ELEMERY

ELEMERY
BERTEMU BELLA II



sebelumnya mohon maaf baru update. Nana ganti HP, dan lupa sandi email yang dipakai untuk Noveltoon ini🙏 Kemarin malam, coba otak-atik akhirnya bisa. Maaf ya telah mengecewakan ☹️🙏


****


"Di mana Bella?" Tanya Mery yang langsung menatap Neel dengan wajah tidak sabaran.


"Dia—"


"Neel aku ini lebih tua darimu, tolong sopanlah. Kita datang jauh-jauh dengan perjalanan yang penuh hambatan. Sediakan teh dan cemilan enak khas Bolu mungkin itu adalah ide bagus" potong Agriel yang sudah duduk, seraya memberikan isyarat pada Mery untuk ikut duduk bersamanya.


"CK!" Gumam Neel berusaha pelan. Dua manusia penganggu.


"Suguhkan tamu dengan makanan dan minuman yang di bumbui rasa ikhlas." Sepetinya antena telinga Agriel berjalan dengan sempurna.


"Baik, Tuan dan Nyonya." Ucap Neel membungkuk dengan rasa pelayan cafe yang mudah di perdaya.


"Sejak kapan kau begitu sangat cerewet?" Sela Mery.


"Itu cara kami berteman Mery" jawab Agriel seadanya.


Mery hanya bisa menggelengkan kepala, "cara kalian ekstrem. Babu-majikan, huh?"


"Ya, kau pintar sekali." Puji Agriel mengelus puncak kepala Mery.


"Minuman dan makanan telah datang, Tuan dan Nyonya Exanta." Sambutan dari Neel dengan bumbu senyuman—terpaksa.


"Duduklah, Neel. Ada banyak hal yang ingin kami tanyakan." Perintah Agriel dengan nada perintah.


Hembusan napas Neel terdengar sangat berat, dia lantas duduk menghadap Mery dan Agriel. Kontak mata mereka bertemu, seakan saling berada argumen tanpa ucapan.


"Bagaimana keadaan Bella?" Tanya Mery, menarik napasnya berat. Bella, bayi yang dulu dia adopsi di panti asuhan. Waktu tidak terasa telah memakan habis umur, sampai-sampai membuat Bellanya tumbuh dengan cepat.


"Sejauh ini dia sering merindukan kalian dan merengek ingin kembali ke Indonesia." Jawab Neel seadanya.


"Baru saja dia menangis ingin pulang ke Indonesia, aku mencoba menenangkannya—walau itu percuma—pada akhirnya dia berhenti menangis karena lelah, lalu tidur."


"Kalian ingin membawa pulang Bella?" Tanya Neel mengangkat alis kirinya.


Agriel dan Mery saling tatap, lalu mengangguk secara bersamaan. "Bella akan kami bawa pulang ke Indonesia."


"Sebelum itu, bolehkan aku tanya... Apakah masalah rumit kalian sudah selesai?" Tanya Neel berhati-hati. "Aku hanya tidak ingin bocah itu kau lempar kembali ke sini. Dia bukan barang, oke" lanjutnya.


"Masalah kami sudah selesai. Dia—" ucap Mery menunjuk Agriel, "sudah menceritakan semuanya, bagaimanapun Bella masih membutuhkan peran kami. Tidak baik meninggalkan anak perempuan pada laki-laki yang baru dewasa seperti kau"


Neel melotot, tanda tidak terima. "Aku sudah dewasa, asal kau tahu!"


"Bagimu. Nyatanya kau masih bisa di perbudak Agriel." Balas Mery santai.


"Suamimu itu saja yang kurang ajar"


"Hei! Kau mengolok-olok orang tepat di depan wajahnya. Mana sopan santun mu. Pantas saja Mery mengatakan kau baru saja dewasa."


"Sialan! Kalian pasangan yang cocok. Untung Bella bukan anak kandung kalian, jika iya.... Entah seperti apa anak itu." Dengus Neel.


"Lalu aku anak siapa, Uncle?" Suara itu berasal dari bilik pintu yang separuh terbuka. Menampilkan wajah Bella yang khas bangun tidur dengan piyama beruangnya. Tatapan polos yang seakan tidak tahu apa-apa.


"Bella, sayang...." Seru Mery memecahkan kecanggungan serta ketegangan yang menyelimuti.


"Maafkan Mama Bella... Apakah kau membenciku, tolong jangan katakan itu." Ucap Mery, memeluk tubuh Bella.


Bukan tawa melainkan sebuah tangis yang terdengar. Bella menangis, meluapkan sebuah rasa rindu yang dia pendam beberapa bulan terakhir. Sempat sekali terlintas di pikiran anak itu bahwa dirinya dibuang oleh orangtuanya sendiri. Pada sosok Neel yang sangat asing baginya.


"Bella..." Gumam Mery takut, dia bahkan melotot sangat tajam pada Neel yang tidak bisa menjaga ucapannya.


Sedangkan Agriel menatap sadis Neel tersirat nada ancaman.


"Sungguh! Aku tidak sengaja." Ungkap Neel menelan ludahnya susah payah.


"Bella tahu!" Ucap Bella menatap Agriel serta Mery bergantian.


"Temanku, Athefter mengatakan dia bukan anak kandung ayah dan ibunya, Athe mengatakan semuanya. Dan, aku paham bahwa aku dan Athe itu sama." Kata Bella tanpa di duga.


"Walaupun kau bilang ini Turki, tapi kebudayaan barat sudah masuk ke penjuru dunia." Sela Neel, menghelakan napas.


