ELEMERY

ELEMERY
WISATA MASA LALU [17+]



Jam makan siang,


Hembusan napas terdengar dari mulut Mery. Menatap kantin yang sangat ramai itu. Tadi pagi, ia tidak sempat sarapan. Hanya Ella yang sarapan tadi pagi, sedangkan dirinya sibuk mempersiapkan berkas-berkas meeting.


"Hai?" sapa seseorang wanita di depannya.


Mery menatap bingung, "Maaf?" tanya Mery. Jujur saja, ia bukan lah orang yang semudah itu bersosial.


"Aku mengajak mu berkenalan. Ku lihat, kau sendiri."


"Mery" jawab Mery singkat. Matanya menatap bangku-bangku kantin, mencoba mencari tempat yang masih kosong.


"Sudah penuh. Kau tidak lihat, di ruangan VVIP itu ada presdir kita?" sahut wanita itu.


Mery mengangguk mengiyakan, karena jujur saja Mery tidak tahu dan tidak ingin tahu. Dan kembali menatap wanita di depannya.


"Oh, kenalkan aku Salsa. Salam kenal Mery." ucap Salsa mengulurkan tangannya.


"Oke, tapi maaf aku permisi." ujar Mery dan melangkah pergi.


"Tunggu!! Kau ingin mencari makan Mery? Boleh aku ikut? Aku juga sama seperti mu, tidak mendapatkan tempat." ucap Salsa.


"Aku makan di ruangan ku,"


"Boleh aku ikut? Kau di blok mana?" tanya Salsa.


Langkah Mery terhenti, menatap Salsa intens. "Ruanganku berada di lantai atas. Ruangan kepala keuangan perusahaan. Kau ingin ikut? Tapi maaf, aku tidak bisa mengizinkan nya" ucap Mery dan melanjutkan langkahnya.


Salsa tercengang menatap Mery, sedetik kemudian dia menunduk. "Maafkan saya Miss,"


Mery mengangguk. Dan segera mempercepat langkahnya.


"Kau bodoh Salsa! Bagaimana bisa mengajak bos mu makan bersama? Sedangkan kasta kalian sangat berbeda jauh." gerutunya pesimis. Salsa itu pegawai baru. Ia baru saja lulus lima bulan yang lalu. Bisa bekerja di sini merupakan keberuntungan yang luar biasa. Dan tentunya perjuangan masuk ke perusahaan Exanta Grup tidaklah mudah. Banyaknya pesaing dan seleksi yang ketat, membuat Salsa bangga bisa lolos dan bekerja di sini.


***


"Rena, tolong belikan aku makan siang." ucap Mery melalui sambungan telepon.


"Maaf, Miss. Saya tadi membeli dua kotak makan di caffe depan. Jika Miss berkenan—"


"Bawa ke ruanganku!" sahut Mery.


Tak berselang lama, pintu terbuka. Menampilkan Rena membawa kotak makan, beserta minuman untuk Mery.


"Terimakasih, Rena. Kau boleh keluar" ucap Mery dan segera Rena keluar dari ruangan Mery, karena dia sendiri juga ingin segera melanjutkan acara makan siangnya.


Mery menatap kotak makan di depannya itu dengan tatapan lapar. Segera saja Mery membukanya, dan melahap makan siangnya dengan tenang. Kefokusan Mery membuatnya tidak sadar ada seseorang masuk ke ruangannya.


Pria itu menatap Mery dengan tatapan dingin dan datar. Lalu, duduk di sofa tak jauh dari sana.


Aksi mengunyah itu harus terhenti saat melihat pria yang sangat dia benci ada di hadapannya. Segera Mery mengambil minumannya dan meminum dengan cepat. Matanya melirik CCTV di ruangannya, dan berlanjut menatap sinis pria itu.


"Tatapan anda tidak sopan, Miss Mery" ucapnya serak, basah dan berat. Menatap wajah cantik yang rasanya malah bertambah seiring berjalan usia.


"Tidak sopan mana dengan seseorang yang masuk ke ruangan orang tanpa permisi? Apakah jabatan tinggi ini membuat anda melupakan etika bertamu?" tanya Mery tak kalah pedas.


