
Happy Reading
.
.
.
.
Seorang pria berlari keluar dari sebuah ruangan yang cukup mewah, terlihat wajahnya yang panik dan khawatir, ia yang dari lantai sepuluh, segera berlari menuju lift. dan memencet tombol lift dengan terburu-buru, bahkan orang-orang yang berada di lantai yang sama dengannya, hanya memandanginya dengan tatapan aneh, dan kembali acuh tak acuh pada pria tersebut. Setelah pintu lift terbuka, pria dengan setelan baju rajut itu segera masuk ke dalam dan memencet tombol angka satu. Tujuannya kali ini, adalah ke meja resepsionis, ia tampak seperti pria yang sedang kehilangan sesuatu, barang yang hilang seperti sesuatu yang berharga sampai membuatnya sepanik itu.
Kini, tibalah dia di lantai satu, dan segera menuju meja resepsionis, ada banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang di sana, sekalipun tempat tersebut merupakan Apartemen, namun itu seperti sebuah kasino, karena ada beberapa tempat yang menyediakan permainan judi seperti di Kasino.
“Apa kau tahu kemana perginya gadis yang berada di kamar nomor 105, kamar VIP?” tanyanya setelah tiba di meja resepsionis, kebetulan pria yang berjaga di situ baru saja kembali dari lantai tersebut belum lama ini.
“Dia belum lama keluar tuan, sebelumnya kamar pribadi tuan terkunci dan dia meminta akses cadangan untuk membuka pintu” jawabnya menundukkan kepala. Pria di depannya merupakan seseorang yang berinfestasi sebagian besar pada gedung pencakar langit yang menjadi tempat mata pencahariannya selama ini, selain berjudi di Kasino.
Pria itu adalah Luffi, wajahnya sudah tidak dapat dikondisikan lagi, ketika kembali dari Mansion, ia mencari Adira di mana-mana namun tidak ia temukan, ia sangat khawatir, sebab gadisnya masih belum sembuh terutama di bagian selangkangannya, yang terus gadisnya keluhkan. Ketika, meneleponnya, nomor Adira tidak aktif, dan ia melihat ponsel milik Adira tertinggal di atas nakas kamarnya, ia benar-benar emosi dan tidak mampu mengkondisikan amarahnya. Ia begitu mengkhawatirkan kesehatan gadisnya, takut jika terjadi sesuatu yang buruk dengan gadisnya itu. Setelah mendapat informasi dari resepsionis ia segera mengecek ruang CCTV, untuk memudahkan dirinya menemukan Adira.
Saat melihat CCTV, betapa terkejutnya saat melihat gadis dengan kemeja hitam miliknya sedang menaiki mobil sport milik pria yang sangat dikenalinya, kedua tangannya terkepal kuat, merasa geram pada pria yang mengajak Adira keluar. Matanya seketika melotot melihat baju Adira yang tampak seksi, baju yang dipakainya sangat pendek, sampai memperlihatkan paha dan betis putihnya yang jenjang.
Luffi memukul meja dan segera keluar dari ruangan CCTV. Ia kemudian berjalan menuju lobi Apartemen dan menaiki mobil bermerek, tanpa berlama-lama ia memacu gas mobil dan mengakibatkan mobilnya bergerak meninggalkan halaman Apartemen yang begitu tinggi. Luffi tidak lupa menghubungi sekretaris Han untuk menyelidiki tempat Arsenio berada, sebab dengan mengetahui titik keberadaan pria itu, Luffi bisa tahu di mana Adira berada.
“Arsenio! kau sungguh ingin merasakan kematianmu sekarang, hmmmm!” gumamnya menggertakan gigi dan mencengkeram kuat setir mobilnya. Ia sangat muak dengan pria yang selalu mendekati gadisnya, rasa cemburunya menggerogoti relung jiwanya, ia sangat sensitif pada Arsenio, yang terlihat muda darinya, merasa takut jika Adira tidak lagi menyukainya sebab perbandingan umurnya yang lumayan tua, walaupun masih berusia 39 tahun, namun baru kali ini merasakan perasaan cemburu pada seseorang setelah sekian lama purnama menjomblo. Itulah sebabnya ia benar-benar tidak menyukai kehadiran Arsenio di sisi Adira, dan ia menyesali tindakannya yang impulsif, yang membiarkan Adira bersama Arsenio ketika di rumah sakit.
