ELEMERY

ELEMERY
KABUNG DUKA



Duka masih menyelimuti Desta. Setiap harinya dia hanya duduk di pemakaman Anouk. Menatap kuburan itu sesaat, lalu menghela napas. Seperti itu sepanjang hari, rasanya pun tidak ada kata bosan. Biarkanlah Desta tetap seperti itu sampai dia sendiri bosan dengan apa yang dia lakukan.


Di Bandara, Agriel nampak jalan dengan gagah. Di balut jas hitam licin mewahnya, dengan kacamata hitam bertengger di cuping telinga. Di ikuti oleh Ree dan beberapa bodyguard yang memakai pakaian serba hitam. Bau parfum mahalnya tercium sampai ke hidung banyak orang yang dia lewati.


Agriel tidak singgah dulu ke hotel melainkan langsung terjun ke pemakaman Anouk. Perjalanannya kali ini Agriel tidak membawa Donan. Bayi itu dia titipkan pada sang Bunda, dan pengasuh yang sudah di sewa dan dipercaya Agriel. Dan, perjalanan kali ini pun Agriel ingin merayu Mery kembali.


"Mari Tuan." Sang Bodyguard pun membantu membukakan pintu mobil mewah itu, dan Agriel segera masuk ke dalamnya.


"Bagaimana kondisi Mery?" Tanya Agriel, walau pun dia sudah rela menunggu Mery pulang sendiri ke rumah. Agriel tetap menyewa mata-mata untuk mengawasi Mery.


"Nona Mery terlihat biasa saja Tuan. Dia menjalani hari-harinya kebanyakan di dalam rumah Tuan Wick. Untuk apa saja yang dia lakukan di dalam rumah Tuan Wick, saya tidak bisa masuk. Sebab, penjagaan di sana begitu ketat."


Agriel mengangguk, dia tahu kondisi di sana. Begitu sulit untuk di tembusi, karena Wick seakan memerintahkan ratusan anak buah terlatih untuk berjaga di rumahnya.


"Kamu pantau saja, jika dia baik-baik saja sudah cukup untukku. Terpenting pastikan Istri ku tidak mengeluarkan air mata barang sedikit pun."


"Baik Tuan."


Perjalanan menuju pemakaman Anouk hanya memakan waktu tiga puluh menit dari Bandara. Begitu sampai, Agriel langsung turun dengan membawa sebuket bunga—yang tadi sempat Ree belikan. Agriel melepaskan kacamata hitam gagahnya, menyorot penuh selidik pada satu bongkah daging yang tengah meringkuk di tanah kubur—masih basah—berjalan ke arahnya dan Agriel tersenyum kecil menemukan bahwa itu ternyata Desta.


"Menyesal huh?" Tanya Agriel.


Desta melirik, lalu dia kembali memandang kuburan Anouk.


"Kau pun juga akan menyesal. Sama-sama seorang pecundang seharusnya saling menghormati dan menghargai." Balas Desta.


Agriel terkekeh berat, menepuk bahu Desta kuat. "Aku memang pecundang. Tapi setidaknya aku mau berjuang dan tidak gengsi sadari awal." Bisik Agriel menohok hati Desta.


"Ck!"


Agriel meletakkan bunga itu di atas makan Anouk. Menyatukan tangannya, dan berdoa untuk ketenangan serta keselamatan Anouk di sana. Memejamkan matanya, menunduk dengan bergumam di dalam hatinya.


"Di mana anakku?" Tanya Desta melihat sekeliling.


"Di rumah."


"Kenapa tidak kau bawa?"


"Perjalanannya jauh, toh aku tidak akan lama di sini."


"Ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Desta berdiri dan menatap Agriel lekat.


****


Di sebuah restoran mewah berkelas, Agriel dan Desta duduk. Mereka saling menatap satu sama lain. Hanya ada mereka berdua, hanya ada dua pasang mata yang saling bertatapan. Tidak ada orang lain, walaupun itu bodyguard Agriel.


"Aku akan pergi."


"Menyusul Anouk?" Sela Agriel cepat. Desta tertawa kecil menanggapi pertanyaan keponakannya itu. "Aku memang siap mati, tapi bukan berarti setiap harinya hanya ada kata mati."


"Aku akan pergi jauh, menjauh dari semua kegelapan ku, Agriel." Nada Desta kali ini berubah menjadi serius.


"Tujuan ku mengajak mu bicara di sini adalah untuk meminta bantuan mu, mungkin ini terakhir kalinya kita akan bertemu, Agriel."