"Papa dan Mama Mery sangat baik. Bella sangat beruntung. Athe juga mengatakan itu, dia sangat beruntung bisa di adopsi oleh kedua orangtuanya. Kalau tidak, dia mengatakan nasibnya akan sama seperti anak-anak yang ada di sekolah sebelah." Tutur Bella dengan wajah biasa.


"Bella..." Panggil Agriel, dia berjongkok di depan bocah itu dan tersenyum gentir.


"Aku minta maaf, maafkan aku belum bisa menjadi ayah yang baik untukmu."


"Papa tidak perlu minta maaf. Bella yang seharusnya berterimakasih pada Papa."


"Tidak... Aku merasa bersalah. Mery, dia ibu mu Bella. Jangan jadikan dia orang asing. Perjuangannya dulu membesarkan dan melindungimu sungguh besar. Jasanya memang hanya sebentar tapi kasih sayangnya sepanjang masa bukan?. Aku tidak ada maksud apapun saat itu. Aku kehilangan orang yang aku sayangi, dan itu membuat gila. Sampai-sampai aku mengabaikan dirimu, dan membiarkan kamu tinggal bersama Anouk." Perkataan Agriel sungguh membuat dada Mery bergetar.


"Aku juga minta maaf, Bella. Aku tidak dapat mengenali mu di awal," sambung Mery.


"Inti masalahnya memang aku. Aku yang menjadikanmu batu loncatan untuk mendekati Mery, Bella. Maafkan aku yang keji ini." Ungkap Agriel memeluk tubuh Bella.


Bocah perempuan itu menggeleng keras, "papa jangan katakan hal itu. Bella gak suka Papa mengatakan itu." Tangis bocah itu pecah, memeluk erat tubuh Agriel.


Dia salah, menjadikan Bella sebagai alat untuk dekat pada Mery. Pada dasarnya ini kesalahannya yang tertutup dan tidak dapat mempercayai Mery untuk membantunya memecahkan masalah yang dia hadapi. Kesalahanya adalah dia enggan membagi kisahnya pada oranglain.


Terkadang memang perlu bukan? Kita tidak akan sanggup memendam segala perumitan dunia seorang diri. Di ciptakanya banyak orang untuk kamu pilih menjadi tempat keluh kesahmu. Memang kadang sulit menemukan orang tersebut, tapi yakinlah bahwa dengan berbicara semuanya akan terasa lega. Jangan sampai hatimu tertekan dan sesak sendiri dengan masalah yang kamu hadapi. Setidaknya, kamu masih punya Tuhan sebagai tempatmu berpulang dan bercurah.


"Sudah... Kita bicarakan semuanya baik-baik." Sahut Neel, mendekat pada Agriel dan Mery. Neel paham bagaimana perasaan Agriel dan Mery, betapa kacau dan sedihnya mereka pada saat ini.


"Tidak ada yang salah, tidak ada yang benar. Semuanya sesuai porsinya masing-masing."


"Bella, sekarang peluk papa dan mamamu, ucapkan rasa rindu serta terimakasih nya." Perintah Neel yang diangguki oleh Bella.


"Agriel dan Mery, berjanji lah pada diri kalian untuk terus menyayangi Bella sampai kapanpun. Entah itu saat kalian memiliki anak kandung sendiri atau dalam keadaan terguncang sekalipun. Jangan lagi ungkit masalah tentang hal itu"


"Mulut busukmu itu yang mengungkit nya dulu," cerca Agriel masih kesal dengan Neel.


Neel mengangkat tangan pasrah, dengan wajah meminta maaf yang tulus. "Aku minta maaf, sungguh tidak ada maksud apapun selain keceplosan." Jawabnya.


"Sudah..." Hentikan Mery pada perdebatan dua laki-laki di depannya itu.


"Bella sudah makan?" Tanya Mery yang kembali fokus pada Bella.


"Kau kira aku om-om jahat yang menculik anak orang dan tidak mampu memberikan nya makan?" Tanya Neel, tersinggung.


"Bisa saja bukan?" Tanya Agriel balik.


"CK! Dasar tidak tahu terimakasih." Neel pun berbalik arah dan pergi dari sana.


"UNCLE!!" Seru Bella, mengejar Neel.


"Maafkan Papa dan Mama. Dia hanya khawatir denganku. Uncle, marah?" Tanyanya polos.


"Tentu tidak denganmu, Bella. Terlalu manis bukan marahan dengan bocah seimut kau. Aku hanya ngambek pada ayah dan ibumu, agar diberi bonus tahun ini. Itu saja, jadi jangan khawatir oke?" Jawab Neel membuat Bella tersenyum manis.


"Terimakasih uncle Neel." Balas Bella, meminta gendong pada Neel.


Tentu saja Neel menyambut permintaan Bella dengan senang hati.


"Kau sudah cocok menjadi ayah" suara itu, berasal dari Mery yang menatap Bella dengan senyuman.


"Kau yang sebagai calonnya? Mau?" Neel si pembuat masalah berulah. Tentu saja pawang Mery marah dan siap memberikan bogemannya pada wajah sok keren Neel.


"Tenang, Daddy. Aku hanya bercanda."


"Sialan kau Neel! Aku bukan penyumbang ****** di tubuhmu."


Plak


Mery dengan cepat menampar mulut kotor Agriel. "Jaga bicara mu, ada Bella di sini!"


"Maaf, Mery." Katanya dengan wajah memelas takut.


"Singa jantan takut pada induknya" ejek Neel, hanya mampu Agriel melototinya.


BERSAMBUNG....