Ingin sekali dirinya mengembalikan waktu hari itu, untuk tidak mempertemukan Arsenio dengan Adira, hingga dirinya tidak perlu ketar-ketir seperti saat ini. Memiliki hubungan dengan seseorang yang cukup muda darinya, memang cukup membuat hati merasa takut, itulah sebabnya ketika Adira mengungkap perasaanya pada Luffi, pria itu tidak meladeninya sekalipun terbersit rasa untuk memilikinya. Namun, kembali lagi pada usia yang terpaut jauh, membuatnya menepis jauh-jauh perasaan yang muncul. Akan tetapi karena kegigihan Adira membuatnya luluh untuk mencoba menjalin hubungan, hingga dirinya terjebak pada asmara dengan gadis muda yang pernah dirawatnya dulu.
Kini dirinya seperti remaja pada umumnya, yang begitu posesif pada gadisnya, dan sangat tidak menyukai pria lain mendekati gadisnya, kini ia merasakan seperti apa cemburu itu, perasaan yang menggebu-gebu ketika berada pada sosok yang telah menjadi tuan hatinya. Perasaan, takut kehilangan ketika cinta benar-benar telah mendarah daging, sampai sulit baginya membiarkan gadisnya berkeliaran di luar dan menjadi incaran setiap mata manusia.
Ketika mendapati pesan dari sekretaris Han terkait lokasi Arsenio, Luffi segera menginjak pedal gas hingga melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia ingin tahu apa yang sedang dilakukan Arsenio pada Adira hingga membawa gadisnya begitu jauh dari lokasi Apartemen dan sangat asing bagi Adira, sebab gadis itu jarak sekali keluar.
Kini, tibalah dia di sebuah bangunan yang cukup luas dan besar, memiliki tiga tingkat dengan kolam renang berada di samping bangunan tersebut. Luffi segera turun dari dalam mobilnya, dan melihat papan nama berukuran besar yang tergantung di tengah-tengah pintu masuk. Nama itu bertuliskan Cafe Shop.
Dari luar, ia mendengar begitu kerasa sorakan menggema dari dalam ruangan tersebut, dahinya berkerut heran dengan apa yang terjadi di dalam. Kaki jenjangnya terus melangkah masuk ke dalam, menapaki setiap lantai yang menjadi pijakannya saat ini. Matanya seketika membulat sempurna kala melihat seorang pria yang sedang berjongkok di hadapan seorang gadis yang begitu familiar di matanya. Kedua tangannya terkepal kuat yang memperlihatkan benjolan urat-urat di permukaan kulit tangannya. Giginya berbunyi akibat gesekan kuat antara gigi bagian bawah dan atas, ketika mendengar pernyataan cinta Arsenio, serta ajakan pacaran membuat kupingnya memanas.
“A-aku, se-sebenarnya, ah….” Melihat Adira yang hendak menjawab, ia takut jika gadis itu menerima ajakan Arsenio, ia tanpa ragu memanggil nama gadisnya dengan suara lantang.
“Adira!”
“Apa yang tuan lakukan? berengsek!” teriak Arsenio dengan perasaan campur aduk. Ia menarik baju Luffi dan mendorongnya kasar, hampir membuat Luffi tersungkur jatuh ke lantai, untung saja dengan sigap ia menyeimbangkan tubuhnya.dan membuatnya tetap berdiri stabil.
“Berengsek! Apa kau ingin melecehkannya?!” teriak Arsenio dengan mata membunuh, ia mendekati Luffi yang menatapnya dengan tatapan datar. Arsenio yang hilang kendali pun memberikan bogeman mentah di pipi Luffi. Terlihat sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar. Adira yang melihatnya sangat terkejut, ia ingin melerainya namun hantaman Luffi kepada Arsenio membuat pria itu langsung terbanting di atas lantai. Perkelahian pun terjadi, semua yang berada di sana menjauh, namun masih melihat adegan baku hantam itu.
“Apa hakmu memukulku? Apa kau sudah bosan hidup?” tutur Luffi menarik kerah baju Arsenio, pria itu meludahinya dengan smirk licik.
“Kau adalah pria buruk yang pernah kutemui, pria yang mengaku ayah, beraninya kau mencium bibir anakmu sendiri!”
BUGH
BUGH
BUGH
“Daddy hentikan!” teriak Adira histeris kala melihat Luffi membabi buta menghajar Arsenio, tiba-tiba dari arah luar seorang pria masuk dengan tatapan dingin. Pria itu melihat ke arah Adira dan mendorongnya kuat, kemudian pergi menuju Luffi dan Arsenio berada.
“Aww, sakit sekali!” ringisnya kesakitan. Pandangannya tertuju pada pria dengan setelan jas formal kantoran.
"Kenapa, rasanya paman Han sangat membenciku?" batinnya sedih.
“Maafkan saya tuan, saya harus menghentikan tuan, jika tidak, tuan akan membunuh adik saya!”
.
.
.
.
.
.
Bersambung