
Sejak pertemuan itu, Anouk memutuskan tidak pulang ke Indonesia. Dia di China, dia ingin mati dan di kuburkan di tempat asing. Di tempat di mana dia tidak pernah menginjakkan kakinya. Dosanya terlampau luas, setiap jejaknya Anouk merasa itu membekas—mencentak kuat dosanya.
Kondisinya kini drop, Anouk benar-benar berada di titik di mana dia hanya mampu diam dengan pandangan kosongnya. Tidak akan ada habisnya mendeskripsikan kondisi Anouk saat ini. Dia benar-benar ingin segera lepas dari kemarukan dunia. Melepas dan segera pergi. Dia sudah merasa tidak sanggup hidup bersama manusia-manusia di muka bumi ini.
Di pikirannya, hanya ada dosa. Dosa-dosa besar yang pernah dia lakukan. Semuanya terperangkap di hatinya, tidak bisa keluar dan seolah-olah membuatnya terus ingin menyesal.
"Kau tidak rindu anakmu?" Tanya Mery setelah keluar dari toilet. Wajah Mery pun sama pucatnya. Wanita muda itu tengah hamil, mengandung dua bayi sekaligus. Di lihat dari perut Mery yang mulai membuncit padahal kandungan masih di awal.
Anouk tersenyum gentir, membalas ucapan Mery. "Bayi itu terlalu suci untuk ku yang seorang pendosa."
"Kau terlalu menjebak dirimu sendiri, Anouk. Semua orang mempunyai dosa, dan tidak mungkin manusia di bumi ini suci, kecuali bayi yang baru saja lahir."
"Aku memang menjebak diriku sendiri Mery" Anouk menangis. Dia menangis dan menangis sepanjang waktunya. Tangan keringnya meraih Mery. Dia memegang wajah Mery halus, lalu mengelus perut Mery lembut. Teramat lembut sampai-sampai membuat desiran aneh di hati Mery.
"Maafkan aku. Jika saja aku tidak egois dan mementingkan diriku sendiri. Aku tidak akan mungkin sampai di titik ini. Kamu dan Agriel pun pasti sudah bahagia sejak dulu. Aku merebut, dan merampas kebahagiaan orang lain. Tidak elak pun Tuhan juga merampas kebahagiaan ku."
"Tuhan sungguh baik Mery. Kau diberi dua bayi. Kau akan menjadi seorang Ibu, untuk anak angkat mu, untuk bayiku, dan untuk anakmu sendiri. Kau wanita kuat. Tuhan sepertinya sangat percaya dengan mu. Dia seberani ini memberikan tanggung jawab besar ini padamu Mery. Kau harus bersyukur atas itu. Menjadi ibu itu impian banyak orang. Membuat anak-anaknya sukses dan berhasil adalah cita-cita seorang ibu. Rawat anakku ya Mery?" Tanya Anouk, menggenggam tangan Mery.
"Jaga Anakku. Rawat dia. Sayangi dia. Ucapkan bahwa aku sangat mencintainya, aku sangat menyayanginya. Jika ada kesempatan di kehidupan selanjutnya, aku hanya ingin menjadi seorang Ibu yang merawat anaknya sampai dia sukses dan mempunyai keluarganya sendiri. Sampaikan itu Mery."
Mery menghembuskan napasnya, menahan kuat air mata itu agar tidak jatuh membasahi pipinya.
"Sudah menjadi tanggungjawab ku, Anouk. Aku akan merawat anak-anak ku dengan penuh cinta. Tidak akan ku bandingkan mereka. Sebab, mereka adalah karunia Tuhan yang sangat amat berharga."
Anouk mengangguk, "bisa kau panggilkan Desta?" Mery mengangguk dan berjalan keluar ruangan. Di luar, sudah ada Desta yang duduk dengan wajah sangarnya.
"Anouk memanggil mu."
Tanpa jawaban Desta masuk dan duduk menghadap Anouk. Menatap anak angkatnya, mengingat wajah cantik nan unik Anouk kala remaja. Noni Belanda itu dulunya sangat famous di negara asalnya. Di ejek saat menampakkan kaki di negeri ini. Salah Desta yang tidak pernah mengungkapkan rasa tulusnya pada Anouk.
