
"Agriel—" belum sempat Mery melanjutkan ucapannya Agriel sudah lebih dulu masuk ke kamar. Suaminya itu mandi dan bergegas memakai pakaiannya, segera keluar dari kamar.
"Agriel, sebenarnya ada apa? Bisakah kau membagi kesedihanmu kepadaku? Apakah masalah kantor serumit itu?" Tanya Mery kebingungan. Pasalnya, sudah dua hari belakangan ini Agriel selalu pulang telat dan sering kembali ke kantor dengan alasan lembur.
"Maaf Mery, nanti akan ku jelaskan. Sekarang aku harus segera pergi." Jawab Agriel memberi ciuman singkat di kening Mery.
Bibir Mery terkatup, dia dibuat tidak bisa berkata. "Apakah aku harus kembali bekerja? Aku bosan di rumah." Celetuk Mery membuat langkah Agriel terhenti.
"Jangan sayang, kau di rumah. Masalah mencari uang biarlah aku. Jangan terlalu cemas dan banyak pikiran, aku memang hanya lembur." Dan lenyap sudah bayangan Agriel tertelan ambang pintu.
Mery menghela napasnya berat, menatap mansion besar nan megah ini yang hanya ada dirinya dan para maid. Memang sejak menikah, sejak kepulangan Bella ke Turki Agriel memboyongnya menuju Mansion yang ternyata sudah disiapkan Agriel sejak lama. Ekspresi Mery saat itu sangatlah terkejut, dia tidak menyangka jika Agriel telah menyiapkan semuanya.
Pintu kembali terbuka, membuat Mery berbalik badan dan tersenyum. Tapi nahasnya, bukan Agriel namun Ree yang datang dengan wajah kikuknya.
"Maaf Nona Mery, saya di beri perintah Tuan untuk mengambil pakaiannya." Ucap Ree.
"Tuan meminta Nona Mery untuk membantunya berkemas—"
"Mau kemana Agriel?" Potong Mery.
"Ada bisnis mendadak ke luar kota Nona." Jawab Ree.
Mery mengangguk dan berjalan ke arah tangga menuju kamar. "Kau tunggulah di situ, Ree."
Tak berselang lama Mery turun dengan koper besar merah. "Ini, Ree. Berapa hari?" Tanya Mery menatap Ree intens.
Jujur saja Ree dibuat kaku dan kikuk dengan tatapan mematikan Mery. Menelan ludahnya kasar, harus berpikir lebih keras karena Nonannya itu juga bukan orang sembarangan. Dia pernah terjun menjadi sekertaris dan banyak hal yang dia ketahui tentang perusahaan.
"Sekisaran dua hari Nona, tapi mungkin hanya satu malam di sana."
"Kalian memang mau kemana? Bandung?" Tanya lagi Mery memastikan.
Ree menggeleng, "bukan Bandung nona, tapi Bali." Jawab Ree.
Mery tersenyum kecil, seakan mentertawakan Ree. "Bali? Hanya dua hari? Satu malam di sana?" Ulang Mery.
"Kau berbohong Ree? Jujur saja. Ada apa dengan suamiku?" Tanya Mery lagi. Dia berjalan mendekat pada Ree.
"Kalaupun kalian akan perjalanan ke Bali itu akan rugi, apalagi hanya dua hari—menandakan masalah itu bukan masalah berat. Dan kenapa harus Bali? Padahal yang ku tahu kondisi perusahaan Agriel di sana berjalan dengan baik. Jika saja jawabanmu Bandung atau Jakarta mungkin aku bisa menerima." Jelas Mery dengan sangat gamblang.
"Begini Nona—"
Suara ponsel Ree membuat Ree menghentikan ucapannya dan berjalan tergesa dengan membawa koper Agriel keluar.
"Baik Tuan." Panggilan itu terputus. Ree menatap Mery sesaat, "maaf Nona, mungkin Nona bisa meminta penjelasan dari Tuan. Saya permisi."
"Agriel.... Ada apa dengan mu? Adakah yang kau sembunyikan?" Tanya Mery bermonolog.
***
"Baby Donan mengalami masalah paru-paru yang serius Tuan. Semakin ke sini kulitnya terlihat membiru. Baby Donan harus segera di pindahkan ke rumah sakit yang lebih besar dengan fasilitas yang canggih." Jatung Agriel berdetak kencang. Dia menatap Donan dengan tatapan mata berkaca-kaca.