Tawa menggelegar di ruangan itu. Pria itu berdiri, dan menutup pintu Mery. Berjalan ke arah Mery yang saat ini sedang menahan rasa takutnya.


"Jangan macam-macam!" dengus Mery, menatap pria itu dengan tatapan jijik dan sinisnya.


"Kau berpikiran apa sayang?" tanyanya. Suara itu, sangat berat dan basah. Membuat degupan jantung Mery bertambah kencang.


"Berpikir apa?" tanya Mery, dengan kekehan.


"Kau sangat cantik. Sama seperti dulu"


"Saya sedang berpikir, bagaimana ada orang bodoh dengan jabatan tinggi ini menanyakan saya berpikir apa? Tidak kah kau lihat aku ini wanita terhomat? Tindakan bodoh anda itu bisa merusak nama baik saya." ujar Mery.


"Mengocehlah, aku sangat suka." ucapnya.


Mery mendengus dan berdiri dari kursinya. Berjalan ke arah pintu hendak keluar. Namun, dengan gerakan kilat, pria itu menahan Mery. Dan menge-cup bibir Mery yang sangat menggoda itu.


Rasa pertama, yang begitu manis. Sentuhan lembut, dan kenyal dari bibir itu membuat Agriel tidak puas hanya dengan mengecupnya. Dia ingin lebih, lebih dari ini.


"AGRIEL!!!" teriak Mery, menatap pria yang bernama Agriel itu dengan amarah yang meledak.


Teriakan Mery langsung dijadikan kesempatan bagi Agriel untuk mencium Mery kembali. Kali ini, bukan hanya kecupan singkat namun, sebuah lu-matan yang menuntut.


"Eummm-ahhh" de-sah Mery, mencoba melepas pautan bibirnya dengan Agriel. Sayang, pria itu malah semakin mempererat pelukannya di punggung Mery yang mungil. Semakin mempererat tubuh itu, sampai dada keduanya saling bersentuhan.


Tangan Mery tentu tidak tinggal diam, dengan tenaga yang baru saja terisi ia mencoba memukul dan menjambak rambut Agriel. Jambakan dan pukulan itu tidak berefek apapun, karena Agriel segera membawa Mery ke sofa panjang kecil—dengan keadaan, mulut mereka saling bertautan.


Agriel menggigit dan menarik benda kenyal itu dengan perasaan gemas. Sedangkan sang empu, meringis merasakan sakit dibibirnya.


Seperdetik kemudian, Agriel menindih tubuh Mery, tangannya mengambil alih tangan Mery. Mencekamnya dengan erat, dengan bibir yang masih bertautan. Mery terengah, menoleh ke sana ke mari seakan mencari pasokan udara.


Lu-matan itu terlepas, yang menimbulkan bunyi khas.


Sorot mata Mery yang penuh dengan amarah, seakan semua rasa itu bercampur aduk menjadi satu. "B4JING4N!!!"


"Sstt, I Love You" bisik Agriel pelan. Sangat pelan, tepat di daun telinga Mery.


Suara itu, suara yang sangat Mery rindu sekaligus Mery benci. Suara berat, basah, dan menggairahkan. Dada Mery semakin sesak. Tubuhnya lemas seketika. Sudah tidak ada perlawanan, hanya menatap Agriel dengan tatapan tajam di lapisi air mata yang terus mengalir.


Tangan besar itu, terulur untuk mengusap pipi Mery yang basah. Tatapannya berubah menjadi sedu. Lagi, bibir keduanya bertemu. Bukan ciuman penuh gairah, tapi sebuah kecupan singkat yang membekas.


Kepala Agriel, menyunsup ke dalam cekuk leher Mery. Mengecupnya pelan, dan sedikit memberi gigitan kecil yang membuat Mery menahan sebuah gejolak di tubuhnya.


"Emmm" gumam Mery, menahan.


"Stop!" pekik Mery, mengusap air matanya kasar. Mencoba mengangkat tubuh Agriel dari tubuhnya, namun sayang ia tidak kuat.


"Hemm" gumam Agriel yang tidak menggubris.


"Cara kamu sangat rendah, Tuan Presdir yang hilang hormat." ucap Mery.


Aksi Agriel terhenti, menatap Mery dengan senyuman khasnya. Tipis, dingin, datar dan menguji nyali.


