DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 76 Pemandangan Memilukan



Happy Reading


.


.


.


.


Besok harinya, Adira mulai bekerja, sementara suami dan putranya tinggal di rumah. Suaminya Ali memang tidak bekerja di perusahaan besar lagi, namun ia tetap menjalankan bisnis cadangannya yang tidak diketahui oleh Adira. Pria itu sedang duduk di atas sofa dengan tablet ditangannya. Ia sedang mengotak-atik layar tabletnya, dan menggeser layar tabletnya ke atas.


Ia sedang melihat hasil dari pemasukan bisnis yang dikelola oleh salah satu kaki tangannya, yang sangat ia percayai. Ia memiliki sebuah perusahan yang ia kembangkan di luar negeri, ketika menjalani bisnis di Downtown sebagai sekretaris perusahaan ternama, perusahaan miliknya ia atas namakan untuk Adira, sebab niat awalnya membangun perusahaan tersebut sebagai istrinya, itu adalah janjinya ketika boss besarnya mati ditangan sang musuh.


“Dad, aku sangat lapar… bisakah kita makan sekarang?” Seorang anak kecil menghampirinya dengan bibir mengerucut lucu, sambil tangannya mengelus perut kecilnya yang buncit. Ali tertawa kecil dan meletakan tablet di samping tempat duduknya, ia mengusap rambut putranya lalu berdiri.


“Baiklah, kebetulan daddy sudah sangat lapar, kamu ingin makan apa? Agar daddy bisa membuatkannya” Jawabnya membuat Noah bersorak riang. Sesaat Noah terdiam, tampak dirinya sedang berpikir, tangan kirinya memeluk perutnya, dan siku tangan kananya bersandar di atas punggung tangan kiri, dan telunjuknya mengetuk-ngetuk pipinya, seperti sedang berpikir keras.


“Emmm, ahah… bagaimana jika daddy membuat Spaghetti Bolognese? Lidahku sudah sangat merindukannya!” Serunya bersemangat. Ali mengangguk mengiyakan, menu yang diinginkan Noah bukanlah menu yang sulit dimasak, bahkan jika dibilang, itu adalah menu paling sederhana dibuat dan tidak memakan banyak waktu dalam pengerjaannya. Ali menggendong tubuh Noah hingga melayang ke udara, kemudian menurunkannya di atas kursi kayu yang cukup tinggi jangkauannya bagi Noah, yang masih pendek.


“Tunggu di sini, daddy akan menyiapkan Spaghetti Bolognese paling enak” Noah mengangguk dengan senyum lebar di bibirnya. Ia melihat punggung kekar Ali yang berjalan menuju kulkas. Noah bisa melihat dengan sangat jelas, menatap setiap pergerakan kecil yang dilakukan Ali. Sebab, dirinya berada di ruang yang sama. Meja makan berada di satu ruang dengan dapur, karena rumah yang ditempati mereka begitu sederhana dan minimalis, hingga tidak ada ruang untuk meja makan. Akan tetapi, penataan meja makan yang berada di dalam ruang dapur, cukup strategis, dan tidak membuat Adira kelelahan menata makanan, karena jarak yang dekat membuatnya mudah melakukan kegiatan masak sekaligus menata makanan di meja makan.


Sepuluh menit berlalu, Ali telah selesai merebus mi untuk membuat Spaghetti, tekstur minya tidak terlalu matang, juga tidak terlalu mentah, ia kemudian mencampurkannya dengan saus pasta yang terbuat dari daging pilihan dan tomat, hingga menciptakan rasa gurih. Tidak lupa juga ia menaburkannya dengan potongan kecil daun bawang, sebagai pelengkapnya, serta terlihat sangat menarik. Senyum terbit di bibirnya kala melihat dua piring berisi Spaghetti Bolognese, ala Italia itu.


“Selamat makan, sayang” Ali meletakan dua piring Spaghetti di atas meja makan, dan salah satu piring, ia sodorkan kepada Noah, anak laki-laki itu bertepuk tangan semangat, merasa gembira melihat makanan kesukaannya tersaji di depan matanya. Noah dan Ali menyuapi mi Spaghetti ke dalam mulut mereka, mata Noah seketika membola lalu melirik ke arah Ali. Pria dewasa itu menaikkan alisnya heran.


“What happens? (Ada apa?)” Tanyanya.


“Spaghetti buatan daddy sangat enak, bahkan melebihi masakan restoran terkenal… daddy sangat cocok jika menjadi chef” Jawabnya mengacungkan dua jari jempolnya. Ali hanya tertawa kecil menanggapi pujian putranya itu. Kedua pria beda usia itu kembali menyantap hidangan di depan mereka, tidak ada yang bersuara karena mereka benar-benar menikmati Spaghetti Bolognese tersebut.


Sementara itu, di tempat lain, di sebuah Cafe ternama, salah satu cabang dari Cafe Paradise Coffee yang terletak di pusat kota Downtown. Seorang gadis dengan seragam khusus, yaitu kemeja putih dengan tambahan vest kemeja berbahan hitam, memiliki saku di kedua sisi, kanan dan kiri. Terdapat dasi berbentuk pita yang bertengger di kerah kemeja putihnya. Serta bawahan rok berbahan hitam yang panjangnya di atas lutut, tidak lupa hells hitam, yang menjadi alas kedua kakinya. Semakin membuatnya terlihat tinggi. Untuk terlihat elegan, setiap pegawai wanita di Cafe tersebut diwajibkan agar rambutnya disanggul, jika mereka memiliki rambut yang panjang.