Cinta itu datang karena waktu. Seperti itulah penggambaran Desta pada Anouk. Mencintai anak angkatnya sendiri, dan menyetubuhi Anouk. Beruntungnya di saat ternyata Anouk tergila-gila padanya. Desta memanfaatkan hal itu untuk memperdaya Anouk. Membalaskan dendam pada Brahtara dan jajarannya, terutama Basta. Desta amat membenci Basta, sebab dialah sebab kehancuran dari kehidupannya.
Masalahnya sebenarnya hanya sepele, Aiyla-nya. Itu semua sudah terkikis habis, apalagi saat Ai-nya sendiri lupa selupa-lupanya dengan Desta. Tersenyum gentir Desta mengingat itu.
"Kau teringat cinta pertama mu?" Tanya Anouk. Desta mengangguk, tidak mau bohong dengan Anouk.
"Itu hanya masa lalu—"
"Yang terbawa di masa depan." Potong Anouk.
"Lupakan, Dad. Ada yang ingin aku sampaikan padamu."
Desta duduk tegak, siap mendengar apa yang ingin Anouk sampaikan.
"Terima kasih. Terimakasih telah mengadopsi ku saat itu. Telah memberiku kehidupan yang layak, mengenalkan ku pada kemewahan dunia. Telah mengajakku keliling dunia, dan membuatku tersenyum melupakan asal usulku yang hanya seorang anak yatim piatu. Aku pun meminta maaf padamu. Begitu lancang jatuh cinta padamu. Maafkan aku pula yang membuatmu terjebak di lingkup cinta tergesa ku. Aku meminta maaf sebesar-besarnya. Seharusnya aku tidak lah selancang itu. Aku seharusnya sadar dan menjalani kehidupan sesuai dengan kodrat ku. Tuhan pun telah memberiku hukuman. Desta, Donan adalah anakmu. Aku tidak bohong tentang itu. Aku memang tidur dengan banyak pria, tapi hanya denganmu aku tidak memakai pengaman. Sayangi Donan, aku mohon." Mohon Anouk menangis kencang, seraya menepuk-nepuk dadanya sendiri, saking sesaknya.
"Sayangi Donan, beri dia kasih sayang langsung dari ayahnya. Jangan kau ajari dia kesesatan. Agar Agriel pun tidak melarang mu bertemu dengan Donan. Tolong Desta, sayangi Donan. Aku mohon! Percayalah bahwa itu anakmu—"
"AKU TAHU! AKU TAHU SEMUA! LEBIH BAIK KAU DIAM DAN KEMBALILAH PULIH! AKAN KU BAWA KAU PERGI DARI SINI, MULAI KEHIDUPAN KITA, HANYA ADA KITA!" sertak Desta, melotot menahan gejolak pedih di hatinya. Dia memegang pipi Anouk, mengelusnya lembut dengan tangan bergetar.
"Anouk... Aku telah jatuh cinta padamu, sadari awal. Aku menyuruhmu tidur dengan para pria itu karena aku tidak ingin mengkhianati cinta pertama ku. Aku berpikir bodoh, aku salah. Seharusnya aku membuang pikiran busuk itu. Aku—"
"Dan nyatanya kau hidup atas nama masa lalu, Desta!" Potong Anouk.
Keduanya terdiam, menangis dalam diam. Dan, Desta membawa Anouk kedalam pelukan hangatnya. Dia memeluk Anouk kuat nan erat.
"Maafkan aku... Segeralah sembuh, sayang." Bisik Desta. Anouk mengangguk, dia membalas elusan tangan Desta di punggungnya.
"Aku akan sembuh. Aku akan abadi. Bersama dengan kisah kita, akan ku bawa untuk ku pertanyakan balasannya pada Tuhan."
"Desta, Terimakasih."
****
Cinta dan kasih itu sudah tamat. Waktu memberinya banyak kesempatan, tapi di sia-siakan. Hanya ada mata yang tertutup, dia sudah tidur nyenyak untuk menunggu kehancuran. Abadinya akan dikenang. Tulangnya akan hancur melebur dengan tanah. Peti tempatnya tidur pun akan rusak, tergantikan dengan alas tanah.
Nyanyian-nyanyian kerohanian, penuh duka di pimpin oleh sang pendeta. Tangisan tak bersuara, mereka cemas di waktu bersamaan. Kematian adalah teman sejati manusia. Hanya saja mereka tidak menyadarinya. Dianggap biasa saja, dan tinggal menunggu kebaikan Tuhan ingin mengulurnya atau ingin mempercepatnya. Hanya ada dua pilihan.
