
Pesawat yang ditumpangi Mery dan Agriel mendarat dengan mulus di Bandara internasional Soekarno-Hatta. Bukan kembali ke Surabaya ataupun ke Bandung, melainkan ke Jakarta. Agriel sudah membuat perjanjian khusus dengan dokter ahli kandungan serta bedah untuk mengecek sendiri kondisi Mery. Suhu tubuh Mery semenjak penerbangan ke Turki terus mengalami kenaikan. Sempat saja turun ke normal, tapi esok harinya kembali naik.
Sempat pada pertengahan jalan, tubuh Mery panas mencapai suhu 39,4°C yang tentu saja membuat Agriel panik tidak karuan.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya" sapa Ree menunduk, hormat. Walau hatinya menggerutu tidak karuan tentang Tuannya yang begitu tenang meninggalkan semua berkas-berkas memusingkan di meja kerjanya. Sialan, Untung saja dia babu.
"Sudah kau hubungi?" Tanya Agriel dengan raut wajah cemas.
Mery menatap Ree sejenak, lalu menatap Agriel. Tatapannya sayu, menahan rasa nyeri yang ada pinggulnya. Rasanya seperti mau copot dari sana.
"Lama tidak berjumpa denganmu, Ree" sapa Mery balik.
Ree menunduk, dengan sesekali mencuri pandang ke arah Mery yang pucat. "Tuan, dokter sudah menunggu anda serta Nyonya di dalam. Semoga tidak ada hal serius yang terjadi."
"Aku pun berharap demikian. Kau handle dulu urusan kantor dan tutup tua bangka Nandhaya dengan surat yang sudah aku kirim lewat emailmu." Kata Agriel dan segera masuk ke dalam mobil jemputan.
Mobil mewah dengan gaya klasik itu membelah kepadatan kota metropolitan. Di sampingnya, tidak lepas tangan Agriel mengelus tangan Mery yang panas.
"Griel, kenapa aku merasa di pinggulku terdapat benjolan, ya? Coba kau raba" suruh Mery duduk tegap menatap Agriel sayu.
"Kamu jangan khawatir Mery. Tidak ada masalah apapun. Itu hanya luka pada bagian pinggul, dan akan segera sembuh."
"Bukan. Aku merasa bukan hanya sekadar luka biasa." Bantah Mery, yang merasakan.
"Seluruh tubuhku sakit semua. Bahkan kakiku terasa nyeri saat berjalan. Pinggulku benjol. Dan itu sangat sakit ketika di pegang. Perut bagian bawah ku pun sangat sakit saat ini, Agriel. Sungguh, bayangan buruk menghantui ku sekarang." Desak Mery menahan isak tangisnya.
"Aku merasa ini sebuah karma. Ibuku menjaga ku, tapi aku dengan mudahnya memberikan mahkota pada orang yang bukan suami sahku. Bukan orang sudah berjanji pada Tuhan untuk menyayangi ku, melindungi ku, dan memberi segala berkat pada ku—"
"Mery, tolong jangan bahas hal itu. Aku meminta maaf...."
"Bukan... Agriel... Bukan... Bukan itu masalahnya. Aku yang bodoh, sekarang—sekarang aku hanya menunggu aliran takdir ini akan membawaku ke mana. Kita pernah berhubungan, aku tidak hamil, dan ya kau tahu aku meminum apa." Balas Mery, menangis sesenggukan. Rasanya ada bola besar panas yang kini hinggap di dadanya. Kian sesak dan kian menekan.
"Tolong percepat laju mobilnya!" Tegas Agriel, merekuh tubuh Mery.
Matanya terpejam dengan otot-otot leher yang timbul. Mendengar isak tangis Mery yang mampu menyayat hatinya. Sungguh sangat ironis perjalanan mereka berdua. Padahal masalah yang ada belum menemukan sebuah titik terang. Dada Agriel semakin sesak, dia juga ingin menangis. Tapi pecundang sialan lah yang akan menangis dikala wanitanya membutuhkan sandaran untuk menangis.
Agriel menahan, menahan rasa gemetar yang ada di hatinya. Dengan terus memberikan usapan ketenangan di punggung Mery yang kini menjadi wanita rapuh.
"Ketakutan memang terus ada Mery. Tapi jangan sampai ketakutan itu sendiri yang mengendalikan dirimu. Kau tahu, di mana berkat Tuhan selalu bersama hambanya bukan?" Tanya Agriel, mengecup puncak kepala Mery.
