
Langkah kaki tegas dengan alas sepatu bot besarnya itu nampak memasuki ruangan gelap dan sunyi. Lorong panjang yang menghantarkannya sampai di ruangan itu. Pintu dibuka oleh seorang penjaga, dengan baju hitam lengkap dengan senjata-senjata. Mata laki-laki itu menggelap, mencekam erat batang leher penjaga itu.
"Di mana tuan mu?" Tanyanya berbisik.
"Mohon jaga sikap anda Tuan. Jika tidak kami tidak segan membunuh Anda sekarang juga." Cegah salah satu kawannya, membuat laki-laki itu dengan kesal melepaskan batang leher penjaga.
"Aku tahu di mana harus bersikap." Balasnya dan masuk dengan gaya congkak penuh amarah.
Ruangan itu luas, di penuhi banyak kursi bergaya antik dengan dinding bercat cokelat tua dan suara musik yang di putar di piring hitam berbunyi merdu menghiasi kesunyian yang ada.
"DI MANA KAU SEMBUNYIKAN ANOUK KEPONAKAN KU SAYANG?" teriaknya, mengebrak meja yang tengah di belakangi oleh seseorang berkas hitam licin.
"Kecilkan suaramu." Balasnya dan memutar kursi. Nampak seorang Agriel yang duduk dengan gaya sombong, menatap sinis Desta.
"Bagaimana aku bisa mengecilkan suaraku? Jika yang aku hadapi sekarang seorang yang penuh trik licik" ejek Desta, dan duduk di depan Agriel.
"Aku harus licik untuk menghadapi kelicikan mu juga Tuan Desta"
"Di mana Anouk? Kau sembunyikan dia di mana?"
"Dia istriku bukan?" Tanya Agriel santai.
"Kau kira aku bodoh? Kau sudah menceraikan nya, Agriel." Jawab Desta.
"Ohh, sudah sampai di telingamu kabar itu. Cepat juga." Agriel mengangguk memahami, bahkan Wick pun tidak tahu jika dia sudah menceraikan Anouk sejak lama.
"Di mana Anouk?" Tanyanya lagi dengan penekanan yang lebih dalam.
Agriel tertawa kecil, dia menatap Desta dengan wajah jenaka. Seakan lelucon telah Desta ujarkan dan itu membuat Agriel tidak henti tertawa, menertawakan kebodohan Desta.
"Hei Paman Desta. Kau merenggut cinta tulus seroang gadis panti asuhan. Kau mendidiknya menjadi seorang ja*lang. Kau menidurinya dengan memanfaatkan cinta darinya. Kau juga yang mempermainkan perasaan, fisik dan hatinya. Parahnya, kau menyuruh anak buahmu sendiri menidurinya. Sekarang dia hilang, dan aku singkirkan dari iblis sepertimu kau kelimpungan. Mau mu apa Tuan Desta?" Tanya Agriel.
Desta memalingkan wajahnya memerah. "Kau sudah menceraikannya Agriel, berarti kembalikan Anouk padaku."
"Kau sudah tidak butuh Obrama? Atau mungkin Exanta?" Tanya Agriel, memutarkan bolpoinnya di depan Desta.
"Percuma berebut harta dari keluarga Nandhaya. Aku bisa mencari pundi rupiah tanpa harus tunduk di bawah kaki Nandhaya, Agriel. Kau kepung kartelku? Apa maksudmu? Dan kau kira aku akan jatuh lumpuh? Kau salah Agriel. Aku Desta! Bukan ayahmu Basta sang pecundang."
"Aku suka dengan cara pikirmu paman. Tapi bisakah kau hentikan bisnis mu itu?" Tanya Agriel.
Desta tertawa keras, bertepuk tangan dengan meriah. "Kau siapa? Bisa menghentikan langkahku?"
"Kau akan menjadi seorang ayah. Atas dasar itu aku menyuruhmu berhenti."
"Diamlah dulu." Potong Agriel saat Desta hendak berucap. "Anouk hamil anakmu, dia laki-laki. Dia benar-benar anakmu Desta, karena aku sendiri sudah melakukan tes DNA. Jika tidak percaya kau bisa melakukan tes lagi. Aku menyuruhmu berhenti karena bisnismu itu adalah bisnis besar dan haram, sangat berbahaya. Kartel narkoba mu sungguh luar biasa. Polisi di seluruh dunia mengincarmu. Aku tidak mau ada yang mengusik ketenangan keluarga kecilku kelak. Karena apa? Karena semua bisnismu menyandang nama Obrama!"
