DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 65 Kabar Buruk?



Happy Reading 🤗


.


.


.


.


Setengah jam di dalam ruangan UDG, kini seorang dokter wanita yang menangani luka Adira, keluar. Sontak, pria yang duduk di kursi tunggu berdiri dan berjalan menghampiri dokter, dengan wajah penuh khawatir.


“Bagaimana keadaannya dok?” Tanyanya dengan nada cemas. Dokter wanita itu tersenyum tipis lalu menjawab “Pasien baik-baik saja, dia sudah boleh pulang hari ini… oh iya, ada satu hal yang perlu saya katakan, sebenarnya saya tidak terlalu yakin tentang ini, tetapi tuan harus membawa pasien ke dokter kandungan, untuk pengecekan lebih lanjut, pasien hamil dan usianya kira-kira sekitar dua minggu”


“A-apa? Hamil?!” Raut wajah Luffi tidak bisa dikondisikan, terlihat sangat kacau dan tidak menyenangkan, sementara dokter yang berdiri di hadapan Luffi, menelan ludahnya kasar, ia menjadi canggung. Ia pikir bahwa berita yang akan disampaikannya adalah sesuatu yang menggembirakan.


“Dia hamil? Benar-benar merepotkan” Batinnya mengepalkan tangannya kuat. Luffi melihat dokter dengan tatapan dingin, lalu beralih melihat ke arah pintu, seakan memastikan tidak akan ada yang melihat ataupun mendengar percakapan mereka.


“Makanan atau obat apa yang bisa menggugurkan janin?” Luffi bertanya dengan raut wajah datar dan penuh intimidasi. Dokter yang tidak dapat berkutik, hanya bisa pasrah, sebab pria di depannya sangat mendominasi, akan sangat merepotkan jika berurusan dengan orang seperti dia.


“Makanan pedas, atau minuman alkohol. Jika tuan memberikan alkohol kepada wanita hamil, bahkan dengan jumlah sedikit saja, itu bisa menggugurkan janin dengan cepat” Jawabnya, dan Luffi tersenyum simpul nyaris tak terlihat. Pria itu mengangguk mengerti dan segera mengeluarkan beberapa lembar dolar dari dompetnya. “Ini tip untuk dokter, rahasiakan ini kepada siapapun, termasuk pasien”


“Baik tuan, saya janji tidak akan membocorkan rahasia ini, bahkan jika nyawa taruhannya.” Dokter wanita itu segera meninggalkan Luffi dengan segepok uang atas informasi yang diberikannya. Tidak tahu saja dari tadi seseorang menguping pembicaraan keduanya, dia adalah Adira. Gadis itu menutup mulutnya dengan perasaan bercampur aduk. Kecewa, sakit hati menjadi satu, ia merasa dipermainkan, dan dikhianati oleh pria yang sangat dipercayainya. Ia tidak pernah berpikir bahwa, akan ada hari di mana kenyataan menyadarkan dirinya, ia hanyalah seorang tahanan juga permainan oleh Luffi, benar-benar bodoh dirinya menganggap perhatian dari pria itu adalah cinta.


Adira menguatkan hatinya, menahan diri untuk tidak menangis, menarik napasnya panjang menetralkan rasa pilu di hati, ketika mengetahui fakta yang menyakitkan. Karena sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, Adira langsung keluar dan tidak sengaja mendengar percakapan yang menyesakkan. Tiba-tiba pintu terbuka, orang pertama yang dirinya lihat adalah Luffi, ia melempar senyum tipis, seperti biasanya menunjukan perasaan cinta kepada pria itu, jujur saja ia berharap hari ini adalah sebuah mimpi, karena biar bagaimanpun, ia masih sangat mencintai pria di depannya. Luffi membalas senyuman Adira, ia memapah tubuh Adira untuk keluar dari UGD, lalu menuntunnya untuk duduk di kursi tunggu.


“Kamu tunggu di sini ya sayang, aku harus menyelesaikan administrasi sebentar” Tuturnya penuh kelembutan, andai Adira tidak mendengar percakapan Luffi dengan dokter tadi, ia pasti masih menganggap bahwa pria di sampingnya adalah sosok malaikat, yang akan menjadikan dirinya sebagai putri raja, yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.


“Iya, aku akan menunggumu di sini” jawabnya tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Luffi lalu berjalan menuju sebuah koridor, di mana meja resepsionis berada, Adira memejamkan matanya sejenak, mengingat kembali kalimat Luffi yang dilontarkan kepada dokter.


