
"KAU DI BODOHI DOKTER-DOKTER ITU!" teriak Wick dengan nada menggelegar.
"Kista di ovarium Mery bisa sembuh tanpa mengharuskan operasi. Cepat batalkan operasi sialan itu! Anak cucuku tidak akan cacat!" Tambahnya membuat Agriel tersentak.
"Tapi—"
"KAU SIAPA? AKU KAKEKNYA! ORANG YANG BERHAK ATAS MERY! BUKAN KAU ANAK INGUSAN YANG HANYA BISA MEMPERMAINKAN CUCUKU. JIKA MEMANG KAU SERIUS DENGANNYA, SUDAH SEHARUSNYA KAU MENIKAHI CUCUKU BUKAN BERTINDAK KONYOL SEAKAN-AKAN KAU HIDUP DI ATAS SEGALANYA!" Ucap Wick penuh penekanan. Nandhaya sudah angkat tangan, tidak mau berurusan dengan Wick Helena, pria picik.
"Batalkan operasi itu! Aku akan meracikkan obat herbal China dan terapi khusus untuk Mery!"
"Arthur! Siapkan semuanya! Bawa semua obat-obatan di ruang laboratorium ku!" Perintah Wick.
"Sudah Agriel! Turuti saja. Wick Helena dulu adalah seorang dokter. Kau percayalah padanya. Walau sedikit tidak waras, tapi dia adalah orang yang cerdas." Ucap Nandhaya menepuk-nepuk bahu Agriel.
Sungguh sekarang Agriel bagaikan anak ayam yang takut dengan induknya. Sekilas seperti orang linglung tidak tahu apapun.
****
"Operasi mu di batalkan sayang" ucap Agriel, mengelus puncak kepala Mery.
"Kenapa?" Tanya Mery, mendongak ke atas guna menatap wajah Agriel.
Agriel tersenyum, dia mengecup kening Mery dalam. "Kamu akan tahu jawabannya setelah ini."
Kening Mery tentunya berkerut dalam, seakan tengah kebingungan. Dia bahkan cemberut karena merasa di permainkan Agriel. "Kakek, dan Ibuku akan menjenguk mu sebentar lagi." Ucapan Agriel kali ini membuat Mery tambah kebingungan.
"Aku akan mati?" Tanya Mery polos.
Jitakan kuat Agriel berikan, seolah-olah tidak suka dengan kalimat yang baru saja Mery ucapkan. "Mulut tipismu aku hisap jika sampai berbicara sembarangan lagi!" Ancamnya.
"Kakek sudah tahu kamu sakit, tapi belum sempat menjenguk. Kamu tahu sendiri kan raga tua itu. Dan, kini sudah ada waktu. Dia akan datang bersama ibuku dan seseorang." Ujar Agriel mencuri pipi Mery untuk di kecup.
Neanra datang dengan nasi uduk yang ia beli dari kantin bawah rumah sakit. Tersenyum senang menatap kemesraan Agriel dan Mery. Ada rasa lega di hati Neanra, rasanya tidak salah dulu dia membantu Agriel untuk dekat lagi dengan Mery. Hati seorang ibu memang selalu membawa keberkahan, instingnya pun sama kuat. Jangan pernah ragu dengan keputusan seorang ibu.
"Apakah Mom mengganggu kalian?" Canda Neanra, berjalan ke arah Mery dan Agriel.
"Tidak mom." Jawab Agriel cepat. Dia merubah posisi duduknya, meninggalkan kecupan manis di kening Mery sebelum bangkit dan berjalan ke arah Neanra.
"Mom, bisakah kita bicara sebentar?" Tanya Agriel. Neanra mengangguk, dan menuntun Agriel duduk di sofa panjang ruangan itu.
Belum sempat Agriel mengucapkan sepatah kata, pintu rawat sudah dibuka terlebih dahulu. Tampak dua orang kakek tua dengan tongkat mereka di ikuti Lilyana di belakangnya. Dua kakek itu antara lain adalah Nandhaya dan Wick. Tapi Mery hanya mengenali satu dari dua orang itu. Keningnya berkerut bertanya tanya dengan sosok yang belum pernah Mery lihat. Wajahnya terlihat sangat asing bagi Mery.
"Agriel?" Tanya Neanra pada Agriel. Jawaban Agriel cukup sederhana, dia hanya mengangguk seakan menyuruh Neanra duduk dan dia akan tahu semua jawaban untuk menjawab semua pertanyaan dikepalanya.
Agriel harus duduk di dekat Merynya.
"Mery sayang? Kau tidak rindu dengan Master?" Tanya Nandhaya.
"Tidak kek, kecuali uangmu" jawab Mery, biasa.
"Hahahaha" tawa Wick menggelegar keras. Dia menepuk-nepuk pundak Nandhaya mengejek. "Lihat Brahtara, dia sebelas dua belas denganku bukan?" Tanya Wick.
