ELEMERY

ELEMERY
KESIBUKAN AGRIEL



Korden kamar presidensuit itu bergoyang seiring dengan kibaran angin dari luar. Semalam, jendela itu dibuka oleh Agriel, keduanya bercinta panas sambil menikmati pemandangan malam nan gelap namun terselip banyak bintang di atas awan. Dinginnya suhu tak membuat keduanya terbangun dari tidur nyenyak masingmasing. Semakin merekatkan selimut, dan masa bodoh dengan kepentingan di luar.


Seluruh badan rasanya remuk redam, tak kira sampai semua tulang minta lepas dari daging saat itu juga. Udara di luar sangat dingin, karena pagi ini hujan mengguyur kota metropolitan. Kencangnya angin, sesekali suara petir menyambar. Redup, sejuk nan dingin seakan membuat seluruh tubuh bergetar.


Kelopak dengan hiasan bulu mata lentik itu terbuka secara perlahan. Terbuka lebar, menatap wajah Agriel—suaminya—dengan tatapan bersemu merah. Merona sudah pipi tirus dengan rahang tegas itu. Tangan Mery terulur mengusap rahang Agriel—rahang tegas yang di bumbui bulu halus—tampan rupawan bak seorang pangeran dari Mesir.


"Morning, babe" sambut Agriel dan memberi kecupan singkat ke bibir bengkak Mery.


"Morning Too, Babe" balas Mery.


Agriel terkekeh-kekeh dibuatnya, menunduk dan menciumi seluruh wajah kecil Mery. Aroma percintaan yang menyeruak, dengan kondisi kamar berantakan penuh cairan percintaan mereka. Sesi panas pagi ini tidaklah jauh dari kemarin malam.


"Bantu aku mandi, Agriel. Kau tahu seluruh tubuhku berdemo. Mereka kelelahan. Perutku sampai ngilu dibuatnya, kepunyaan ku pun bengkak gara-gara punya mu yang terus membuatku tak hentinya berteriak."


"Kau terlalu manis sayang."


Selanjutnya Agriel mengendong tubuh Mery dan membawanya berendam. Aroma bunga-bunga segar tercampur buah stroberi manis membuat Mery menghela napas panjang. Air hangat yang mampu membuatnya memejamkan mata saking nikmatnya.


"Tunggu aku Mery. Aku harus membereskan kekacauan kita atau tidak tukang bersih hotel akan tahu kejadian panas tadi malam." Kedip Agriel membuat Mery menurunkan kepalanya, malu.


Agriel keluar, dan langsung menghubungi Ree. Pria itu berjalan menuju balkon, mengambil rokoknya dan menyalakan dengan sekali celetukan. Menghisapnya kuat-kuat sampai terkepul jauh asap itu.


"Tuan, kondisi Baby Donan sudah mulai membaik." Ucap Ree. Agriel sudah tahu perihal kelahiran pewaris pertama itu. Walau pun mereka mencoba menyembunyikan, tapi mata dan telinga Agriel di rumah itu tak kira jumlahnya. Bahkan tembok pun bisa mengadu pada Agriel.


"Terus pantau kesehatan Donan, Ree. Untuk Anouk, usahakan dia jangan mati dulu sebelum memberi ASI untuk anaknya."


"Anouk sendiri sampai saat belum sadarkan diri. Denyut jantungnya terus melemah." Lapor Ree.


"Jika keadaan darurat kau bisa memberi perintah untuk membawa Anouk ke rumah sakit yang lebih besar."


"Baik Tuan. Ada satu hal lagi yang ingin saya laporan kan."


"Apa Ree?"


"Tuan Desta sepertinya mulai mencium tempat ini, Tuan." Senyuman kecil Agriel terbit kan.


"Itu bagus, biarkan dia melihat anaknya sebelum ikut menyusul pada Basta." Balas Agriel dan menutup sambungan telepon.


Matanya menatajam, memandang langit pagi yang di rundung mendung.


***


"Uncle! Bella senang banget mama sama papa udah bersatu." Ucap Bella, dan diangguki semangat oleh Neel.


