ELEMERY

ELEMERY
EPILOG



Tidak terasa memang, jalan kehidupan sehalus ini membawa arus kebahagiaan. Walaupun awalnya penuh tangis dan duka, namun sejatinya semua itu adalah jalan menuju terbitnya senyuman kebahagiaan. Sudah empat tahun sejak kelahiran Aksera dan Aksara, kini Mery tengah di landa bahagia sekaligus rasa yang tidak bisa di uraikan saat membaca testpack yang bergaris kan dua.


Mery menutup mulut tidak percaya. Begitu pula Agriel.


"Katanya kau sudah memakai pengaman?" Tanya Mery, bayangan rasa sakit saat melahirkan doubel A masih terbayang di kepalanya.


Agriel angkat tangan, dia menggeleng takut akan kemarahan Mery. "Sudah! Aku sudah memakainya. Mungkin karena cebongku sangat kuat hingga mampu menembus benteng yang telah kita buat."


"Agriel!!! Anak kita sudah empat! Ada Bella, ada Donan, Ada doubel A! Bisa pecah kepala ku!"


"Ah kau!!! Ingin sekali ku cambuk!!"


Mery duduk dengan tatapan tidak percaya, masih tidak percaya pada testpack.


"Apakah kau tidak bahagia Mery? Tuhan memberikan kita kepercayaan lagi." Bicaranya halus, Agriel jongkok menatap Mery.


Mery menggelengkan kepalanya, tangisnya keluar. Mengusap rambutnya, membawanya ke belakang. Pipi dan hidungnya pun sudah memerah. "Aku hanya takut, Agriel. Aku takut"


"Maafkan aku yang tidak bisa memberi solusi. Tapi yakinlah, bahwa Tuhan akan menggantikan rasa sakit saat melahirkan dengan surga."


"Bukan itu, Agriel. Bukan itu. Aku tidak takut mati, aku tidak takut pada sakit! Yang aku takutkan adalah ketika aku tidak lagi mampu membagi kasih sayang ku pada mereka. Tidak mampu mengurus mereka. Apalagi ada sebagian dari mereka bukanlah darah dagingku. Hatiku di lema Agriel. Di lema. Aku diam, karena aku kira masih sanggup. Aku kira hanya mereka." Tangis Mery mengutarakan perasaannya selama ini.


Agriel paham, dia sangat lah paham. Apalagi kemarin muncul masalah Bella yang entah kenapa sekarang anak itu semakin menjauh. Dia jauh, sampai Agriel sendiri bingung bagaimanapun menggapainya kembali. Donan yang sudah mulai mengerti pun, tumbuh menjadi anak pendiam. Donan kecil, memang hangat kepada kedua adiknya, tapi terkadang sifatnya acuh dan dingin. Tidak seperti anak seusianya yang aktif dan lincah.


Agriel mengulurkan tangannya, dia memegang erat bahu rapuh Mery. Memeluknya erat, dengan sedikit kecupan manis di dahinya. Menjadi seorang ibu memanglah tidak mudah, pasti akan banyak rintangan dan hambatan. Akan tetapi Agriel yakin bawasanya itu semua akan berlalu jika masalah demi masalah mereka langkahi bersama. Mereka mengayomi bersama.


"Mama!!!" Teriak Aksara, balita itu suka sekali berteriak memanggil mamanya. Mery melepaskan pelukan Agriel, menghapus air matanya cepat dan tersenyum menyambut kedatangan Aksara.


"Ugh!! Anak Mama yang suka sekali berteriak! Di mana kakakmu sayang?" Tanya Mery lembut mengelus puncak rambut Aksara.


"Kakak??"


"Iyaa, di mana Kak Aksera?"


"Makan ma!!!"


"Aksara gak ikut kakak makan juga?" Tanya Mery, mengelus kepala Aksara. Pembicaraannya dengan Agriel juga harus terputus karena teriakan memanggil Aksara.


Aksara kecil menggeleng keras, malah menghamburkan pelukan kepada sang ibu.


"Mama sedih." Bisik Aksara, mendongakkan kepalanya menatap Mery.


