ELEMERY

ELEMERY
KEPUTUSAN BELLA



Malam yang kian larut. Di atas balkon kamar Neel, Agriel berdiam seraya menghisap kuat asap rokoknya. Mery memutuskan tidur bersama Bella malam ini. Mau tak mau, Agriel harus mengalah dan tidur bersama Neel.


Kilas balik tentang Neel. Sosok pria muda yang sangat berbakat, Agriel mengakui itu. Nama panjangnya Mochamad Athaneel Brantara. Anak satu-satunya keluarga Brantara. Ayahnya Neel—Taer—adalah sosok pengusaha sukses pada dua tahun silam. Ya, dua tahun sudah memakan habis segala hal yang di miliki Taer. Pria berbadan tegap dengan brewok yang menghiasi wajahnya itu kini harus panas kepala dengan perumitan urusan perusahaan.


Neel yang satu-satunya putranya, tentu tidak akan tinggal diam saat ayahnya sendiri di ambang kehancuran. Taer menyerahkan segala hak warisnya hanya pada Neel. Dia angkat tangan dan menyerahkan semuanya pada pundak Neel. Cowok yang masih di bilang muda untuk terjun pada dunia bisnis yang tentunya tidak semuanya bersih. Pintar dan memahami teori saja tidak cukup bagi Neel, ditambah masalah kesehatan Taer yang kian menurun.


Mata Agriel menilik pada Neel yang sibuk di depan laptop dengan banyak buku tebal serta kertas berserakan tidak aturan.


"Bereskan semuanya, Neel. Aku juga ingin tidur. Kau pun begitu bukan?" Tanya Agriel berjalan menghampiri cowok itu setelah membuang puntung rokoknya.


"Dewasa membuatku lupa rasanya tidur nyenyak." Jawabnya ala kadarnya.


"Dewasamu ekstrem, Neel." Balas Agriel, dan duduk tepat di depan Neel yang masih saja sibuk dengan berkas-berkas di depannya. Tidak memperdulikan Agriel yang menatapnya jenuh.


"Huh, lihatlah kerutan di wajahmu yang kian nampak. Bagaimana bisa aku menjodohkan mu dengan Bella di masa depan, ha?" candaan Agriel yang langsung memotong atensi Neel cepat.


"Candaan mu tidak lucu, kau tau!" Dengus Neel, kesal. "Kamu kira aku pendofilia?" Lanjutnya.


"Kalau benar, bagaimana?" Wajah Agriel tergurat tampang seriusnya.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Neel. Sudah ku anggap kau adik kecil. Tapi, usiamu dengan Bella terpaut jauh, sepuluh tahun lebih..."


"Aku hanya sayang pada Bella. Tidak ada rasa apapun itu. Idiot tentang cinta, yang aku butuhkan adalah cara untuk menaikkan grafik saham perusahaan" jawabnya dengan tatapan tidak enak di pandang.


"Hahahaha.... Kau akan termakan omonganmu. Aku hanya bercanda. Kau kira aku sudi punya mantu macam kau?"


"Sialan kau Agriel!" Dan merekapun tertawa secara bersamaan. Melepaskan semua beban yang tersembunyi.


"Kau masih melindungi Anouk?" Tanya Neel pelan namun tersirat nada tidak suka.


Agriel mengalihkan pandangannya. "Aku tidak tega meninggalkan dia dengan kondisi hamil dengan pria iblis seperti Desta."


"Aku tahu. Dan seharusnya kau juga memberikatahu kan pada Mery segalanya. Hubunganmu dengan Mery hancur karena kebohongan yang kamu kira membawa sebuah kebaikan. Nyatanya? Omong kosong pada kebohongan dan kebaikan. Tidak ada kata bohong bersambung dengan baik."


"Bukan—"


"Dan, kau akan menggulang masa pahit itu lagi!" Potong Neel.


Agriel mendesis, mengerang marah pada dirinya. "Ibuku.... Dia menginginkan anak yang dikandung Anouk."


