
Sebelumnya Nana mau menyampaikan maaf๐ข baru sadar aku, kalau ternyata di bab 9 Huble berperan sebagai teman sekolah Mery, padahal sejak awal peran si Huble adalah sebatas teman kantor. Beda dengan Hendra yang memang teman kuliah Mery.
Maaf banget yaa, masih acak-acakkan penulisannya ๐ซ #jadi pengalaman biar tambah teliti ๐๐
***
๐ HAPPY READING SAYANGNYA NANA ๐
Sebagian dari gedung tinggi itu tengah di renovasi, dan beberapa bangunan terlihat baru. Bau cat yang menguar, masuk begitu saja melalui celah kedua lubang hidung Mery. Di atas gedung, atau lebih tepatnya lantai paling atas terpajang tulisan megah nan besar, yang tertulis ELE'S GROUP berwarna pink terpadu dengan emas. Tulisan itu seakan menambah kesan baru dan fresh.
Hari ini, dengan berkas lamaran ia ampit di lengan kirinya, Mery melangkahkan kaki menuju ke dalam gedung. Setelan pekerja kantoran, dengan rok sebatas paha menutup lutut dan kemeja putih yang pas di badan seksi Mery, tidak lupa dengan geraian rambut coklat bergelombang itu. Banyak dari mereka yang menatap lama Mery, mungkin sedikit kagum dengan pahatan Tuhan yang eloknya luar biasa.
Gaya anggunnya, melangkah menuju bagian resepsionis.
"Permisi, saya ingin mengajukan berkas lamaran." ucap Mery formal.
"Apakah benar di sini sedang mencari pekerja baru?" tanya Mery cepat.
"Benar, kak. Kami sedang mencari pekerja baru. Akan tetapi ada peraturan yang harus di taati. Boleh saya melihat berkas lamarannya, kak?"
"Silakan.." Mery menyodorkan berkas itu pada resepsionis, yang bername tag Sastika.
Sastika terlihat membaca dengan cermat, tangannya pun seraya mencentang list ketentuan yang dibuat sendiri oleh direktur, Bapak Agus Sasminto.
Sedikit, matanya melirik pada Mery yang tengah sibuk melihat-lihat perusahaan itu. Dengan sedikit mundur, satu langkah. Sastika merogoh ponsel di saku roknya.
"Bubarkan semua yang sedang wawancara, ataupun pengajuan berkas."
"Kau diam dulu!.. Di depan ada orang bernama Elemery."
"Benar! Aku tidak berbohong.. Dan kau tahu, dia bekas karyawan Exanta Group!"
"Baik, aku akan suruh dia menuju ruangan kepala HR Manager"
Dan sambungan itu tertutup.
Sastika tersenyum ramah pada Mery yang sedang mengeyitkan dahi heran. "Selamat datang Miss Mery. Perkenalkan saya Sastika Pradama. Panggilannya Tika."
"Melihat dari berkas anda, jujur saja sesuai kriteria perusahaan kami. Jadi, silakan menuju ruangan manager HR terlebih dahulu." lanjutnya, membuat Mery terbengong.
"Tunggu!!" cegah Mery, heran.
"Perusahaan penipu?" tanya Mery tajam.
"Mana ada orang melamar kerja di kantoran tidak ada masa tahap wawancara. Siapa pemimpin perusahaan ini? Kamu kira saya bodoh, apa?"
"Maaf Miss, saya pun hanya melakukan perintah." tunduk Tika.
"Tapi mengenai ucapan anda, bahwa Ele's group penipu adalah salah besar. Kami benar adanya, tidak ada penipuan. Kalau tidak percaya, nama kami tercantum di daftar pusat pemerintah." jelas Tika.
"Siapa pemilik perusahaan ini?" tanya Mery, merasakan kejanggalan yang hakiki.
"Bapak Agus Sasminto. Kami biasanya memanggil beliau Pak Agus." jawab Tika, jujur.
Mery menghembuskan napas lega. Tika tersenyum melihat raut wajah khawatir Mery.
"Anda jangan heran, karena tujuan awal kami memasang beberapa iklan di mana-mana memang untuk mencari calon kepala keuangan perusahaan yang sudah berpengalaman. Dan, tadi saya melihat berkas anda, sungguh takjub. Tidak hanya pandai tapi pun sudah pernah menjadi kepala keuangan perusahaan raksasa seperti Exanta Group." jelas Tika, yang masuk akal.
Mery mengangguk, "di mana bagian HR manager?" tanya Mery.
"Mari Miss saya antar. Semoga anda bisa menjadi bagian dari kami"
"Amin"
***
"Selamat, Anda di terima di Ele's Group. Selamat bergabung dan menjadi bagian dari kami." jabatan tangan itu pun terjadi antara Bapak Hernanto dan Mery.
Sumpah! Demi apapun! Mery masih di buat bingung. Akan tetapi penjelasan yang diberikan seolah mengatakan bahwa dirinya lah yang bodoh, dan tidak tahu apa-apa.
