ELEMERY

ELEMERY
FROM THE AUTHOR



Hallo!!


Tak kenal maka tak sayang. Maka dari itu kenalkan nama saya NanaItelian, kalian dapat memanggil saya Nana. Saya ucapkan terimakasih untuk kalian orang-orang baik yang sudah berkenan mampir dan membaca ELEMERY sampai selesai. Maafkan saya jika cerita ELEMERY mungkin masih banyak kekurangan. Saran serta dukungan kalian sungguh sangat saya butuhkan.


Setahun sudah saya membuat cerita ini. Cukup lama, saya akui itu juga. Menulis merupakan sebuah hobi yang saya sukai. Saya ingin mengembangkan bakat saya, dari itu mohon maklum sekali jika terdapat kesalahan dalam saya menulis.


Teman-teman pembaca ketahuilah, tanpa kalian tiada arti ELEMERY ini. Sebanyak saya mengucapkan rasa terimakasih tidak akan cukup untuk kebaikan kalian yang sudah mau membaca ELEMERY. Maaf sekali lagi untuk update cerita ELEMERY sangat amat lama. Saya juga punya kesibukan di real life yang tidak bisa saya tinggalkan.


Untuk informasi lanjut tentang Nanaitelian, kalian bisa kunjungi profil Instagram Nana yakni @nanaitelian.


Mungkin cukup sekian cuap-cuap singkat dari saya. Jika ada yang ingin di tanyakan, bisa di tanyakan di kolom komentar yaa.


Salam hangat dari Nana untuk kalian.


Jangan lupa mampir di cerita baru saya, yang berjudul MY BOSS yaa. Ceritanya pun tidak kalah seru dengan ELEMERY! 🎀💖✨🌼



📢 PROMOSI CERITA NANAITELIAN


HELLO GOOD PEOPLE!! Nana membawakan cerita baru dengan genre lebih dark lagi lhoch~ Cerita kali ini pun tidak kalah seru dengan cerita ELEMERY!!


Cerita kedua Nana ialah MY BOSS!!


Biodata cerita My Boss:


Tema: Dark Love💀


Judul: My Boss


Tokoh: Abama Patrio Walch dan Alexandra Lonen


Blurb:


Di posisi ini sangat sulit bagi Alexandra menentukan pilihan hidupnya. Tidak pernah terlintas di pikirannya, bahwa dia akan menjadi seorang wanita simpanan dari Boss brengseknya. Terjepit, dan semakin di himpit banyak tantangan hidup, membuat Alexandra memilih sebuah jalan pintas.


Hingga, takdir menyuruhnya menyerah. Tapi tidak dengan keegoisan yang telah tercipta. Masuk semakin dalam atau mundur secara perlahan?


***


"Alexandra. Wanita murahan yang dengan mudah memberikan kehormatannya untuk sebutir kemewahan."


"Lalu, bagaimana dengan Anda sendiri Nyonya Abama? Hanya bisa bersenang-senang sendiri hingga membuat suaminya memilih mencari kenikmatan sendiri, di luar."


Review Proloog:


"Alexandra!!!!" teriak Abama Patrio Walch, seorang Bilioner panas tahun ini. Bukan, bukan hanya untuk tahun ini, tapi untuk tahun-tahun lalu yang tetap saja cap itu masih melekat di dalam diri Abama.


Alexandra menghembuskan napas lelah, boss besarnya itu suka sekali membuatnya kesal. Dengan berat hati, Alexandra mendekat, dan membuka pintu kaca otomatis itu. Menatap lemah lembut sang tuan besar, mencoba menjadi munafik, karena sebenarnya dia sangat lelah.


"Iya, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Alexandra.


Abama melotot tajam pada sekertarisnya itu, lantas menyuruhnya untuk mendekat. "Cek kembali pekerjaan buruk mu itu Alexandra!" ucapnya bengis, ditambah brewok yang tumbuh asik di sebagian pipi dan jangutnya itu, seakan menambah kesan dingin dan kejam sosok Abama.