"Jangan berpikir terlalu jauh. Kesalahan kita memang akan tetap menjadi kesalahan, aku meminta maaf. Kau bukan simpanan, tidak ada yang boleh mengatakan demikian. Anouk itu pengacau! Basta dan Desta, dua orang sialan itu yang memperumitnya. Kita salah dua korban. Aku dan kau, sama-sama memperjuangkan cinta yang akan di saksikan Tuhan."
Mobil itupun berhenti. Tanpa menunggu lama, Agriel langsung menggendong Mery dan meletakkan wanitanya pada kursi roda. Mendorong pelan, kursi roda itu ke ruangan khusus pertemuan dengan para dokter-dokter itu. Agriel hanya bisa berharap tidak terjadi apapun, dan hanya infeksi di pinggul. Infeksi itu bisa di sembuhkan dengan meminum obat secara rutin. Semoga saja.
****
"Setelah di lakukan beberapa pemeriksaan, Nona Mery harus melakukan rontgen. Pada area pinggul yang membentuk sebuah benjolan, bisa saja tulang pinggul sebelah kanan Nona Mery mengalami retak atau bisa saja patah. Infeksi pada pinggul sangat jarang terjadi. Beberapa kasus infeksi yang sering terjadi pada panggul, di mana seseorang melakukan hubungan seksual aktif dengan pasangan yang berbeda. Namun, tidak di pungkiri juga infeksi pada pinggul bisa terjadi. Apalagi mengingat kejadian nona Mery yang jatuh dengan keras. Bersyukur, bukan tulang ekornya yang patah." Jelas dokter yang name tag Isabella itu.
Bella, namanya sama seperti Bella-nya, Mery sempat tersenyum ramah dengan bayangan Bella-nya kelak bisa menjadi seorang dokter.
"Apakah itu juga membuat rasa sakit menyebar sampai ke area kaki? Perut saya juga sangat sakit, di bagian bawah." Ucap Mery seraya menunjuk.
"Untuk perut bagian bawah. Tim kami akan segera melakukan rontgen juga. Karena ada keanehan, yang tidak bisa kami jelaskan secara jelas karena belum ada bukti. Tuan Agriel dan Nyonya Mery bisa menunggu sepuluh menit lagi, kami akan segera melakukan tindakan cepat." Ucap Dokter dengan name tag Wandaya.
Beberapa dokter langsung saja melakukan tugasnya. Mery serta Agriel menunggu, dengan harap cemas. Tadi, Mery sudah di suntikan anti-nyeri, untuk mengikis rasa sakit yang dia alami.
Sepuluh menit ternyata begitu cepat berlalu. Mery maupun Agriel kini duduk dengan ketenangan yang dibuat. Raut wajah para dokter memang sangat tenang, bahkan ada yang tersenyum ramah seakan tidak terjadi apapun. Tapi, bagi Mery itu kebohongan yang mereka ciptakan untuk mengurangi rasa cemas.
Trik mereka begitu cepat Mery saksikan.
"Ini hasil rontgen-nya." Tunjuk perawat yang memberikan.
"Dapat di lihat bagian yang kami lingkari, ini adalah tulang pinggul Nyonya Mery. Yang membuat anda panas dengan suhu yang naik-turun di akibatkan adanya retakan di tulang tersebut. Retakan tulang tersebut sangat kecil, tapi ternyata tidak bisa di sepelekan begitu saja. Retakan pada tulang yang tidak segera di tindak lanjuti, membuat timbulnya infeksi, ditambah pergerakan selama aktivitas Nyonya Mery."
Penjelasan tersebut membuat ingat Mery melayang pada saat memanjat tembok besar di belakang mansion Agriel. Bahkan dia berani melompat, Untung saja saat itu Agriel setiap sedia.
"Seharusnya tidak sampai tahap ini, karena di lihat Nyonya Mery sudah pernah mengonsumsi obat. Tapi, saya sendiri tidak begitu tahu bagaimana aktivitas Nyonya Mery, sampai-sampai membuat retakan itu semakin parah. Bagian inilah yang kini terinfeksi." Tunjuknya pada benjolan yang ada di sepanjang retakan itu.
