ELEMERY

ELEMERY
TERPENJARA DALAM SANGKAR EMAS



Tiga hari setelah drama panjang amukan si singa betina, kini Mery sudah lebih jinak. Dia berdiam diri di kamar, melihat para pekerja mansion yang sibuk dengan tugas mereka. Melalui kaca jendela besar itulah Mery bisa menyegarkan matanya. Tiga hari, Agriel mengurungnya di dalam kamar. Bahkan sekadar berjalan-jalan di sekeliling mansion pun tidak boleh. Pintu kamar di kunci, menggunakan sandi rumit dan sidik jari. Hanya Agriel yang boleh masuk, lainya bahkan pelayan pun tidak boleh masuk.


Kamar yang ditempati Mery sangatlah besar, dengan perabotan lengkap. Tidak ada celah untuk kekurangan. Jika di gambarkan singkatnya, Kamar Mery sudah seperti kontrakan elite.


Agriel sudah mulai produktif, dia sibuk dengan urusan kantornya. Dan akan pulang disaat jam makan siang dan kembali lagi ke kantor pulang jam enam sore. Begitu selalu. Walaupun nampaknya Mery diam, dan pasrah, dalam artian terlihat jinak. Tapi, wanita itu sudah banyak merancang banyak rencana. Rencana untuk kabur dan melarikan dari kurungan neraka ini.


Pintu terbuka, menampilkan Agriel dengan setelan baju formal membawa nampan berisi makan siangnya dengan Mery.


"Sayang.. Ayo makan!" ajak Agriel. Mencium pipi Mery dan sedikit melu*matnya.


Mery tetap diam, dan pasrah. Dia tersenyum sesaat menyambut Agriel. Mengamuk hanyalah untuk orang bodoh. Buang-buang tenaga dan berakhir semakin di kekang. Mery akan merubah alur, dan mencari cara untuk keluar dari kamar sialan ini.


"Kau pulang terlambat lima menit" ucap Mery. Duduk di atas pangkuan Agriel atas perintahnya.


"Jalanan macet, maafkan aku."


"Tapi kau sudah membuat ku kelaparan, Agriel!" decak Mery, cemberut.


Agriel tertawa pelan, mencubit pipi Mery yang kian tambah lebih berisi. Gemas, berakhir ciuman hangat.


"Untuk menebus rasa maafku, maka sini aku suapi."


"Tidak!" ucap Mery menyilangkan tangan bentuk X.


Alis Agriel terangkat, "jika kau yang menyuapinya, makanan itu jadi hilang gizinya." ucap Mery, membuat gelak tawa Agriel semakin besar.


Agriel menyuapkan selada yang di isinya dengan daging dan beberapa mayones. Melahapnya dan menarik kepala Mery. Memaksa Mery untuk membuka mulutnya dan menyuapi wanita itu dengan makanan yang tadi dia makan.


"Hmmpph!!" Mery mendorong Agriel kuat.


"Agell!! Udahku ilang izi makanan hilang!" (Agriel! Sudahku bilang gizi makanan ini akan hilang!) ucap Mery dengan nada kekesalan yang tertahan.


"Siapa bilang? Enzim yang terkandung di ludahku banyak mengandung vitamin penting untuk tubuh. Menambah iman, imun, dan—"


"Bau busuk mulut mu!" potong Mery, meraib minuman di depannya.


"Hei! Siapa bilang mulutku bau! Kau tidak tahu jika pasta gigi yang ku gunakan—"


"Murahan, sama seperti orangnya!" tungkas Mery cepat.


"Astaga! Mulut mu—"


"Mulut mu juga sama nakalnya, bodoh!" lagi, dan membuat Agriel ingin melahap bibir mengemaskan itu.


"Tatapanmu sungguh mesum. Segera makan! Jam istirahat di kantor mu akan segera habis!" ujar Mery membuat Agriel tersenyum.


Dia mengacak pelan rambut Mery. "Sebentar lagi Yuna akan datang memeriksa mu, sayang"


"Aku sudah sembuh, dokter pribadi mu itu sangatlah kepo. Aku tidak suka" ucapnya mengingat kelakuan Yuna yang sangat amat kepo.


"Dia wanita, sayang. Wajar jika—"


"Kau pandai memuji wanita ya." puji Mery dengan tatapan sebal.


"Aku kira tidak ada buaya di mansion ini, tapi ternyata ada. Sungguh miris, aku ingin membuat sate buaya" ucap Mery, yang malah membuat tawa Agriel menggelegar memenuhi ruangan itu.


"Buaya hewan yang setia, bukankah sama sepertiku, Mery?" goda Agriel, menduselkan wajahnya pada wajah Mery.


"Oh aku lupa. Tidak ada sate buaya. Yang ada sate kelinci, dan itu perumpaan untuk kau, manusia mesum!" sertak Mery menurunkan tangan Agriel yang bermain manja di paha atasnya.


Agriel mengangkat tangan. "Baik, segera habiskan makananmu, sayang"


"Jika kau tidak mengganggu sudah habis makanan ku ini," tungkas Mery menahan rasa kesalnya.


