ELEMERY

ELEMERY
KERUMITAN



Lilyana mengajak Agriel menjauh dari area kamar Mery. Dia menuntun Agriel sampai ke taman rumah sakit, yang letaknya lumayan jauh dari tempat Mery berada. Agriel yang sejak tadi di dorong ibunya hanya bisa diam seribu bahasa. Karena dia sudah tahu, hal apa yang ingin Lilyana ucapkan dan bahas di sini.


"Duduklah, nak" perintah Lilyana.


Agriel menurut dan duduk di sebelah ibunya. "Tebakan yang ada di kepalamu benar, Griel"


Masih dengan kediaman, Agriel masih belum sanggup mengucapkan sepatah kata untuk menjawab pernyataan ibunya itu. Rasanya begitu pengecut saat dia sendiri sudah berjanji pada Mery untuk tidak berurusan dengan Anouk.


"Maafkan aku yang begitu egois ini." Lilyana menyadari tingkah kolotnya. Tapi, sebagai seorang wanita dia sungguh tidak tega dengan bayi yang di kandung Anouk.


"Ayahmu sedang jaya-jayanya. Saham perusahaan Exanta ada ditangannya, saham perusahaan Obrama juga ada di tangannya. Dia seakan melupakan bundamu ini." Cerita Lilyana dengan bibir bergetar.


"Sejak dulu, memang aku ini hanyalah seonggok daging peganti." Lanjutnya.


"Bun..." Panggil Agriel, dia mendekat pada Lilyana.


"Kamu ingin bercerai dengannya? Aku tidak masalah. Kebahagiaan ada ditangan masing-masing orang."


Lilyana rasanya ingin menangis sekarang, Agriel tidak akan tahu seberapa banyak pengorbanannya untuk tetap bertahan. Basta, laki-laki itu sudah banyak memberinya luka. Bukan hanya berupa luka fisik, tapi batin yang terus terkuras.


"Andai kamu tahu Agriel. Desta seribu kali lebih baik dari Basta. Kakekmu itu saja yang lebih menyayangi Basta. Aku tahu semua itu." Ujar Lilyana.


"Aku juga sudah sadar sejak awal, Bun. Tapi, yang membuat situasi rumit di sini adalah anak Anouk dan Desta." Ucapan itu sontak di angguki oleh Lilyana.


"Dia cucu pertama di tiga ahli waris raksasa ini." Senyuman Lilyana begitu lebar. Inilah sebagian alasan dirinya menginginkan bayi itu. Dia adalah calon pewaris yang sesungguhnya, sudah menjadi kewajiban tidak kasat mata untuknya menjaga dan merawat.


"Nandhaya juga sangat setuju Bayi itu kamu rawat. Tapi, posisinya di sini... Bayi itu milik Anouk dan Desta." Ucap Agriel menghela napasnya berat.


Matanya menatap langit malam, menerawang jauh melalui celah cahaya bintang. "Aku sudah berjanji pada Mery untuk tidak ikut campur dengan orang yang bernama Anouk. Mery tidak menyukai Anouk."


"Dia pasti mengerti jika kamu berani menjelaskannya" balas Lilyana lugas.


Agriel menghela kembali, sulit sekali untuk memberikan pengertian pada Lilyana. Mery itu keras kepala dan berani, dia seakan tercipta bukan untuk tunduk di bawah kaki orang lain. Nyatanya saja saat kejadian Mery nekat kabur memanjat tembok yang tingginya hampir lima meter hanya untuk kabur darinya. Ditambah Mery saat itu tidak tahu apapun tentang Bandung. Tingkah nekat tanpa berpikir seribu kali itulah yang kadang membuat Agriel khawatir jika jujur dengan Mery.


"Bunda tahu bagaimana Mery itu. Dia memang sangat keras, dan berani." Lilyana berhenti sejenak.


