
Dua minggu, telah berlalu begitu saja. Pandangan Agriel tidak lepas dari tubuh renta Mery. Wanita itu terbujur lemas, dan enggan membuka matanya. Cahaya kehidupan meredup begitu saja. Banyak urusan yang harusnya terselesaikan, kini berantakan tidak karuan.
Wajah tampan itu, kini tidak terurus. Kacau, benar-benar kacau. Jenggot yang kini tumbuh lebat, panjang tidak pernah ia cukur. Wajahnya kusam, dengan sorot mata meredup. Lelah, rasa lelah yang kian menjadi.
"Tuan Agriel.." ucap Ree tidak tega.
"Dokter Yuna sudah tiba." lanjut Ree, yang tidak di gubris oleh Agriel.
Pria itu hanya sibuk dengan menciumi punggung tangan Mery. Wanitanya yang amat ia sayangi, kapan dia terbangun? Agriel ingin ketika mata itu terbuka, hal pertama yang Mery lihat adalah dirinya.
"Yuna, periksa saja." perintah Ree, mendesah frustasi. Pekerjaan kantor menjadi kacau balau.
Yuna pun mengangguk, dan memeriksa beberapa luka bakar Mery yang lumayan membaik. Tubuhnya pun stabil. Tidak ada hal serius yang perlu di khawatirkan.
"Kondisinya cukup baik. Nona Mery sudah sehat, tinggal pemulihan luka bakarnya. Saya sudah meresepkan obat untuk luka bakarnya. Di mohon, rawat dengan baik, agar tidak menimbulkan bekas" terangnya.
Sorot tajam Agriel menatap Yuna galak.
"Wanitaku belum juga sadar. Tapi setiap kali kau periksa, hanya ada kabar sehat dan sehat. Matamu buta?" tanya Agriel.
"Mohon maaf Tuan Agriel. Tapi menurut medis, Nona Mery benar-benar sudah pulih. Pernapasannya pun sudah teratur, cenderung normal. Jika yang Tuan bicarakan mengenai tidak sadarnya Nona Mery. Itu adalah kondisi psikisnya sendiri. Ada sebuah rasa sakit, yang ia pendam sadari lama. Terlihat dari beberapa buliran air mata, yang kerap keluar." jelas Yuna.
"Sebelumnya, maaf. Saya izin bertanya.. Apakah sebelumnya Nona Mery pernah depresi berat?" tanya Yuna pelan.
Agriel diam, dia tahu. Dia tahu akan semunya. Semakin berat saja rasa sakit di hati Agriel.
"Apa yang membuatnya sadar?" tanya Agriel.
Dokter Yuna menggeleng, dia bernapas berat. Melihat badan Mery yang kini kurus kering.
"Ajak komunikasi, berikan rangsangan pada titik sensitifnya. Jadilah pribadi yang menyenangkan di sampingnya, berikan dia sebuah kehangatan. Perlahan kesedihan yang Nona Mery pendam akan berangsur meluap. Yang dia butuhkan adalah teman cerita. Di mana Nona Mery, bisa berkata jujur tanpa harus berusaha menjadi orang lain. Itu saran saya, Tuan" jelas Yuna, dan dia berpamitan pergi.
"Tuan.. Bayu, Satya, Leli dan Tuti sudahβ"
"Sssttt... Kerjakan saja semuanya dengan baik, Ree. Jangan bicara hal itu di depan wanitaku. Pergilah, karena aku semakin muak dengan mereka!" bentak Agriel, membuat nyali Ree semakin ciut.
Lantas, pria itu bergegas pergi dan menjalankan keinginan Tuan Exanta.
"Mery, sayang... Tidak kah kau rindu dengan kissmark misterius mu selama satu minggu lalu? Aku rindu meminum susu, sayang.." dan air mata pun keluar tanpa mau di hentikan.
Punggungnya naik turun, di iringi isakkan yang kian keras terdengar.
"Sayang.. Bangunlah.. Aku... Aku.. Membutuhkanmu, sayang. Bagaimana aku bisa kuat menghadapi mereka yang selalu jahat padaku? Sandaran ku sedang menjadi tuan putri tidur. Aku lemah tanpa mu, sayang.."
"Ba-bagaimana aku mengatakan pada Bunda dan Mom? Kalau putrinya sedang tidur terlalu lama." gumam Agriel.
"Bella.. Anak kita, sayang. Dia sedang bersekolah di Turki. Aku mengirimkannya di sana, aku harus melindungi Bella dari Papa dan Paman."
"Mereka jahat, Mery.. Aku butuh pelukan mu.." rasa sakit terlalu sulit di jabarkan. Sesak yang bertubi-tubi membuat Agriel kehabisan sepatah kata.