Alis kanan Agriel naik, dia menatap Desta dengan tatapan penuh tanya. "Aku ingin kamu memasang sebuah bom di setiap Kartel Narkoba milikku."


"Aku ingin semua Bisnisku hancur. Tak tersisa, bahkan perlahan akan lenyap di telan zaman." Lanjut Desta.


Agriel mengangguk, entah kenapa apa yang Desta ucapkan saat ini, dan motif apa yang sedang di rencanakan.


"Aku tidak bisa." Ucap Agriel singkat. Dia tidak mau ikut campur permasalahan Desta. Sungguh, masalah Desta itu serumit-rumitnya masalah. Dan, Agriel tidak mau terlibat terlalu jauh.


"Apa yang membuatmu menolak permintaan ku, Agriel?" Tanya Desta, dia maju dengan tatapan tidak terimannya.


"Masalahmu itu rumit, dan berbahaya. Aku tidak mau ikut campur di dalam kumbang kegelapan."


Langsung saja Desta tertawa keras, sangat amat keras. Sampai terdengar dari luar ruangan. Membuat banyak telinga yang menangkap getaran itu mengerutkan dahinya, berpikir aneh pada mereka. Orang-orang kaya memang mempunyai caranya sendiri, pikir mereka.


"Kau membuatku tertawa Agriel. Sungguh lucu dan cantik sekali drama mu selama ini. Kau dan Mery memang manusia-manusia licik yang pernah aku temui" Desta bergidik ngeri seolah sangat takut dengan sepasang suami istri itu.


"Aku selama ini diam. Diam seolah tidak tahu apapun tentang mu, terlebih lagi tentang dirimu Agriel."


"Kau itu pemimpin. Kau ketua. Semua otak dari kerusuhan di pelabuhan-pelabuhan itu kau. Aku ini hanyalah seorang penjual narkoba kecil. Tidak denganmu, yang melebihi itu." Bisik Desta amat pelan.


"Erial Agriel Putra Exanta. Sang bandar Narkotika dan Psikotropika. Seluruh dunia memang tidak mengenalmu. Sebab, kau menyerukan bahwa kau adalah Tuan Erigal yang mematikan."


"Elmery Desinton. Trah Wick-Hely yang masih hidup, dan akan menjadi penerus trah mengerikan itu. Diam, mematikan."


"Kau terlalu banyak mengetahui informasi Desta. Orang yang banyak tahu wajib untuk di bunuh bukan?" Tanya Agriel.


"Mulut ku akan diam. Asalkan kau membantu ku untuk pergi dari mu dan semua trah-trah mu. Kau rawat bayiku dan Anouk. Aku sudah tenang jika yang merawat itu kau. Bebas, mau kau jadikan apa kelak bayi itu." Jawab Desta.


"Apa jaminannya?" Tawar Agriel tersenyum.


Desta diam. "Bagaimana jika aku menjahit mulut mu, Desta?".


****


Bayangan hitam Mery yang tengah duduk di balkon kamarnya, sudah cukup untuk Agriel. Yang pasti, kondisi istrinya kini baik-baik saja.


"Hanya diam?" Tanya Wick, keluar dari sana. Dengan tongkat sakti tentunya. Menatap penuh ejek cucu mantunya itu. Beraninya hanya lewat gerbang rumah. Sungguh pengecut ulung.


"Bisa saja ku bakar rumah ini. Tapi aku lebih menghargai keputusan istriku, kek." Jawab Agriel.


Wick tersenyum tipis, dia menyorot Agriel dengan wajah penuh ketanyaan. "Kau setuju dengan rencana Desta?"


Agriel terdiam, informasi sedetail ini pun seorang Wick mengetahuinya. Tidak bisa Agriel bayangkan, apa saja yang pria tua itu simpan. Mungkin rahasia negara pun dia tahu. Entahlah, hanya otak tua Wick yang tahu.


"Setuju? Membuang-buang waktu." Jawab Agriel, mengibaskan tangannya.


"Kau yakin, Agriel?" Selidik Wick.


"Apakah aku seperti pembohong?"


"Kenyataannya memang kau juara berbohong di dunia."


"Sudah sejak kejadian istriku merajuk aku memutuskan tidak akan menjadi kadal lagi."


Tentu saja jawaban itu membuat Wick tertawa, dengan menahan gigi palsunya agar tidak lepas. "Ck! Pria besar, kekar. Tapi takutnya dengan seorang wanita—"


"Wanita tupai." Potong Agriel cepat.


