ELEMERY

ELEMERY
MIMPI BURUK



Pintu terbuka, menampilkan sosok pria dengan tubuh kekar, kokoh dan pahatan wajah yang nampak ingin sekali di puja, saking eloknya paras. Agriel berjalan menuju Mery yang tengah tertidur siang dengan hotpats dan celana terlampau pendek, karena Mery sudah mengunci pintu kamar.


Sayangnya manusia satu itu, terlalu banyak akal. Kunci cadangan saja sudah di siapkan beserta linggis yang siap menjebol pintu berwarna cokelat itu. Dasar, tidak waras karena rindu. Hanya Agriel lah yang dapat melakukannya.


Jalannya terlampau pelan, sampai-sampai tanah tidak tahu ada getaran dan tekanan menginjaknya. Salah satu tangan Agriel memegang sebotol semprot obat bius, serta sapu tangan yang sudah di siapkan sadari tadi.


Menyemprotkannya pelan, dan memaksa hidung mancung Mery menghirup uap yang di keluarkan. Lelap, dan semakin terlelap. Mery tidur lanjut kebiusan.


Kekehan kecil Agriel layangkan, mencubit pipi Mery yang terlihat lucu di matanya. Agriel pun menertawakan dirinya sendiri, hanya ingin mencuri pelukan dari Mery sampai-sampai dia melakukan hal gila.


Dengan tidak sabar, Agriel melepaskan sepatu kulit mahalnya di lantai. Melepaskan jasnya, dan tertinggal kemeja abu-abu dengan kancing dua paling atas sudah di lepas. Seksi, menggiurkan dan membuat para wanita menggigit bibirnya dalam.


Astaga! Agriel bergitu tampan! Roti sobek, berjumlah delapan benjolan yang terpapang nyata di balik kemeja ngepres itu. Sengaja atau memang tidak sengaja, tapi yang pasti Agriel keterlaluan. Memamerkan kegagahnya begitu saja. Tapi, lucu juga, laki-laki maco itu hanya berani menemui wanitanya dengan obat bius. Cemen!


Kasur pun tersembul sesaat, Agriel langsung saja memeluk Mery teramat erat. Tanganya nakal, sampai-sampai menyekal gemas gumpalan montok di atas paha itu. Hidungnya pun sudah mendusel, semakin masuk ke dalam cekuk Mery.


Aroma yang khas, beribu perusahaan minyak wangi membuat aroma ini, tidak ada yang membuat Agriel secandu ini. Memeluk Mery sangat erat, menjunjung badan mungil itu di atas dadanya, mengecupi wajah Mery dengan perasaan yang sungguh, bagaikan ibu yang menantikan lahir anaknya di dunia.


"Ini milikku" kecupnya pada area dahi.


"Ini milikku" kecupnya pada kedua mata Mery yang terpejam. "Hanya denganku, kamu boleh menangis sekaligus bahagia." lanjut Agriel.


"Ini milikku" kecupnya, gemas pada kedua pipi Mery. Bahkan, dengan teramat tidak berperasaan Agriel menyedot pipi Mery kuat. Jiplakan kemerahan pun tercetak jelas.


Agriel tertawa, puas dengan hasil karyanya sendiri.


"Ini juga milikku!" ujarnya, dan mengigit, di susul menyedot upil-upil Mery, yang ada di hidung.


Mungkin, komedo Mery pun ikut terangkat karena kegemasan seorang Agriel.


Dan yang terakhir adalah benda kenyal yang amat menggiurkan iman itu. Secepat geledek Agriel mencium, mel-umat, mengabsen gigi dan langit-langit mulut Mery. Ia bahkan melilitkan lidahnya dengan lidah Mery yang diam. Walaupun seperti bermain sendiri, tapi gak papa lah, karena hanya ini cara satu-satunya. Kalau saja Mery terbangun, yang ada bukan adegan mesra tertulis. Tapi, adegan adu tenaga dan umpatan.


Sialan! Adiknya Agriel terbangun. Lalu, bagaimana ini? Bermain gila dengan Mery atau menyolo dengan sabun cair?


"Sh-it!!! Adikku bangun, sayang!" rengek Agriel, membuka hotpats Mery.


Tersembulnya kedua pepaya, yang membuat Agriel semakin panas dingin. Karena bingung, akhirnya hanya ini satu-satunya cara meredamkan gairahnya.


"Mery.. Aku minum susu, ya?" tanya Agriel mendongak.


"Biar subur" lanjutnya. Gila! Sepertinya presdir Exanta Group sudah tidak waras.


