ELEMERY

ELEMERY
TERSELESAIKANNYA KESALAHAN PAHAMAN



Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Agriel terdiam, dengan tatapan yang tak lepas dari perut buncit Mery. Sedangkan Mery sibuk menutup hidung, karena dia merasa bau yang ada ruang tamu ini sangat tidak enak. Wick pun duduk diam, menatap dua insan yang tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


"Sampai kapan kalian hanya diam?" Tanya Wick memecahkan keheningan.


Dan keadaan pun sama. Tidak ada sepatah kata keluar dari mulut mereka. Wick sampai menghela napas kesal, berdiri dengan bantuan tongkatnya, pergi meninggalkan dua insan yang tengah membisu. Rupanya mereka akan cosplay menjadi patung.


"Aku tinggal. Bicarakan semua baik-baik."


"Jika kau ingin berbicara panjang, tolong ajak aku keluar dari tempat terkutuk ini. Baunya sangat menyengat sampai membuatku ingin mual." Agriel pun paham, dan menuntun Mery keluar dari ruang tamu tersebut.


Udara luar yang segar, membuat Mery menghirup napas banyak. Amat banyak sampai membuat ibu hamil itu terlihat rakus.


"Duduklah," ajak Agriel. Mereka duduk dibangku taman. Suasana yang segar ditambah jauh dari kekacauan kota membuat ketenangan itu kian nampak.


"Apa pembelaan mu, Agriel." Ucapan Mery nampaknya sebagai awal dimana Agriel akan mendongeng panjang kali lebar.


Seakan siap, Agriel berdiri tegap, dan bersiap bercerita. Kisah panjang penuh liku, di mana sampai mata Agriel berkaca-kaca. Dia berani bersujud di bawah kaki Mery asalkan istrinya itu mau memaafkannya dan kembali ke Indonesia. Dia tidak lagi sanggup menahan gejolak rindu.


Ditambah, kini Mery sudah berbadan dua. Ada calon penerusnya, yang kini tumbuh dan berkembang di rahim Mery. Agriel berjanji ini terakhir kalinya. Cukup sudah dia di tinggal pergi oleh Mery. Hancur lebur hatinya saat tidak ada sosok penunjang kehidupan raganya hilang.


Sedangkan si pendengar cerita hanya mengangguk. Jujur saja, Mery tidak menyalahkan siapapun di sini. Dia sudah tahu sejak awal, dia sudah paham sejak awal, situasi rumit ini memang ada sebelum keduanya berjanji di hadapan Tuhan. Namun, bukan itu inti permasalahan kedongkolan hati Mery. Melainkan, kejujuran Agriel padanya, kepercayaan Agriel padanya yang hanya sebutir debu.


Mery takut, suatu saat hal itu akan menjadi boomerang untuk kehidupan rumah tangganya. Tidak ingin hal buruk sampai terjadi pada pernikahannya. Bagi Mery, cukup menikah satu kali untuk seumur hidupnya.


Kediaman Mery membuat jantung Agriel berdetak ribuan kali lebih cepat. Buliran sebiji jagung sampai menetes dari pelipisnya. Untung mental Agriel bukan mental yupi, kalau mental yupi sudah kencing di celana saat ini juga Agriel. Benar kata orang-orang, kalau sudah menikah bos dari segala bos, ratu dari segala ratu adalah seorang istri.


"Mery, sayang... Aku minta maaf. Tidak akan aku ulangi lagi kesalahan ini. Sungguh!" Ucap Agriel tegas, tapi kepalanya menunduk.


Mery menghela napasnya, tidak tega juga. Ditambah sebenarnya dia sangatlah merindukan Agriel, terutama aroma tubuhnya serta pelukan hangatnya. "Aku tidak semarah itu pada persoalan Anouk, persoalan masa lampau keluarga. Aku tidaklah sekolot itu Agriel."


Mery mengubah cara duduknya, menatap mata Agriel. Sorot mata keduanya puh jatuh di masing-masing retina. Senyuman kecil Mery layangkan. Saat itu juga sinar matahari seolah bersinar kembali di hati Agriel. Agriel balas senyuman menawan itu. Kecil, namun mematikan.


"Bukankah sadari awal aku sudah mengucapkan bahwa aku hanya menginginkan satu dari mu, Tuan?"


"Ya aku tahu, maafkan aku."


Mery menggeleng kuat, "bukan lagi maaf, Tuan. Telingaku bosan mendengar kata maafmu itu."


"Nona manis, apa yang masih kau ragukan di dalam hatimu?"


"Kejujuran mu. Aku ragu dengan kejujuran dan rasa kepercayaan mu Tuan, lalu bagaimana?"


