
Happy reading and Sorry slow update guys 🙏💖
***
Napas Mery nampak berat, dia menatap lekat pria di depannya dengan sorot tajam bak pedang. Siapapun tolong ambilkan Mery tongkat untuk memukul pria menyebalkan di depannya!.
"Apa?" tanya Agriel cuek, tak ayal pun ia menahan tawanya. Lihatlah sekarang, kedua telinga perempuan itu sudah memerah.
"Oh ayolah Agriel—"
"Ck! Panggil aku sayang Mery, atau tidak mas Agriel" gelitiknya.
Mery memutarkan bola mata malas. Narsis dan menyebalkan. "Agriel... Tolong, aku mau bicara serius!" ucap Mery mengubah wajah guyonnya. Berharap pria bodoh di depannya itu pun juga menghentikan acara lawakan ini, karena ada hal penting yang ingin Mery sampaikan.
"Oke. Apa Mery?" tanya Agriel luluh. Dia menarik Mery dan memangku tubuh wanita itu diatas pahanya. Mery hanya pasrah, karena memberontak di dalam penjara adalah hal sia-sia. Ibaratkan semacam itu.
"Ada banyak sekali pertanyaan di dalam kepala ku, sampai rasanya aku mau muntah."
"Oh kau hamil?"
"Tidak, bukan! Itu hanya ibarat kata saja."
"Lalu?"
"Langsung saja, kau tidak asik di ajak basa basi." dengus Mery.
"Bagaimana aku bisa sampai di sini?" pertanyaan pertama yang Mery layangkan untuk Agriel.
"Aku yang menculikmu secara tidak sengaja." jawab Agriel, sedikit jujur.
"Tidak mungkin sebetulan itu bukan? Rencana awalmu Agriel. Dari aku pusing mencari pekerjaan sampai terjebak di naungan mu kembali. Itu semua akal bulus mu?"
"Iya. Cinta membunuh kewarasanku Mery. Maaf."
Kali ini Mery ingin loncat dari pelukan pria itu, bagaimana bisa dia sepengecut itu.
"Bisakah kau tidak dulu mendusel-dusel tidak jelas. Ini obrolan penting!"
"Aku tidak suka orang yang tidak bisa menghargai lawan bicaranya." Mery berdiri, lalu duduk tepat di depan Agriel. "Duduk diam di situ dan lanjutkan obrolan ini. Jawab dengan jujur, karena aku tidak sudi hidup bersama pembohong." jelas Mery.
Agriel tersenyum kecil, dia suka dengan gaya Merynya. Angkuh, penuh ancaman namun juga memabukkan, ah bisa gila dia!.
"Baik, jadi apa pertanyaan mu nona?" tanya Agriel formal.
"Apa rencanamu sebenarnya. Kau menghilang lalu muncul dan memporak-poranda segalanya"
"Rencanaku adalah membawamu kembali ke pelukanku."
"Tidak masuk akal!"
"Memang cinta ada yang logis? Omong kosong penuh makna itulah cinta, jika kau tahu."
"Cinta, cinta, cinta, orang seusia kita masih pantas menyebut cinta Agriel? Sesama orang dewasa yang matang, sadarlah."
"Ini bukan lagi sekadar cinta. Tapi janji dan kasih sayang. Cintaku pada Tuhan yang dengan berkatnya memberikan ku izin untuk mencintaimu sedalam yang tidak aku tahu. Mendefinisikan cinta hanya akan ada jalan buntu. Karena tidak ada yang tahu kemana arahnya. Aku seorang pria, yang harus bisa memegang janjinya sendiri." jelasnya, membuat Mery bungkam.
"Huhhhfft." Suara ******* Mery, menatap lamat sosok Agriel. Bicara pria itu semakin baik saja membuat Mery kalah telak.
"Terima kasih atas jawaban untuk pertanyaan pertamaku. Pertanyaan keduaku adalah, di mana para teman-teman anggota tim investigasiku?" tanya Mery.
Untuk kali ini Agriel terdiam, tidak berani menjawab. Terlampau marah ketika itu, sampai membuatnya hilang kendali.
"Ibumu ada di Surabaya, jika kau mau besok kita ke sana sekalian meminta res—"
"Teman Investigasiku, Agriel. Kau tuli atau bodoh?" tanya Mery.
"Bella ada di Turki bersama—"
"Kita bahas Bella nanti, sekarang kau tahu di mana keberadaan anggota timku?"
"Anouk hamil, tapi bukan anakku, percayalah Mery!"
"SIAL! KAU BENAR-BENAR MENGUJI KESABARAN!" Gertak Mery bediri dan memukul meja. Berjalan cepat, menarik kerah kemeja Agriel dengan kencang.