***


"Jadi, kau yang bernama Mery itu?" tanya Yuna lagi. Dia memegang stetoskop, menempelkannya di urat nadi lengan Mery, tapi mulut dan pikirannya berbanding jauh dengan apa yang perempuan itu lalukan.


"Astaga! Ya kudus! Kau yang bernama Mery?" tanyanya lagi, mengulang.


"Aku benar-benar perempuan yang kurang beruntung di sini. Kau tahu pacarmu itu sungguh sialan! Memerintah orang seenak jidatnya yang nonong itu, tanpa mau memikirkan waktu ku."


"Mery.. Aku ingin bertanya, sesuatu hal yang sedikit menyinggung. Aku maaf duluan, soalnya takut kamu tersinggung" ucap Yuna, memohon maaf. Bahkan wanita muda itu menunduk, seolah telah melakukan kesalahan besar


"Apakah kau sekarang menjadi simpanan pria brengsek itu?" tanya Yuna secara spontan.


"Karena yang aku tahu Agriel sudah menikah dengan wanita pucat yang sombong. Aku tidak bisa menyebut namanya, karena menurutku sangat aneh. Wanita pucat yang di nikahi Agriel itu dari Belanda, wajahnya seperti mau di usir, karena berwajah noni Belanda." candanya tertawa pelan. Mengibaskan tangannya ke udara.


"Jangan terlalu di bawa serius. Karena sekarang kita sudah merdeka. Mungkin, pernikahan Agriel dan Wanita pucat itu salah satu bentuk perdamaian antara Indonesia dan Belanda. Hahahaha aku ingin kencing sekarang!" tawanya malah semakin keras. Terpingkal-pingkal, memegang perutnya sakit.


"Aku sangat suka mengejek pria sialan itu. Agriel itu buaya sungai ciliwung. Pacarnya ada di mana-mana. Kau tahu? Setiap hari atau hampir, aku kerap melihat pria itu membawa pulang para ja-langnya ke mansion utama, bukan di sini tempatnya. Kasihan sekali wanita pucat itu, dia sering menangis di kamarnya." cerita Yuna, membuat Mery sedikit melirik. Kenapa hatinya semakin sakit? Entahlah.


"Kau tidak sedang mengarang?" tanya Mery.


"Untuk apa mengarang. Aku tidak menyukai Agriel—lebih tepatnya menyayangi pekerjaan ku—ada sebabnya, Mery. Pria itu kasar, aku kerap di panggil Ree untuk mengobati luka wanita pucat itu, astaga.. Aku setiap teringat selalu merasa kasihan. Luka lebam ada di mana-mana, bahkan sayatan!. Selama ini aku diam, dan berusaha profesional, tapi hati seorang wanita, tidak bisa berbohong." lanjut Yuna, sekarang duduk.


"Bentar, aku minum dulu." ucap Yuna, meminum minuman Mery.


"Mery.. Namamu itu tidaklah asing di telingaku. Agriel kerap menyebut namamu. Dan wanita pucat itu pun demikian. Aku jadi curiga, salah satu dari kalian apakah korban dari cinta segitiga?" tanya Yuna serius.


"Jika iya, ikhlaskan Agriel Mery. Dia sudah menikah, walau aku tidak suka wanita pucat itu, tetap saja aku menolak keras adanya perselingkuhan. Aku membenci itu. Kau seharusnya berpikir secara logis. Aku bicara seperti ini untuk mencegah adanya perang dunia, dan hanya ingin merebut sosok Agriel? Ayolah, pria brengsek itu tidak pantas menjadi bahan rebutan." lanjut Yuna.


"Siapa yang mengajimu?" tanya Mery singkat.


Yuna gelagapan. "Tentu saja Agriel." jawabnya.


Mulut Yuna ternganga lebar. Tatapan matanya membola, "kau benar-benar badas!" ucapnya, bertepuk tangan.


Mery menghentikan tepuk tangan itu, menangkap tangan Yuna dan mencekramnya kuat.


"Hei Yuna.. Siapa kau? Mulut mu penuh kompor" ucap Mery pelan namun menusuk.


"Ya.. Kau benar, Agriel memang pria brengsek. Kau pun benar, posisiku sekarang adalah selingkuhan pria itu. Tapi.. Kenapa aku merasa setiap kalimatmu mengandung mara bahaya?" tanya Mery, tersenyum miring.


Yuna membalas senyuman Mery. "Aku dokter pribadi keluarga Exanta" jawabnya.


"Dan kau?" tanya Mery, memotong. Kontak tatapan mata yang saling memancarkan persaingan ketat.


"Aku bisa mengembok mulut. Asalkan, kau bisa membuatku bebas." ucap Mery.


"Maksud mu apa Mery?" tanya Yuna pelan.


"Maksudku?" tanya Mery dengan alis kanan terangkat.


"Pisau di balik kantong jas putih mu itu untuk apa?" tanya Mery tertawa singkat.


"Aku dokter" jawab Yuna. Berdiri, menjulang di depan Mery.