"Uncle juga senang, Bella. Semoga pernikahan mereka abadi, sampai jiwa mereka bertemu dengan Tuhan."


"Bella, kamu yakin dengan keputusan kamu itu?" Tanya Neel sekali lagi. Melihat wajah sumringah Bella saat melihat Mery dan Agriel menikah, membuat Neel ragu jika Bella akan tetap pada keputusannya.


Bella mengangguk semangat, "Bella yakin Uncle. Bella sudah terlanjur nyaman dengan Turki. Rasanya tidak bisa jika harus beradaptasi lagi dengan lingkungan di sini."


"Dan lagi! Menguasai bahasa Turki tidak mudah! Bella tidak mau usaha Bella sia-sia!" Lanjut anak itu dengan mimik wajah cemberut.


Neel tersenyum, lantas mencubit gemas pipi gembul Bella. "Oke, maafkan aku saat itu yang memaksamu untuk bisa berbahasa Turki."


"Bukan lagi memaksa, tapi pada saat itu Uncle sangatlah kejam. Bella dibuat menangis setiap harinya. Apalagi wajah uncle Neel sangat menyeramkan."


Neel melotot tidak terima di cap dengan wajah menyeramkan, "aku ini manis, dan imut sama seperti mu. Tidak pantas kau menyebutku menyeramkan. Gagah nan tampan seperti ini." Ucapnya dengan suara berat, dan menunjukkan otor lengannya yang tak seberapa namun Neel bangga.


Bella menutup mulutnya, menahan tawa, "Uncle itu sangat kecil tahu! Punyanya kakaknya Leona lebih besar. Kata Leona kakaknya itu suka berolahraga. Sedangkan Uncle? Setiap hari hanya tidur dan makan." Ejek Bella tanpa sengaja.


Neel meraup wajahnya kasar, sial. Semua kebiasaan buruknya sudah di umbar oleh Bella. Bisa-bisa semakin jomblo dia.


"Bella, dengar!" Seru Neel menatap serius Bella.


"Sejak tadi Bella juga sudah mendengar, Uncle!"


"Oke, diamlah sejenak. Jangan sampai ada yang tahu kebiasaan buruk ku itu, oke. Aku tidak mau jika akan menjadi jomblo sampai mati. Bantu Uncle untuk mendapatkan ibu sambung untukmu Bella."


Bella memutar bola matanya malas, "uncle seharusnya merubah diri, bukan menyuruh Bella untuk menutup keburukan Uncle. Cukup prihatin untuk istri uncle kelak."


"Kalau begitu kau saja yang menjadi istriku, hahahaha" canda Neel, membuat Bella melotot. Dan, menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Ck! Aku tidak seburuk itu Bella! Dekat dengan mu membuatku insecure!"


"Mama!! Bella kangen tahu! Mama pergi sejak kemarin. Kenapa tidak ajak Bella?" Tanya Bella polos.


Mery kikuk, dia melirik Agriel memohon untuk membantu menjawab pertanyaan Bella.


"Eum, kita tidak mungkin membawa Bella. Karena Bella masih kecil. Anak kecil baiknya tidak perlu tahu banyak urusan orang dewasa. Bella paham?"


Bella mengangguk, "tentu saja Bella paham, Pa! Bella di sekolah dapat nilai A terus lohh.." pamer anak itu membuat Mery tersenyum bangga.


"Itu baru anak Mama Mery!!"


"Aye aye Mama Mery cantik!" Dua wanita itu pun tertawa bahagia melepas rindu.


Satu Minggu kemudian,


Bella harus kembali bersekolah, dan Neel harus kembali mengurusi perusahaannya. Mery dan Agriel menghantarkan Bella menuju Bandara. Isak tangis kecil Mery membuat Bella menatap tidak enak pada mamanya itu.


"Maafkan Bella, Ma. Andai Bella tidak terlanjur nyaman di sana, Bella akan tinggal di sini bersama Mama dan Papa."


