ELEMERY

ELEMERY
MENATA HIDUP BARU



Hari mungkin terlalu cepat berlalu, sampai-sampai tidak terasa sudah hampir satu bulan Mery menjadi seorang pengangguran. Bukan ia tidak ada usaha, Mery sudah banyak melakukan lamaran kerja. Hasilnya sih memuaskan karena Mery juga sudah mempunyai pengalaman.


Masalahnya di sini, orang-orang di sana—perusahaan yang Mery lamar—kaget, dan takut posisinya di ambil karena melihat berkas Mery yang membuat geleng-geleng. Dari ijazah saja terlihat kalau Mery itu orang yang pandai. Lika-liku dunia mencari kerja memang sulit. Bodoh gak berguna, pintar takut menjadi saingan. Dunia memang kadang suka mempermainkan.


Hembusan napas lelah, demi apapun lelah. Mery jadi menyesal karena terlalu gegabah. Tapi rasa itu dia tepik sejauh harapan. Keputusannya sudah benar, tidak baik bekerja dengan di bawah naungan pria brengsek. Hanya di novel saja definisi berengsek bisa di sukai.


"Kamu Mery???" tanya sosok pria dengan setelan kantoran abu-abu.


Kepala Mery mendongak, menatap orang yang menyapanya itu. Lantas, pelototan tidak percaya Mery layangkan.


"HENDRA??" pekik Mery.


"Kamu masih kenal sama aku ya? Berarti gak glow up deh aku, gak ada panglingnya" canda Hendra, membenarkan kacamatanya.


"Minusnya nambah terus jadi kadang pusing. Izin duduk di samping kamu, boleh Mery?" izin Hendra.


"Duduk aja" jawab Mery mempersilakan.


"Di jaga, Hen. Jangan kebanyakan nonton anime kamu" celetuk Mery asal.


"Ya Allah, Mery. Bukan anime, tapi komik"


"Tahu ah!"


"Hahaha.. Lama gak ketemu. Sekalinya ketemu di pinggir jalan"


"Gimana kabar kamu? Udah punya anak berapa?" tanya Hendra, menatap Mery.


"Mulutnya di jaga pak!" dengus Mery kesal.


"Loh, salah ya?" ucap Hendra menutup mulutnya, merasa hal 'anak' adalah suatu yang sensitif, membuat Hendra mengalihkan pembicaraan, "kamu tambah cantik, Mery. Tadi aku tanya kabar loh, di jawab, gih"


"Makasih. Kabarku, kayaknya kurang baik deh" ucap Mery tersenyum masam.


"Sini cerita..." ucap Hendra, menatap Mery dengan senyuman cerahnya.


"Jadi pengangguran aku, Hen. Gak baik gimana, coba"


"Gimana kabar kamu? Udah nikah belum nih? Si lulus dengan nilai paling bagus, selamat." ujar Mery, karena dulu Mery belum sempat mengucapkan selamat pada Hendra.


"Alhamdulillah baik, Mery. Aku sih masih betah jomblo.. Tapi udah ada niatan ta'aruf. Aku gak mau pacaran, gak seru. Banyak dosannya, gak menyinggung siapapun ya, di ingat!. Di agama ku, pacaran emang gak di larang. Tapi, pacaran adalah jalan cepat mendekati zina. Zina adalah dosa yang di benci Allah. Makanya takut aku sama pacaran." Cerita Hendra.


"Doain ya, Mery. Rencanaku di mudahkan sama Allah." lanjut Hendra tersenyum senang. Apalagi saat mengingat wajah Absiyah—Iyah—gadis bercadar yang membuatnya tenang hanya dengan melihat perangainya.


"Pasti, Hen. Gerak cepat, biar gak di ambil orang"


"Tentu aja dong, Mery! Aku harus cepat!" ucapnya tiba-tiba saja menggebu semangat.


"Oh iya. Tadi kamu bilang, kamu lagi nganggur?" tanya Hendra mulai serius.


"Iya nih, Hen." jawab Mery, lesu.


"Tenang!! Jangan bersedih hati teman. Aku bakal bantuin kamu cari lowongan kerja. Tukeran nomor ponsel yuk, biar gampang aku hubungin kamu. Kalau mau curhat boleh kok, tapi cepat ya. Soalnya kalau udah nikah, tempat curhat hanya tersedia untuk teman pria. Hehehe.."


"Iya, Hendra. Astaga! Cerewetnya minta ampun." canda Mery. Inilah yang membuat Hendra sejak dulu banyak teman. Pria itu terlampau humoris dan baik. Tidak sungkan membantu, pula.