Mery tersenyum kecil, Aksara itu mempunyai perasa yang lebih peka dari Aksera. Berbeda lagi dengan Donan, yang lebih dingin.


"Ya benar, Mama mu sedang sedih Aksara." Sambung Agriel.


Mery melotot kepada Agriel, dengan gelengan kepala. Agriel menanggapi dengan senyuman ejekan yang semakin membuat Mery mendengus kesal. Tambah merah imut hidung wanita empat anak itu.


"Mama sedih? Aksara nakal?" Tanyanya polos.


"Tentu saja tidak! Aksara anak baik. Tidak mungkin membuat mama menangis. Mama hanya sedih sayang. Dan bahagia."


"Mama bahagia?" Tanya Aksara.


"Ya tentu saja bahagia!!" Jawab Mery.


"Aksara, dapatkah papa meminta bantuan kepadamu sayang?"


"Tentu saja, pa!"


"Tolong panggilkan kak Donan, dan Kak Aksera."


"Oke!!" Aksara berlari kecil keluar kamar dan berteriak memanggil Donan serta Aksera.


"Mau apa Agriel?" Tanya Mery ketus.


"Memberitahu mereka semua tentang kabar gembira ini. Memang apa lagi?"


"Agriel.. aku—"


"Mery.... Lihatlah lebih luas tentang dunia. Tidak semua wanita bisa menjadi ibu. Tidak semua orang merasakan bahagia. Tidak semua mendapatkan jatah keluarga sempurna. Tidak semua mendapatkan limpahan berkat. Tuhan telah menentukan porsi masing-masing insan. Anak itu sebagian dari rezeki Tuhan. Hal yang kau khawatirkan tidak akan terjadi. Karena kau hidup bersamaku. Suka duka mu tetaplah bersamaku. Aku siap dan kau pun harus siap."


"Mery, aku tahu pasti yang kamu rasakan. Jika tetap ada rasa khawatir di benakmu. Cobalah berpikir sejenak dengan kepala dingin dan adil. Setiap anak lahir dan datang dengan masa mereka sendiri. Kasih sayangmu memang penuh 100% untuk mereka, tapi jika kau di hadapkan langsung dengan mereka ada secuil hatimu menginginkan mu tentang banyak memori. Memori itu lah yang membuat mu kadang tak adil untuk mereka. Dan itu wajar, asalkan tidak ada unsur fisik dan mental." Jelas Agriel.


Mery tahu, Mery paham. Dia menunduk lalu mengelus perutnya. "Aku rasa dia seorang gadis."


"Aku juga begitu. Agar Bella mempunyai teman bermain bukan?"


"Ya kau benar."


"Mama!! Papa!! Kak Aksera, Kak Donan sudah datang!!" Teriak Aksara masuk ke dalam kamar.


***


Sudah sembilan bulan sejak saat Mery merasa tidak pantas menjadi seorang ibu lagi. Sejak saat Mery dan Agriel menebak-nebak jenis kelamin anak mereka. Sejak pula saat Aksera dan Aksara yang sudah tidak sabar menunggunya kelahiran adiknya. Sekarang, Mery terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Dia nampak kelelahan, dengan wajah pucat namun tetap tergambarkan sirat bahagia.


Di sampingnya ada Donan, yang sudah berusia tujuh tahun setengah. Donan mengelus tangan Mery yang di infus itu pelan. Walau tidak ada ekspresi berlebih, namun Mery tahu bahwa Donan mengkhawatirkannya.


"Segera sembuh, Ma." Bisik Donan kecil. Mery tersenyum, walau sebenarnya dia ingin tidur. Tapi tidak bisa Mery mengabaikan Donannya.


"Terima kasih sayang. Di mana adik-adik mu?"


"Mereka menyusul Papa melihat bayi kecil di ruangan."


"Kak Bella?"


"Dia bersama Uncle Neel. Aku tidak tahu keberadaanya sekarang," Donan menjawab seadanya.


"Mama mengantuk. Istirahat lah. Aku akan berjaga di sini. Mama tenang saja."


Mery tersenyum kecil. "Siap jagoan." Dan tanpa menunggu waktu lama Mery tertidur karena lelah.