Nandhya mengangguk setuju, "sama-sama tidak punya filter di mulutnya. Aku kagum dengan keturunanmu Wick. Pedas di mulut, pedas di sikap, pedas di bisnis. Dasar keturunan boncabe!" Dengus Nandhaya.
"Apa itu Boncabe? Kau mengejekku Nan? Kau ingatlah, siapa yang membuatmu sadar? Tanpa mulutku ini kau sampai detik ini masih akan tetap bodoh!"
"Aku tidak bodoh, dasar tua bangka!"
"Kau juga sudah tua idiot! Baru tanah kuburan!"
"Kau bau bunga tujuh rupa!"
"Kau menyamakan aku dengan dukun?" Melotot sudah mata tua Wick.
"Bodoh! Benar-benar bodoh! Dasar bau kapur barus!"
"Arthur! Buatkan peti mati untuk Nandhaya!" Perintah Wick keras.
"Fergi! Buatkan juga dia peti mati dengan bahan paling buruk di dunia!" Balas Nandhaya.
"Arthur jangan lupa bilang pada pengerajin peti itu untuk menggunakan bahan daur ulang!"
"Fergi, jangan lupa juga suruh dia yang membayar tagihan peti matinya sendiri. Tidak sudi aku campur tangan masalah kematian dengan dia!"
"NANDHAYA!!!"
"WICK-HELY TUA BANGKA!"
"SUDAH CUKUP!" pisah Agriel berteriak.
"Kalian itu setidaknya sadar umur, dan apa tujuan awal kalian datang ke sini. Jika hanya untuk beradu mulut silahkan keluar dari ruangan ini sekarang!" Tegas Agriel. Dua manusia tua itu pun diam sejenak, dan kemudian mendekat pada Mery secara bersamaan.
"Mery, bagaimana keadaan mu? Maafkan aku baru bisa menjengukmu sekarang." Ucap Nandhaya. Sedangkan Wick tetap diam karena tidak tahu harus mulai dari mana. Getaran tak kasat mata yang kini menggelitik hatinya. Apalagi saat menatap kedua bola mata Mery, yang sekilas mirip dengan Desinton. Bertambah kali lipat penderitaan hatinya.
"Aku baik, kek. Bukan masalah besar, aku tahu kau pasti sibuk." Jawab Mery, menenangkan hati Nandhaya.
"Syukurlah, kau tidak marah padaku. Aku jadi lega, untuk mempersiapkan pernikahan kita."
"Apa kau bilang?"
"Kek!" Secara bersamaan kedua pria beda generasi itu serentak memberi pelototan pada Nandhaya.
"Apa? Kalian iri ya?" Tanya Nandhaya menoleh, menberi tatapan mengejek.
"Tentu!" Jawab keduanya pun bersamaan.
"Oh Mery sayang, sepertinya pernikahan kita kali ini tidak di restui siapapun. Tapi kau tenang saja, aku akan mencari cara." Tenang Nandhaya. Mery sendiri hanya memutar bola mata malas, tahu sendiri bagaimana dramanya kakeknya Agriel itu.
"NANDHYA!!!" teriak Wick sudah merah padam. Tidak terima tentunya.
"Apa? Kau siapa?" Tanyanya malah membuat semua orang yang ada di sana kebingungan.
"Bawa tua bangka ini keluar Arthur." Perintah Wick.
"Stop! Aku akan diam. Dan duduk manis di sana," ucapnya menunjuk pada sofa panjang. "Kau cepat urusi semua perningkaian mu itu." Suruh Nandhaya.
Di dalam ruangan itu sebenarnya tidak hanya ada Mery, Agriel dan Nandhaya. Tapi pun ada juga Lilyana, Neanra, serta beberapa pengawal pribadi Nandhaya maupun Wick. Neanra sendiri tidak tahu siapa pria tua di dekat Nandhaya, tapi entah kenapa saat menatapnya sekilas dia seperti melihat sosok Desinton. Mengingat nama itu kadang membuat hati Neanra kembali sakit, kenangan buruk masa lalu yang menyakitkan. Tapi bagaimana pun tidak akan pernah ada rasa benci di hati Neanra untuk Desinton.
Perjodohan memang kadang baik tapi kata baik tidak untuk semua orang. Takdir setiap orang berbeda, begitupun hal baik mereka.
"Mery..." Panggil Wick pelan. Dia menundukkan kepala, rasanya tidak ada rasa pantas untuknya sekarang menatap wajah Mery.
Mery diam, dengan tatapan meneliti. Kepalanya bertanya-tanya tentang siapa pria tua di depannya itu. Hatinya berdetak kencang, mengudara seakan mendorong dirinya untuk memeluk pria itu. Tapi akalnya menolak, karena tidak ada sepuiny memori pun ada tentang wajah pria tua itu.