"Iya nih, Mery. Aku tambah cerewet. Gak papa lah ya" cengirnya.


Sesi tukar nomor ponsel pun terjadi.


"Ya udah, aku gak bisa lama. Soalnya rencana awal aku jalan ke arah sini mau luhuran. Info aja nih, aku kerja di perusahaan Exanta Group, pusat Bali. Dibagian direktur. Cuman ini lagi ada tugas, makanya ke Surabaya." jelas Hendra.


Dan, pria itu pamit pergi meninggalkan Mery seorang diri lagi.


"Exanta Group lagi?" lirih Mery, mengeluarkan napas gusar.


***


Tungkai besarnya melangkah dengan gagah. Bahu yang lebar, terselampirkan jas kerja biru tua licin. Tidak usah tanya berapa harganya, tentu saja dapat membuat jantung rakyat biasa meledak—hanya untuk ukuran kemeja. Wajahnya terlalu beringas kali ini, sampai-sampai membuat semua orang yang ada di sana menunduk hormat—lebih tepatnya takut.


"Tuan Exanta sudah membuat janji dengan Tuan Agus." ucap Ree dengan wajah datarnya.


Sebelum resepsionis itu menjawab, terlihat seorang pria paruh baya berlari dengan keringat mencucur deras dari kepala dengan sebagian rambut yang membotak.


"Selamat datang Tuan Exanta.. Mari ke ruangan saya" katanya menunduk, memberi hormat.


"Maafkan kami atas ketidak sopanan menyambut kedatangan anda" sambung Agus dengan nada cemas terselimut takut.


Tuan Exanta—Agriel—hanya tersenyum tipis membalas ucapan Agus. Sedangkan Ree, lebih paham, karena tuannya itu memang sulit di ajak bicara.


"Tidak masalah, Tuan Agus" ujar Ree.


Agus menghela napas lega. Untung saja!


Di ruangan kerja Agus,


Dekorasi ruangan itu apa adanya. Layaknya ruangan kantor lainya. Tidak ada sisi yang membuat berdecak kagum ataupun keelokan yang harus di tulis. Dengan kursi besi apa adanya, dan sofa yang hanya bisa di duduki dua orang itu, Agriel dan Ree memperistiratkan pantat mereka.


Agus sendiri duduk di kursi besi. Tiba-tiba saja suasana menjadi sedikit aneh. Tidak ada yang memulai percakapan, dan hanya diisi kekosongan.


Agriel berdeham, guna memecahkan suasana aneh itu. Mengisi kekosongan dengan pembicaraan dan tujuan awal kedatangannya.


"Jadi, Tuan Agus. Sesuai janji yang sudah kita buat jauh-jauh hari, tepat hari ini adalah hitungan dua minggu yang sudah di sepakati. Namun, ada sedikit permintaan kecil dari Tuan Exanta."


"Iya Tuan Ree... Saya tahu. Karyawan di kantor ini pun sudah saya beritahu. Mereka cukup terkejut, namun juga senang. Karena perusahaan Inderland ini akan menjadi bagian anak cabang dari Exanta Group yang menjajah semua perusahaan di dunia." senyuman senang tentu tidak bisa di hilangkan.


"Senang sekali kami mendengarnya..." ucap Ree tersenyum tipis.


"Mengenai permintaan kecil itu.. Apa yang harus saya lakukan?" tanya Agus.


"Hanya permintaan kecil.." sahut Ree cepat.


"Kami hanya ingin kantor ini di renovasi, dengan jangka waktu dua minggu. Dan, buka lowongan pekerjaan. Cari pekerja yang sudah berpengalaman, contohnya mantan karyawan Exanta group? Dan nilai ijazah serta kuliahnya predikat A, minimal. Usianya tidak boleh terlalu tua. Karena kami Exanta Group hanya mempekerjakan orang-orang yang sekiranya mampu dan bisa memajukan perusahaan." panjang lebar permintaan kecil itu.


"Baik tuan! Akan saya lakukan!" ucap Agus mantap. Di otaknya, sudah ada banyak rencana menyebar banyak surat edaran mencari pekerja.


"Kami pun sudah banyak memberi rencana kemakmuran cabang baru ini. Dengan cara menetapkan nama perusahaan ini dengan nama Ele's Group." lanjut Ree, dan di angguki Agus setuju.


Merubah nama perusahaan agar lebih terkinian adalah salah satu penunjang semakin terkenalnya perusahaan.


"Saya setuju.."