Alexandra menunduk, dia memungut berkas itu dengan rasa kesal yang tertahan. "Baik Tuan, akan saya revisi kembali."


"Revisi! Revisi! Dan Revisi? Kamu kira ini apa? Ajang pencarian bakat yang sedang menentukan finalis?" tanya Abama bosan, tertahan nada marah.


"Maafkan saya Tuan, saya janji ini adalah kesalahan terakhir saya."


"Ya, dan setelah itu kamu saya pecat! Bukankah begitu, Alexandra Lonen?"


Bibir Alexandra terkatup, terasa enggan berucap panjang lebar. Hidupnya sudah sangat penat, ditambah masalah kesehatan adiknya yang semakin hari semakin buruk.


"Saya minta maaf, Tuan Abama!" Alenxandra menunduk hormat.


"Tolong, jangan pecat saya dari pekerjaan ini. Saya memang sama dengan manusia lainya, yang sukar dengan janji. Tapi, anda bisa percaya dengan tekat saya untuk lebih belajar dari kesalahan dan menjadi lebih baik." lanjutnya.


"Heh! untuk apa menunggu orang yang sedang belajar? Sedangkan di luar sana banyak yang antri? Tentunya mereka sudah matang, dan siap bekerja." ketus Abama, sosoknya memang sangatlah pedas saat berucap.


Alexandra semakin pusing di buatnya. Tidak bisakah orang didepannya itu diam, dan menurut? Karena ketidak fokusannya juga sebagian dari ulah orang kejam itu.


Mencoba berani, Alexandra mengangkat kepala tegak, menghunus Abama yang tersenyum smrik menyambut tatapan tajam itu.


"Jika sudah menjadi keputusan anda, saya bisa apa Tuan?"


"Jika begitu, saya akan undur diri. Sekali lagi, maafkan saya." sambungnya, berbalik dan melenggang pergi.


"Belum selesai, Alexandra!" teriak Abama tertahan.


Langkah kaki jenjang itu terhenti, berbalik dan menatap Abama dengan penuh tanya.


"Apakah menurutmu, dengan kau sebagai simpanan ku, kerjamu bisa seenak hidup mu Alexandra?" Kenyataan secepat itu datang, membuat Alexandra diam tidak berkutik.


"Selesaikan laporan itu hari ini juga! Tanpa ada kesalalahan! Baik susunan, penulisan, hingga tata bahasa! Aku tidak menerima kecacatan barang sedikit pun." lanjutnya dengan nada serius.


Alexandra mengangguk. Sudah tidak ada kata-kata balasan yang keluar dari mulutnya. Ini adalah resiko karena dia sudah berani mengambil dua pekerjaan sekaligus di satu waktu.


"Baik Tuan, akan saya kerjakan hari ini juga." ujarnya sebagai basa basi.


"Kerjakan di sini! Di pangkuan ku!" penuh nada otoriter Abama memerintahkan Alexandra.


Alexandra membuang rasa malunya, mencoba tegar dan tidak peduli. Ada satu nyawa yang harus dia selamatkan, satu keberhasilan memang harus di bayar dengan satu pengorbanan. Alexandra sudah siap akan itu semua.


***


Siang yang terang telah berganti menjadi malam. Menggunakan mobil pemberian Abama, Alexandra melaju menuju rumah sakit Cendikiawan. Sesekali tangannya memijat pangkal hidungnya, rasanya sungguh lelah dan penat. Namun, dilain sisi Alexandra tidak bisa meninggalkan adiknya sendirian di rumah sakit. Tidak mau sampai Varel—adiknya—menjalani ini semua seorang diri.


Varel tahun ini genap berusia sebelas tahun. Dia anak laki-laki yang tampan, dengan kulit putih pucatnya. Sebelum sakit, Varel tidak seputih sekarang. Hobinya dulu bermain sepak bola, dengan otot kaki yang terbentuk serta kulit sawo matang, si tampan yang menjadi idola. Dulu juga, Alexandra tidak bekerja sebagai sekretaris seorang CEO, dia hanyalah karyawan biasa dengan kemampuan yang bisa di bilang kurang.


