
Waktu itu ibarat langkah kehidupan, dia terus mengikuti atau bahkan sering mendahului. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepatnya, sampai-sampai membuat Agriel melupakan banyak hal tentang perumitan yang terjadi. Sore tadi, Basta datang dengan niatan ingin bertemu dengan Agriel. Wajah ayahnya itu terlihat berkali-kali lebih menawan sejak terakhir mereka bertemu. Mungkin, karena sekarang seorang Basta sudah berhasil mengukung dua perusahaan raksasa sekaligus.
Pertemuan mereka sangat singkat, karena apa yang di pertanyakan Basta sudah Agriel jawab dengan lugas.
"Ya, Anouk bersamaku. Dia istriku bukan? Seseorang yang telah anda jodohkan dengan saya." Jawab Agriel singkat dan berlalu dari sana. Langkahnya terhenti sesaat setelah Basta berucap.
"Kau bersama Mery, dan kau merekuh Anouk. Apa mau mu?" Tanya Basta jelas ada sebuah niat terselubung.
"Mau ku? Bukankah Anda tahu dengan amat jelas?"
"Jangan bermain di sebuah bara api Agriel!"
"Bukan aku. Tapi dirimu sendiri. Aku bukankah hanya budakmu?" Miris, dengan senyuman pahit Agriel menjawab itu semua.
"Pilihanmu ada dua. Mery atau Anouk?" Basta tidak ambil pusing dengan tingkah durhaka Agriel. Karena yang dia butuhkan ada bayi yang di kandung Anouk.
"Dan jawabannya tidak ada pada pilihanmu itu, Tuan."
"Apa mau mu?"
"Bayi Anouk." Jawab Agriel dengan senyuman sinis.
"Itu yang kau inginkan? Memberiku pilihan antara Anouk dan Mery? Jelas kau tahu aku akan memilih siapa. Tapi, dengan bayi itu."
"Di mana? Atau aku akan memberitahu Desta tentang keberadaan Anouk. Habis riwayat mu, Agriel!" Ancam Basta dengan nada tinggi.
Lagi, Agriel tersenyum dengan senyuman manis namun terselip rasa muak.
"Desta? Kartelnya sudah aku kepung. Saham obrama ada di tanganmu. Sebesar apapun kekuatan seseorang, akan kalah dengan kekuasaan uang." Decih Agriel berlalu, dan enggan menoleh pada ayahnya itu lagi.
Basta mengerang kesal. Jika seperti ini ceritanya, maka kekuasaan yang dia pegang sekarang hanyalah sekelebat meminjam. Karena itu semua akan turun pada cicit dari Nandhaya. Sejak dulu memang seperti itu. Hanya cicit dari penguasa tersebutlah yang akan menjadi penurun tahta. Tidak ada cucu ataupun anak, karena kepercayaan keluarga besar itu hanya ada pada cicit.
****
Setelah menjalani rawat jalan selama satu Minggu penuh, kondisi Mery sudah sangat baik. Dia sudah bisa beraktivitas seperti sedia kala, walaupun dengan minim pergerakan. Namun, anehnya bagi Mery adalah dia masih tidak diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Dan, setiap saatnya seorang suster akan datang ke rawat inapnya dengan membawa suntikan. Menyuntikan sesuatu ke area perut bawahnya. Terkadang pun dokter mengambil darahnya sedikit.
Kebingungan itu belum bisa dia pecahkan. Karena keanehan itu terlihat samar. Raut wajah ibunya maupun Agriel terlihat biasa. Tidak ada hal yang mereka sembunyikan. Tapi, kondisi itu kembali pada Mery. Karena beberapa saat dia mengalami sakit perut hebat saat menstruasi. Contohnya saja sekarang. Rasa mulas bercampur rasa nyeri yang tidak tertahan. Rasa sakit kali ini tidak seperti biasanya.
Sekuat tenaga Mery menahan, walaupun dengan wajah piasnya.
"Mery, Mom membawakanmu—" ucap Neanra terhenti, menatap Mery yang tengah kesakitan.
"Mery?" Tanya Neanra dengan wajah takutnya. Dia menghampiri Mery, dan menatap bola mata Mery dalam.
"Sakit mom. Perutku rasanya seperti di remas-remas dengan kuat."
"Bagian mana?" Tanya Neanra memastikan.
Serentak saat Mery menunjuk pada bagian bawah. Neanra diam, dengan mata berkaca-kaca, mencoba memberi semangat lewat tatapan matanya.
