
Happy reading 🧚‍♀
***
Rasa sakit menjalar begitu lekat, sampai ke tulang-tulangnya. Pedih, dan begitu mengenaskan, jalannya pun terseok-seok menahan kesakitan. Secara pelan, tungkai itu ia ajak berjalan. Mendesis menahan rasa ngilu di berbagai tubuhnya. Menangis pun percuma, karena hanya membuang-buang tenaga.
Pulau ini terpencil, jauh dari aktivitas penduduk. Pulau pribadi atas nama Desta yang di ukir dibawah laut dalam, yang sempat memakan biaya beberapa truk berisi uang. Bisa kamu bayangkan seberapa banyaknya uang itu? Dan itu pun bukan rupiah tapi dollar. Desta memang melanggar hukum pemerintah, karena membeli pulau tanpa adanya izin resmi. Sulit memang untuk membeli sebuah pulau. Tapi, itu semua tidaklah sulit jika adanya dongkrakan merah menyala dari bawah.
Mata Anouk menyalang, menatap sekitar dengan gusar. Bola matanya pun tidak luput bagaikan singa mencari mangsa, gerak gerik penuh ketakutan sampai pupil itu mengecil, memanjang bagaikan mata kucing di malam hari. Detakan jantung di bumbuhi keringat sebesar biji jagung. Jakun kecil Anouk naik turun, serima dengan rasa takut yang kian ia rasakan.
Sudah lebih dari berapa hari? Entahlah, Anouk tidak punya waktu hanya sekadar menghitung. Otaknya sudah penuh dengan ambisi cepat kabur dan meminta pertolongan. Yah, pertolongan. Anouk harus mencari sang malaikatnya.
Dress putih compang camping, kaki tanpa alas kaki dan rambut berantakan. Penampilan Anouk bagaikan gembel, ditambah wajahnya yang pucat, kian memucat.
"KELUAR BABY!" teriak Desta menggelegar. Anouk lantas berjalan pelan, menunduk dengan menahan isak tangisnya di dalam semak belukar. Peduli setan dengan semut dan akar-akar itu melukainya. Kesehatan mental dan fisiknya lebih utama daripada sekadar bentol dan lecet.
Desta mengerang marah, mengumpat dengan mencaci maki bawahannya yang hanya bagaikan orang idiot.
"Cepat cari! Sampai ke pelosok sekalipun! Pulau ini tidak sebesar yang kalian bayangkan! Jaga ketat bagian timur, karena gua itu adalah jalan keluar satu-satunya." desis Desta, menonjolkan urat lehernya. Pertanda marah sudah menguasai birahi dahaga di hati pria paruh baya itu.
"Laksanakan tuan!"
"Anouk, ingatlah satu hal. Kesalahan mu fatal! Kau dengan lancang memberikan dokumen penting perusahaan kepada musuhku. Aku pun tidak akan tinggal diam. Basta akan segera mendapatkan balasan yang setimpal! Macam-macam denganku, dasar serakah! Dulu lilyana sekarang Obrama! Bang*sat!" geram Desta.
"Aku yakin telinga kolotmu mendengar ucapanku, Baby. Menurutlah dan kau akan tetap hidup." lanjut Desta berjalan pelan menuju semak-semak tempat Anouk sembunyi.
"Hidup dan menjadi boneka se*ks mu! Kau pikir aku Lilyana mu itu?" balas Anouk dalam hati.
"Baby... Keluar sebelum anak dari gi-go-lo mu aku musnahkan!" ancam Desta.
"Anouk.. Aku tahu kau—"
"Tuan Desta!" panggil penjaga yang Desta perintahkan di gerbang pintu masuk-keluar pulau ini.
"Ck! Ada apa?" tanya Desta, berbalik dan menjauh dari tempat persembunyian Anouk.
Napas Anouk terlihat mulai normal. Dia berjalan pelan, mundur sedikit demi sedikit dan lari seraya memegang perutnya yang sangat amat kram. Lelehan air mata Anouk keluar tanpa mau di hentikan. Begitu sakit, apalagi saat mengingat pengorbanannya mendapatkan simpati dari seorang Desta. Bahkan menjadi pela*cur pun Anouk kabulkan. Sialnya, hanya tetap ada Lilyana di hati pria itu.
"Kau bodoh Anouk! Bodoh! Kau di permainkan dua saudara sekaligus! Kau bodoh! Sudah baik Tuhan dulu menyematkan di hatimu memiliki cita-cita menjadi biarawati. Kau salah, dan ini karmamu, ya.. Aku tahu itu, bang*sat!" lirih Anouk dengan napas tersenggal.
***
"Aku sengaja memberikan sebagian saham Obrama pada Basta melalui Anouk, Agriel. Hanya Bastalah yang nantinya bisa berubah. Dia punya Aiyla, berbeda dengan Desta yang masih gila dengan Lilyana. Asal kau tahu pun, mereka berdua belum resmi menjadi pemimpin perusahaan, berkas itu masih ada di tanganku. Jika mereka sombong, maka beritahukan pada mereka bahwa di atas langit masih ada langit."