"Nyonya Mery tenang saja, infeksi yang terjadi tidak begitu parah. Namun, harus ada operasi untuk memulihkan retakan di tulang Nyonya. Serta membersihkan infeksi yang di sebabkan bakteri itu. Operasi bisa Nyonya lakukan setelah pengontrolan kesehatan Nyonya Mery benar-benar baik" akhir penjelasannya.
Mery bernapas lega, tidak begitu parah dan masih bisa di obati.
"Segera lakukan tindakan operasi." Kata Agriel tegas.
"Saya sudah siap, jika ingin di operasi." Lanjut Mery.
Isabella tersenyum, "kondisi Nyonya Mery masih lelah karena perjalanan panjang. Kami sudah mengatur jadwal untuk operasi Nyonya. Tepatnya dua hari dari sekarang. Namun, ada lagi kabar yang mengharuskan kami mencegah Nyonya Mery kembali pulang."
"Maksudnya, dok?" Tanya Agriel spontan, menatap Dokter di depannya itu.
"Begini, Tuan dan Nyonya." Raup udara secara paksa oleh dokter lainya.
"Kami menduga ada hal yang harus kamu periksa lagi. Hal tersebut hanya bisa kamu beritahukan setelah operasi keretakan pada tulang pinggul Nyonya Mery terlaksana dengan lancar."
"Hal apa dok? Apakah saya mengalami masalah lebih serius dari ini?" Tanya Mery mengebu.
"Tidak. Semua baik-baik saja, hanya akan ada pemeriksaan ulang terhadap benjolan di pinggul Nyonya Mery." Sahut Dokter Isabella dengan gaya anggunnya.
****
"Sebelumnya maaf, Tuan. Karena tidak bisa membicarakan hal ini langsung pada Nyonya Mery." Ungkap Dokter Isabella menunduk.
"Ada apa? Aku sudah sangat curiga dengan perkataan kalian tadi. Ada hal apa yang kalian tutupi?" Tanya Agriel.
"Sebelumnya bolehkah saya meminta data medis Nyonya Mery sebelumnya?"
Agriel langsung menyerah data medis tersebut. Dokter Isabella membacanya dengan seksama. Sesekali mengangguk tanda memahami.
"Dari data medis Nyonya Mery sebelumnya memang sudah sangat menunjukkan dugaan kami. Infeksi pada pinggul Nyonya Mery semakin membesar karena ruang gerak yang tidak terkontrol."
"Dia pernah memanjat tembok. Aku tidak bisa mengatakannya pada saat itu." Cerita Agriel.
"Mungkin karena ruang gerak yang semakin tidak terkontrol, membuat gesekan. Akibatnya infeksi itu semakin besar dan obat tidak lagi bisa membantu. Namun, ada hal yang sangat penting yang ingin kami sampaikan."
"Rahimnya baik-baik saja. Tapi tidak dengan salah satu ovariumnya." Balas Agriel cepat.
Isabella tersenyum sesaat. "Aku sudah tahu kondisi kesehatan dari Mery. Hal itu juga yang ingin kalian sampaikan?" Tanya Agriel.
"Benar, Tuan."
"Kista di ovarium Mery hanya berupa kista kecil. Kista itu bisa hilang sendirinya. Kista yang ada di ovarium Mery merupakan kista jinak. Kista itu timbul karena siklus menstruasinya yang sempat kacau. Hal normal, karena pada saat itu Mery sudah meminum obat juga." Jelas Agriel lengkap.
"Kendati demikian Kista yang ada di dalam ovarium Nyonya Mery tidak sejinak yang anda laporkan. Data medis yang sudah memberi keterangan adanya kista di ovarium seharusnya segera di lakukan pengecekan rutin pada area panggul. Tapi, di lihat dari kasus Nyonya Mery sepertinya tidak ada pengecekan rutin."
"Kista yang ada di ovarium Nyonya Mery semakin besar, di dalamnya terdapat cairan. Yang jika cairan itu pecah membuat ovarium Nyonya Mery terpelintir sehingga membutuhkan penanganan khusus."
"Dan, kista yang terdapat di ovarium Nyonya Mery sudah sebesar itu, Tuan. Tindakan yang bisa kami sarankan adalah mengangkat salah satu ovarium Nyonya Mery." Desah dokter Isabella.
Agriel terbungkam mendengarnya. Ini sebuah kecerobohan terbesarnya. Terlalu menyepelekan kondisi kesehatan Mery, yang di kiranya tidak separah itu.
BERSAMBUNG....