"Dokter yang ingin pasiennya mati" ujar Mery. Tatapan Yuna menajam, berjalan mendekat ke arah Mery yang nampak memancarkan ujaran kebencian.


"Kenapa pemikiran mu sungguh kejam, Nona. Aku bahkan tidak mempunyai niat buruk kepadamu"


"Kau memang tidak menyatakan, tapi pergerakan tubuhmu mengatakan iya. Jujur saja aku benci bermain petak umpet. Terlalu konyol untuk seusia kita"


"Menurut mu?" tanya Yuna.


"Kau segera pergi. Bawa semua obat-obatan terlarangmu itu. Kau kira aku bodoh? Karena obatmu aku kemarin berhalusinasi!" ucap Mery mengeram kesal. Masih ingatkah kalian dengan Mery yang mengamuk kemarin? Yah, antara sadar dan tidak, kemarin Mery seakan melayang, terbang tinggi pada masa lalunya dulu. Menyebabkan hatinya terbakar, dan ingin merusak segala hal di sekitarnya.


Yuna tertawa keras. Menepuk bahu Mery dua kali. "Tenang, hanya dosis kecil" bisik Yuna, menunduk.


"Sebagai awal memang seperti itu. Dan lama-kelamaan akan banyak. Ganja memang di butuhkan dalam medis, tapi penyakit ku tidak ada hubungannya dengan obat sialan mu itu. Dosis yang kau berikan pun melebihi aturan kedokteran!" terang Mery, tersenyum tipis.


"Wow!" sambut Yuna dengan tepuk tangan. Dia berdecak kagum pada kepintaran Mery.


"Kau sangat pandai nona Mery" pujinya.


"Silahkan keluar. Karena aku benci ketika di puji" ucap Mery menunjuk pada pintu keluar.


"Tidak mau! Aku ingin di sini. Ayo minum obat mu Mery" ajak Yuna, gila.


Mery memutar bola matanya malas, Yuna dokter abal-abal sialan itu sudah banyak menghisap sabu. Terlihat dari alat hisap yang kini ia angkat tinggi.


"Ayo Mery.. Tuan Desta sungguh baik. Dia memberikan ku banyak obat gratis. Aku menjadi semakin kaya. Hutang ayahku pun perlahan lunas. Aku hebat bukan?" ocehnya, membuat Mery muak. Sangat amat muak.


"Ya kau gila" celetuk Mery.


Pintu terbuka, menampilkan kakek-kakek tua dengan tongkatnya. Berjalan mendekat pada Yuna yang nampak konyol.


Plak


"Keluar!" ucap Nandhaya kesal. Kesal karena dia kecolongan, tidak bisa melindungi anak buahnya dari barang haram dagangan anaknya itu.


"Tuan?" ucap Yuna menunduk. Kepalanya pening bukan main. Rasa panas sekaligus puas, sebuah kesenangan dengan deskripsi panjang.


"Keluar! Ke rumah rehabilitasi sana kau! Merusak nama baikku. Jika saja Agriel yang tahu, sudah lepas kepala mu itu!"


"Tapi—tapi saya ingin memeriksa nona Mery"


"Kau periksakan dulu kejiwaan mu, bodoh"


"Saya juga mau menyembelih" ucap Yuna tegas.


Nandhaya dan juga Mery pun menautkan alis bingung.


"Saya mau menyembelih tuan Nandhaya" lanjutnya, membuat Nandhaya mengetuk kepala Yuna.


"Kurang ajar! Pergi!" bentak Nandhaya kesal. Mendorong tubuh Yuna dengan tongkatnya.


Kepalanya menoleh sebentar, menatap Mery dengan senyuman full tanpa gigi.


Sialan! Aku lupa memasang gigi palsu ku!, batin Nandhaya marah.


"Namaku Nandhaya Mery, kamu bisa memanggilku Nandha. Kamu cantik." ucapnya.


Astaga Mery ingin mual sekarang! Otaknya berpikir, siapa kakek tua itu. Kenapa sebelas dua belas musimnya dengan Agriel. Apakah itu kakek pria berengsek itu? Jika iya, keputusan Mery sudah benar untuk kabur dari sini. Mansion ini penuh dengan kumpulan buaya-buaya.


"Aku Kakaknya Agriel." ucap Nandhaya, dan mendepak tubuh Yuna jauh dari kamar.


Sumpah demi apapun, kakek itu kira dia bodoh apa?


"Salam kenal, Mery" lanjutnya. Dengan senyuman tanpa gigi! Bisa kalian bayangkan? Tubuh saja sudah membungkuk, ditambah kulitnya keriput. Masih saja bisa mengaku sebagai kakaknya Agriel?


"CK! SUDAH AKU BILANG, KAKEK JANGAN MASUK!" sertak Agriel membawa tubuh Nandhaya keluar.


Mery mengerang pelan, memijat pelipisnya penat. Perdebatan kakek dan cucu itu membuatnya tambah pusing. Bisakah sehari saja hidupnya aman dan damai? Rindu rasanya masa-masa tenang itu.


BERSAMBUNG....