Neanra dan Lilyana membuka pintu, mendapati Mery terlelap dengan Donan yang terus mengelus punggung tangan Mery. Di ikuti Wick dan Nandhaya yang kian tua saja. Kedua buyut itu masih tetap gagah, walau keduanya sudah memakai tongkat andalan.


"Donan, nenek membawakan mu makanan. Sini makan dulu." Ajak Lilyana.


"Di mana Papa mu, nak?"


"Di ruangan tempat adik baru berada. Aku tidak tahu apa nama ruangannya."


"Sudahlah, Wick! Duduk manis saja di sini. Tanganmu sudah gemetar masih saja nekat mau jalan. Sudah tua sadar diri lah." Omel Nandhaya. Hobi baru buyut satu itu memang mengomel. Semakin tua semakin cerewet.


Agriel datang dengan Aksera dan Aksara. Di belakang rombongan ayah-anak itu ada seorang suster yang mendorong kereta bayi. Kedatangan mereka sontak di sambut meriah oleh para nenek dan buyut.


"Kak Donan! Kau lihat! Adik baru kita sangat cantik."


"Tapi kata Papa dia seorang jagoan. Sama seperti kita." Sambung Aksera.


"Dia laki-laki yang cantik." Donan yang pintar, mencoba mencari jalan tengah perdebatan mereka.


"WAH!! ADIK BARUKU!!" entah sejak kapan, namun suara Bella menggelegar begitu saja. Membuat Mery yang tidur membuka matanya.


"Suara mu membuat Mamaku terbangun!!" Marah Donan, membuat Bella tersenyum kecil.


"Maafkan aku tuan muda kecil." Membungkuk Bella di depan Donan.


"Sekarang kalian duduklah dulu." Wick memberi instruksi. Dan semua yang ada di sana duduk dengan tenang, mencoba menebak apa yang akan di bicarakan oleh buyut satu itu.


"Aku kira cucu terakhir ku seorang perempuan."


"Tapi dia cantik."


Wick mengangguk membenarkan ucapan Nandhaya. "Kalian sudah mendapatkan ide untuk nama?"


Agriel tersenyum kecil, "sebenarnya saat aku dan Mery mengira dia perempuan kami sepakat akan memberikan nama Margeretha. Tapi sebuah kejutan dari Tuhan memang tidak terduga."


"Margaretha tidak menjadi ciri khas nama perempuan. Aku setuju dengan nama itu."


Wick melotot tidak menyukai pendapat Nandhaya. "Margaretha itu identik dengan wanita buyut tua! Itu bahasa Yunani."


"Tidak apa Wick, pada kenyataannya pun rupa bayi itu cantik. Aku yakin, kelak dia akan menjadi pria berkelas dengan senyuman cantik bak wanita."


"Kau anggap calon penerus ku seorang waria?!" Tersulut sudah emosi Wick karena ucapan Nandhaya.


"Siapa bilang! Walaupun dia kelak akan menyandang phoneix dia tetaplah cucuku juga. Nama itu kan sebuah makna dan kenyataan."


"Okee, bisakah kalian diam dulu? Tidakkah kalian merasa welas terhadap kami semua dan Mery? Kita rundingkan bersama." Agriel membelah kegaduhan itu.


"Nama Margeretha memang identik dengan nama wanita. Tapi, aku rasa tidak akan menjadi nama seorang wanita jika kelanjutan dari mama tersebut nama pria. Kalian benar, anak terakhirku memang cantik. Sebagai simbol kecantikan serta kegagahannya kelak, aku memutuskan akan memberikannya nama Margaretha Angkara Helen putra Wick-Hely."


"Aku setuju!! Itu yang ku maksud dan yang aku inginkan!! Agriel kau paling mengerti pemikiran ku!"


"Angkara, tumbuhlah besar dan kepakkan sayap phoneix ini ke seluruh daratan Asia!" Bangga nan senang Wick dibuatnya.


"Mery, kau setuju sayang?"


"Tentu, itu nama yang indah Agriel."


