
Udara pagi masih begitu pekat, awan pun senantiasa menemani langit yang biru. Pagi tidak membuat hiruk pikuk kota Surabaya pudar, malah pagi membawa banyak berita. Mobil Mery sudah terparkir apik di basemant kantor. Sedangkan si pengemudi sudah duduk manis di ruangan rapat.
Para kepala devisi nampak kompak, dan duduk tenang di kursi masing-masing. Sebari menunggu Bapak Agus, yang selaku jajaran tertinggi, banyak dari mereka mengobrol membahas materi ataupun sibuk sendiri dengan laptop masing-masing.
Mery yang tidak pandai bebasa basi, sudah anteng dengan laptop. Mengecek kembali beberapa laporan bulanan. Sejak kedatangan Mery di Ele's Group, keuangan perusahaan benar-benar terkendali. Keuntungan banyak di raup, dan kerja sama antar devisi pun terjalin baik.
"Selamat pagi." sapaan sambutan dari Bapak Agus pun terdengar masuk melalui celah lubang telinga.
Antensi mata pun beralih fokus pada sumber suara. Begitu pun dengan Mery.
Sambutan singkat yang mengalir begitu saja, rapat pagi ini dilaksanakan. Bagaikan rapat pertama kalinya, sejak nama Inderland berubah menjadi Ele's group.
Oh iya, sejak awal Mery kerja di sini, ia tidak begitu paham kenapa nama Inderland harus di rubah menjadi Ele's. Dari hasil curi dengarnya, konon nama Inderland terlalu kuno, dan diganti dengan Ele's.
Dan menurut pandangan Mery pribadi. Lebih bagus Inderland sih, dari segi baca pun mudah Inderland. Tapi.. Bukan urusannya juga. Toh, dia sudah menjadi bagian dari Ele's. Etah Inderland atau Ele's yang penting bukan bagian dari Exanta. Itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih.
"Perkembangan keuangan meningkat per bulannya, bahkan hutang pun dapat terbayar. Jika kondisi semakin baik seperti ini, bisa di pastikan gaji akan naik. Kinerja harus setara dengan upah. Saya pribadi terkesan dengan usaha Miss Mery." sorak tepuk tangan pun terdengar.
Mery tersenyum tipis, tangannya masih sibuk menulis poin penting rapat.
"Ini sepertinya sangat mendadak, tapi tiga hari lagi kita harus melakukan survei di Bandung. Seharusnya yang datang besok lusa adalah divisi pemasaran dan sumber daya, akan tetapi Bapak Heri setyawan sedang terkena musibah. Rumah beliau kebakaran. Jadi untuk lusa besok, saya meminta langsung pada Miss Mery menggantikan Bapak Heri datang ke Bandung. Saya harap Miss Mery bisa." ucapan itu di angguki oleh Mery.
"Saya bisa, Mr." jawab Mery mantap.
Lumayan juga bukan, ngadem di sana sebentar. Hanya survei yang penting catat dan berani bertanya. Apalagi survei luar kota seperti itu waktunya lama, sekitar satu minggu.
"Berapa lama, Mr?" tanya Mery basa basi.
"Satu bulan, Miss Mery. Karena kita sendiri perusahaan baru.. Jadi banyak yang harus di kerjakan." jawaban Pak Agus, membuat mata Mery melotot. Astaga, lama juga sampai satu bulan.
"Miss Mery tenang saja, karena akan di temani beberapa pasukan yang sudah di siapkan. Dari devisi pemasaran dan sumber daya sudah menyiapkan orang." sambung Pak Agus melihat gerak gerik mencurigakan yang Mery ekspresikan.
"Baik, saya siap menjalankan tugas." ucap Mery mantap. Mungkin karena perusahaan baru?, batinnya.
Ini kesempatan juga bukan? Menunjukkan cara kerjanya yang ia yakini bisa semakin memesatkan dan memajukan Ele's Group.
***
Tidak ada banyak drama kali ini. Entah kenapa juga Neanra mengizinkan Mery semudah itu. Tidak ada air mata bahkan keinginan untuk segera menikah. Ada apa dengan Ibunya itu? Apakah definisi lelah itu benar-benar nyata? Mery pikir Ibunya akan terus mengocehi dirinya untuk segera menikah. Tapi, beberapa waktu ini ocehan itu berhenti dan terganti dengan..
"Mery, nak.. Ingatlah pesan Mom, cukup satu ini saja kamu dengarkan baik-baik. Tanyakan pada hatimu, tanyakan penyebabnya, jangan pernah dahulukan amarah dan kontrol emosi kamu. Penyesalan itu tidak pernah datang di awal, tapi datang lebih awal ada." ucapnya seraya menatap Mery intens.