"Agriel, kau salah nak. Bisnis ku akan tetap ada, sampai anak keturunan ku. Jika kau tidak bisa menunjukkan di mana Anouk. Maka akan aku cari tahu sendiri meskipun di lubang semut sekalipun." Bisik Desta, dan menembakkan pelurunya di korden belakang Agriel.
"Aku tidak membunuhmu, karena aku tahu kau punya rencana menikah." Ucap Desta melenggang pergi.
Selepas perginya Desta, orang suruhan Agriel datang.
"Tuan, kandungan Nona Anouk semakin parah. Jika keadaannya terus melemah dokter menyarankan lahir prematur. Ini demi kebaikan Nona Anouk berserta bayinya."
"Aku ke sana. Semakin perkuat penjagaan." Ucap Agriel lalu bangkit. Niat awalnya memang mengunjungi Anouk, tapi sayang harus terganggu oleh Desta yang tiba-tiba memunculkan dirinya.
"Baik Tuan"
***
Rumah kecil dengan dekorasi sederhana, letaknya berada di bawah tanah yang sengaja di buat di atas bangunan tua tidak layak huni. Orang awan tidak akan tahu bagunan apa itu selain bangunan kosong menyeramkan. Rumah kecil yang sengaja Agriel bangun untuk kelahiran Anouk. Jujur saja, ada rasa kasihan di hati Agriel untuk nasib Anouk. Siapa saja pasti akan memperjuangkan cintanya, karena Agriel merasakan sendiri. Namun, jangan sampai berjuang tapi hilang akal.
Pintu terbuka setelah Agriel menempelkan kartu. Dia berjalan tegas memasuki kamar Anouk yang menjelma menjadi sebuah rumah sakit sederhana. Di sana sudah ada dokter yang tengah membereskan alat-alat medis dan satu orang suster tetap yang senantiasa menjaga Anouk sepanjang harinya. Tatapan Anouk kala ini sangat amat teduh.
Dia memalingkan wajah saat menatap Agriel. Malu, dan menyesal yang bercampur aduk menjadi satu.
"Tuan Agriel, bisa kita bicara?" Tanya dokter itu. Agriel mengangguk, lalu berjalan keluar bersama dokter yang baru saja menangani Anouk itu.
"Ada apa?" Tanya Agriel.
"Tuan, kita harus segera melakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan bayi itu. Saya mendapati gejala anemia parah pada kondisi nona Anouk. Tidak hanya itu, terdapat infeksi di tungkak lambung Nona Anouk. Takutnya jika tidak segera melakukan tindakan membuat kondisi bayi yang di kandung ikut bermasalah."
"Lakukan yang terbaik." Ujar Agriel.
"Baik Tuan, saya permisi"
Agriel menatap Anouk sesaat, lalu duduk di dekat wanita itu. Wajahnya kini pucat, dengan tatapan suram.
"Bayimu akan lahir prematur." Beritahu Agriel.
"Apa tujuan mu Agriel." Tanya Anouk, dengan suara lemahnya.
"Kau sudah menceraikan ku, sudah bukan tanggung jawabmu merawatku saat ini." Lanjutnya.
"Dia pewaris pertama di keluarga Brahtara. Tidak mungkin aku melepaskannya begitu saja." Sambung Agriel.
"Hanya itu?" Tanya Anouk, mengamati mata Agriel.
Agriel mengangguk, "kau kira apa?"
"Aku mengira bahwa kau hanya ingin memanfaatkan ketidakmampuan ku saat ini."
"Aku bukan Desta, Anouk." Sinis Agriel.
"Kapan kau akan menikah dengan Mery?" Tanya Anouk.
Agriel tersenyum singkat, "secepatnya. Setelah kelahiran bayimu mungkin."
"Bisakah aku bertemu dengan Mery, Agriel?" Tanya Anouk.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan mu menemui Mery."
"Aku hanya ingin minta maaf. Tidak ada hal lain yang ada di hatiku Agriel. Aku sudah tahu semuanya. Tuhan telah memberiku sebuah peringatan melalui sakit ini. Aku hanya ingin mendengar kata perelaan dari Mery, agar jiwa ku tenang untuk meninggalkan kemurakan dunia. Aku juga minta dengan mu Agriel. Jika bukan karena ambisiku bisa dengan Desta, kau dan Mery pasti sudah bahagia." Anouk menunduk, dia menangis kecil.
Tangan kecil nan lemahnya itu mengelus perut besarnya. Dia mendongak menatap Agriel dengan linangan air mata.