"Itu karena kamu tidak bisa memberinya sebuah paham Agriel. Dia juga wanita, dan pasti tahu bagaimana perasaan yang bunda rasakan. Anak yang di kandung Anouk harus bisa kita rawat. Jangan sampai anak itu kelak yang akan menghancurkan kembali persatuan dari tiga ahli waris. Sudah cukup Basta dan Desta, jangan anak itu." Bibir Lilyana bahkan hampir bergetar, dia kembali mengingat saat dengan paksa Basta mengurungnya dan menikahinya secara paksa hanya untuk merebutkan ahli waris itu. Cerita di balik cerita masih banyak, simpang siur tanpa ada bukti kebenaran. Sedangkan Lilyana adalah saksi hidup yang nampak bisu, dia tahu segala keberanaran di masa lalu. Dan, itu sangat amat menyakitkan.


Tidak akan lagi Lilyana mengungkit hal lama. Itu terlalu sulit. Sampai namanya yang dulu Aiyla menjadi Lilyana.


"Tapi di sisi lain, Desta dan Anouk sangat berhak atas anak itu." Ucap Agriel.


"Desta memang berhak, Anouk pun demikian. Mereka adalah orangtua kandung anak itu. Bukan itu permasalahannya Agriel. Ini mengenai masa depan anak itu sendiri."


"Bun, dengarkan aku." Agriel menghadap Lilyana dengan sorot mata penuh sebuah keyakinan.


"Tidak perlu pusing merebutkan sesuatu yang bukan milik kita. Anak itu memang benar adanya cucu pertama dari tiga ahli waris. Jika yang di khawatirkan banyak orang adalah tentang anak itu nantinya akan menjadi seperti Anouk, Desta atau Basta bukankah wajar? Secara tidak langsung mereka tetap satu darah, begitupun denganku."


"Sifat serakah dan ingin menguasai sudah mendarah di dalam setiap aliran darah keturunan Nandhaya. Mengingat bagaimana setiap generasi mereka di puja dan hidup penuh limpahan harta. Itulah akar dari segala masalah ini." Lanjut Agriel menggebu.


"Solusinya?" Tanya Lilyana yang bingung dengan penjelasan Agriel.


"Solusinya adalah dengan ikut serta mendidik setiap keturunan tiga ahli waris." Jawab Agriel dengan penuh keyakinan.


"Kita tidak perlu memburu sebuah nafsu yang ujungnya hanya mempertahankan sebuah harta. Balik konsep itu, dan merubahnya menjadi mendidik setiap ahli waris yang berujung pada kehidupan yang sederhana."


Sontak, bibir tipis Lilyana membentuk sebuah lengkungan ke atas, bak bulan sabit pada awal bulan. Rasa bangga kini menyelimuti diri Lilyana. Walau Agriel ia didik di tengah kekacauan hatinya, kasih sayang yang tulus nyatanya mampu merubah segalanya.


Agriel mengangguk, "walau begitu mereka kelak tetaplah sama, calon ahli waris yang harus di lindungi sepenuhnya. Bahkan darah mereka pun sangat di lindungi. Itu sudah tercantum di buku yang ada di perpustakaan mansion Nandhaya."


"Aku sangat setuju Agriel." Mereka serentak menghela napas lega.


"Tapi, untuk saat itu lindungi Anouk dulu, bukan—lebih tepatnya ahli waris pertama. Desta masih mengincar Anouk. Laki-laki penuh gengsi itu tidak mungkin mengutarakan cinta. Dan permasalahannya adalah Anouk merasa di duakan dengan figur Lilyana. Bodohnya dia adalah, Lilyana yang di pajang oleh Desta hanyalah Lilyana pengecoh untuk Basta." Omongan rumit ibunya tidak begitu Agriel ambil pusing. Yakin, bahwa itu sebagian dari masa lalu rumit mereka.


Agriel angkat tangan jika harus membahas masa lalu ruwet itu.


"Tapi, tolong Bun. Jangan sampai Mery tahu dulu. Aku ingin fokus pada penyembuhan Mery."


Lilyana mengangguk guna mengerti, "aku paham, Agriel."