"Jangan kau bilang, mereka kau bunuh?" tanya Mery tersirat ancaman.
"Atau sebenarnya kebakaran gudang itu sebagian dari rencanamu?" selidik Mery.
"Bukan! Itu murni kecelakaan Mery." bantah Agriel langsung.
"Oke. Sekarang di mana mereka? Jawab Agriel!!" desak Mery membuat Agriel menghembuskan napasnya.
"Tenanglah, mereka masih hidup. Ganti pakaian dan ikut aku, jika kau mau bertemu dengan mereka."
***
"Masih jauh?" tanya Mery, matanya mengedar menatap depan. Lingkungan yang sangat asing baginya, begitupula dengan suasana aneh sepanjang jalan.
"Tidak, sebentar lagi sampai" jawab Agriel seadanya.
Mery menghembuskan napas gusar, melirik Agriel dengan raut penuh kecurigaan. "Mereka tidak kau bunuh kan?" pertanyaan itu lagi yang keluar dari mulut kecil Mery.
Sampai bosan Agriel menjawabnya. Tidakkah wanita cantik di sampingnya itu percaya, bawasanya dia tidak membunuh para orang idiot itu? Untuk apa coba, tidak ada keuntungannya sama sekali. Kecuali jika membunuh Desta atau Basta atau mungkin Nandhaya? Dia akan kaya raya. Tapi rasa-rasanya itu tidak mungkin.
Kasih sayang masih memeluk hati seorang Agriel dengan erat. Dan, Agriel bersyukur atas itu.
"Jawab! Kalau sampai mereka kau—"
"Sumpah demi Yesus! Aku tidak membunuh teman idiot mu itu, sayang" lantangnya. Membuat Mery bungkam dan memilih diam, tidak berani lagi menyahut karena sudah membawa nama Tuhan.
Daerah itu sangat sepi, gedung bertingkat yang terlihat usang tidak terurus menjadi objek pertama yang membuat Mery berpikir jauh lebih keras. Pikiran aneh, tentang temannya yang di siksa oleh Agriel terlintas begitu saja.
"Tenang, ayo masuk. Tempat ini tidak semengerikan yang kamu kira." Ujarnya yang tidak tahu saja bulu kuduk Mery sudah berdiri.
Kedatangan Agriel di sambut beberapa orang dengan baju lusuh penuh tanah kecokelatan serta camping robek. Jika di lihat sekilas mereka nampak seperti petani yang baru pulang dari sawah.
"Selamat datang, Tuan Agriel" sapa mereka tidak melunturkan senyuman.
"Di mana mereka?" tanya Agriel setelah mengangguk menjawab sapaan mereka.
"Mari, Tuan, dan Nona.." ajak mereka menunduk, seakan benar-benar takut dengan kedatangan Agriel.
Gedung kosong dengan bangunan seakan ingin roboh itu ternyata tidak seburuk yang Mery bayangkan. Karena ketika kakinya menginjak masuk, hanya ada rasa tercengang dan takjub. Banyak tanaman hias yang tumbuh dengan cantik. Atap gedung itu pun bolong, jadi sinar matahari bisa masuk—akan tetapi hanya sebagian.
"Dulunya tempat ini adalah hotel yang jaya pada masanya." cerita Agriel.
"Mereka gulung tikar?" tanya Mery pelan.
"Ya. Menjual gedung ini padaku. Aku sudah tahu jelas bahwa membeli gedung rosokan ini adalah kebuntungan. Akan tetapi hanya untuk orang yang sempit pemikirannya." jelas Agriel.
"Mereka sedang makan di ruang makan Tuan," ujar mereka.
Agriel mengangguk dan melambaikan tangan tanda mereka boleh pergi.
"Masuklah" perintah Agriel di depan pintu.
Mery menatap Agriel sekilas lalu masuk, dan di sanalah terdapat Satya, Agus, Tuti, dan Leli yang sedang makan bersama.
Raut wajah mereka sangat terkejut bukan main. Apalagi saat melihat kedatangan Mery dan Agriel. Bahkan kini Leli sudah menahan tangisnya.
"Miss Mery..."
"Syukurlah." ucap Mery menghembus napas lega.
***
Jadi selama ini mereka di hukum Agriel menjadi seorang petani tanaman hias. Tetap dengan gaji, dan jaminan makan setiap harinya. Mery menatap tidak percaya akan pola pikir Agriel yang sedikit aneh tapi syukurnya mereka masih hidup.
"Membuang-buang dana hanya untuk membunuh mereka. Aku dulu sekolah, dan diajarkan pendidikan PKN, di sana dikatakan bahwa negara Indonesia adalah negara Hukum. Malas saja menyogok. Daripada aneh-aneh dan kamu marah, mending suruh mereka jadi petani tanaman hiasku. Bisnis yang akan menemani hari tua kita" jelas Agriel.