Mery mengangguk, "mama mengerti Bella. Perasaan ku memang sangat sensitif."


"Dengarkan mama Bella!!" Seru Mery, menangkup wajah Bella. Menatap kedua mata bulat cantik Bella. Haru tangis Mery tak tertahan, saat mengingat bayi kecil yang dulu dia adopsi bersama Agriel. Bayi kecil dengan mata bulat polos, penuh derita, tangan kecil itu dulunya terangkat naik seakan meminta di gendong dengan kasih dan sayang.


"Bella... Mama membiarkan mu di sana untuk meraih apa yang kamu cita-cita kan. Seusai semuanya selesai, ingatlah untuk pulang. Rumahmu bukan di sana, nak. Rumahmu ada di sini. Kelak, kau dan saudara-saudara mu akan tinggal di Mansion. Kalian tidaklah boleh terpisah. Kalian satu, janganlah serakah dan melupakan jati dirimu, nak."


"Maafkan Mama yang mungkin nanti tak akan bisa menjenguk mu setiap Minggunya, setiap bulannya, setiap tahun pasti kami akan ke sana—jika kondisi memungkinkan. Kelak, tumbuhlah menjadi gadis manis sayang. Kau boleh jatuh cinta tapi tidak dengan kebodohan. Cintailah seseorang itu dengan batas-batas. Jangan kau terlampau mencintai sampai melupakan Tuhan. Perbanyak membaca firman Tuhan, jangan kau lupakan gereja, Nak. Jagalah kehormatan mu, kau perempuan, letak harga dirimu ada di sana."


"Dan, aku sangat amat menyayangi mu Bella. Hancur hatiku jika melihatmu juga hancur." Mery menangis, seraya memeluk tubuh Bella. Sedangkan Bella sudah menangis keras, dia menyembunyikan wajahnya di dada Mery.


"Bella sayang, jaga dirimu baik-baik, nak. Nenek selalu mendoakan mu." Ucap Neanra. Di sana pun juga ada Lilyana yang ikut berkaca-kaca.


"Kami menunggumu kembali, yakinlah kasih sayang kami kepadamu tak terkira." Sambung Lily.


Neel mengambil jaket Agriel untuk mengusap ingusnya sesaat. "Kau jorok!" Desis Agriel kesal.


"Astaga! Itu sangat mengharukan!" Ucap Neel pelan.


"Kau jaga Bella, jangan sampai kau membuatnya menangis. Sampai kau membuat anakku mengeluarkan setetes air mata saja, ku hilangkan namamu dari penjuru dunia." Ancam Agriel.


Neel mengangguk cepat, sebelum singa jantan itu mengamuk.


"Siap komandan"


***


Ting!


Tuan Agriel, maaf sekali aku menganggu waktu mu. Tapi ini sangat darurat. Baby Donan drop, pasokan oksigen menuju otaknya berkurang. Semua tim medis di sini dibuat panik, ditambah kondisi Nyonya Anouk juga sama drop nya.


Pesan itu membuat Agriel berjalan tergesa menuju Mery.


"Sayang..." Panggil Agriel, menatap cemas pada Mery.


"Aku harus pergi, di kantor ada masalah." Ucap Agriel.


"Masalah apa? Apakah sangat besar? Wajahmu sampai memucat." Tanya Mery khawatir.


"Aku tidak bisa menjelaskan sekarang. Ucapkan maaf pada semuanya, dan aku sudah menghubungi supir untuk menghantarmu pulang. Istirahatlah Mery, dan aku meminta doa terbaikmu."


"Agriel!!" Seru Mery namun tertahan dengan panggilan Neanra.


"Agriel mau ke mana Mery?" Tanya Neanra.


"Ada masalah di kantor, aku jadi khawatir mom."


"Tenang lah Mery, Bunda yakin Agriel tidaklah bohong." Sahut Lily saat melihat wajah cemas Mery yang coba dia tutupi.


"Hal yang masih aku ragukan dari Agriel bukanlah cintanya, bukan juga ketulusanya namun kejujurannya."


BERSAMBUNG...