"Ada apa ini Mery." Gumam Neanra.
Mery menggeleng, "aku menstruasi, Mom. Biasanya tidak sesakit ini." Ungkap Mery, membuat Neanra mengangguk.
"Mom panggilkan dokter ya, kamu tunggu di sini." Dengan cepat Neanra keluar dari sana, jalan tergesa menemui dokter yang akan mengoperasi Mery dalam waktu satu Minggu ke depan.
"Sepertinya ovarium nona Mery yang sedang sakit itu juga meluruhkan sel telur. Akan tetapi karena kista yang kini tumbuh dengan ganas, membuat semua terhambat. Nona Mery hanya akan merasakan sakit di hari pertama. Jika sampai berlarut-larut, kami akan melakukan tindakan lanjut. Untuk saat ini, kami bisa membantunya dengan obat." Neanra mengangguk, dia berucap terima kasih pada dokter itu.
"Obatnya biar perawat yang akan menghantar. Tenangkan Nona Mery."
"Baik dokter. Kalau boleh saya tahu, bagaimana hasil lab tentang kesuburan ovarium sebelah anak saya?" Dengan berani Neanra menanyakan hal itu. Tentu saja dia sangat khawatir.
"Sore nanti sudah bisa di ambil, Nyonya."
"Terimakasih dokter sebelumnya, saya permisi."
"Ya sama-sama, silakan."
****
Mery kira yang akan datang adalah ibunya, namun sayang perkiraan Mery salah. Karena yang muncul di ambang pintu saat ini adalah seorang Agriel dengan senyuman yang terpantri di bibirnya.
"Sayang. Aku bawakan kamu buah-buahan. Mau aku kupaskan?" Tanya Agriel.
"Iya, Mery?" Tanya balik Agriel menoleh pada Merynya.
"Tolong duduk lah. Karena ada hal yang ingin aku tanyakan."
Agriel menghentikan gerakannya dalam membereskan buah-buahan yang tadi sempat dia beli. Berbalik dan duduk tepat di samping Mery.
"Iya, apa yang menganggu otak kecilmu Mery?"
"Banyak, sampai aku bingung memulainya dari mana." Kekeh Mery, hambar.
"Kau lagi-lagi menipu ku. Kau lagi-lagi tidak berkata jujur padaku." Lanjut Mery.
"Maksud mu apa Mery?"
"Aku sakit apa lagi Agriel?" Tanya balik Mery yang mampu membuat Agriel tersentak sesaat.
"Benar, sebaik-baiknya aku menyimpan ini semua. Pada waktu yang tepat kamu juga akan tahu sendiri. Mungkin, sudah saatnya aku jujur denganmu Mery."
"Sebelum itu. Aku minta maaf sebesar-besarnya. Bukan maksudku membohongi mu lagi. Aku hanya berusaha menjaga kondisi psikis mu." Lanjut Agriel.
"Kau menjaga atau semakin memperburuk? Karena dengan ketidakjujuran mu membuatku setiap kali berpikir yang tidak-tidak. Aku takut! Asal kau tahu, bodoh!" Gemetar bibir Mery mengucapkan hal itu. Mengungkap semua rasa takut yang senantiasa hinggap di dadanya.
"Mery... Kenapa kamu tidak cerita? Sungguh maafkan aku. Aku tidak tahu jika hal ini berdampak buruk untuk mu." Agriel nampak menyesal.
"Apa yang ingin kau dengar" tawar Agriel, menyentuh tangan Mery. Semoga saja, dengan cara ini mampu menenangkan hati Mery.
"Semua!! Tentang sakitku yang mengharuskan aku operasi sampai sakit baruku!" Sertak Mery dengan nada takut bercampur marah.
Helahan napas Agriel lantas terdengar, menatap Merynya dengan wajah teduh. "Apapun yang nanti kau dengar, tidak ada yang bisa mempengaruhi mu untuk bahagia."
"Kau ingat tragedi kebakaran gudang saat kau melakukan investigasi perusahaan?" Tanya Agriel.
Lucunya Mery mengangguk dengan patuh, sesekali tangannya menghapus air mata yang terus memberontak keluar. Hati Mery takut, takut dengan kenyataan yang kadang memang sangat menyakitkan.
"Kau jatuh saat tidak kuat lagi menghirup udara panas serta asap di sekitarmu. Saat itu bantuan belum datang, dan aku juga terlambat menerima berita buruk itu. Maafkan aku."