"Untuk apa? Sedangkan kau dan Mery bisa membuatnya sendiri?!"


"Satu rahasia besar, yang hanya ku beritahukan padamu."


"Kebakaran di gudang itu ulah Desta. Itu ancaman untuknya, yang marah karena Basta mempermainkan nya dan berhasil mendapatkan aset-aset itu. Akibat dari kebakaran di gudang saat itu membuat pinggul Mery membentur lantai keras, saat dia hampir pingsan dan trauma pada kejadian beberapa tahun silam. Benturan pinggul itu membuat jalan rahimnya bermasalah. Dia bisa hamil tapi beresiko saat melahirkan, ditambah benturan itu membuat infeksi pada jalan rahim itu sendiri."


"Itu bisa di pulihkan."


"Butuh waktu."


"Jadi selama ini, kau?" Tebak Neel dan diangguki Agriel.


"Aku mana tega pada Mery, cinta membuatku semakin bodoh." Tawa Agriel menahan segalanya.


"Apa rencanamu kedepannya? Terus berbohong atau memilih jujur walau menyakitkan?"


"Aku tidak tahu. Banyak sekali harapan dari mereka, Neel. Dari Bunda yang menekanku untuk melindungi anak Anouk, sampai kakek tua itu yang menyuruhku mempertahankan hartanya. Masa bodoh dengan mereka, yang terpenting Mery ada di sampingku." Jelas Agriel membuat Neel mengangguk paham.


"Bella, biarkan dia tinggal bersamaku. Urusalah semua masalah kalian sampai tuntas. Jangan jadikan bocah itu—"


"Ku cabut candaanku, bahwa aku tidak mau punya mantu dengan usia tua." Ejek Agriel.


"CK! Kau kira aku pendofilia? Aku masih waras! Ingat kata-kata ku, bahwa aku masih waras, oke!" Tekan Neel, membuat Agriel masih tetap tertawa.


"Ada syarat" ucapnya merubah gaya bicara santai itu dengan nada tegas penuh intimidasi yang kuat.


"Apa?" Balas Neel tak kalah kuatnya.


Tidaklah baik melibatkan banyak orang pada masalah rumit ini. Entah akan memakan betapa waktu, yang pasti dia akan mengantikan peran Agriel untuk menjaga Bella.


"Jika Bella sendiri setuju." Basa basi Neel yang membuat Agriel sedikit tersenyum.


"Keputusan besar ini ada ditangan Bella."


****


Mery mendengar dengan jelas cerita yang Agriel lontarkan untuk menyambut pagi ini. Tentang obrolan semalamnya dengan Neel, mengenai Bella.


"Tapi, Agriel. Aku masih sanggup merawat Bella." Ucap Mery, sedikit menekan rasa sedihnya.


Agriel membuka sakitnya, yang tentu membuat Mery sangat sedih. Bagaimana pun itu adalah aset berharga setiap wanita. Walau lukannya bisa disembuhkan, tetap saja itu memberikan rasa khawatir pada diri Mery.


"Tenang, sayang. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan infeksi itu." Tenang Agriel menarik tubuh Mery ke dalam pelukannya.


"Tidak ada maksud apapun, aku hanya ingin kamu fokus pada penyembuhan mu dan kita akan menjemput Bella lagi."


"Agriel.... Aku masih sanggup—"


"Aku tahu kau wanita kuat. Tapi terkadang kita perlu fokus juga bukan? Bella aman di sini. Terpenting kau sudah tahu sendiri bagaimana keadaan Bella."


"Tetap saja. Aku tidak akan sanggup meninggalkan anak itu dengan pria seperti Neel."


"Memang Neel kenapa?"


"Terlalu muda dan menyebalkan. Tidak cocok menjadi pengasuh Bella." Ungkap Mery membuat Agriel menahan tawanya.


"Keputusan ini masih simpang siur. Karena pemegang keputusan ini adalah Bella." Jawab Agriel.