Ucapan sang kakek dua minggu yang lalu, terlintas kembali di otak Agriel. Licik sekali seorang Nandhaya. Agriel bahkan menggelengkan kepala.
"Tuan.." ucap Ree menunduk hormat di depan Agriel.
"Hm??"
"Tuan Bahir sudah datang" ucap Ree,. Memberitahu.
"Suruh dia masuk, Ree" perintah Agriel merubah posisi, duduk tegap.
"Baik tuan" sahut Ree.
Bahir Odjama, seorang ketua dari mafia Surine marine. Di mana ada Basta sebagai anggota inti, yang bisa di bilang hanya numpang nama demi tameng untuk keselamatan dirinya.
"Selamat pagi, Tuan Brahtara, salam hormat sensei" ucap Bahir, membungkuk, lalu menautkan kedua tangan membentuk kepalan, sebagai salam.
Agriel tersenyum tipis, sangat amat tipis kepada Bahir yang nampak canggung.
"Kau tidak mandi berapa abad, Bahir?" tanya Agriel tertawa menutup hidung.
"Aku anti air, Sensei. Minyak di wajahku menambah ketampananku," akunya percaya diri.
"Masih ada saja ******* yang mau tidur denganmu."
"Mereka aku bayar. Aku suruh bercinta dengan sapi pun mereka sepertinya akan mau, Sensei" gurau Bahir, tertawa pelan.
"Aku kasihan pada sesama perempuan lainya. Mereka merendah diri mereka tanpa sadar akan sesama jenisnya. Jangan pernah kau samakan perempuan baik-baik di luar sana dengan boneka birahimu, Bahir. Aku benci mendengar kalimatmu, perempuan bukan sapi betina yang kau minta bercinta dengan sapi jantan." dengus Agriel. Tiba-tiba saja bayangn Merynya muncul di kepala.
Bahir bersujud, meminta maaf pada Agriel. Sungguh rasanya sangat malas, terlalu di sanjung bak anak TK berhasil menulis angka tiga. Kenapa Agriel merasa setiap di sanjung, malah dirinya menganggap semakin payah.
"Berdirilah, aku memanggilmu bukan untuk menyembah ku." ucap Agriel malas.
Dan, detik berikutnya dua pria itu sudah duduk dengan saling pandang. Tatapan tajam Agriel mampu membuat Bahir kikuk.
"Di mana?" tanya Agriel.
"Ini, Sensei" di letakkannya bekas itu kepada Agriel.
"Kau yakin ini asli?" tanya Agriel.
"Asli sensei. Bukan hal serius bukan? Aku menyukai ilmu hipnotis."
"Ck! Anouk pun kau ikut hipnotis?" tanya Agriel.
Bahir tertawa keras, "pandangan wanita hamil itu kosong saat datang ke markasku. Sangatlah mudah mencuci dan memasuki pemikiran otaknya"
"Kakek tidak tahu kan?" tanya Agriel pelan.
"Ku tarik pertanyaan bodoh itu" decak Agriel kesal.
"Kembalilah," usir Agriel.
"Piw! Sensei sudah tidak sabar berkeringat sambil makan siang dengan Nona Mery!" ejek Bahir dengan nada mesum. Dasar otak penuh kumbangan.
"Keluarlah, Bahir. Sebelum—"
"Baik Sensei. Aku harap minggu depan kau datang, dan melatihku di lapangan"
"Ku usahakan" balas Agriel cepat.
"Terimakasih, Sensei. Aku undur diri."
"Banyak basa-basi!" dengus Agriel, mengambil kunci mobil dan melesat keluar menuju mansion.
****
Pintu terbuka, menampilkan Mery yang duduk menghadap kaca bening—mempertontonkan pemandangan taman Mansion—seraya menyulam. Sejak di kurung bak burung di dalam sangkar, Mery linjur menjadi buruh sulam. Awalnya sulit dan membutuhkan banyak kesabaran. Dengan modal otodidak dan ala-ala dari Mery, akhirnya tangan itu pun lincah menyulam.
Kepalanya menoleh, sekilas. Dan lanjut menyulam. Kondisi tubuhnya sudah sangat pulih, Mery merasa ia bisa diajak lari mengintari taman Mansion yang luas itu.
"Sayang.." panggil Agriel, bergelayut manja di pundak mungil Mery.
Mata Mery terdiam sejenak, sebelum udara menyuruhnya berkedip. Dari menyulam, Mery belajar banyak kesabaran.
"Apakah kau membawa jus alpukat?" tanya Mery, membuat Agriel gemas.
"Ya.. Sesuai permintaan mu, sayang" celetuknya menunjukkan kantong plastik bening berisi jus alpukat—minuman kesukaan Mery-nya.
Binar matanya begitu ketara. Mery menyambut jus alpukat itu dengan hati riang gembira.
"Terimakasih." Ujar Mery.