***
Sebuah keuntungan besar bagi Desta, Agriel tidak mengusiknya. Kini, dia berada di sebuah pelabuhan besar. Kapal-kapal pesiar nampak berjejer apik di depan matanya. Di sana, banyak pria dengan jas mahal tengah berjejer di kapal masing-masing, merokok dan mengepulkan asapnya memenuhi udara malam. Angin laut berhembus cepat, mengibatkan rambut kilimis mereka. Dinginnya malam, tidak membuat gentar dalam menjalankan bisnis haram ini.
Orang yang di tunggu pun tiba. Nampak Desta turun dari mobil mewahnya. Aroma percintaan menyeruak, membuat banyak dari mereka tertawa pelan.
"Oh, Daddy Desta.." ejek Wilson, dari banyaknya orang di sana, hanya Wilsonlah yang berani mengejek seorang Desta.
Desta pun tak menanggapi, dia fokus pada beberapa kapal yang sudah siap mengangkut barang dagangnya.
"Nick! Angkut semua!" seru Desta, menyeringai.
Nick mengangguk mantap, dan segera mengurusi Kartel narkoba milik black rose.
Semua orang di sana sigap, memberi alarm siaga satu. Takut-takut kalau ada polisi yang datang, sama seperti beberapa bulan yang lalu. Garis bawahi, polisi sesungguhnya.
"Desta, Kartel black rose tidak bisakah buka setiap hari. Aku membutuhkan ganja setiap harinya." ucap Hendrik.
"Beberapa bulan saja, pasokan ganja Kartelku sudah habis dalam satu malam. Berapa yang kau butuhkan seharinya?" tanya Desta seolah menantang.
"Aku butuh lima puluh kilogram ganja, dan sabu. Untuk sabu tidak begitu, tapi ganja. Kartel rokok ku membutuhkan banyak ganja, man!" sahut Hendrik.
"Kau bisa membeli punya ku, bro!" sahut Gero.
"Ganjamu kau campur kencing ba-bi, siapa yang mau?" canda Hendrik dan membuat mereka tertawa.
"Akan ku usahakan. Kau pelanggan setia, mana bisa aku menolak?" ucap Desta, membuang puntung rokoknya.
Hendrik tersenyum senang, menepuk bahu Desta pelan. "Terima kasih. Kalau begini, usaha ku tidak akan macet-macet"
"Hei kalian semua!" teriak Hendrik membuang beberapa atensi meliriknya.
"Ayolah kawan.. Kami semua hampir setiap hari terbang." sahut Wilson di iringi suara tawa.
"BEKERJA LAH CEPAT! SEBELUM KECIDUK POLISI," teriak Wilson membuat mereka berdecak kesal.
"Dasar polisi bangs*t!" dengus mereka.
"HEI! AKU SEORANG POLISI, BRO!" teriak pria di ujung sana.
Dan mereka kembali tertawa. Ayolah, jangan bercanda terus, karena bisa jadi pengangkutan itu berubah menjadi komedi.
"Yah polisi gadungan." balas Wilson.
"Pintu Kartel ku tidak terbuka lama, kawan!" pekik Desta, membuat mereka cepat mengangkat barang-barang itu ke dalam kapal pesiar.
"Pembayaran harus lunas. Jika tidak ku bakar kapal kalian." peringat Desta tegas.
Mereka tentu mengangguk. Takut dengan Desta yang juga seorang pemimpin klan tinggi, yang tidak bisa di pandang remeh begitu saja.
***
Neanra, menatap lamat langit malam. Entah kenapa hatinya gundah tidak karuan. Ia tahu, mungkin saat ini Mery sedang bersama Agriel. Neanra sendirilah yang memberikan izin pada pria itu. Bagaimana pun, Neanra tahu, di mana letak kebahagian Mery. Ingin sejauh apa Mery menghindar, jika Tuhan sudah menjodohkannya dengan Agriel, lantas ia bisa apa?
Satu hal lagi, Neanra hanya tidak ingin mengulang kisah kelamnya dengan Desinton. Hatinya mencintai kekasih yang dulu juga ia acuhan, membohongi diri, berakhir orangtuanya menjodohkan dengan Desinton. Pria tampan, yang tidak begitu kaya. Entah apa yang ada di otak orangtuanya kala itu. Neanra sendiri, anak dari seorang pengusaha yang jaya pada masanya.
Ingatannya melayang pada saat ia bertemu Agriel. Pria itu dengan berani menelponya dan mengajak bertemu.
Flashback ingatan Neanra.
"Hallo? Dengan siapa?" tanya Neanra ketika telepon itu telah tersambung.
"Mom.." suara Agriel nampak serak basah. Tersirat nada rindu yang amat dalam.
"Agriel??" lirih Neanra pelan.
"Berani menghubungi saya, Tuan?" ucap Neanra berubah galak. Dia kesal, dan marah atas perbuatan berengsek pria itu. Karena dia pun Mery harus mempunyai trauma. Kalau saja, tidak ada manusia berengsek seperti Agriel, Neanra yakin kini ia sudah menimang cucu.