“Hahaha, lucu sekali aku ini… kenapa aku bisa melupakan bahwa dia adalah musuh daddyku? Kenapa aku bisa mencintainya, bahkan sampai mengandung benihnya? Dia adalah binatang buas, kenapa aku harus mengharapkan kasih darinya, jelas-jelas orang seperti dia tidak akan pernah berubah, hanya demi seorang wanita” bisiknya dalam hati, dengan mata berkaca-kaca. Adira melihat perutnya yang sangat rata, mengelusnya pelan dan penuh kasih.


“Kenapa saat sudah tahu pun, aku masih mencintainya. Kenapa aku begitu gila mencintainya? Apa yang harus kulakukan agar dia tidak membunuh anakku?” Monolognya sedih. Ada ketakutan yang sangat besar dihatinya, di satu sisi ia masih mencintai Luffi, dan ingin bersama dengan pria itu, namun di sisi lain, ia takut jika sewaktu-waktu pria itu membunuh bayinya. Merasa dilema akan situasinya sekarang, antara mengorbankan perasaannya yang selama bertahun-tahun, dipendam atau janin dalam perutnya, memikirkannya semakin membuatnya merasa lelah.


“Are you okay?” Adira terkejut ketika Luffi sudah di sampingnya, ia tidak menyadari kedatangan pria itu, begitu sibuk dengan pikirannya sampai tidak menyadari kehadiran dari pria yang membuatnya gila. Adira mengangguk sebagai jawaban dan tersenyum tipis ke arah Luffi.


“I’m Okay”


“Ya sudah, ayo kita pulang… kata dokter kamu harus banyak-banyak istirahat, agar luka kamu cepat sembuh” jelasnya, dan Adira hanya berdehem sebagai jawaban. Keduanya pun keluar dari rumah sakit, berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir di depan rumah sakit, rupanya itu adalah mobil yang dikendarai oleh anak buah Luffi dari Mansion, untuk menjemput mereka.


Terlihat seorang pria kekar membuka pintu mobil untuk tuan dan nona mudanya masuk, setelah itu ia naik dan duduk di kursi kemudi, menyalakan mesin mobil dan perlahan-lahan bergerak meninggalkan halaman depan rumah sakit. Luffi melirik Adira di sampingnya, wajahnya tampak pucat, dan terus diam, membuatnya berkerut heran.


“Sayang, kamu ingin makan apa? Dari tadi kamu belum makan, aku khawatir kamu akan sakit jika menahan lapar” Adira melihat Luffi, ia menggeleng pelan, dan kembali memalingkan wajahnya melihat ke luar jendela. Ia tidak memiliki tenaga untuk melihat wajah Luffi, atau pun berbicara dengannya. Rasanya, ia perlu mengumpulkan sebanyak mungkin tenaga untuk menghadapi pria bermuka dua itu.


“Sayang, kamu kenapa? Apa kamu serius tidak apa-apa? Aku mencemaskanmu” Luffi menyentuh tangan Adira, menautkan setiap jari-jarinya hingga keduanya saling menyatu, gadis itu kembali menatap wajah Luffi, tangan sebelahnya terulur dan mengelusnya lembut, lalu tersenyum lebar. “Aku baik-baik saja sayang, aku hanya ingin tidur”


“Baiklah, kamu tidurlah dulu sayang… perjalanan menuju Mansion lumayan jauh” Adira mengangguk, dan langsung memejamkan matanya, tiba-tiba ia merasakan ada sebuah tangan yang menarik pelan kepalanya hingga bersandar pada sebuah benda yang lumayan nyaman, serta pelukan yang membuatnya semakin hangat. Tanpa sadar bibirnya tersenyum, dan ada rasa bahagia merasakan perhatian Luffi padanya, sekalipun itu hanyalah tipuan. Biarkanlah dirinya menikmati kehangatan dari pria itu, sebelum dirinya benar-benar merasakan kenyataan pahit yang sesungguhnya.


“Aku akan berpura-pura tidak tahu, dan biarkan aku menikmati kepedulian dan cintanya padaku, setidaknya agar bayi dalam perutku bisa merasakan kehangatan dari sosok daddynya.” Tuturnya dalam benaknya. Ia merasa nyaman dua kali lipat ketika menyandar pada dada bidang Luffi, dibanding kursi busa di mobil itu. Mungkin, ini adalah cinta yang dimaksud, akan merasa nyaman apapun keadaannya jika bersama dengan orang yang dicintai.


.


.


.


.


.


Bersambung