"Izinkan aku seorang pendosa ini mengenalkan diri, nak."
"Aku Tertylo Moon Wick-Hely Helena. Aku seorang pria tua asal China bukan—tapi aku tinggal di sana—aku sendiri bukan darah orang China. Darah yang kini mengalir di tubuhku adalah campuran orang Belanda dan Thailand. Aku dulu menikahi seorang gadis China, dia bernama Xiang Yu, satu dari banyak wanita yang mampu membuat ku ingin menikah. Pernikahan kami di beri tiga keturunan. Aku mempunyai tiga anak, yang pertama bernama Qensa, seorang perempuan cantik seperti ibunya. Yang kedua bernama Herly, seorang anak laki-laki yang aku gadang-gadang menjadi penerus ku. Dan, yang terakhir adalah Desinton, anak yang aku anggap dulu hanyalah seorang sampah."
Prang!
Tidak sengaja Neanra menjatuhkan gelas yang hendak dia ambil untuk memberikan Nandhaya minum. Hati Neanra berdetak kencang, kenangan di mana dulu Desinton pernah mengatakan bahwa dia membenci ayahnya, membenci semua hal buruk yang ada di dirinya.
"Neanra, aku rasa aku tidak akan bisa menjadi ayah yang baik. Aku ini penuh masalah, aku ini sangat buruk. Maafkan aku yang membuatmu harus terjebak pada pernikahan rumit ini. Aku sendiri tidak tahu bagaimana harus bersikap, karena aku tidak tahu bagaimana rasanya mempunyai keluarga sempurna seperti kebanyakan orang. Kita jalani pernikahan ini dengan bebas saja. Kau tetap kejar cintamu, dan aku akan tetap ada pada jalan hidup penuh kegelapan ku." Itulah ucapan yang pernah Desinton ucapkan saat dia pertama kali mengajaknya bicara.
Pecahan kaca itu tidak membuat Wick gentar, dia tetap menatap Mery dengan dalam.
"Desinton adalah anak yang nakal, dia suka berganti-ganti pasangan, dia suka berjudi, dia suka hal-hal buruk. Itu sendiri karena aku yang membedakan kasih sayang. Anak itu membuat ulah agar aku memarahinya, agar aku memperhatikannya, sayangnya aku dulu tidak setanggap itu. Hingga akhirnya aku membuang Desinton, tanpa sepengetahuan istriku. Tapi sepertinya istriku tahu akan itu, sampai-sampai dia menikahkannya dengan keluarga kolongmerat saat itu, ya itu keluarga ibumu, Neanra."
"Aku Kakek mu Mery. Aku sungguh minta maaf. Aku dulu sangatlah konyol dan bodoh. Aku—" tanpa banyak lagi kata yang terucap, Wick bersujud di hadapan Mery. Dia menangis, karena tidak kuasa dengan rasa lega yang kini menghilang dari hatinya.
"Berdirilah, Kek." Ucap Mery, membuat Wick menengadah.
"Yang seharusnya kau mintai maaf adalah Ayahku, bukan aku. Dan juga ibuku, bukan aku." Lanjut Mery.
"Kehadiran ku tidak untuk meneliti semua kerusuhan masa lalu orangtuaku. Jika yang kamu khawatirkan adalah aku membencimu, tentu saja tidak akan terjadi. Tidak ada manfaatnya." Sambung Mery, membuat Wick tersenyum senang.
"Bolehkah aku memeluk mu Mery?" Tanya Wick, dan Mery mengangguk. Raga tua itu pun memeluk erat tubuh cucunya. Tangis Wick mendera deras, dia memejamkan mata menyesali semua. Hal baik telah banyak dia lewatkan, salah satunya melihat sendiri bagaimana cucunya bertumbuh dan berkembang.
***
Kini, keluarga Wick-Hely sudah kembali utuh. Begitu pula Neanra yang memaafkan semua hal di masa lalu. Masa lalu, jika terus di ungkit hanya akan membuat rasa pedih tidak berkunjungan. Lebih baik menjadikannya pelajaran dan mulai hidup dengan baik di masa depan. Wajah tua Wick kini memancarkan senyuman paling menawan, dia tidak henti-hentinya sejak tadi terus memarekan gigi palsunya.
"Arthur, jika seperti ini aku sudah siap menemui Tuhan." Bisiknya pada Arthur yang terus ada di sampingnya.
"Tuan, bukankah Anda ingin menemani Nona kecil Mery menikah? Hidup panjang adalah sebagian dari hati yang mendamba suatu momen."
"Ya, aku akan berusaha. Kau sendiri tahu tujuanku mati adalah meminta maaf pada Xiang Yu dan Desinton."
"Mereka ada di sini Tuan, mereka tersenyum. Mereka memaafkan mu. Penyesalan mu begitu ketara untuk mereka."
"Aku harap seperti itu, Arthur."
BERSAMBUNG....