"Mom, jangan matikan dulu. Ada yang ingin aku bicarakan. Semuanya... Aku mohon, Mom. Kau ingat ucapan ku kala itu? Aku ingin membuktikan ludahku sendiri. Mom, aku mencintai Mery, aku cinta padanya. Semua ku lakukan demi melindungi dia... Aku rela mengorbankan segala yang ku punya demi Mery. Jika dulu aku tidak punya kuasa, kini aku kembali dengan banyak rencana. Tidak mungkin, aku seberani ini langsung meminta izin pada mu, Mom. Tolong.. Dengarkan aku kali ini. Apakah perlu aku bersujud kembali di bawah kaki mu, mom?" ucapan itu di seling tangis yang tertahan. Neanra menunduk, mengusap berulang kali air mata yang hendak keluar.
"Kau tahu Agriel? Anakku sampai gila karena kau!! Anakku sampai mempunyai trauma karena kau!! Dia sudah banyak merasakan kehilangan. Kau datang dengan janji mu lagi? Tidakkah cukup bagimu menyakiti hati anakku, Griel? Tidak cukup? Bahkan sumpahmu pun berisi omong kosong!" ucap Neanra meluapkan amarahnya.
Giginya menggertak menahan amarah yang kian memuncak.
"Langit siang ini cerah. Udara siang ini panas. Aku bernapas atas kuasa mu Tuhan. Aku tumbuh karena kau pelihara. Aku lahir karena kehendakmu. Aliran darah menjadi sumber kehidupan yang kau berikan padaku. Tanaman biarkan menjadi saksi, akar biarkanlah tetap menjalar. Aku Erial Agriel Exanta Putra, bersumpah dengan nama ku Yesus. Salib yang ku kalungkan di leher. Aku bersumpah akan mengasihi, menyayangi serta melindungi Elemery Desinton. Jadikan sumpahku ini untuk berkat pengabdian ku pada Mu." ucap Agriel tegas nan tulus.
Tangis Neanra pecah, badannya bergetar tidak karuan. Mendung pun menyambut begitu saja. Suara petir menggelegar, menyambar-yambar. Sumpahnya tulus dan di dengar penguasa alam.
"Baik.. Saya tunggu kamu di Caffe Rinjani," Jawab Neanra dan menghentikan telepon itu sepihak. Menangis, menelungkupkan kepalanya guna menahan isak tangis. Matanya pun menyorot Mery dengan tatapan welas kasih yang tidak karuan.
Caffe Rinjani.
Di sana, Agriel sudah duduk dengan tegap. Menghadap depan, lurus dengan mata tajamnya. Suara lonceng caffe terdengar, membuyarkan lorohan mata tajam Agriel. Dia tersenyum, menyambut Neanra yang nampak mirip dengan Mery.
"Mom.." seru Agriel berdiri, dan langsung memeluk Neanra erat, sangat erat.
"Maaf.. Maafkan aku, mom. Maafkan aku telah membuatmu merasakan sakit dan kecewa. Maafkan bualanku dulu. Aku meminta maaf ampun padamu, mom." bisik Agriel dan langsung bersujud mencium kaki Neanra.
Darah mendesir, membuat Neanra tidak kuasa menangis. Dia membantu Agriel untuk berdiri. Menatap penuh air mata pria di depannya. Astaga! Ketulusan itu terlalu ketara.
"Sudah, nak.. Sudah." bibirnya bergetar begitu saja. Memukul pelan dada Agriel, seperti menyalurkan segala perasaan kacaunya.
"Aku memaafkan mu, nak... Hatiku terlunakkan. Aku memaafkan mu. Tapi, jangan kau ulangi lagi. Mery satu-satunya penyemangat hidupku. Aku tidak punya siapa-siapa. Aku hanyalah wanita tua yang ingin melihat anaknya bahagia." bisik Neanra.
Agriel mengangguk, dia mengajak Neanra duduk.
"Akan ku ceritakan semuanya mom... Tidak akan ada secuil pun kisah ku yang tidak kau dengar." ucap Agriel dengan napas berat.
"Alasan, penyebab. Dan semuanya... Ku harap kau percaya."
"Titipkan Mery padaku, aku akan menjaganya. Akan aku libatkan hatinya, dengan caraku sendiri. Ku sembuhkan trauma terdalamnya. Akan berjanji Mom."
"Janji itu pemanis, nak. Janji mu hutang mu. Ku pegang ludahmu, untuk kesempatan yang tidak akan mungkin ada kedua!"
Flashback ingatan Neanra off
BERSAMBUNG...
Hallo π€© Sapa pembaca dulu ah~ HAI PARA PEMBACA ELEMERY πββ KALAU NANA BOLEH TAHU, KESAN KALIAN BACA SAMPAI BAB 30 INI APA? TULIS YUK DI KOLOM KOMENTAR ππ Happy 30 chapter guys πΈπ§ββ