Mery hanya mengangguk, dan tersenyum tipis. Sudah syukur dirinya mendapatkan kerja, dan mulai hari ini terlepaslah Mery dari cap pengangguran sejati.
"Miss Mery bisa kerja besok. Untuk hari ini, pengenalan dulu saja. Dan, saya akan kirimkan beberapa file kepada Miss Mery, dan jangan lupa tulis alamat email yang akan saya hubungi."
"Terima kasih, Mr.Hernanto atas kesempatan yang anda berikan. Alamat email sudah saya tulis di berkas lamaran."
"Sama sama, Miss Mery.."
Basa basi pun mengalir begitu saja, sampai akhirnya Mery keluar dari ruangan HR manager.
Suasana hatinya hati ini cukup baik, senang dan lega menjadi satu. Akhirnya, Mery mempunyai penghasilan lagi. Dan, oh iya sampai lupa. Mery pun mendapatkan tunjangan dari perusahaan berupa transportasi.
Walau bukan mobil yang sebagus ia punya dulu, tapi cukup untuk dijadikan aksi wora-wiri mencari pundi rupiah.
Setelah selesai berkeliling dan mengenal lingkungan sekitar, Mery pun mencegat taksi dan melaju ke rumah sakit tempat Elina berobat. Masih ingatkah kalian dengan ucapan Mery itu?
Dengan uang yang tidak seberapa di dompetnya, Mery tidak akan sungkan menolong. Hidup di dunia ini hanyalah sementara, tempat singgah yang Tuhan berikanโlebih tepatnya kesempatan. Kesempatan seorang hamba menempati tempat paling mulia di sisiNya. Walau pun hidup susah, lebih susah jika hidup dalam sakit. Jadi, jangan mengeluh untuk kamu yang mungkin sedang dalam fase itu.
Rasanya anugerah yang kuasa begitu besar. Sampai-sampai Mery tidak tahu harus membalasnya apa. Yah, dari mulai kejadian ayah-momnya, pengkhianatan, dan menjadi pengangguran. Semua ada hikmahnya bukan, karena sampai detik ini Mery bahagia dengan hidupnya. Tidak begitu memusingkan, cukup menghindar. Menjauh dan pergi perlahan adalah tujuan Mery.
Rencana manusia memang banyak. Tapi, takdir yang kuasa tentunya yang lebih kuat. Jalani saja prosesnya, dan nikmati sakitnya. Belum tentu saat kamu sudah sukses, kamu bisa merasakan sakit seperti ini.
Lama melamun, sampai supir taksi memberitahu bahwa sudah sampai tujuan.
"Terima kasih, pak" ucap Mery, lalu turun dari taksi yang ia tumpangi.
Jalannya nampak tergesa, perempuan dengan perawakan tinggi itu tidak sengaja menyenggol tubuh mungil Mery.
Bruk
"Auuuhh" desis Mery, tulang bahu perempuan itu mengenai selangka atasnya.
"Maaf.." ucapnya, dan tatapan mereka bertemu.
Bukan, bukan sosoknya yang membuat Mery terkejut. Akan tetapi luka lebam di wajahnya yang menjadi pusat perhatian Mery.
"Ohh, ternyata kau!" ucap Anouk, memakai masker, guna menutupi lukanya.
"Apakah suami mu kasar?" tanya Mery serius.
"Tidak usah sok peduli, Mery."
"Apakah pertanyaan demikian, adalah bukti peduli?"
Anouk berdecih, dan segera pergi dari sana. Sebelum tangannya di cekal erat oleh Mery.
"Takutnya ada yang mengambil, dan tahu kalau ada seorang ibu mengugurkan janin yang baru berumur satu minggu ini." Lanjut Mery tersenyum mengejek.
"Selingkuhan atau kau ketahuan oleh suami mu bahwa istrinya tidak setia?"
Plak
Anouk menampar Mery keras. Sudut bibirnya pun pecah karena kuatnya tamparan Anouk. Atensi orang-orang pun mendadak beralih pada mereka.
"Menampar?" gumam Mery, mendesis dan menatap Anouk nyalang.
"Bicaramu jagalah. Punya mulut hanya di gunakan untuk mendesis orang-orang. Lebih baik kamu mengurus hidup mu yang berantakan itu Mery. Laki-laki mana yang mau dengan wanita tidak perawan berstatus perawan tua." ucap Anouk dengan nada mengejek.
Bisik-bisik dari mereka pun terdengar menrundungi Mery.
"Ya bagaimana lagi, pacarku di tikung oleh sahabatku sendiri. Lebih parahnya lagi, mereka menikah satu tahun sebelumnya, disaat posisiku saat itu menjadi tunangan."
"Bicaraku memang besar, tapi akan ku sepadani dengan akal. Tidak dengan mu, yang hanya membesarkan bicara tapi hilang akal, bahkan kewarasan" lanjut Mery yang malah mengundang tepuk tangan dari mereka yang curi dengar.
Anouk? Tentu saja malu setengah mati. Dia langsung berlari dan meninggalkan pelantara rumah sakit.