"Itulah keturunanku, Agriel. Masuklah. Mery tidaklah mungkin bisa turun saat ini menemuimu."


"Takut. Dia akan marah, dan mengusirku lagi." Mata Agriel berkaca-kaca. Lemah nan rapuhnya hati ini sebab istrinya merajuk.


"Masuklah dulu, idiot!"


***


Ini kesempatan tidak ada lawan. Seorang Wick luluh dan mengizinkan Agriel masuk ke dalam rumahnya. Dan, kini dia berdiri di depan pintu kamar Mery. Berdiri bak patung tidak bernyawa. Rasanya kini Agriel malu, kecewa dan marah pada dirinya sendiri.


Ingin sekali tangan itu mengetuk pintu, dan langsung masuk memeluk Mery erat. Setelahnya melakukan cocok tanam yang sudah dia rindukan berminggu-minggu lamanya. Rasanya gerah dan sesak. Peluh keringat membanjiri dahi dan pelipis Agriel.


Detak jantungnya berdisko ria, seolah-olah meminta berjoget bersama.


"Mery, sayang. Istriku. Cintaku." Bisik Agriel amat pelan. Sampai semut pun harus masuk ke dalam mulut Agriel agar dapat mendengar ocehan itu.


Benar-benar payah. Itulah penggambaran sosok Agriel. Di awal saja semangatnya menggebu, sok sekali menjadi seorang mafia paling kejam. Nyatanya, dia sudah sejak lama luluh dan tunduk akan cinta Mery. Sial. Di sini memang jauh yang namanya seorang suami kejam pada istri. Di episode cerita lain saja, mungkin.


"Hoek...." Suara itu. Agriel sampai mengerutkan keningnya dalam. Sampai terpejam Agriel dibuatnya. Dia menempelkan cuping telinganya, guna mendengar lebih jelas.


"Hoek..."


Bruk


"MERY. ISTRIKU!!!" teriak Agriel keras, langsung mendobrak pintu kamar Mery yang ternyata tidak di kunci sadari tadi.


Terpampang nyata tubuh pucat Mery yang tengah menunduk. Memegang kepalanya susah payah, dan menyorot Agriel tajam.


"Kecilkan teriakan mu! Bisa pecah gendang telingaku!" Dengus Mery, lalu bangkit. Dia tadi tidak sengaja menyenggol sebuah vas bunga. Akibat pusing teramat sangat pada kepalanya.


"Sa-y-Mery." Panggil Agriel tergagap. Tangannya terulur untuk memegang tubuh Mery.


"Diamlah dulu, Agriel. Aku sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Mendengar suara membuat ku ingin mengamuk!"


Hening. Keduanya pun hening. Agriel sendiri dibuat bingung dengan kondisi saat ini. Tatapannya tidak lepas dari kondisi istrinya. Perut Mery buncit, dengan tubuh kurus dan mata sayu. Tidak ada kesan segar dan semangat melekat pada Mery. Pertanyaan muncul di benak Agriel. Apakah selama ini istrinya sakit? Dan Agriel tidak tahu? Kalau sampai itu terjadi. Terkutuklah Agriel saat itu juga.


Kepala Agriel menunduk, dia menangis dengan bayangan buruk. Isi kepalanya sudah membuat drama menyakitkan. Membuat Agriel sesak, tidak sanggup Agriel membendung air matanya sendiri. Luruh sudah, dan kini Agriel menangis.


Kening Mery berkerut, melihat suaminya yang menangis. "Kau menyesal membuatku hamil?"


Naik tinggi kepala Agriel, melotot penuh keterkejutan. "Hamil? Siapa?" Bodoh, pertanyaan paling bodoh yang Agriel lontarkan. Membuat Mery cemberut, dan bersedekap dada. Membalikkan tubuhnya, merajuk.


Mery terdiam, sifat apa ini? Manja? Dia manja? Sejak kapan? Entahlah. Yang Mery rasakan kini perasaannya jauh lebih baik.


"Gara-gara kau aku hamil. Lalu pertanyaan apa tadi yang kau ucapkan Agriel?"


"YES!" sorak Agriel lalu mendekat. Mengendong Mery dengan senyuman paling merekahnya.


"Ayo kita ke hotel." Ajak Agriel.


"Hotel?"


"Iya, aku ingin menjenguk anak kita."


Mery berdesis, "bodoh!". Desis Mery.


BERSAMBUNG....