"Apakah bahaya? Apakah bisa di sembuhkan? Akan ku bawa keujung dunia pun asalkan anakku bisa sembuh!" Sertak Agriel.
"Hal ini sebenarnya biasa di alami oleh bayi yang lahir prematur, namun jika tidak segera di tangani bisa membuat pertumbuhan paru-paru, otak serta organ lainya bermasalah di kemudian hari. Sejak awal pun baby Donan tidak menangis, itu sudah menjadi dugaan bawasanya baby Donan kesulitan bernapas."
"Kalau saja selang itu kami lepas, Baby Donan sudah meninggal Tuan." jelasnya transparan.
"Ree, ke pergi ke luar negeri. Bawa Baby Donan ke Jerman." Tegas Agriel memberi perintah.
"Tuan, di Negeri ini sudah ada fasilitas canggih yang—"
"Ini keputusan ku." Potong Agriel cepat.
"Bagaimana kondisi Anouk?" Tanya Agriel menatap wanita yang tidur tak berdaya di ranjang persakitan.
Dokter itu menghela napasnya sesaat, "kondisi Nyonya Anouk... Saya tidak dapat memberi keterangan jelasnya, Tuan. Komplikasi yang ada tubuhnya semakin hari semakin merembet. Dari pasien sendiri tidak ada kekuatan untuk bertahan hidup dan kemauan untuk sehat."
"Ree, kau cari Desta dan suruh dia melihat sendiri kondisi istrinya!" Ucap Agriel pada Ree yang tentu hanya dapat mengangguk.
***
Ting
Mery, sayang. Maafkan aku yang tidak bisa menemuimu secara langsung untuk berpamitan. Hari ini aku harus terbang ke Jerman, ada masalah serius di sana. Setelah ini selesai aku berjanji akan bercerita panjang lebar denganmu. Maafkan aku Sayang.
Pesan itu, tepatnya sudah dua bulan yang lalu. Mery menatap lirih dengan bibir pucat. Ya, sudah beberapa hari ini Mery sakit, badannya demam di siang hari dan akan turun sendirinya di malam hari. Nafsu makannya lenyap, membuat wanita semok itu harus mengurus. Rasa-rasanya Mery sudah sangat muak melihat semua hal yang ada di depannya.
"Kek, aku boleh meminta bantuan mu?" Tanya Mery melalui sambungan telepon. Memijat pangkal hidungnya karena pusing. Kalau hal ini ditunda terus menerus hanya akan membuat rasa penasaran itu tak kunjung surut.
Dengan tergesa pun Mery mulai mengemasi barang-barangnya.
Di belahan bumi lainya, Agriel tengah mengendong baby Donan. Agriel bersyukur karena kondisi bayi itu telah membaik. Rencananya Minggu depan Agriel akan kembali ke Indonesia.
"Jangan rakus, ini giliran ku." Ucap Desta dari belakang.
"Kapan kau akan kembali?" Tanya Agriel menatap Desta yang tengah mengendong anaknya itu.
"Bersama denganmu." Jawab Desta singkat.
"Bagaimana kondisi Anouk? Dia terlihat tidak semangat menjalani harinya."
Desta terdiam sesaat lalu menatap Agriel intens. "Jangan tanyakan kondisi wanita itu di depanku, Agriel. Aku muak."
Agriel berdecih, dan menatap Desta nyalang. "Kau manusia paling aneh di muka bumi ini Desta. Ku ajak kau menemui wanita yang kau cari berbulan-bulan lamanya, tapi sekarang setelah di depan mata kau acuhkan dia. Kau seolah buta dan tidak menganggap Anouk ada. Sebelumnya kau ingin merebut bayi ini, tapi setelahnya pun kau memberikan bayi ini kepadaku, untuk ku rawat. Yang ku tanyakan, ada apa dengan mu Desta?" Senyuman Desta melebar, di cerca habis-habisan tak membuatnya goyah ataupun tersinggung seujung kuku pun.
"Aku telah menemukan tujuan hidupku sebenarnya Agriel."
"Apa?"
"Melepaskan semua masa lalu, dan menunggu kebaikan Tuhan untuk mengambil nyawaku seraya melihat kau bahagia."
"Aku tahu ini aneh dan terkesan munafik. Tapi, melihat Anouk membuatku sadar bahwa, karma dari Tuhan itu nyata. Dan aku hanya menunggu giliran ku tiba."
***
Kaki jenjang itu sudah turun, menampaki tanah negeri orang dengan angkuh dan penuh aroma kekayaan. Berjalan di ikuti banyak bodyguard, menuju alamat yang sudah dia dapatkan.