"Selamat datang Angkara!!!" Sorak Bella menambah kesan ramai di ruangan tersebut. Sedangkan bayi kecil yang cantik itu hanya menggeliat kecil, dengan mata terpejam. Senyuman kecil ia perlihatkan seakan menyukai momen bahagia kedatangannya ke dunia.


Seluruh berkat Tuhan untuk mu Angkara. Haleluyah!


****


Kehidupan Mery dan Agriel sudah lengkap. Sepuluh tahun setelahnya kini Donan sudah memasuki SMA akhir, dengan Aksera dan Aksara yang duduk di bangku SMA yang sama dengan Donan—Agriel dan Mery sengaja, sebab usia mereka hanya terpaut satu tahun setengah— dan si kecil Angkara baru SD kelas 4. Agriel mendidik semua anaknya dengan tegas. Mery pun demikian.


Mereka ingin anaknya kelak bisa menjadi perubahan bangsa dan negara. Ditambah mereka semua laki-laki yang kelak akan menjadi kepala rumah tangga. Mereka kelak akan mengurus anak oranglain dan anak mereka sendiri. Mental mereka haruslah kuat dengan pemikiran terbuka untuk terus berpikir demi masa depan. Meskipun demikian, sifat nakal anak laki-laki tetaplah melekat di diri mereka.


"Donan!! Kau berbuat apa lagi." Agriel duduk dengan melonggarkan dasinya. Merasa gerah dan lelah dengan labrakan para orangtua yang mempunyai anak gadis.


"Bukan salah ku! Aku hanya mengikuti permainannya, Pa."


"Permainan apa maksudmu!"


"Meraka menyukai wajah tampanku. Dan aku menyukai tubuh mereka. Adil bukan?"


"DONAN!!!" teriak Mery keras, membuat Donan berlari menghindar.


"Dia playboy kelas kakap di angkatan kita, Pa." Ucap Aksera tenang, seraya memakan rotinya.


"Jangan kau tiru sayang! Jangan permainkan hati wanita okey!"


Aksara tersedak kuat, mendengar ucapan Mamanya. Mata Agriel memincing, menatap curiga si kembar.


"Oh My God! Sudah jam tujuh, ayo Aksara kita harus segera berangkat. Nanti ada jadwal ulangan kimia bukan?"


"Ah! Ya kau benar sekali kembaran ku."


"Kita sekolah dulu Ma, Pa. Dan kau si cantik Angkara."


Angkara yang sibuk dengan nasi gorengnya pun mengedipkan matanya genit para kedua kakaknya.


"Siapa yang mengajari mu nak?" Tanya Mery, meneguk ludahnya kasar.


"Aku tampan cantik, Ma! Kata kak Donan aku harus seperti itu." Jawab Angkara polos, tentu saja.


"Aku tahu Mery. Aku tahu akar permasalahan ini."


"Siapa lagi jika bukan Desta!! Jika pulang nanti akan ku buat dia menjadi belut geprek!!" Ancam Mery kesal.


"Jangan emosi, tenanglah."


"Tenang bagaimana!! Anak-anak kita sudah on the way menjadi Playboy!! Tidak akan ku biarkan Agriel!!"


"Iya aku tahu, tapi ini ada masalah yang lebih penting."


"Apa memang?" Tanya Mery penasaran, dan akhirnya pun dia duduk.


"Neel menghubungi ku, dia akan pindah ke Amerika."


"Lalu Bella sendirian di Turki?"


"Setelahnya, Bella menghubungi ku dia mendapatkan pekerjaan di Amerika."


"Aku khawatir. Sejak kejadian di keluarganya, Neel berubah. Pria itu bukanlah pria muda berusia 20 tahun, tapi kini sudah menjadi pria matang 30 tahun yang terdidik begitu keras. Sedangkan Bella gadis berusia 21 tahun. Kau tahu maksudku Agriel?"


"Aku tahu. Tapi biarkan lah mereka mengambil jalan masing-masing. Kita sebagai orangtua cukup mendukung dan mengawasi saja. Bella tidak mungkin aku lepaskan Mery."


"Ya aku tahu itu, Agriel."


END