Dia adalah Adira, gadis itu sedang meracik minuman yang di pesan oleh salah satu pelanggan, yang memesan minuman Coctail, yaitu minuman campuran. Adira membuatnya dengan metode blending. Menu kali ini yang ia buat adalah Bluberry Gin dan Tonik, minuman gin yang diresapi Bluberry serta campuran dari air Tonik premium, dan ada tambahan dari perasan air jeruk nipis. Minuman klasik itu menjadi minuman di musim panas, sangat cocok dinikmati karena musim panas sedang berlangsung di kota tersebut.


Itu adalah minuman terakhir yang dibuat, karena waktu pulangnya tela tiba. Setelah usai meracik cocktail, ia berganti sift dengan salah satu rekan kerjanya, ia pergi ke ruang ganti dengan stylenya yang dulu, hanya saja celana jeans yang digunakannya mulus tanpa ada satupun yang sobek. Ia berpamitan kepada rekan-rekannya, selepas itu berjalan menuju parkiran motor yang dikhususkan kepada para pegawai Cafe, yang terletak di bawah tanah.


Seketika itu, Adira melajukan motornya, berkendara dengan kecepatan di atas rata-rata. Pikirannya menjadi kotor dan berburuk sangka, emosinya bahkan tidak terkendali, rasa marah serta takut menjadi satu. Tiba-tiba setitik cairan bening jatuh dari pelupuk matanya, Adira menangis tanpa sebab, air matanya mengalir tanpa henti, seakan sedang melihat pemandangan memilukan di depan matanya.


Tiba dirinya di sebuah rumah minimalis berwarna hijau, ia menghentikan motornya tepat di depan pekarangan rumahnya, dan melepas helmnya, ia melihat pintu rumahnya sedikit terbuka, terlihat kerutan dibagian dahinya. Seumur hidupnya ini kali pertama pintu rumahnya terbuka di sore hari, biasanya selalu tertutup. Ia lantas turun dari motor, dan bergegas berjalan menuju pintu.


Ia masuk, terdengar suara bunyi pintu terbuka lebar, yang disebabkan gesekan oleh tangannya. Kaki jenjangnya perlahan-lahan masuk, melihat ke sekeliling ruangan tengah, sangat sepi, seakan tidak ada kehidupan di dalamnya. Suami dan putranya tidak terlihat, ia semakin melangkahkan kakinya, sedetik kemudian dirinya terpaku pada noda merah di atas lantai. Cipratan merah terlukis suram di atas keramik putih, ia berjongkok dan menyentuhnya. Noda merah itu ia dekatkan ke hidungnya, baunya sangat amis.


“Ini darah. Apa yang terjadi?” Gumamnya, kemudian berdiri dan melanjutkan kembali langkahnya, hingga tiba dirinya di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, pemandangan memilukan, peristiwa yang sulit digambarkan oleh otaknya, kakinya gemetar hingga terduduk lesu, serta genangan air dimatanya akhirnya tumpah. Tangannya menekan dadanya kuat dan memukul-mukulnya seperti kesetanan.


“Apa ini? Ah-ah-ah, a-aku pasti mimpi… ini pasti mimpi” Gadis itu merangkak dengan tubuh tidak berdaya, melihat penampakan menyeramkan yang terjadi di ruang dapurnya. Seorang pria dewasa dan anak kecil terjatuh di atas lantai dengan genangan darah disekitar mereka.


“Si-siapa yang melakukannya? Katakan padaku?” Adira memangku kepala Ali yang sayup-sayup menatap ke arahnya.


“Uhuk-uhuk-uhuk” Ali terbatuk-batuk dan memuntahkan darah melalui mulutnya, pria itu sekalipun sedang terluka parah, ia tetap tersenyum ke arah Adira, mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja, namun kondisinya sangat mustahil menjelaskan bahwa ia dalam keadaan baik. Adira tidak sebodoh itu.


“Kalian bertahanlah, aku akan menelepon ambulans” Adira menekan tombol angka 911 dan tidak berselang lama, terdengar seseorang menjawab dibalik telepon.


“Halo, terjadi penyerangan di sebuah perumahan Montains Edge nomor 56 Blok C. Dua korban sedang kritis, mohon segera datangkan ambulans!” Serunya dengan napas memburu. Ia kemudian menutup sambungan telepon, dan melihat suaminya yang terkapar tidak berdaya.


“Berjan-jilah, ka-kamu ja-jangan… me-mbalas den-dam, uhuk-uhuk” Ujarnya memperingati istrinya, namun tatapan wanitanya mengisyaratkan sebuah kemarahan yang mendalam, kilatan amarah terlihat sangat jelas di matanya yang memancarkan permusuhan.


“Tidak! Jangan pernah melarangku! Dendam ini akan terus bersemayam dalam hatiku”


.


.


.


.


.


Bersambung