Di kamar Anouk,
Agriel membuka pintu kamar itu pelan, masuk dan menatap penuh rasa iba pada Anouk. Tatapan wanita itu kosong, tidak ada sumber kehidupan yang ada di sana. Kesadaran nyatanya tidak membuat perubahan pada kesehatan wanita muda itu. Lemah dan tak berdaya, penuh dengan penyakit.
"Kamu yakin dengan keputusan mu Anouk?" Tanya Agriel berulang kali, namun jawabannya tetap sama, sebuah gelengan penolakan.
"Dia anakmu, Anouk!" Penuh tegas, penekanan Agriel melontarkan kalimat itu.
Bibir kering nan pucat Anouk terbuka, "aku tahu, Agriel." Kepalnya menoleh, menatap Agriel dengan pandangan sayunya, "jangan sampai Donan yang suci bersih dan murni itu bertemu dengan pendosa kotor seperti ku. Biarkan lah seperti ini Agriel."
"Jangan paksa aku. Tolong, ku mohon." Lanjut Anouk pelan.
Agriel mendekat dan menunduk, menghela napasnya gusar. "Sudah berapa kali aku mengucapkan? Jangan berpikir seperti itu Anouk. Dia anakmu, kau ibunya. Tidak ada kata kotor dan murni untuk ikatan penuh Rahmat itu. Temui Donan, lihat wajahnya. Tatap matanya. Dan kau akan menangis tak kunjung usai." Lantas bangkit dan mengambil Donan untuk di pertemukan pada Anouk, ibu kandungnya.
Benar saja, bibir Anouk begetar hebat. Dadanya bergemuruh tak karuan. Menatap bayi lucu, dengan mata bulat polos tengah tersenyum padanya. Hati Anouk berdesir, dengan tangan bergetar dia meraba-raba wajah mulus bayi itu.
"Dia, kecil. Tapi manis dan lucu." Gumam Anouk.
Agriel terkekeh sesaat, juga merasa gemas dengan Donan.
"Donan..." Panggil Anouk lirih nan pelan. Bayi itu seakan tahu, dia menoleh dan menatap Anouk. Walau pengalihan Donan belumlah normal, namun kini tatapan itu seakan tahu.
"Aku ibumu, ibu kandung mu. Namaku Anouk. Banyak orang yang mengatakan namaku aneh, benar. Di negeri ini namaku aneh, tapi tidak jika di Belanda. Ibumu memang mempunyai darah Belanda, nak. Donan, jika ibu tidak bisa menemanimu tumbuh hingga kau sukses dan dapat berjalan dengan kedua kakimu yang kokoh, ibu ucapkan maaf sebesar-besarnya, nak. Janganlah kau cari tahu siapa aku, dan latar belakangku terlalu jauh. Hal yang ku takutkan adalah ketika kau malu. Ku harap kau tangguh Donan."
"Cinta seorang ibu untuk anaknya itu abadi. Jika saja raga ini telah bersatu dengan tanah. Maka percayalah cinta abadiku tetaplah ada di sekitarmu. Tumbuhlah dengan baik, Donan. Andai saja aku bukanlah pendosa, maka aku akan bangga menjadi ibumu. Hiduplah dengan baik. Aku sayang sekali padamu, Donan. Anakku yang paling aku kasihi."
Lelehan air mata membanjiri pipi Anouk. Kian sesak dada Anouk ketika mengucapkan semua kata-kata itu. Donan menangis, bayi itu seakan tahu. Tuhan seakan sengaja membuat Donan menangis. Menangis keras, sampai membuat Agriel ikut mendekat.
"Agriel... Bisa kau bantu aku mengendong Donan? Aku—" ucap Anouk lirih. Dia tidak bisa mengendong bayi. Pengalaman pertamanya mempunyai bayi kecil.
Agriel lantas membantu Anouk mengendong Donan. Posisi keduanya begitu dekat, jika di lihat dari belakang maka seperti Agriel sedang mencium Anouk.
Pintu terbuka paksa, menampilkan Mery dengan kacamata hitam bertengger di cuping telinganya. Menatap intens penuh tatapan tajam pada Agriel.
Agriel lantas menoleh dan terkejut bukan main dengan kedatangan Mery. Mery membuka kacamata nya, guna melihat dengan jelas.
"Kejujuran."
"Kau mengkhianati kata jujur itu sendiri Agriel."
"Ucapkan selamat tinggal untukku dan mereka."
BERSAMBUNG.....