***


Tok..


Tok..


"Miss Mery!!" teriak Leli, merasa jenggah mengetuk pintu kamar Mery. Hari sudah malam, dan selama itu Mery belum juga kunjung bangun.


Badan, serta otak Leli sudah sangat lelah. Setengah hari kerja, ditambah pengawasan langsung dari asisten Presdir. Rasanya, kerja seperti di pantau. Salah dikit, kena semprot.


"MISS MERY! MAKAN MALAM SUDAH SIAP!" akhirnya, hanya dengan teriakan Leli membangunkan Mery.


Di dalam kamar, Mery bergerak gelisah. Mengerutkan dahinya samar, kepalanya mendadak pusing. Sedetik kemudian, Mery terbangun dengan kondisi, bibir bengkak dan area inti tubuhnya becek? Atau ia kedatangan tamu bulanan?


"Miss Mery... Anda tidak apa-apa?" tanya Leli tiba-tiba saja merasakan khawatir.


"Tidak apa-apa, Leli. Makan malam lah duluan." teriak Mery, lidahnya mengecap.


Kenapa sekarang Mery merasakan ada banyak air liur di dalam mulutnya? Astaga, mimpi buruk apa ia tadi. Tidak mungkin, Mery tadi mimpi adegan di film biru?


"Agghhtt!!" deais Mery, menjambak rambut panjangnya. Mencoba mengingat mimpi apa ia tadi. Dan, bagaimana bisa pu-ti-ng nya menyundul keluar dari bra? Baru kali ini Mery terbangun dengan kondisi.. Yang sulit di deskripsikan.


"Bagaimana Leli? Miss Mery sudah bangun??" tanya Tuti menyusul Leli.


"Sudah, tapi beliau menyuruh kita makan duluan. Miss Mery baru saja bangun, sepertinya" jawab Leli.


Tuti nampak mengangguk, "kalau begitu kita duluan saja lah. Aku mau cepat-cepat tidur. Rasanya otakku ini mau meledak!" keluh Tuti.


"Kau kira hanya kamu saja? Aku pun demikian. Astaga! Masih ada enam hari lagi, Tuti. Kalau saja bukan gaji besar, tidak mungkin aku mau ikut survei ini."


"Tapi, kita juga harus bersyukur, Leli. Karena perusahaan tempat kita bekerja sedang berusaha maju, bahkan hampir akan maju." ucap Tuti.


"Ya kau benar. Harus pandai-pandai bersyukur." sahut Leli.


Dan kedua wanita itu turun dari tangga di selingi canda tawa.


Di dalam kamar, Mery kacau! Apalagi saat melihat tubuhnya. Berbagai pertanyaan muncul begitu saja. Berjalan ke arah pintu, dan masih terkunci apik. Rapi, tidak ada jejak apapun yang tertinggal. Atau benar? Jika dirinya yang mimpi...?


"Bodo amat!" dengus Mery dan segera mandi. Tidak enak membuat banyak orang menunggu.


Alhasil pun rencana Mery gagal total! Padahal ia sangat ingin jalan-jalan di sini. Tapi, ya sudahlah, masih ada lain waktu.


Makan malam yang sunyi, hanya ada suara dentingan yang berasal dari pertemuan antara sendok dan piring. Tidak ada dari mereka yang berucap atau sekadar basa-basi semata. Bagaimana tidak, badan saja rasanya pegal minta ampun, ditambah otak mereka di paksa berpikir keras. Sudah lelah di tubuh, makanya diam.


Sedangkan Mery juga sama sibuknya, memakan hidangan. Sejak tadi siang, dia belum memakan apapun, karena langsung tidur.


"Besok kita survei ke perusahaan Tekciti, berkas filenya sudah saya kirim di email masing-masing." suara itu berasal dari Bayu. Seakan memecahkan keheningan, karena setelahnya mereka semua serentak mengambil laptop masing-masing.


"Pertanyaan ini untuk pihak devisi pemasaran. Ajak Tuti untuk bekerja sama, nanti" ucap Mery.


"Kita harus bisa bekerja sama dengan pihak sumber daya. Bagaimana pun mereka adalah perusahaan teknologi besar di Bandung."


"Apakah perlu meminta pertemuan langsung dari pihak atas?"


"Jangan, selagi kita bisa mengatasinya, jangan libatkan pihak manapun."


"Alangkah lebih baik, kita mau mengadakan sebuah event di sini"


"Menurutku—"


Mereka melupakan makan malam, dan malah bermusyawarah. Alhasil piring, gelas dan wadah sayur pun ikut menjadi saksi bisu rencana mereka keesokkan harinya.