Agriel tersenyum, dia mencuri sebuah kecupan manis di bibir menggoda Mery. "Aku bodoh Nona. Tidak bisa memberimu bukti nyata. Tapi, kesetianku yang akan menjadi taruhannya."


"Sayang sekali. Aku membutuhkan bukti."


"Bukti itu sangat panjang. Kau harus berkorban."


"Apa yang perlu aku korbankan? Aku tidak mau rugi."


"Tidak, kau tidak akan rugi. Sama sekali tidak rugi." Yakin sekali ucapan Agriel. Mery tersenyum jahil, namun di satu sisi juga sangat penasaran.


"Coba kau sebutkan!"


"Kau harus hidup bersamaku selamanya. Sampaikan Tuhan sendiri yang memisahkan kita lewat sebuah kematian. Itu akan menjadi bukti yang akan kau saksikan. Bukti itu akan terus ada di setiap kau hidup. Bersediakah?"


Mery berpikir, dia mengangguk. "Tentu saja bersedia. Kau sudah menanam bibit mu di dalam tubuhku. Kalau aku tidak bersedia. Siapa yang akan menjadi petani di lahanku?"


"Ya kau benar sayang. Aku petani, dan kau pemilik lahan."


Hening sejenak, Agriel lantas menatap Mery kesal. "Kau kaya, aku miskin. Benar?"


Tawa Mery menggelegar, dia menepuk bahu Agriel pelan. "Ya. Dan bodohnya kau baru menyadarinya."


"Habislah kau nanti malam Mery!"


***


Terhitung sudah dua bulan setelah hari itu. Mery dan Agriel kini tengah menikmati masa-masa pernikahan mereka di kediaman Agriel. Perut Mery sudah buncit, karena bayi yang tengah dia kandung ada dua. Bobot tubuh Mery pun naik drastis.


Trisemester pertamanya sudah hampir selesai, dan nafsu makan Mery pun bertambah setiap harinya. Rasanya, yang ada di pikiran wanita itu hanyalah makanan dan makanan. Agriel malah senang, setiap harinya dia menanyakan kepada Mery apakah menginginkan sesuatu? Ingin makan apa hari ini? Begitu seterusnya.


Pipi Mery berubah menjadi chuby, mirip boneka beruang besar nan imut. Kadang kalau gemas Agriel akan mencubit pipi Mery, lalu menciumi setiap inci tubuh gemoy itu. Pinggul Mery juga kian lebar, membuat pantatnya kian seksi dengan tubuh semok dan perut buncit.


"Aku rindu Bella." Ucap Mery, mulutnya tidak berhenti mengunyah roll cake di depannya.


Tangannya meraih ponsel dan mencoba menghubungi Bella. Video call itu pun di angkat, menampilkan wajah Bella.


"Mama!!! Bagaimana kabar adik?" Tanya Bella dengan nada bersemangat.


"Mereka membuatku tambah berisi." Jawab Mery seadanya.


Di seberang sana Bella terkikik gemas. "Kau tambah imut, Ma! Jangan insecure!"


"Ayolah, aku tidak insecure. Hanya saja sedikit merindukan body goals ku."


"Itu sama saja. Setelah adik-adik ku lahir, aku yakin Mama akan meraih body goals Mama lagi."


Mery mengangguk, dan tersenyum. "Kamu berkembang dengan pesat di sana Bella." Lontaran kalimat Mery membuat Bella terkikik. Mery pun hanya dapat tersenyum, dari cara bicara Bella Mery tahu anak itu akan segera menginjak usia remaja awal. Mungkin saja sebentar lagi.


Pertanyaan itu muncul, apakah Neel bisa mengatasi remaja puber? Dia seorang laki-laki. Mery takut jika Bella tidak mendapatkan pendidikan yang hanya akan bisa di berikan oleh seorang ibu pada anak gadisnya.


"Ma?"


"Bella, berapa umurmu sekarang?" Tanya Mery lembut.


"Sebelas ingin dua belas tahun!" Jawab Bella.


"Jika pendidikan selepas ini kau tinggal di Indonesia bersama Mama dan Papa bagaimana? Hanya saat pendidikan menengah pertama. Untuk pendidikan kedepannya Mama janji akan menyerahkan keputusan itu hanya pada mu."


Bella terdiam, anak itu nampak menunduk dan enggan menatap Ibunya. "Bagaimana, sayang?"


"Aku tidak yakin."


"Bella..."


"Jujur padaku."


"Kau menyukai Neel?"


"A-aku... Ti-"


"Jujur padaku Bella. Deskripsikan apa yang telah kamu rasakan pada uncle Neel. Aku tidak akan memarahimu. Itu wajar bukan?" Tenang Mery.