"Itu lebih dari satu, mom" sahut Mery, membalas tatapan Neanra penuh selidik.
"Ck! Kamu itu di kasih patulah malah seperti itu." decak Neanra, menggelengkan kepala.
Ya, sejak saat itu, karena kini Mery sudah perjalanan menuju Bandung. Rombongan survei yang diberi nama investigasi, yang memberikan nama adalah Bapak Bayu, selaku pemimpin survei kali ini. Mereka menuju Bandung dengan menggunakan pesawat. Dari Juanda Surabaya, diantar oleh Bapak Hertanto. Rombongan itu berjumlah lima orang, dengan Bapak Satya sebagai ketua dari devisi pemasaran dan di sampingi sekertarisnya, yaitu Tuti, Bapak Bayu sebagai pengawas. Dan, Mery di dampingi sekretarisnya Leli.
Perjalanan Surabaya Bandung menggunakan pesawat di tempuh sekitar satu jam empat puluh lima menitan, dengan penerbangan nonstop.
Di pesawat sebagian dari mereka tidur, untuk menyiapkan tubuh untuk kerja hari esoknya.
Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara, di sinilah rombongan Investigasi sekarang. Mendorong koper masing-masing, dan berjalan menuju jemputan yang telah di atur oleh Pak Bayu. Perjalanan yang singkat dan cepat, karena mereka menggunakan transportasi udara.
Dengan kacamata yang bertengger apik di telinganya, Mery berjalan dengan keangkuhan yang ia punya.
Brak
"Tidak apa-apa" sahut Mery, tanpa mau banyak basa-basi yang segera melenggang pergi. Punggungnya sedikit pengal karena salah posisi tidur saat di pesawat tadi.
Yang di tabrak hanya diam sebentar, lalu menyusul atasannya.
"Maaf Presdir." ucapnya menunduk.
"Suruh dia meminta maaf, Ree" ucap Agriel dengan tatapan lurus di depan.
Ree mengangguk, menyuruh Herlina untuk meminta maaf pada Mery. Herlina pun lantas segera menyusul Mery. Bisa gawat kalau sampai membuat tuan muda marah, apalagi dirinya tadi tidak sengaja menubruk bahu wanitanya. Gawat! Benar-benar gawat!
"Permisi, nona.." sapa Herlina tersenyum kikuk.
Mery yang hendak naik ke mobil pun menghentikan pergerakan kakinya.
"Apa?" tanya Mery.
"Perkenalkan saya Herlina, saya—"
"Tujuan mu!" potong Mery cepat.
"Oh.. Aku kira tukang promosi. Lagi pula tadi aku sudah mengatakan tidak apa-apa, bukan? Kau tuli, maaf?" seru Mery.
"Ah.. Eumm. Baik nona, terima kasih." Herlina pun berbalik dengan menahan rasa malunya.
"Kau di suruh ya?" tanya Mery tiba-tiba membuat langkah kaki Herlina terhenti.
Menggigit bibir bawahnya dan menenangkan degup jantungnya yang kian menjadi. Lalu, berbalik dan menatap Mery.
"Keinginan sendiri, nona. Saya merasa bahwa tadi—"
"Oke" ucap Mery lagi, lagi memotong. Dan segera naik ke mobil.
"Astaga! Sifat mereka.... Pedas dan sama-sama menyebalkan!" batin Herlina menahan kesal.
"Ibu Herlina!!!!" Seru Ree, yang membuat Herlina berdecak kesal. Padahal dia masih muda, masih berumur dua puluh enam tahun. Masa udah di panggil Bu sih? Kan ya gimana gitu di hati.
"Baik tuan Ree" sahut Herlina menahan dongkol, dan segera berlari menyusul Agriel dan Ree.
***
Rombongan Investigasi sudah sampai di sebuah Villa di Bandung. Setiap kamar di tempati dua orang, dan tentunya para pria akan tidur di kamar yang sama.
"Aku sendiri?" ulang Mery memastikan. Malah enak 'kan tidur sendiri, di Villa yang tempatnya sangat strategis ini. Sesamping Villa ini di tanami banyak pohon mangga, jambu dan tanaman pucuk merah.
Semua orang yang ada di sana mengangguk mantap.
"Miss Mery tidak apa-apa?" tanya Leli, memastikan.