"Ini sangat sakit Agriel. Aku harus berjuang untuk anakku sendirian. Aku ini manusia paling hina di muka bumi ini. Bercinta dengan siapapun, berbuat dosa dengan menghancurkan hubungan oranglain. Ikut besar dalam kontribusi rencana jahat. Kadang aku berpikir, apakah Tuhan bisa memaafkan ku?. Hari-hari ku di sini penuh dengan kerinduan ku dengan sang pencipta. Tanda salip yang kamu pasang di sana, membuatku banyak sadar. Terima kasih telah memasangnya." Ucap Anouk menunjuk pada dinding di depannya.
"Agriel... Aku tahu hidupku tidak akan lama. Bayang-bayang kematian terus menghantui saat aku memejamkan mata ini. Maka dari itu, aku memohon satu hal padamu."
"Apa?" Tanya Agriel menahan.
"Rawat bayiku tanpa harus memberitahu dia bahwa aku orangtuanya. Jadikan dia anakmu ya, seperti halnya dengan Bella. Hanya itu."
"Tapi aku tidak bisa, Anouk. Setiap anak harus tahu orangtuanya. Dan, aku tidak suka berbohong."
"Kali ini saja Agriel. Aku hanya tidak mau anakku malu mempunyai ibu sepertiku. Aku hanya ingin anakku kelak bangga menjadi anakmu. Aku ibu paling buruk, aku tidak mau anakku sedih akan itu."
"Tidak ada ibu buruk di dunia ini Anouk. Jika memang ada, itu sudah melampaui kuasa Tuhan."
"Aku tetap akan memberitahu semua cerita ini pada anak itu. Dia harus kenal ayahnya, harus tahu ibunya. Jika kamu menyembunyikannya, hanya akan memberi luka baru untuk anak itu."
Anouk tersenyum kecil, dia mengusap air matanya. "Jangan dekatkan anak ini dengan Desta, aku mohon."
"Mungkin aku bisa melakukan satu hal itu. Bukan karena dia ayahnya dan kau membencinya. Tapi karena kelakuannya. Dia buronan, kartel narkoba yang di bangunannya bocor."
"Dan, aku tidak ingin anak ini menjadi penerus bisnis haram itu." Lanjut Agriel dan diangguki Anouk.
"Pulanglah, dan ajak Mery menikah. Kasihan dia kamu gantung terus."
"Tanpa kamu kasih tahu, itu adalah rencanaku."
Anouk tertawa sesat, dia menatap Agriel dengan tatapan banyak rasa bersyukur. "Semoga kalian bahagia, aku di sini akan terus mendoakan kalian."
***
Mery tersenyum senang, dia duduk di teras rumah seraya menunggu kepulangan Agriel. Wajah bungahnya tidak bisa lagi dia sembunyikan. Bahkan senyuman kesenangan terasa enggan luntur dari bibir manisnya. Tangannya memegang kertas hasil pengecekan hari ini. Hasilnya sungguh luar biasa, kista di ovarium nya hilang. Dia sembuh tanpa harus melakukan operasi. Hasil USG rahimnya menunjukkan betapa kuat dan sehat kondisinya saat ini.
Mobil mewah Agriel memasuki perkarangan rumah. Dia langsung berdiri, menyambut kedatangan Agriel.
Agriel tersenyum membalas sambutan dari Mery. Dia berlari kecil dan langsung memeluk Merynya.
"Kau terlihat sangat bahagia sayang." Bisik Agriel, mengecup singkat bibir Mery.
"Aku punya sebuah kejutan tidak terduga!"
"Oh iya? Apa?" Tanya Agriel, mengangkat tubuh Mery dan mendudukkan di bangku taman.
"Kau lihat!" Seru Mery mengulurkan kertas itu.
Agriel menerimanya lalu membacanya dengan kening berkerut.
"Kau lihat, ini rahimku. Kista yang ada di ovarium sudah hilang. Bahkan dokter mengatakan aku sembuh total, dan semakin subur." Beritahu Mery.
Agriel tersenyum semakin lebar, dia mengangkat Mery dan langsung mendudukannya di pahanya. Mengecup gemas seluruh wajah Mery, sampai-sampai membuat sang empu terkekeh geli.
"Terimakasih ya Tuhan!" Bisik Agriel.
"Jadi, besok kita menikah?" Tanya Agriel, membuat senyuman Mery luntur.
BERSAMBUNG....
Update-an terakhir sebelum ganti tahun😆 sekali lagi happy new year pembaca Nana🥰🙏