"Mulut pedasmu, sangat nikmat, sayang."


"Minggir!" sertak Mery, mendorong tubuh Agriel dengan kuat.


Pria itu sampai terjungkir ke lantai. Dengan segera Mery berdiri, menatap Agriel dengan pandangan mencemooh.


"Mau mu apa, Tuan?" tanya Mery. Dia berjalan ke arah laci meja, dan mengambil tissu. Mengelap bibirnya dengan kasar, seakan ada banyak kuman di situ. Sedikit Mery merasakan perih. Sial!, batinnya.


Semburat tipis muncul di bibir Agriel. "Hal ini yang membuat ku semakin jatuh cinta padamu, sayang"


Decihan muncul dari bibir tipis Mery. "Bullshit"


"Apa tujuan mu?" tanya Mery, seraya berkumur dengan air dan membuangnya langsung di hadapan Agriel.


"Merebut hati kekasihku, lagi" jawabnya mantap. Dan langsung merangkul tubuh Mery, mengecup dan me-***** ganas bibir Mery yang membuatnya candu—sejak dulu.


"Bersihkan kuman yang ada di bibirku. Karena aku sibuk, ku serahkan pada mu" seringai tipis itu muncul. Dan segera Agriel keluar dari ruangan Mery.


Seketika itu pula, air mata Mery keluar. Ia keluar tanpa bisa Mery cegah. Karena rasa sakit atas sebuah pengkhianatan yang tandas menjadi luka dihati Mery.


****


Hari ini, Mery izin pulang cepat. Ia sudah tidak peduli masalah kerja. Hatinya kacau, sakit dan kecewa menjadi satu. Meninggalkan perusahaan dengan alasan sakit. Sudah tidak ada rasa peduli tentang tanggapan sebagian orang di sana.


Jari lentiknya dengan lincah menyentuh sana sini layar ponsel yang ia genggam. Tak berselang lama, sebuah panggilan terangkat.


"Hallo, Mery?" suara itu, suara sahabat Mery. Saat ini yang Mery butuhkan adalah Huble—sahabatnya.


"Hallo, Janda" ucap Mery tersenyum suram.


"KAU!" teriak Huble, marah dan langsung mengubah panggilan menjadi video call.


Wajah kusutnya sekarang terpapang penuh di layar ponsel Mery.


"Bisakah kau tidak menyebalkan Mery? Sudah sekian purnama kau tidak menelponku, atau sekadar memberi kabar. 'Huble, aku sekarang sedang makan hiu', atau apalah. Kau juga tidak ada niatan untuk menceritakan hidup di kota Jakarta? Sungguh sombongnya kawan jelekku ini. Eh, ngomong-ngomong apakah julukan perawan tua masih abadi di jiwa raga mu itu, Mery? Dan ku tebak iya. Sungguh kasihan sekali nasibmu. Masih mending menjadi janda, daripada kau! Perawan tua yang tidak laku! Hahaha" ocehan itu sedikit membuat hati Mery merasakan kehangatan.


"Sudah mengocehnya?" tanya Mery.


"Dan tugasmu, menjawab pertanyaan ku, Mery" tuntut Huble dengan paksaan.


"Kau di mobil?" tanya Huble melihat sekitar Mery. Dengan singkat, Mery mengangguk.


"Kau ada kerja di lapangan? Ini masih jam kantor." ucap Huble bingung.


"Tidak ada. Kerjaanku enak sekali Huble, dan rasanya aku ingin resign."


"APA???" teriak Huble kaget bukan main.


"Mery? Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


"I'm fine, don't worry"


"Okey, I believe in you"


"Jika memang keadaan di sana tidak secantik dan seimut wajahku. Pulang lah Mery, sebagian orang memang harus tersandung dulu baru bisa merasakan sakitnya"


"Sekarang, kau mau kemana?" tanya Huble mengalihkan pembicaraan. Melihat raut wajah Mery saja, sudah bisa Huble tebak, sahabatnya itu tidak sedang baik-baik saja.


"Menjemput anakku" ucapnya singkat.


"Bye, Huble. Terimakasih telah membuat telinga ku sakit"


"APA? MERY! KAU TAD—"


Tut.


BERSAMBUNG....


Tolong like, komen dan dukungannya💃 Thank you🍄