"Baiklah. Aku sendiri tahu perasaan mu, Bella. Tapi ingatlah nasihatku. Jaga dirimu. Jaga kehormatan mu. Karena harga diri, mahkota seorang perempuan ada pada bagaimana dia mampu menjaga dirinya."


"Semoga kau paham, sayang."


***


Suasana di ruangan itu gelap, tanahnya lembab becek mengkilat saat sorot lampu yang sebagai penerang satu-satunya memantulkan cahaya. Udara di sana begitu pengap, tidak ada ventilasi yang cukup untuk oksigen masuk ke dalamnya. Sunyi dan sepi, dua perpaduan paling mematikan untuk menguncang jiwa seseorang.


Di balik jeruji besi yang tebal kokoh, dengan jarak besi satu dengan besi lainya hanya dua centimeter. Sangat sempit, bahkan untuk mengintip saja terlihat remang-remang.


Sreettt


Blummm


Pintu besar, dengan ketinggian hampir 4 Meter itu terbuka kasar. Menampilkan sosok tua yang jalannya saja menggunakan tongkat sebagai penopang. Tatapan sinis dan tajam, siap menghunus siapa saja yang berani mencari masalah dengannya. Jubah hitam dengan gambar kepala singa dengan bordir emas putih. Di belakangnya nampak seorang pria yang sama tuanya, dengan rambut panjang sengaja dia kucir, pria tua itu juga mengenakan jubah hitam, yang menjadi pembeda di belakang jubah itu ada gambar ular besar yang tengah melilit sebuah bunga.


Mereka duduk dengan tenang, sangat amat tenang. Tidak ada percakapan. Dan kesunyian itu mampu membuat siapa saja merinding di buatnya.


Tidak lama, pintu kembali terbuka. Pria dengan pakaian serba hitam dan jubah kebanggaan nya. Jubah dengan hiasan penuh mawar merah menyala. Hitam legam tercampur merah membara. Bekas darah sengaja tidak dia hilangkan. Bau jubah itu khas, bau anyir yang menguar, busuk serta classic secara bersamaan.


Tiga pria berkuasa itu duduk, mereka masih enggan bicara. Karena masih ada satu orang yang mereka tunggu. Di dalam hati mereka meramalkan banyak janji, bawasanya hari ini adalah akhir dari semua drama dan pergelutan mereka. Sebuah titik terang akan segera muncul. Sebab, saat ini sudah tiba.


Pria itu akhirnya datang, dengan setelan baju hitam licin, dengan topi coboy yang menutupi kepalanya. Tubuhnya pun sama, di balut sebuah jubah jeans hitam berbahan berat, dengan ukiran tulip putih. Bunga tulip itu terukir dengan emas murni. Jubahnya licin, saat terkena lampu pun akan mengkilat.


Klan Singa putih, Klan Black Rose, Klan Marine surine dan Klan Tulip putih. Mereka saling berhubungan, mereka saling mengetahui. Dan, mereka bersembunyi hanya untuk bersenang-senang. Menangkap ikan asin tidak tahu diri.


Tepat di sana terdapat Nandhaya dari Klan singa putih, pemilik Brahtara Group. Desta dari Klan Black Rose, pemilik kartel narkoba terbesar di dunia buronan FBI, penjahat tingkat Internasional. Darel dari klan Marine surine, adik kandung Nandhaya yang keberadaannya di anggap mati, dia adalah pemilik Obrama Group dan pembuat senjata api ilegal. Terakhir Agriel dari klan Tulip putih, sebuah klan yang tersembunyi, jarang ada orang yang mengetahui nya, tercela, dan pandai membuat drama, pemilik Exanta Group dan Erial Group, pembisnis handal yang mampu membuat lawannya mati jika tidak sesuai harapannya.


"Cepat, aku tidak suka membuang waktu. Akhiri drama kalian." Ucap Darel, malas.


"Basta sudah mati." Umum oleh Nandhaya.


"Ya itu bagus. Pengecut di antara kita sudah tewas." Darel pun berdiri hendak meninggalkan ruangan itu.


"Darel, duduklah dulu. Di sini ada yang mau berbicara perihal penting."


"Klan kita sangat banyak, aku ingin empat klan di rubah menjadi tiga klan." Ucap Nandhaya sebagai tetua.


"Apa maksudmu? Tentu saja Marine surine akan tetap berdiri sendiri. Kau gila mencampur adukkan masalah persenjataan internasional dengan mereka-mereka?"