"Kita akan tinggal di sini selama dua hari, gunakan waktu itu sebaik mungkin Mery. Bisa jadi kamu dapat merubah segala rencana yang telah ada."


Mery mengangguk paham, dia segera melompat dari pangkuan Agriel dan berjalan mencari Bella yang hendak bersiap sekolah.


***


Sepulang sekolah, Mery mengajak Bella berjalan-jalan sejenak di lingkungan sekitar sekolah Bella berada. Cuaca tidak sedingin kemarin, tandanya musim selanjutnya akan segera tiba. Walau salju masih saja menghiasi rumah-rumah, pertokoan, tanaman hingga jalan raya kota tidak menjadi surutnya aktivitas masyarakat setempat. Bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk maju mempersiapkan masa depan kelak.


"Temanmu baik?" Tanya Mery, bingung dengan kecanggungan yang ada. Sudah dua hari ini, Mery ada di kota Bolu.


Bella mengangguk mantap, seakan tidak ada keraguan setiap anggukannya. "Mereka baik, ma. Tidak ada yang jahat. Manusia akan jahat ketika ada yang mengikis kebaikannya. Sedangkan aku tidak mengusik mereka." Jawaban Bella kadang membuat Mery tercengang. Dari mana bocah sepuluh tahun itu mengetahui banyak hal? Bahkan usianya belum genap sepuluh tahun.


"Bella," panggil Mery.


"Apakah kamu bahagia dengan kehidupan mu yang sekarang?" Lanjut Mery.


Bella terdiam, dengan sesekali menatap Mery ragu. "Aku suka tinggal di sini, Ma. Tapi, Bella gak bisa kalau di tinggal Mama sama Papa lama. Bella bingung. Kalau nanti Bella pergi, ikut Mama ke Indonesia, teman-teman Bella pasti benci sama Bella. Mereka pernah bilang, kalau kita gak boleh saling mencar dan pergi. Harus bareng-bareng sampai dewasa nanti. Mereka sayang banget sama Bella. Tapi, Bella..." Isak tangis bocah itu pun pecah.


Bingung dan bimbang dengan keadaan. Teman-temannya sangat baik di sini. Di sini pula Bella bisa bersosialisasi dengan baik. Tanpa harus ada pandangan aneh dan cemoohan dari orangtua murid yang menjemput anaknya. Semua yang ada di sekitar Bella tidak peduli dengan masalah yang menimpanya. Tidak ada waktu ataupun celah untuk mencemoohnya. Itulah yang membuat Bella senang dan nyaman tinggal di sini.


Tapi, di lain sisi ada sebuah rasa rindu. Rindu terhadap Papa dan Mamanya. Sebuah pelukan dan tempat cerita yang sangat Bella rindukan. Sosok Mery adalah penganti dari pelukan yang lama hilang.


"Bella... Tanyakan pada hati Bella. Apa yang ingin Bella lakukan di masa depan?" Tanya Mery pelan.


"Memang ada dua pertimbangan. Satu sangat menyenangkan, satu sangat dibutuhkan. Bella memilih yang mana? Berkorban atau menikmati?. Setidaknya, jika Bella memilih salah satu, tidak ada rasa sesal di kemudian hari. Karena keputusan yang akan Bella ambil akan segera mengubah hidup Bella ke depannya." Tegas Mery.


"Bella, hanya tidak bisa memilih. Karena aku membutuhkan semuanya, Ma."


"Bella juga mau di antar jemput sekolah bersama Mama dan Papa. Bukan supir Badni ataupun Uncle Neel." Adu Bella.


"Bella—" ucap Mery tersendat. Dia bingung harus memulai dari mana. Karena sejujurnya ada hati yang egois untuk menginginkan semuanya. Lantas, bagaimana jika keputusan yang akan ada di depan mata hanya akan membawa sebuah kerengangan?


"Mama jangan sedih. Bella sudah besar."


^^^BERSAMBUNG....^^^