ELEMERY

ELEMERY
LOWONGAN KERJA DI TIANG LISTRIK



Daripada menjadi pengangguran sejati, Mery akhirnya memutuskan ikut berkebun menanam beberapa bunga dengan Neanra. Walau sebenarnya, berkebun bukanlah keahliannya. Tapi, bukan masalah, setidaknya cap wanita pengangguran tidak begitu melekat.


Neanra sadari tadi terkekeh geli, memperhatikan Mery yang sedang mencampur tanah dengan pupuk. Bukannya sibuk mencampur, wanita itu malah sibuk membersihkan tanah yang menempel di kuku panjangnya. Geruntuan tidak jelas tentu saja terdengar.


"Bagus! Kuku mahalku hangus detik ini juga." Gumamnya menatap kesal tanah di hadapannya.


"Pakai sarung tangan Mery." teriak Neanra kencang sampai mendengung di area daun telinga Mery.


Dengusan terdengar, Mery berdecak kesal menatap sarung tangan yang sudah tidak berbentuk sarung tangan itu.


"Biarkan kuku saja yang menjadi korban, jangan kulit." Lirihnya bergidik ngeri sendiri.


"Kalau kotor di cuci, Mery. Kau ini!" gemas sendiri rasanya menghadapi kelakuan Mery.


"Astaga Mom! Sarung tangan gembel itu, baru terkena detergen sudah hancur duluan." tuturnya malas.


"Namanya juga barang lawas." balas Neanra, tidak bisa menyembunyikan senyuman kecilnya.


"Itu tahu..." gumam Mery lirih, sangat lirih hampir tidak terdengar.


***


"APA SIH??" pekik Huble kesal, menatap Ertan yang malah cengengesan tidak jelas.


Masih pagi, sudah membuat kerusuhan di rumah Huble. Acara memperkenalkan diri sebagai mantan yang diajak balikan lagi. Lebih seramnya, si Ertan bicara terang-terangan. Tanggapan orangtua Huble? Tentu saja berdecak kesal dengan Ertan, yang hobinya ngajak anak orang pacaran doang! Gak ada keseriusan. Capek deh!


"Ngikutin kamu.. Habis lucu sih," jawab Ertan, mendorong rambut klimisnya ke belakang. Gayanya sok sebagai manusia paling kece di muka bumi ini.


"Luca lucu, kepala peyang! Risih tahu gak! Kenapa ngikutin aku? Hari ini jadwal apel di aku, iya? Besoknya ke Moni? Dihhh buaya. Kawanmu ada di kebun binatang, sana gih!" usir Huble sadis.


"Ngode ya? Ayukk atuh ke kebun binatang. Gak usah gengsi, baby Huble keplese jadi Umbel" raut wajah tengilnya itu loh! Minta di buang ke sungai ciliwung.


"TAUK AH!" desis Huble dan segera berjalan ke arah mobilnya.


"Sayang.. Aku ikut. Kamu yang nyetir, ya. Soalnya aku takut gak fokus. Kalau ada kamu di samping ku, eaaa"


"Gak! Ngelesot aja" pekik Huble memberikan tatapan tertajamnya.


Si Ertan, manusia tidak peka se-jagat raya itu malah mendahului masuk mobil.


"Udah ayok, gak usah gengsi.. Kemarin aja aku apel sama Moni kepanasan. Ini giliran kamu, buat juga dong si Moni kepanasan. Biar impas" celetuknya dari mobil.


"Demi apapun! Aku dulu kenapa bisa pacaran sama kamu?" gumam Huble, menghentakkan kakinya kesal.


"Ya kan aku tampan." jawab Ertan, yang seperti dengar.


"Muka kaya bekicot aja tampan. Apa kabar para keong?" desis Huble.


"Sadis banget sih pujiannya."


"Aku dengar kamu sibuk jadi babu teman mu ya? Di suruh nyari kerjaan?" tanya Ertan sok tahu.


"Kuping kamu ada di mana-mana, ya" balas Huble melirik sinis, Ertan.


"Iya dong.. Namanya juga PDKT."