Agriel tersenyum, lagi dan lagi tersenyum. Mungkin akan ada banyak kata senyum di penulisan ini. Tidak bisa rasanya jika Agriel tidak tersenyum. Mery terlalu memberikannya kebahagiaan. Sebuah rasa membuncah mengelitik di hatinya terdalam. Bila orang lain melihat, bisa kau katakan bahwa Agriel mulai gila. Banyak tertawa dan tersenyum, predikat CEO galak, dingin seakan musnah ditelan waktu.
Yeah, waktu, pedang manusia paling tajam. Membelah tanpa di minta, melukai tanpa di perintah dan selalu saja enggan mengobati, atau sekadar saja waktu memberikan obat itu. Ku harap, kalian berhati-hati dengan waktu—untukku juga.
"Jadi, apa saja kegiatan mu hari ini?" tanya Agriel, duduk tenang.
"Aku bosan, ceritaku ya hanya itu-itu saja. Bangun, mandi, berdandan, menyulam, sendiri, melamun, makan, minum, tidur, dan bangun kembali."
"Maafkan aku, Mery" sirat ucapannya begitu tulus. Agriel sebenarnya tidak tega menggurung Mery-nya. Tapi, di luar sana begitu bahaya. Bisa saja Mery-nya lepas, dan ini merupakan kesempatan terakhir bagi Agriel. Pikiran manusia bisa di ibaratkan sel. Ada banyak, milyaran ataupun triliunan, memang mereka hidup rukun setiap harinya. Tapi pun setiap hari itu, selalu ada pendatang yang mengacaukan, yang berakhir hampir 250.000 sampai 300.000 sel mati setiap harinya. Ingin mencoba bertahan? Maka itu hanya akan menjadi boomerang bagi induknya. Kanker ,yang menyebar atau tumor yang diam mematikan? Ya, sama saja.
Kali ini, Agriel egois. Membiarkan kanker itu tumbuh. Biarkan menyebar, walaupun berupa sel mati—yang akan hancur. Bukankah semesta menyediakan air? Sebagai zat pelarut. Semoga, zat pelarut itu mampu meluruhkan rasa benci di hati Mery. Sorot mata wanita itu tidak bisa di bohongi, penuh akan sirat kebencian yang tertahan oleh sebuah membran.
"Aku tidak butuh maafmu, Agriel. Yang aku butuhkan kebebasan. Bisakah kau memberikan aku itu? Hanya sekadar keliling Mansion. Sudah berapa minggu aku di sini? Atau mungkin tahun? Tanggal berapa? Bulan apa saat ini? Aku bahkan tidak tahu."
"Mery—"
"Jangan jadikan aku bagaikan idiot, di sini Agriel. Aku manusia, yang membutuhkan kebebasan!" sertak Mery kesal. Menahan sesak di hatinya begitu menyakitkan. Ia perlu pelepasan, agar rongga hatinya menjadi lega.
Tangan Agriel menyentuh bahu Mery. Membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Menghelakan napas, berulang kali. Memastikan keputusan dadakan ini benar.
"Kau ingin kebebasan yang seperti apa?" tawar Agriel.
"Aku ingin menghirup udara lain, selain di ruangan ini, hanya itu saja. Bisakah?"
"Bisa." jawab Agriel, membuat Mery tersenyum senang.
"Kau tidak bercanda, sayang?" tanya Mery, membuat hati Agriel tersilet banyak cinta.
"Ya. Aku tidak bercanda."
"Serius?"
"Aku serius, tapi ada syaratnya" Sorot mata keduanya beradu. Seakan sepasang kekasih yang sedang di mabukkan cinta.
"Apa?" tanya Mery berdecak kesal, memutar bola matanya malas.
"Jangan dekat-dekat dengan tua bangka itu. Dan, hanya boleh di area Mansion ini. Jika kau juga bosan dengan area Mansion ini, bilang saja. Akan aku renovasi—setiap hari jika perlu!"
"Ck!" decak Mery.
Cup
Satu kecupan basah mendarat di bibir Mery. "Kenapa, hm? Atau kau lebih suka berdiam di kamar ini?"
"Tidak! Aku setuju!" ucap Mery, senang. Banyak rencana di otaknya. Mansion ini besar, luas dan penuh dengan sisik beluk bangunan. Jalan keluar-masuk pun pasti tidak hanya satu. Penjaga itu juga manusia 'kan? Walau badan mereka kekar melebihi manusia normal. Tetap saja, mereka manusia.
"Sekali saja kau mencoba kabur. Aku terkam dirimu setiap hari Mery. Aku tidak main-main. Menahan sesuatu itu membuat pening, asal kau tahu itu"
"Siapa yang ingin kabur? Bukankah enak hidup di sini? Tidak kerja, tidak perlu bersusah payah menguras tenaga. Tinggal makan, minum dan leha-leha. Ini impian banyak wanita bukan?" sahut Mery, membuat Agriel gemas. Menyedot hidung kecil itu.
"Ya, kau memang pesilat lidah handal, sayang" puji Agriel, menghapus jaring saliva yang jatuh itu.
BERSAMBUNG...