Perdebatan yang mengalir begitu saja.


***


Di Villa tempat singgah rombongan investigasi malam ini diisi dengan rembukan. Akan tetapi, berbeda dengan Villa mewah, yang di tempati oleh Agriel.


Di balkon, nampak pria itu menyesap penuh batangan rokok yang ia ampit diantara sela jari. Menyesapnya kuat, amat kuat dan menghembuskannya perlahan. Asap rokok itu pun mengepul mencemari udara di sekitarnya. Tepat, di belakang Agriel, nampak seorang wanita dengan rambut pirang yang tengah bersujud—lebih tepatnya dipaksa bersujud.


Dia mengerang, menahan sakit karena brogolan ditangannnya kian mengencang. Semakin banyak gerak, maka brogol itu pun akan semakin menciut. Mengecil, semakin kecil dan semakin membuat luka di pergelangan tangan putih itu.


"Bantu aku dulu! Maka saham mu dulu juga akan—"


"Aku muak!" tungkas Agriel cepat. Membalikkan badan, berjongkok dan menghembuskan asap rokoknya tepat di depan wajah Anouk. Ya, wanita yang tengah dipaksa sujud itu adalah Anouk.


"Kau terlalu banyak omong, Anouk. Dan, aku mulai bosan dengan ocehanmu" lanjutnya, berdiri. Menjulang tinggi, sampai bayangannya menimbrun tubuh Anouk.


"Heh! Kau terlalu banyak gaya, Agriel. Terkadang aku tertawa membayangkan mu." ucap Anouk, terkekeh geli.


"Gaya mu sejak dulu, sok berani menantang Desta tapi apa? Tidak pernah ada pergerakan. Hanya menyiksa dan memaksa ku saja. Sedangkan keinginan ku sendiri tidak kau lakukan. Tidak ada timpal balik, siapa yang mau kerja rodi?" tanya Anouk tajam.


"Apa? Kau mudah sekali di buat bungkam, Agriel. Dan kau pun selalu lemah tak berdaya di depan Basta, ayahmu yang serakah itu." lanjut Anouk.


Agriel masih diam, tidak bergeming sekali pun.


"Kau tahu? Lily bukan bundamu. Tapi—"


Bugh!


Satu bogeman mentah di layangkan Agriel tepat di bibir Anouk.


Pecah, dan seakan retak. Rasanya sungguh dahsyat, sampai menjalar ke otaknya. Pening, dengan rasa asin berbau anyir yang menguar. Hidungnya pun tak luput mengeluarkan darah. Yah, bogeman milik Agriel tidak main-main.


"Mulut baumu boleh menghinaku, mencaciku, tapi tidak untuk ibuku, Anouk. Dunia menyiksanya pun aku akan marah. Apalagi kau wanita sialan?" desis Agriel.


"Mulut busukmu terlalu lama mengulum batangan pria tua itu, sampai-sampai bau busuk menguar begitu saja, heh Anouk. Berkacalah, siapa dirimu? Ke sana ke mari hanya untuk bahan mainan. Kau hadir di dunia ini untuk di manfaatkan. Lebih baik, bersikap layaknya wanita bangsawan dan menghadap Tuhan."


"Kau pikir? Ocehan gila mu ku gubris? Oh, Anouk kau terlalu banyak membual di pikiran mu sendiri." ejek Agriel.


"Batangmu juga mau ku kulum?" tanya Anouk, gila.


Agriel menggeleng, kasihan juga wanita di hadapannya itu. Kepalanya mungkin terlalu banyak di pukul oleh Desta, sampai-sampai otaknya kopyor dan tidak bisa diajak bicara.


Akhirnya, Ree datang. Karena sungguh, telinga Agriel pun sudah sakit mendengarkan ocehan wanita gila di depannya.


"Tuan, ini berkas yang kau minta." ucap Ree, menunduk hormat. Agriel adalah tuan dari tuan yang sangat ia segani.


"Minta wanita gila itu menandatangani nya" perintah Agriel tegas. Melempar pulpen yang terpasang di saku jasnya, tepat di wajah Anouk. Hampir mengenai mata wanita itu, kalau-kalau tidak cepat terpejam.


BERSAMBUNG...


Dukungannya yuk!


Bagi link cerita ini kesemua orang 🤩


Berikan Vote dan gift, jika karya ini layak mendapatkannya! 🤠


Like setiap bab ya 😍


Komen di kolom komentar, sebagai bentuk jejak kalian 🌸❣️


Thank you 💞