****


Di sebuah negara yang amat besar, dan padat penduduknya. Di tengah-tengah masyarakat yang penuh itu terdapat satu manusia tua yang tengah duduk di kursi besarnya. Memandang ke arah luaran kota yang sangat padat. Dari luar bangunan yang dia tempati adalah sebuah kastil biasa. Tapi isi di dalamnya berupa barang mewah jutaan dollar harganya.


Dari celah mata sayunya dia menyipit menatap jam besar yang terus bergerak seirima dengan detik. Tidak pernah lepas mata tua itu untuk menilik jam besar di rumahnya. Waktu baginya adalah hal besar. Satu detik merupakan seribu cara untuk sukses. Dulunya dia adalah seorang dokter tersohor, kejayaan trahnya pun mendukung segala aspek.


Menikahi gadis muda yang saat itu adalah asistennya sendiri. Melalui celah kegelapan dia tersenyum tipis. Mengingat di mana dia juga pernah bahagia. Mempunyai anak yang jumlahnya ada tiga, di mana satu anak perempuan yang dia beri nama Qensa, yang kedua adalah laki-laki yang bernama Herly, dan yang terakhir bernama Desinton. Dari ketiga anaknya, hanya satu yang paling tidak menurut. Paling membangkang dan paling tidak dia sukai.


Dia kira Desinton hanyalah biang rusuh tidak berguna, yang akhirnya menikahkan Desinton dengan Neanra. Pria tua itu secara tidak sengaja telah membuang Desinton jauh dari negerinya sendiri. Buruk, sangat buruk jika mengingat hal itu.


Semua hanyalah tinggal penyesalan. Kedua anak pertamanya terlalu tamak dengan harta, dan berujung saling membunuh. Tidak ada yang selamat saat itu, karena keduanya sama-sama kuat. Kehancuran telah tiba, dan berakhir sekarang. Raga tua bangkannnya sendirian. Umurnya sudah hampir seabad, dengan keriput di mana-mana. Alasannya terus menatap jam adalah untuk memastikan esok masih ada napas atau tidak.


"Tuan.... Saya sudah menemukan Nona muda." Ucap Arthur menunduk. Dia adalah bawahannya yang setia. Tidak lelah mengurus orang tua seperti dirinya itu.


"Di mana, Arthur? Di mana cucuku?" Tanyanya menahan air mata yang hampir keluar.


"Di Indonesia, Tuan." Jawaban itu membuat senyumannya kembali turun. Indonesia, tempat di mana dia dulu membuang anaknya sendiri.


"Desinton?"


Arthur menunduk, menelan ludah dengan susah payah. Tidak tega harus mengatakan hal buruk ini. "Tuan kecil sudah tiada, Tuan. Dia meninggal beberapa tahun yang lalu."


"Hah, semua anakku sudah pergi menghadap Tuhan. Istriku pun demikian. Tinggal aku bukan?" Tanyanya dengan nada ringan.


"Tuan..." Cegah Arthur.


"Aku harus bertemu cucuku, Arthur. Aku harus bersujud di bawah kakinya. Aku harus menceritakan betapa buruknya aku dulu. Dan, aku juga harus mewaris kan kekayaan ku ini padanya. Umurku sudah semakin tua, tinggal menunggu nyawa ini di ambil sang kuasa."


Arthur lagi dan lagi menunduk, dengan kediaman seribu bahasa. Tidak berani menyela ucapan Tuan Wick Helena. Sang dokter pintar yang paling tersohor dengan kekayaan yang tidak ada habisnya. Trah Wick-Hely masihlah ada. Trah yang akan membawa peradaban lebih maju untuk China. Sepertiga daratan China milik Wick-Hely.


"Siapa nama cucuku?"


"Elemery Desinton. Tuan kecil seperti sengaja memberinya namanya sendiri."


"Calon Nyonya besarmu Arthur."


Arthur tersenyum kecil, "juga pun untuk nyonya besar keturunan ku kelak."


"Ya, aku sudah memesan keturunan mu untuk membantu Wick-Hely." Tawa kedua pria tua itu menggelegar. Arthur itu pria tua berusia enam puluh tahun.


BERSAMBUNG....