DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 45 Mabuk Berat



Happy Reading


.


.


.


.


Seorang pelayan pria masuk ke dalam ruangan VIP tempat Adira dan Arsenio berada, ditangannya terdapat sebuah nampan berwarna silver yang berisi 3 buah botol, dan dua gelas berukuran panjang ke atas dan ramping di bagian bawah yang berfungsi sebagai gagang. Adira bertepuk tangan pelan, ketika melihat tiga botol alkohol tersebut, ia melebarkan senyumnya kala pelayan pria meletakan tiga gelas di atas meja kaca yang berbentuk persegi panjang, dan dua gelas di sampingnya.


“Selamat menikmati, tuan dan nona” setelah mengucapkan kalimat tersebut, pria dengan setelan kemeja putih dan bawahan jeans lantas undur diri. Tampak ceria di wajah Adira, berbeda halnya dengan Arsenio, pria itu malah menatap tajam Adira, namun gadis itu malah acuh tak acuh padanya, dan meraih gelas dengan merek Vodka.


“Hentikan!” seru Arsenio membuat Adira menghentikan niatnya, ia melihat ke arah Arsenio dengan ekspresi wajah penuh tanya, mengerutkan alisnya tinggi saat menyadari wajah masam dari pria yang duduk di sampingnya.


“Ada apa?” tanyanya heran.


“Kamu gila yah! Kenapa kamu pesan minuman alkohol dengan kadar tinggi? kamu tahu, Vodka, Wishkey memiliki kadar alkohol di atas empat puluh persen, apa kamu ingin mati?” ujar Arsenio dengan nada marah. Ia marah sebab Adira adalah putri tuannya, dan tuannya sangat menyayanginya, jika sampai ia ketahuan membawa Adira ke tempat hiburan, ia tidak tahu akan seperti apa nasibnya nanti, dan bukan itu saja, ia akan sangat mengkhawatirkan kondisi Adira yang masih pemula.


“Ssstttt, tenang saja, aku akan minum sedikit… lagipula ada kamu di sini, kalaupun aku mabuk kamu yang akan merawatku” jawabnya sembari mengedipkan sebelah matanya mengggoda Arsenio. Pria itu yang mendengar jawaban Adira menepuk pelan jidatnya, ia menghela napas kasar, merasa frustrasi dengan kelakukan Adira yang diluar nalar. Mau tidak mau ia harus menuruti permintaan Adira, melihat setiap pergerakan Adira saat menuangkan Vodka ke dalam gelas tinggi itu.


“Ini, ayo bersulang” Arsenio menatap gelas berisi minuman alkohol yang disodorkan Adira padanya, ia menatap wajah gadis cantik di sampingnya, melihat kebahagiaan di mata bulat itu, membuatnya menurunkan kewaspadaannya, ia lalu meraih gelas di depannya. Dua jari kelingking dan jari manis melingkar pada bagian ramping gelas, sementara jari-jari lainnya menempel pada bagian yang menyimpan minuman tersebut.


“Cheers! (Bersulang!)” keduanya mengangkat gelas di tangannya dan menempelkan dua sisi gelas milik masing-masing sembari tertawa kecil. Ketika minuman bening itu masuk ke mulut Adira, gadis itu membulatkan bola matanya terkejut, rasanya begitu sesuai dilidahnya, ia kembali menenggak minuman di gelasnya lagi dan lagi, ada rasa manis di lidahnya ia begitu menyukainya.


“Ahh, enak sekali, jika tahu begini rasanya, aku akan menjadikannya sebagai minuman sehari-hari”


TUK


“Awww, sakit tahu!” Adira meletakan gelasnya di atas meja, dan mengelus dahinya yang kesakitan akibat dijitak oleh Arsenio. Pria itu memelototinya dengan gerakan tangan sembelih di leher. Adira memonyongkan bibirnya menatap kesal pria itu sebab begitu sulit untuk di ajak bercanda. Lagipula ia tidak akan melakukan hal gila sampai meminum alkohol setiap hari, minuman keras dapat merusak tubuh, ia sangat mengetahuinya dengan jelas namun, perkataannya malah di kira serius oleh Arsenio.


“Aku hanya bercanda” cicitnya memutar bola matanya malas. Ia kemudian menuangkan minuman alkohol di dalam gelasnya dan kembali menenggaknya hingga kandas. Arsenio menatap tanpa ekspresi, ia menggeleng pelan melihat kemampuan Adira yang terlihat seperti senior darinya, sebab sudah tiga gelas penuh menghabiskan Vodka, namun belum membuatnya mabuk padahal tingkat kadar alkohol di dalam minuman bening itu adalah empat puluh persen, itu termasuk tingkat alkohol yang tinggi.