"Eh tapi.. Kenapa gak upgrade banget sih jadi orang. Cari kerjaan kok ribet, tuh di tiang listrik banyak—"


"Poster sedot WC" tungkas Huble cepat.


"HAHAHA... kamu lucu banget sih, jadi pengin baperin"


***


Astaga rasanya Mery ingin mencakar wajah wanita jelek di depannya itu. Siapa lagi kalau bukan Sela? Setelah kepergian ayahnya, wanita jadi-jadian—karena berani jadi pelakor—itu terus mendesak harta gono gini. Apalagi sejak bertemu, atau lebih tepatnya sengaja ingin bertemu dengan Mery di pemakaman kemarin, Sela terus meminta harta.


Coba kalian pikirkan, harta dari mana? Mery saja sedang di landa kesusahan. Sepertinya otak wanita itu geser jauh dari tempatnya.


"Mery! Kamu itu harusnya memberikan saya harta warisan Desinton! Kamu jangan serakah ya, sudah jelas saya ini istri sahnya. Kamu gak kasihan apa sama Elina—anaknya dengan Desinton, dia butuh biaya untuk pendidikannya. Jangan mempersulit apapun kamu. Hidup mu enak! Di kasih rumah dan perusahaan sama ayahmu!. Benar-benar gak adil, aku kok yang dapat sepahnya. Di jadikan perawat gratisan lagi!" omel wanita dengan jerawat memenuhi sebagian muka itu.


Marah-marah terus sih, jadi hormonnya meningkat, jadilah jerawat.


"Haduhhh, mulutnya ngoceh terus ya, Bu" desis Mery. Sudah kesal tadi karena kuku mahalnya di potong, kini sudah ada yang menyulutkan emosi.


"Gak tahu sopan santun ya, bicara sama orangtua—"


"Ssttt!! Gantian bicaranya." desis Mery tajam dan tegas.


"Jadi orang itu pandai-pandai berkaca. Jangan asal ceplos sana sini. Coba kamu ingat masa lalu kamu dengan ayah, bagaimana?. Perlu dijelaskan? Kalau kehadiran kamu itu hanyalah parasit yang muncul di tengah musim gugurnya keharmonisan keluargaku dulu. Dari cara datang kamu saja, sudah membuat wanita di dunia ini malu. Bisa-bisanya tega, menyakiti sesama jenisnya. Perasaan sudah mati rasa ya?."


"Apa? Jangan memotong pembicaraan. Ingin membela diri atau semakin mempermalukan diri?. Walau pun selingkuh itu di lakukan dua orang, yang berarti tidak hanya satu pihak yang salah. Tapi, setidaknya jadilah wanita sesungguhnya. Kamu sendiri sudah tahu, siapa itu Desinton! Dia sudah berkeluarga, bahkan anaknya sudah kuliah. Walau dulu, mungkin ayah ku yang mencari, tapi setidaknya jangan membuka pintu. Gunakan kehormatan mu."


"Kamu kira Tuhan itu tidur? Tidak tahu siapa-siapa yang berbuat maksiat?. Lucu sekali... Dapat karma atas perbuatannya, tapi tidak mau mengakui. Bisa-bisa orang yang mendengar akan tertawa, meruntuki kebodohan yang kamu punya." tawa Mery, menatap sinis Sela.


"Harta? Kamu kira ayahku seorang miliarder? Seorang pengusaha?. Kamu sendiri pun tahu, jangan berpura-pura kolot. Bahwa semua harta itu milik Ibuku, Neanra. Sudah baik, dulu Ibuku memberikan pasokan dana ke kalian. Bahkan mungkin sampai sekarang?" alis Mery terangkat sebelah. Seperti wanita bodoh saja. Sebaik-baiknya Neanra menyimpan rahasia, Mery pasti akan tahu, lewat gelagat ibunya.


"Mungkin berita tentang aku yang bekerja di kantoran terdengar sampai ke gendang telinga mu. Heh.. Mau pun aku kaya raya, tidak akan sudi memberikan mu uang. Siapa kamu? Apa karena aku mempunyai saudara satu ayah? Tapi sayang, hatiku terlalu keras untuk mengakui Elina." tungkas Mery, mendorong bahu Sela pelan.