Mery menghembuskan napas sesaat, lalu menatap Bayu, Agus, Tuti, dan Leli secara bersamaan.
"Apa kabar kalian?" tanya Mery, canggung.
"Alhamdulillah kita baik, miss."
"Syukurlah."
"Kalian—"
"Miss Mery tidak apa-apa?" tanya Leli khawatir.
"Gudang itu mengalami kebakan karena adanya percikan api di bagian teknisi. Percikan api itulah yang menyebabkan gudang terbakar. Ditambah banyak barang mudah terbakar di sana. Kami sangat menyesal tidak menjaga satu sama lain. Hukuman ini sangat pantas bagi kami. Bahkan terlalu baik Tuan Exanta masih mau mempekerjakan kami kembali." jelas Agus.
Mery mengangguk membenarkan. "Bagaimana dengan keluarga kalian?" tanya Mery membayangkan betapa kecilnya gaji mereka sekarang.
"Miss jangan khawatir. Mereka semua aman, dan mereka juga tahu bahwa kami sekarang menjadi petani di Bandung."
"Kami malah lebih senang menjadi petani." sahut Tuti dengan riang.
"Benar. Saya juga lebih suka jadi petani. Mantap bener. Gak ada stresnya mengurus banyak angka sama tulisan." lanjut Satya.
"Aku juga. Wes paling bener kui ya dadi petani." di sambut Agus dengan tawa senang.
"Benar Miss Mery. Kami semua bahagia menjadi petani. Memang pekerjaan kami yang sekarang membuat kami melupakan penampilan, tapi lihatlah raut wajah kami yang bahagia ini. Tidak ada tekanan. Selain itu, menanam tanaman ternyata sangat baik untuk jiwa kami."
"Aku turut senang." jawab Mery.
"Apakah kalian ada niatan ingin kembali ke—"
"Tidak!" sontak saja mereka menjawab secara bersamaan.
"Kami sudah mencintai pekerjaan ini, Miss."
"Baiklah. Tapi jika suatu saat kalian ingin kembali kerja di kantor, hubungi aku saja."
"Baik Miss Mery. Terimakasih."
***
"Aku sangat baik bukan?" tanya Agriel dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
"Terima kasih." ucap Mery.
"Untuk?"
"Telah membebaskan mereka dari jerat rumitnya masalah perusahaan."
"Tidak sengaja. Tapi syukurlah jika kamu senang." Ungkap Agriel.
"Mery.." panggil Agriel. Pria itu bergeser semakin dekat dengan Mery. Menatap lekat bola mata Mery, "Apakah kamu membenci Bella?" tanya Agriel pelan.
"Dia tidak salah apapun."
"Aku belum menjawab dan kamu sudah menarik sebuah kesimpulan." ejek Mery.
"Karena aku takut jawabanmu di luar ekspetasiku."
"Siapa suruh berekspetasi tinggi?"
Rasanya sungguh menyebalkan, Agriel mengigit gemas hidung mancung Mery.
"Kau itu anj1ng atau manusia, ha?" dengus Mery mengusap hidungnya.
Kekehan Agriel terdengar merdu, lalu ikut mengusap hidung kecil Mery juga.
"Jawab sayang," rayunya dengan kedipan mata genit.
"Tidak. Untuk apa membenci anak kecil? Kamu kira aku bodoh?" tanya Mery sedikit ngegas.
"Yang seharusnya aku benci adalah kau dan Anouk." lanjut Mery melunturkan senyuman hangat Agriel.
"Mery.." panggil Agriel meraih kedua tangan Mery. Mentapnya lekat dengan tatapan memohon. "Sudah aku ceritakan semuanya. Aku hanyalah masuk jebakan ayahku Mery.. Aku tidak ada niatan—"
"Hahahaha" tawa Mery menggelegar. Lucu dengan tatapan memohon bak kucing liar yang tengah kelaparan.
"Kenapa ketawa, hm?" tanya Agriel menatap lamat tawa Mery yang sangat dia rindukan.
"Kau lucu. Aku hanya bercanda Agriel."
"Ish!" umpat Agriel memeluk tubuh Mery erat.
"Kau ingin bertemu Bella?" tawar Agriel.
"Ingin. Tapi—"
"Besok kita akan ke Turki, menemui Bella dan menjemputnya." potong Agriel langsung.
"Secepat itu?" tanya Mery kebingungan.
Agriel terkekeh geli, "karena aku sudah menyiapkannya sejak awal sayang." kata Agriel yang membuat Mery memincingkan mata curiga.
"Ampun, sayang!" ucap Agriel menyatukan kedua tangannya dan mengangkat tinggi di depan Mery.
BERSAMBUNG....