"Maafkan aku, Miss. Aku takut tidur sendirian, apalagi ini tempat asing. Hanya Leli teman akrab ku di sini." sambung Tuti, mengeratkan cekalannya pada lengan Leli.
Mery tertawa singkat, begitu takutnya Tuti berpikir bahwa dia akan merebut Leli. Astaga, lucu sekali.
"Tidak masalah. Aku malah lebih suka sendiri." jawab Mery.
Hembusan napas lega terdengar. "Baik. Karena pembagian jatah kamar sudah selesai. Kini letak kamar akan saya bagi. Untuk Leli dan Tuti ada di lantai bawah pojok dekat dapur. Untuk lantai atas, yang hanya terdapat satu kamar, untuk Miss Mery dan di bawah dekat pintu utama untuk saya dan Pak Satya. Karena kita yang menjadi pria di sini, untuk jaga-jaga juga."
Semua mengangguk setuju. "Bubar jalan!" sertaknya tegas.
"Hari ini kalian semua istirahat, karena perjalanan yang melelahkan. Besok, jam tujuh pagi harus sudah kumpul di meja makan, siapkan juga berberapa bekas yang nanti akan saya kirim nanti malam." seru Pak Bayu.
"Pak Bayu, kita boleh keluar jalan-jalan sebentar?" tanya Tuti pelan.
Bayu mengangguk, "boleh, asalkan besok kalian berstamina full. Karena bisa saya pastikan besok adalah hari yang amat melelahkan." ucap Bayu dengan lantang.
"Baik pak. Kami tahu batasan. Terima kasih sebelumnya."
"Sudah.. Kalian boleh bubar." sertak Bayu.
Mery segera melenggang pergi ke dalam kamar. Hari sudah siang saja, lebih baik Mery gunakan untuk tidur sejenak. Nanti sore, jalan-jalan sebentar juga bukan masalah. Dan, malamnya Mery akan menyiapkan semua keperluan untuk besok. Yah, itu rencana Mery.
***
Ketika lidah tajam itu masih di tarik alam bawah sadarnya. Sebuah mobil hitam dengan moncong panjang nampak memasuki wilayah pekarangan Villa bertingkat satu itu. Kedatangannya pun di sambut sangat amat baik oleh para penghuni Villa—kecuali Mery.
Kakinya panjangnya keluar dan berjalan gagah di ikuti para bodyguard berbaju hitam dengan airpods di telinga mereka. Kacamata hitam khsus pun ikut menjadi sorotan penulisan. Mereka yang terpilih bukanlah orang biasa. Melainkan orang terlatih dari sebuah klan, yang baru-baru ini mengegerkan dunia bawah.
Bayu, Satya, Tuti, dan Leli, menunduk memberikan hormat pada tuan muda Exanta, siapa lagi jika bukan Agriel?
Kedatangannya di tengah padatnya jadwal bisnis ke Villa ini, adalah untuk menengok dan menatap lamat wajah wanita yang sangat ia puja. Yah, Agriel mengakui bahwa Merylah yang mampu menjungkir balikkan kehidupannya. Hanya Mery.
"Selamat datang, Tuan Exanta" sapa mereka serentak, menunduk hormat.
Bruk!
Setumpuk dokumen tebal, berisi agenda yang harus mereka kerjakan dengan waktu satu minggu. Tenggat mereka pun tinggal di Villa itu.
"Perusahaan kalian sudah menjadi bagian dari Exanta group. Pemimpin kalian pun kalian tahu. Tepat di lantai atas, itulah pemegang kekuasaan Ele's Group. Bungkam, sebelum mulut kalian lah yang di paksa bungkam. Di depan kalian, ada setumpuk dokumen berupa misi dan visi kalian ada di sini. Satu minggu, bisa kurang? Kami memberikan bonus, lebih? Jalankan tugas tapi tidur di kolong jembatan. Tidak terima? Pintu keluar sudah amat terbuka lebar. Dengan cap, yang tentu kalian semua paham" jelas Ree tegas.
Tatapan Agriel tidak lepas mengawasi satu persatu manusia di depannya. Tatapan yang seakan membidik musuhnya tepat sasaran. Yang di tatap hanya diam terpaku, karena takut. Apalagi orang-orang sangar di belakang Agriel.
"Pekerjaan kalian di mulai dari sekarang. Mari ikuti saya dan Helina." Ajak Ree di ikuti mereka semua.
Sedangkan Agriel, sudah berjalan pelan menaiki anakan tangga menuju kamar Mery. Rasa rindu memang hal paling berat. Sungguh! Agriel tersiksa teramat.
BERSAMBUNG...