Keberuntungan Alexandra adalah dia mempunyai penampilan menarik dan cantik. Hal tersebut itulah yang membuatnya dulu di terima di perusahaan sebesar ini. Masalah kepintaran, tolong jangan membahasnya lebih.


Tidak terasa mobil yang di tumpangi Alexandra telah sampai di parkiran rumah sakit. Hendaknya ingin membuka pintu, suara deringan ponsel mengalihkan perhatian Alexandra.


Nama Abama tercetak jelas di layar ponselnya.


"Iya, Hallo?" mulai Alexandra.


"Di mana?" tanyanya tanpa basa basi.


"Di rumah sakit, ada apa?"


Tut.


Alexandra terdiam sesaat, setelahnya dia mengirimkan lokasi di mana dia berada kepada Abama.


***


"VAREL!!" sapa Alexandra tersenyum lebar seraya membuka pintu rawat adiknya.


"Sssttt... Kakak, ini rumah sakit." Larang Varel, dengan wajah seriusnya.


Langsung saja, wajah Alexandra cemberut. Berjalan dengan langkah marah menuju bangsal Varel.


"Kan, cuman nyapa. Ini juga suaranya kecil waktu bicara sama kamu."


"Iya, kakak. Maafin Varel ya."


"Di maafin enggak ya?" gaya Alexandra yang tengil membuat Varel tertawa pelan.


"Maafin dong kakak cantik."


"Tapi adik tampan harus makan dulu."


Wajah Varel mendadak pucat, karena dia memang tidak menyukai makanan yang selalu kakaknya bawa itu. Kalau tidak obat herbal yang pahit, pasti sayuran hijau yang sungguh membuat Varel eneg. Sejak zaman majapahit Varel memang tidak menyukai yang namanya sayur.


"Kenapa wajahnya mendadak tegang? Kamu aneh tahu. Orang lain kalau di kasih makan itu senang, eh kamu malah tegang. Kayak mau sidang skripsi aja." omel Alexandra.


"Kak... Kali ini aja Varel gak makan hijau-hijau. Gak suka!" nada memohon yang menggoyahkan iman.


"Katanya Varel mau cepat sembuh. Nanti sekolah diantar Kakak. Bisa main bola lagi, bisa tidur di rumah lagi. Bisa lepas sama yang namanya jarum. Varel mau kan?" tanya Alexandra menahan rasa sesak di dadanya.


Varel terdiam sesaat, kemudian mengangguk lemas. "Varel mau kok kak. Tadi cuman bercanda, jangan sedih ya kak!" ternyata anak itu tahu bahwa kakaknya sedang menyimpan kesedihan itu seorang diri.


"Gak sedih kok. Mana bisa kakak sedih di depan kamu, sayang? Kamu kan kesayangan kakak!"


"Kakak juga kesayangan Varel."


"Uhh, So Sweet."


Di tengan canda tawanya dengan Varel, tiba-tiba saja pintu terbuka. Membuat kakak beradik itu menoleh bersamaan.


"Non Alex, aduh... Maaf ya Non, tadi Bibi pulang sebentar mandi." ucap Bi Rumi, yang selama ini membantu Alexandra merawat Varel di rumah sakit ketika dia pergi bekerja.


"Gak papa Bi. Varel kuat ya! Kakak jangan marahi Bi Rumi ya!"


"Emang wajah kakak ini sadis ya? Sampai kalian setakut itu. Baik gini lohh"


"Non Alex mah cantiknya gak ada tanding."


"Ih, Bi Rumi bisa aja."


"Karena Varel udah ada teman. Kakak tinggal nebus obat dulu ya." pamit Alexandra pada Varel.


"Bi tolong jaga Varel dulu."


"Iya Non."