"Dia sudah pergi. Bersama dengan rasa sakitnya." Bisik Desta.
Mery tersenyum sesaat, "kau penyebab rasa sakit itu, Tuan Desta."
"Aku juga menginginkan hari ini tiba. Hari di mana aku hanya bisa tidur, menunggu kehancuran semesta."
"Tuhan masih ingin menyiksa mu di dunia ini." Jawab Mery, lalu bangkit.
Pemakaman akan segera di mulai, mobil penghantar jenazah sudah di siapkan. Jasad Anouk tidak di bakar sesuai tradisi China, namun di kuburkan dengan sistem ajaran Kristen. Wajah pucat Anouk nampak segar dengan polesan make up. Terlihat cantik nan anggun, seakan sudah siap bertemu dengan Tuhan.
Tidak banyak yang hadir dalam pemakaman Anouk. Hanya ada segelintir orang, yang nampak memenuhi ruangan kosong nan hampa itu. Prosesi pemakaman terlalu singkat, dengan Desta yang masih terdiam mengingat masa suram dan bahagia mereka. Ingin rasanya Desta menuliskan kisah itu. Kisah indah namun harus terkubur rapat dengan kegelapan malam.
Sejatinya pun yang hidup memang ada dengan tujuan mati.
***
Dari lantai satu, tepat di mana kantin karyawan berada berlari melalui banyak lif sampai ke lantai lima. Ree mengatur napasnya dengan tergesa. Meraup udara di sekitarnya dengan rakus, seakan pasokan oksigen tinggal beberapa butir saja.
"Tuan Ree? Asma mu kumat?" Tanya Herlina sambil memegangi setumpuk dokumen tebal yang siap dia setorkan pada Agriel.
"Bu-khannn hah hah hah.."
"Bukan bagaimana? Perlu aku belikan obat asma? Atau mungkin oksigen?" Tawar Herlina.
"Tapi nanti ya, dokumen ini harus segera di tandatangani serta di periksa Tuan Agriel."
Ree melotot, dia menegakkan tubuhnya dan mulai mengatur napas secara normal. Mengibaskan jas hitamnya, dan menatap Herlina tidak suka.
"Kau kira aku pria muda tampan berpenyakit?" Sertak Ree, memang sangat sensitif jika sudah dengan Herlina.
"Niatku baik Tuan. Tapi kau menangkapnya sungguh buruk. Menyesal aku sudah membuang waktu berharga ku untuk menunduk dan menawari bala bantuan."
"Kau semakin cerewet Ibu Herlina." Dan Ree segera pergi menuju ruang Agriel yang berada di ujung.
Herlina mendelik, dia sangat tidak suka jika ada yang memanggilnya Bu. Dia kira dia sudah tua? Masih muda seperti ini kok di panggil Bu. Tapi, salahnya juga yang jika bekerja menggelung rambutnya mode emak-emak.
"Sial!" Geruntu Herlina sadar diri.
Di ruangan Agriel, Ree lantas membukanya tergesa.
"Tuan—"
"Atur jadwal penerbangan ku ke China." Potong Agriel yang ternyata sudah lebih dulu tahu.
Ree melengos, dia sudah berjuang lari dari lantai satu ke lantai lima dan hasilnya Tuannya sudah mendengar kabar dari mulut orang lain.
"Apa? Kau itu sangat lambat. Seperti siput." Ejek Agriel, memainkan hidung kecil imut Donan.
"Wow, itu pujian yang membuat saya melayang, Tuan. Sungguh."
"Baik Tuan. Saya permisi."
BERSAMBUNG.....
Hallo! Nana publish cerita baru nih, dengan judul MY BOSS. Ceritanya bertemakan dark love ya. Jadi bijak-bijak dalam memilih bahan bacaan. Novel Nana kali ini sepertinya akan banyak problem🥺 udah di tolak dua kali, sampai bingung revisi bagian mana lagi 😫. Mungkin kalau di Noveltoon banyak 'kerusuhan' Nana akan publish di aplikasi lain. Doakan saja ya, biar tetap bisa update di sini!
Thank you🌺
Bocoran: Gak sampai 10 bab, Elemery akan tamat🤩 Yeay!!