"Jumlah kita terlalu banyak. Salah satu harus membentuk kelompok dan menyusutkan nama. Ini terlalu berbahaya. Jika saja bisnis kalian sama seperti Aku dan Agriel, aku akan tenang. Tapi bisnis kalian sungguh di luar nalar. Empat trah ini bisa hancur nama baiknya."


"Kau dan Agriel? Si pemain teater terbaik?" Tanya Darel tersenyum.


"Dan... Kau saja yang bicara Desta. Sepertinya permasalahan ini hanyalah ingin menutupi rencanamu." Lanjut Darel.


"Black Rose akan bubar." Celetuk Desta cepat. Dan, mereka semua mengangguk.


"Ayolah, Desta. Kartel mu sudah ada di mana-mana. Jangan sia-sia keberhasilan mu itu." Bujuk Darel, karena selama ini pun keberadaan Black Rose sangat berguna melindungi kejahatan Marine surine.


"Darel, aku sudah memikirkan ini sejak awal. Sudah ada Donan di dunia ini. Dia harus bekerja dengan pekerjaan yang bersih. Black Rose akan ku bubarkan. Akan ku turunkan mimbar bendera mawar hitam itu. Peroperasian setiap kartelku akan aku hentikan. Aku ingin pergi jauh dari sini, memulai hidup bebas pergi dari kekacauan dunia." Desta melepaskan jubah itu. Melipatnya dan menyimpannya rapi di sebuah kotak besar.


"Aku titipkan jubah kesayanganku ini, Agriel."


"Lalu bagaimana dengan Kartel mu yang sudah—"


"Ku serahkan pada sang tetua sebenarnya." Potong Desta cepat.


"Tapi Desta! Black Rose sudah ada sejak dulu. Namamu sudah terkenal seatero dunia. Kesuksesan mu tinggal sejengkal, jangan sia-siakan ini. Ayolah—"


"Ck! Membutuhkan tameng." Desis Agriel.


"Kalau ada yang bisa jadi pelindung, kenapa tidak?" Jawab Darel santai.


"Darel, sudah! Hormati keputusan Desta." Nandhaya mengangguk seakan menyerahkan semua keputusan itu hanya pada Desta.


Darel menatap kesal pada Nandhaya. "Apa kau melotot-melotot. Menikahlah sana! Daripada hanya bermain dengan lelehan besi panas."


"Ck! Aku tidak akan menikah. Aku juga sudah membuat kesepakatan dengan Agriel, bahwa Marine surine akan aku wariskan pada anak Agriel kelak. Santai saja."


"Terserah kau idiot!" Geram Nandhaya.


"Bagaimana dengan kondisi Mery?" Tanya Nandhaya.


"Dia bertambah manis dan imut." Bayang Agriel, langsung saja pria itu bangkit meninggalkan sang kakek dan sang kakek kecilnya.


"Menyebut nama Mery membuatku merindukannya. Aku pamit para cecenguk." Salam hangat dari Agriel.


"Durhaka dan durjana kau!" Umpat Darel.


"Singa putih, Marine surine dan Tulip putih. Dan yang waras hanyalah Singa putih dan tulip putih."


"Begini-begini aku lah yang paling kaya dari kalian semua! Ck! Menyebalkan! Bukankah lebih baik aku membuat senjata dan menyetorkan ke pemesan daripada duduk bersamamu. Tidak ada untungnya! Malah buntung!"


"Kurang ajar!"


"Kabari aku jika kau sudah mati saja. Aku sibuk!"


"DAREL GEORGIO OBRAMAEH!!!!!! KU KUTUK KAU MENIKAH PUTRI DUYUNG!"


***


"Ini kunci semua kartelku. Semuanya sudah aku balikan atas namamu."


"Kau seyakin itu? Menjadi petani hanyalah membuatmu menjadi miskin. Kau yakin bisa hidup miskin?" Ulang Agriel membicarakan realita.


Desta tertawa pelan, "sudah cukup kekayaan membuatku tidak berdaya."


"Sudah cukup semua untukku, Agriel. Black Rose sejak awal juga bagian dari Tulip putih bukan?" Tanya Desta.


"Jangan memulai Desta." Ancam Agriel, dia tidak suka banyak yang tahu tentang dirinya. Cukup itu akan menjadi surprise untuk semua.


"Baiklah, baiklah." Desta angkat tangan, lalu melambai. Dia pergi dengan motor besar kesayangannya. Mungkin motor itu juga satu-satunya yang Desta miliki saat ini.


"Jaga anakku, Agriel. Didik dia dengan baik. Jika sudah berusia lima belas nanti aku akan kembali, untuk mengasuh anakku sendiri."


"Terserah kau. Semoga hidup mu semakmur padi yang kau tanam."


"Aku pastikan."


BERSAMBUNG.....