****


"Tumor di otaknya semakin hari semakin membesar. Berbagai cara kami lakukan namun sama sekali tidak membuahkan hasil. Tumor yang sedang tumbuh di otak Varel bisa dikatakan tumor ganas, yang bisa kapan saja pecah dan membuat Varel kehabisan pasokan udara di otak, amnesia, linglung, kejang dan yang paling mematikan adalah kematian yang bisa kapan saja menghampiri." penjelasan itu membuat Alexandra menunduk sedalam-dalamnya.


"Tindakan apalagi yang bisa meyelamatkan adik saya dok?" tanya Alexandra dengan air mata yang berjatuhan. Dia tidak sekuat itu ternyata.


"Sebenarnya ada beberapa, seperti kemoterapi. Tapi, untuk kemoterapi, sepertinnya akan sedikit sulit mengingat rendahnya daya tahan Varel sendiri. Yang di takutkan adalah, Kemoterapi nanti malah membuat sel-sel sehat mati perlahan."


"Ini opsi terakhir. Yaitu tindakan operasi, dengan tingkat keberhasilan 20%" Runtuh sudah pertahanan Alexandra.


Dia menangis histeris di hadapan dokter yang duduk di depannya. Bahkan dokter itu sempat menunduk untuk menekan rasa nyeri di dadanya. Tangis Alexandra begitu menyayat hati bagi siapa yang mendengarnya.


"Nona Alexandra itu semua hanyalah prediksi seorang dokter. Karena hidup mati seseorang sudah di tentukan yang maha kuasa. Tetal optimis, dan jangan pernah berhenti berdoa."


"Berapa biaya operasinya dok?" tanya Alexandra yang tiba-tiba.


"Sekisaran 400 juta."


****


Menilik uang tabungannya yang hanya ada tiga puluh juta, itupun untuk kebutuhan sehari-hari serta untuk membayar rumah sakit Varel. Dinginnya malam di iringi suara langkah kaki orang berlalu lalang menjadi peneman di kala sunyinya kehidupan Alexandra.


Matanya melirik ponsel yang dia genggam. Mencoba menghubungi seseorang.


"Hallo?" awal Alexandra memulai pembicaraan.


"Aku tidak jadi ke sana." balas Abama. Orang yang tadi di hubungi Alexandra adalah Abama.


"Kenapa?" tanya Alexandra.


"Istriku tidak sibuk malam ini. Ada apa tiba-tiba kau menelponku Alexandra? Tidak mungkin hanya sekadar menyapa memberiku selamat malam." Benar, apa yang di katakan Abama.


"Apa kau masih membutuhkan ku Abama?" tanya Alexandra tenang.


"Membutuhkan mu? Untuk **** mungkin iya. Jika yang lain, aku ragu."


"Ya, untuk keduanya. **** dan Sekretaris." jawab Alexandra.


"Jika kerjamu becus, mungkin masih aku pertimbangkan. Jika tidak, kapan saja aku bisa membuang mu."


Tut.


Bukan kemaun seorang Alexandra menjadi pelac-ur tidak tahu malu ini. Keluarga? Alexandra sudah kehilangan mereka saat tragedi tenggelamnya kapal S4P7. Kapal itu memuat hampir seluruh keluarganya. Bisa di katakan acara keluarga yang menyewa kapal besar dan berkeliling lautan sebentar. Namun, nyatanya kapal itulah yang menghantarkan mereka semua pada takdir illahi.


Hanya ada Varel, dia satu-satunya orang yang Alexandra dapat selamatkan. Apapun yang terjadi, semua ini hanya untuk Varel.


***


**BAGAIMANA?? APAKAH TIMBUL RASA TERTARIK?? BURUAN PENCET PROFIL AUTHOR DAN CARI CERITA MY BOSS! ATAU PENCET KOLOM PENCARIAN DAN KETIK JUDUL CERITANYA YA!! TAPI PASTIKAN JUGA BAHWA CERITA MY BOSS YANG KAMU BACA ADALAH KARYA NANAITELIAN YASH!


See you di cerita My Boss guys🙌 Thank you🪴**