Seorang perawat datang membawa kotak obat, "nona, lukanya saya obati. Keluar darah.."
"Terima kasih.." ucap Mery, dan langsung dibersihkan oleh perawat tersebut.
"MERY!" teriak Sela, berlari.
"Astaga.." ucap Sela terkejut, menutup mulutnya.
"Mery.. Kamu kenapa?"
"Diamlah, Sela." desis Mery menahan sakit. Setelah perawat itu selesai dengan tugasnya. Dengan segera Sela mengajak Mery ke ruangan berobat Elina.
***
Elina, gadis manis itu sangatlah cantik. Walaupun dengan kondisi tulang belulang. Wajahnya memucat, bahkan sekilas membiru. Bibirnya melengkung ke bawah, gurat kesakitan sangat ketara. Hati Mery tentu saja tidak sanggup melihat Elina lebih lama.
Andai gadis itu sehat, tidak bisa Mery bayangkan cantiknya. Dia benar-benar keturunan asli Desinton, sama sepertinya.
Sekilas pun bola matanya dengan Elina sama.
"Buna..." panggil Elina, Sela mengangguk menghampiri anaknya yang terduduk lemah, dengan selang menjelajahi tubuh ringkihnya.
Elina tidak boleh tidur, karena bisa saja terjadi penyumbat di pembuluh darah.
"Iya sayang..coba lihat, Buna bawa siapa?"
"Siapa?" tanyanya dengan napas berat. Bahkan satu kata saja dari gadis itu harus mengeluarkan banyak energi.
"Dia kakakmu, sayang. Kamu kangen 'kan sama kakak?" tanya Sela, menahan air matanya.
Mulut Elina terbuka, matanya melirik ke sana ke mari. Sela paham maksud anaknya.
"Iya, dia kakak yang selalu Papi ceritakan sama, Elina. Anak kesayangan papi, pertama, setelahnya Elina." jelas Sela.
"Kak..." panggil Elina tersenyum, lebih tepatnya terpaksa tersenyum.
"Iya, Lina.. Cepat sembuh yaaa" ucap Mery, menahan rasa sesak yang kian menjalar ulung hatinya.
Seburuk-buruknya seorang ayah, tetap anak perempuannya lah yang menjadi tahta tertinggi di hatinya.
"Pi.. Ayang.. Kak" ucap Elina. (Papi sayang kakak)
Mery mengangguk, mengelus rambut Elina yang pendek, hitam.
"Hari.. Nya.. Pi.. Ita.. Entang.. Kak" lanjut Elina. Napasnya tiba-tiba saja memburu. (Setiap harinya papi cerita tentang kakak)
Terlihat tergagap, dan dengan tarikan napasnya, "Papi gak pernah lupain kakak.. Papi gak sayang aku, sayang kakak" dengan satu tarikan napas.
Sela menggeleng, "nak..." cegah Sela, akan tetapi di gelengkan oleh Elina.
Air mata Elina menderas, merasakan sakit belasan tahun, tidaklah mudah. Tuhan memang memberikannya banyak oksigen, tapi kenapa Tuhan menyulitkannya mengambil oksigen?
"Maafin Buna.. Aku ngerti, Buna salah." ucap Elina. Wajahnya kian membiru.
"Panggil dokter!" teriak Mery tegas. Wajahnya pun susah memerah menahan tangis.
"Gak papa... Aku mau nyusul Papi. Siapa tahu.. Di sana papi sayang, Aku" lirih Elina memaksakan lengkungan bibir ke atas.
"PANGGIL DOKTER!! SELA!!" teriak Mery menjadi.
Sela menghapus air matanya kasar, menatap Mery nyalang. "BUAT APA? KALAU DOKTER AJA ANGKAT TANGAN??" balas Sela, membuat Mery tertunduk.
"Buna.." ucap Elina, menggeleng.
"Jangan bentak... Kak.. Anti.. Pi... Marah." (Jangan bentak kakak, nanti papi marah)
Ringsut sudah tubuh Mery, dia menggeleng keras. Memegang tangan berupa tulang belulang Elina.
"Sembuh ya? Semangat Lina. Jangan ungkit kayak gitu.. Optimis ya?" semangat Mery.
"Makasih... Kak.. Api..... Sakit....... Aku... Maaf... Anak kak... Kasih... Elina, ya?" (Terima kasih kakak. Tapi sakit, aku mau minta maaf. Kakak kalau besok punya anak kasih nama Elina, ya?)
"Buna.. Angan.. Sedih... Aku.. Gak... Paโ" (Buna jangan sedih. Aku gak Paโ)
Tutttttt
"ELINA!!! NAK!!"
"YA TUHAN!!!"
"HIKSSS."
Bumi hanyalah tempat kalian singgah, bukan untuk kalian menetap.
BERSAMBUNG...
Kita selesaikan satu persatu dulu masalah keluarga Meru ya, setelah itu baru si brengsek Agriel ๐คฉ๐
Dukungannya yukk ๐
Thanks ๐ธ