"Kau terjatuh yang membuat keretakan di tulang pinggulmu. Saat itu aku sudah curiga, namun dokter mengatakan bahwa itu hanya pergeseran tulang biasa, dan akan sembuh setelah melakukan perawatan dan meminum obat rutin. Banyak hal yang terjadi kala itu Mery. Hingga aksi kaburmu itu." Cerita Agriel.
"Sudah sembuh kan?" Tanya Mery, memegang balutan perban di pinggulnya.
Agriel tersenyum, "tentu saja sudah, sebentar lagi, dan kau akan segera menelusuri indahnya dunia bersamaku"
"Yang lain?" Tanya Mery.
Senyuman Agriel sedikit meredup, walau mati-matian Agriel menahan rasa sedih itu, tetap saja hal itu akan sulit ia sembunyikan dari Mery.
"Setiap wanita mempunyai rahim. Rahim yang berisikan dua ovarium, masing-masing ada di kanan dan kiri. Setiap ovarium mampu menghasilkan ovum yang kemudian di buahi sperma—jika ada—jika tidak, maka akan terjadi menstruasi yang kerap kali di rasakan wanita setiap bulannya. Sayang, kau tahu wanita punya dua ovarium." Jeda Agriel menatap wajah Mery yang nampak kebingungan dengan ucapan Agriel yang sedikit aneh itu.
"Iya, aku tahu." Ucap Mery.
"Salah satu ovarium mu tumbuh kista. Kista itu jahat, dia seakan ingin terus tumbuh di ovarium mu. Membuat produksi ovum terganggu. Memang terdengar tidak masalah. Tapi, kista yang ada di sini" tunjuk Agriel pada perut bawah Mery, "meminta untuk di keluarkan. Awalnya juga aku tidak setuju, karena takut hati wanitaku sakit. Aku berusaha menyembunyikan hal itu, tapi yang namanya bangkai pasti akan tercium baunya sekalipun ada di ribuan kilo meter. Dokter memberi saran terbaik untuk mengangkat satu ovarium mu Mery. Hanya satu, dan kau masih punya satu lagi. Jika tidak segera di lakukan penanganan takutnya kista itu akan membesar dan pecah. Membuat rahimmu terpelintir dan itu rasanya lebih berkali lipat sakitnya. Ku mohon, kau mengerti ya sayang?"
Mery terdiam, sulit baginya menerima itu semua. "Apa berarti aku akan menjadi mandul?" Tanya Mery menatap Agriel lamat.
"Hei! Siapa yang mengatakan hal kejam itu? Kau tidak akan menjadi mandul. Masih ada satu ovarium mu yang sangat sehat Mery. Bukan menjadi masalah jika satu saja di ambil. Ini demi kebaikan mu juga bukan?"
"AGRIEL!! kau tidak akan tahu bagaimana rasanya hatiku ini!! Sakit dan sulit di deskripsikan!! Ketakutan masa depan seakan menimpaku secara rombongan. Aku bingung dan harus aku beri ekspresi apa Agriel!" Keluh Mery, memegang kepalanya.
Dengan cepat Agriel meraib pundak Mery, memegangnya erat. Menyuruh Mery menatap matanya yang tajam namun terselip rasa cinta yang luar biasa besar.
"Dengarkan aku Mery!" Perintah Agriel.
"Sakit itu bukan kehendak siapa-siapa. Sakit adalah sebagian dari ujian yang Tuhan berikan kepada kita. Sakit itu hal lumrah dan wajar. Setiap manusia pasti akan merasakan sakit, akan merasakan sedih, bahagia, marah, kecewa dan segala macam perasaan lainya. Hanya saja, kadar Tuhan yang maha bijaksana tahu mana-mana hamba yang kuat menjalankan ujian hidup itu. Tuhan menitipkan kista di ovarium mu bukan berarti Tuhan sedang mengejek takdir masa depan itu Mery! Tuhan sedang menguji dirimu. Apa yang kau takutkan? Kehidupan mendatang? Bukankah kehidupan mendatang tetap akan menjadi misteri? Nikmati rasa sakit ini, dan berprogres menjadi manusia yang lebih baik lagi. Ini kesempatan emas yang Tuhan berikan Mery. Aku Agriel, sama sekali tidak memikirkan anak! Selama bersamamu, aku akan tetap hidup."
Penjelasan itu sedikit membuat Mery sadar akan banyak hal.
BERSAMBUNG....
Yakinlah bahwa cerita ini akan selesai✨ maaf ya lemot banget updatenya🙏