Membuat langkah kaki Sela mundur paksa. Dia terbungkam dengan ucapan Mery. Kalah telak dan menjadi tahu diri.


Nyalinya tidak sekuat itu, membuat buliran air mata jatuh dari ujung matanya.


"Mery.. Elina terlahir dengan jantung yang tidak normal ukurannya. Dia setiap minggunya harus ke rumah sakit untuk pengobatan. Tolong.... Aku akui aku salah. Ibumu juga terlampau baik. Aku tahu, ini karma ku di masa lalu, yang dengan adilnya Tuhan menumpahkan pada anakku." isak tangis Sela pecah, dia berjongkok di bawah lutut Mery.


"Aku pun demikian.. Kanker serviks stadium tiga C yang kronis. Aku berusaha menahan, berusaha kuat untuk Elina. Bahkan setiap harinya, lendir busuk terus mengalir dari lubangku. Setiap harinya, aku menggunakan pembalut. Ini karma, yang setimpal juga atas pengkhianatan ku pada Desinton. Maafkan aku, dan tolong bantu aku untuk pengobatan Elina. Cukup Elina, Mery.. Aku mohon.. Rasa tidak enakku pada Neanra di ujung batas. Aku malu.... Tapi, tidak ada satupun keluarga yang sudi menerima ku lagi." lirihnya, dengan suara terbata.


Adil. Cara kerja Tuhan dan Semesta memang adil. Kurun waktu, tidak boleh dijadikan patokan. Lagi, jangan menunggu orang yang menyakitimu mendapatkan karmanya. Karena imbas itu akan berbalik baik untuk mereka. Doa terbaik terus berikan, ampuni mereka. Karena manusia tidak akan bisa lepas dari dosa dan kesalahan. Ujungnya pun sama, menyesal.


"Pergilah ke gereja. Lusa aku akan menjenguk Elina. Beritahu alamat rumah sakit, dan tempat Elina biasa berobat. Tuangkan rasa penyesalan mu padaNya. Aku memaafkan mu, sebelum bibirmu masih asik mengejek. Ibuku memang terlampau baik. Jadikan hal ini pembelajaran bagi hidup mu, Sela. Nikmat dunia memang mengiyurkan tapi siksaan dunia pun sama menyeramkan." tungkas Mery, membuat tangis Sela semakin tidak karuan.


Suaranya tercekat di kerongkongannya sendiri. Desiran menyayat, dan ingatan masa bersenangnya dulu lewat begitu saja.


"Terima kasih, Mery.." paraunya, dan segera berbalik. Ya, benar, mendekatkan diri pada Tuhan adalah jalan satu-satunya saat ini.


***


Bolehkan Huble mengatakan dirinya mudah terhasut? Ya, seperti saat ini, dirinya berkelana mencari brosur lowongan kerja di tiang listrik. Hitung-hitung usaha kan? Membantu si Mery. Huble jadi takut, kalau-kalau sahabatnya itu jadi stress karena kelamaan menganggur. Amit-amit!


"Nah kan matanya jelalatan cari brosur di tiang listrik." celetuk Ertan.


Sialan! Huble lupa jika masih ada laki-laki menyebalkan di sampingnya.


"Kenapa? Masalah gitu kalau mataku jelalatan?! Gak usah banyak komen, kayak netizen deh! Basi!"


"Loh kamu gak tahu ya? Aku kan adminya lambe.gosip. Jangan heran yaa, membicarakan hidup orang itu mood boster banget."


"Astaga!!! Ya kudus!!! Hidup kamu aja amburadul, benerin dulu ,gih." desis Huble kesal.


"Maka dari itu. Hidup ku udah menyediakan, makanya ngurusin hidup orang. Biar ada teman ngenesnya"


"Aku gak tanggung jawab kalau sampai kamu di hujat balik."


