang di tuang di gelas kecil. Serta, jus anggur untuk Mery dan jus jeruk sebagai penawarnya nanti.
"Terima kasih" ucap Mery, dan diangguki oleh pelayan tersebut.
"Kau ingin mabuk, ha?" tanya Mery, menajam.
"Sedikit, sayang. Tidak akan membuat ku mabuk. Juga aku mengambil jus jeruk." jawab Agriel cepat.
"Satu gelas kecil itu saja ya? Aku tidak suka kamu mabuk, Griel. Walau mumpung minum alkohol gratis, tapi tetap jaga diri sendiri. Orang mabuk itu bahaya" tandas Mery, lanjut memakan kuenya. Nikmat.
"Iya sayangku, cintaku, Meryku" goda Agriel tersenyum tampan.
Cowok itu beribu lebih ganteng saat tersenyum. Mery sendiri tidak habis pikir, bagaimana bisa Agriel seganteng itu? Dan, beruntungnya cowok itu menjadi kekasihnya.
Awal mula mereka kenal. Mery selalu dibuat penasaran dengan sikap dingin, acuh tapi kadang humor disaat bersamaan. Rasa penasaran itulah yang membuatnya mengenal Agriel lebih jauh. Sang most wanted sekolah pula.
Berbeda dengan Mery. Cowok itu sudah menyukainya secara diam, sejak acara MOS. Kecantikan Mery yang membuat siapapun pasti mabuk kepayang. Tidak hanya itu yang membuat Agriel semakin dibuat panas dingin dengan Mery. Sifat cewek itu cenderung tegas, apalagi lidah tajamnya. Seakan menambah rasa cintanya pada Mery.
Masa SMA yang manis. Nyatanya hingga saat ini hubungan mereka berjalan dengan baik. Semoga.
***
Agriel memegang kepalanya, menekannya kuat, seraya menahan hasrat yang kian meletup. Lahar itu seakan siap di muntahkan beserta kawannya. Tatapan tajam Agriel jatuh pada Anouk yang tersenyum kemenangan.
"BANGS*T!!!" bentak Agriel. Sisi berbeda itu muncul. Dan, hanya pada Mery cowok itu kalem.
"Apa, sayang?" tanya Anouk terkekeh merdu.
"Kamu sendiri yang buat aku gila, Agriel. Sikap mu pada Mery seakan ingin menunjukkan bahwa hanya wanita itu di dalam hatimu?" lanjutnya dengan tatapan mengejek.
"Mery.. Kasihan sekali dia. Hanya di jadikan bahan mainan olehmu."
"Andai saja dia tahu. Bahwa kita adalah tunangan yang akan menikah dalam waktu dekat, bagaimana reaksinya Agriel?" tawa jahat itu menggelegar memenuhi ruangan sempit di dekar koridor toilet pria.
"Sama seperti mu, Anouk. Kau pun juga mainan dari ayahmu sendiri. Jangan bertingkah paling berkuasa. Jika kamu sendiri pun dipaksa, dan jujur saja kamu menderita bukan?" balas Agriel.
BERSAMBUNG...