"Saya benar-benar di buat kagum dengan kinerja Exanta Group ini. Menjadi sebuah nikmat yang tiada tara Tuhan berikan pada saya. Menjadi bagian Exanta Group adalah mimpi perusahaan kecil seperti Inderland ini." Rasanya Agus ingin bersujud sekarang. Sungguh, ini adalah rezeki tidak terduga.


"Satu hal yang kurang, di awal" suara itu berasal dari Agriel.


Agus tiba saja menjadi takut. Apakah dia melakukan kesalahan? Suara biasa saja dari Agriel tidaklah biasa di gendang telinganya. Menyeramkan dan penuh kejutan.


"Jika ada pelamar yang bernama Elemery dengan CV yang sudah tidak di ragukan lagi, tempatkan di bagian keuangan." ucapnya, dan berdiri.


Belum Agus berucap, Ree sudah lebih dulu menyela. "Kami permisi, Pak Agus. Terimakasih atas kerjasamanya" jabatan tangan ala pengusaha pun tidak terelakkan.


Kedua pria muda itu lantas pergi meninggalkan Agus yang terkepoh-kepoh menyusul langkah lebar mereka.


"Elemery.. Elemery.." gumamnya mengingat nama itu. Takut lupa, dan jangan sampai lupa! Bisa mati dia! Maksudnya mati kekayaan.


"Terima kembali Tuan Exanta dan Tuan Ree.." ucap Agus semangat. Matanya terus mengekor mobil mewah itu, sampai persimpangan yang melenyapkan bayangan mobil.


Setelah kepergian Agriel dan Ree, sorak senang semua karyawan terdengar merdu. Anak cabang Exanta Group? Tentu saja gajinya tidak sekecil sekarang. Naik gaji. Naik tingkat. Naik apa lagi? Naik kepercayaan diri lah!


***


Mansion keluarga Exanta,


Langit sore pada hari ini terlihat mendung, dengan beberapa awan hitam mengerubungi. Nampaknya, hujan akan datang, menguyur wilayah itu. Tak elak pun suara gemuruh petir saling menyapa, dengan jangka waktu yang lumayan lama.


Mobil hitam mewah besar nampak memencet klakson. Suaranya yang memekik telinga para penjaga. Gerbang besar mewah berwarna hitam itu di buka secara perlahan. Membiarkan mobil itu masuk ke dalam pekarangan mansion yang luas. Memutari air mancur buatan dan berakhir, mobil teparkir di dalam parkiran 2 meter di bawah tanah.


Kakinya yang panjang, putih dengan hiasan gelang kaki itu terlihat menyembul dari dalam mobil. Melepaskan kacamata hitam yang bertengger apik di hidung yang terlampau mancung. Wajahnya terlihat lelah, dengan beberapa lebam samar yang menghias area dada dan bahu—sayangnya di tutup dengan baju panjang rajut sampai ke leher.


Celananya terlampau pendek, sampai paha putih ramping itu harus di pertontonkan.


Sapaan hangat dan tundukan sopan para bawahan berikan. Sedangkan wanita itu hanya diam, tidak merespons.


"Nyonya Anouk.." sapa Ree, datar.


Ya, wanita itu adalah Anouk.


Yang di sapa lagi-lagi diam. Jujur saja, suaranya pun ikut habis karena dua malam yang menguras energi.


"Tuan Agriel ingin bicara dengan anda.. Tapi sebelum itu, anda di suruh mandi sebersih mungkin sampai aroma percintaan yang melekat di tubuh anda menghilang." ucap Ree, menjalankan perintah.


Anouk tidak menggubris, karena yang saat ini dia butuhkan adalah tidur. Tidak peduli jika Agriel akan marah. Karena pria itu pun juga hanya akan menyiksanya—sama halnya dengan Desta.


"Jangan menimbulkan amarah, Nyonya. Karena tuan Agriel menampung anda di sini tidaklah gratis." Kata itu lantas membuat Anouk menoleh singkat.


"Ya kau tenang saja. Lubangku masih sanggup menahan siksaan para jelmaan iblis" ujarnya, di sambung dengan hujan deras menguyur kota itu.


Ree terkekeh pelan, amat pelan. "Jangan membuat sebuah salah sangka, Nyonya. Lubang mu longgar karena Tuan Desta. Dan, hanya pria itu saja yang memasuki mu... Atau ada yang lain? Coba introspeksi diri"


BERSAMBUNG...


Gak mau berbagi keseruan cerita Elemery bersama orang yang kamu sayang? 🙈 yuk bantu Nana memberitahu banyak orang tentang cerita Elemery ini!!