"Ya di bantu dong... Pacar di tinggal nikah, nih boss. Gak kasihan kamu?" ucap Ertan dengan mimik wajah menyedihkan, apalagi matanya yang sok dibuat 'puppy eyes' dan itu sangat mengelikan!


"TURUN!" sertak Huble.


"Gak mau! Gak mau! Ihhh gak mau!"


"Umbel.. Kamu gak kasihan sama aku? Aku gak jago menghentikan taksi. Aku juga gak mau keluar duit. Aku juga takut di buru masa, kemarin aku post tentang artis yang takut sama monyet." mohon Ertan, hampir menangis.


"Turun!"


"Huble sayang.. Jangan gitu. Pokoknya aku gak mau turun!" kuat juga pendirian si Ertan.


"DEMI APAPUN YANG ADA DI DUNIA FANA INI!" gemuruh Huble, menarik napasnya.


"Lihat noh!! Udah ada di depan rumah kamu! Makanya melek! Melek! Udah numpang, banyak edisi nuntut." teriak Huble, membuat gendang telinga Ertan mendengung seketika.


"Bilang dong!"


"Gimana mau bilang? Kamu aja ngocehnya melebihi emak-emak!"


"Ya kan calon bapak-bapak"


"Turun!"


"Iya! Sewot banget. Aku baperin, salting kamu"


"Bodo amat!"


***


Sambungan telepon itu terputus sepihak, di putuskan oleh Neanra.


"Mery.." panggil Neanra pada anaknya yang sibuk berteleponan dengan Huble. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi kalau boleh Neanra menebak, Huble lagi curhat.


"Ada apa, mom?" tanya Mery, menjauhkan ponselnya.


"Mom ada lowongan kerja buat kamu. Perusahaan baru, gak papa kan?"


Binar mata Mery terbit, ternyata Tuhan secepat itu memberikan balasan. Padahal baru kemarin, dirinya melonggarkan hati untuk memaafkan Sela.


"Gak papa! Di mana?" tanya Mery antusias, bahkan sampai mengabaikan telepon Huble.


"Kamu lanjutin dulu ngobrol sama Huble. Kasihan dia, sepertinya lagi curhat"


"Iya, tapi nama perusahaannya apa?" tanya Mery tidak mau kecolongan.


"Inderland group. Tapi ada kabar kalau mau diganti menjadi Ele's Group"


Mery tersenyum merekah. Jauh dari naungan si brengsek.


"MERY!! AKU LAGI CURHAT LOHH INI, KOK MALAH KAMU TINGGAL SIH!" teriak Huble, membuat senyuman Mery meluntur.


"Sorry, Huble.. Saranku, kamu balikkan aja deh. Cocok kamu sama si Ertan" ungkap Mery, membuat Huble semakin cerewet.


Tiga menit kemudian, Huble kembali berucap.


"Oh iya.. Aku ada brosur lowongan kerja, Mery! Perusahaan baru!" ucap Huble menggebu-gebu.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Mery tambah senang. Kenapa lowongan kerja datang bertubi-tubi? Membuat wajah bahagianya tidak bisa di sembunyikan.


"Dari brosur yang di tempelkan di tiang listrik dekat kompleks rumah Ertan. Aku juga baru tahu, kalau di tiang listrik tidak hanya menempelkan brosur sedot WC, tapi juga ada lowngan kerja."


"Dan kamu tahu, Mery? Aku membaca brosur itu dan aku yakin sangat cocok dengan bidang mu. Karena perusahaan itu sedang mencari kepala keuangan. Sangat kebetulan bukan?? Dan aku sangat yakin, kamu pasti di terima. Pesaingnya cukup banyak, karena tadi banyak orang mengfoto brosur itu." oceh Huble tidak kenal berhenti.


"Nama perusahaannya apa, Huble?" tanya Mery jenggah.


"Ele's Group"


BERSAMBUNG..


KALIAN BAIK BANGET!! 😭 MAU LIKE, KOMEN BAHKAN VOTE DAN NGASIH HADIAH KE CERITA INI!! Gila, aku terharu banget 🤩🤩 MAKASIH BANGET 😙😙