“Apa kau tidak merasa mabuk?” tanyanya, meneguk sedikit Vodka, Adira menggeleng sebagai jawaban, dan terus meneguk habis minuman di dalam gelasnya. Sementara itu, Arsenio merasa kepalanya mulai pusing, padahal dirinya baru menghabiskan dua gelas. Namun, ia sudah hampir menyerah, jujur saja, ini merupakan pengalaman pertama baginya meminum alkohol dengan tingkat tinggi, namun ia tidak mau memberitahukan kepada Adira, ia tidak mau jika Adira menyadari bahwa dirinya adalah pria yang tidak pandai minum, namun ia bersikap jantan di depan Adira, karena ia tidak ingin diremehkan oleh gadis pujaannya.


Biasanya, ia selalu memesan minuman yang memiliki kadar alkohol sebesar sepuluh persen, namun kali ini ia pasti akan binasa, sebab alkohol kali ini termasuk dalam kadar yang belum pernah ia konsumsi. Sementara itu, Adira terus meneguk minuman di gelasnya, merasa belum puas ia menenggak minuman melalui bibir botol kaca bening hingga kandas. Samar-samar Arsenio melihat cara minum Adira yang tidak wajar, ia hendak meraih botol tersebut, namun tangannya sudah tidak mampu. Dengan tubuh tak berdaya, terjatuh pada sandaran sofa, dengan mata tertutup.


“Aiiiishh, apa kau selemah ini sudah kalah, hmmmm?” tutur Adira melirik Arsenio yang tertidur mabuk akibat alkohol yang diminumnya. Ia melirik dua botol yang tersisa, mengambilnya dan membuka penutup botolnya, kali ini ia lebih suka menenggaknya dari bibir botol, menimbulkan suara nyaring ketika meneguk minuman. Adira menghentakkan botol kaca di atas meja cukup keras, dan mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Menyandar di sandaran sofa dengan mata terpejam, ia mulai sedikit pusing.


“Heh! Aku tidak yakin jika daddy tidak menyukaiku, aku pasti bisa menaklukannya, mungkin aku harus sedikit berusaha lagi… heheh, aku tidak akan pernah menyerah sampai daddy mencintaiku sebagai wanita” tuturnya tanpa sadar. Ia bahkan terduduk jatuh di atas lantai, sementara kepalanya menyandar di atas meja dengan tangan masih memegang sebotol minuman alkohol. Ia kembali menenggak minuman tersebut.


GLUK GLUK GLUK


GLUK GLUK GLUK


“Akkhh, daddy aku mencintaimu, aku sangat mencintamu”


“Kenapa… kenapa kau tidak pernah melirikku hmmm? Aku yang secantik ini tidak bisa membuat hatimu tergerak, apa jangan-jangan… oh my God (astaga) tidak mungkin, daddyku tidak mungkin penyuka sesama jenis!” serunya menutup mulutnya, ia menggeleng kencang untuk membuang pikiran buruknya terhadap Luffi.


“Hehehe, tetapi jika benar begitu, aku tetap akan mencintai daddy… oh, kenapa ada wajah daddy di sini? Bukankah aku bersama Arsenio, tapi di mana dia? Kenapa wajah daddy ada di depanku… apa mungkin karena aku terlalu mencintai daddy, sampai pikiranku tidak pernah lepas dari bayang-bayangny.


"Aisshhhh, siapa suruh daddy terlalu mendominasi hmmmm….”


“Kau sangat ingin dihukum, katakan, hukuman apa yang pantas untukmu, gadis nakal?”


“Aiiiish, aku bahkan sampai dapat mendengar suara daddy” ngelanturnya, masih belum menyadari situasi yang sebenarnya. Pria dengan setelan kaos hitam berkerah, dengan bawahan jeans berwarna biru dongker, tengah menatapnya dengan tatapan lembut. Senyum tipis terbit dibibirnya yang sedikit tebal. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis yang sudah mabuk, terduduk di bawah lantai dengan kepala mendongak.


Pria itu adalah Luffi, dengan bantuan transaksi yang dilakukan Adira ketika memesan alkohol, hingga membuat Luffi mengetahui tempat tujuan anak gadisnya. Pria itu menarik tangan Adira dan menggendong tubuh itu untuk duduk di atas pangkuannya. Adira masih belum menyadari keberadaan Luffi, ia berpikir ia sedang halu dan gambaran yang ia lihat adalah bayangannya saja.


“Garis hidung dan wajah ini adalah milik daddy, heummm…. Aku pasti sangat tergila-gila padanya, heheheheh” racaunya tertawa kecil. Sementara itu, Luffi membiarkan tangan Adira menyentuh wajahnya, bau alkohol yang menyengat di mulut Adira tercium sangat jelas dihidungnya. Ia memeluk erat pinggang Adira agar tidak membiarkannya jatuh, keduanya begitu intens, tatapan Luffi yang dalam, menatap wajah Adira, lalu turun ke bibir, merah merona itu, perlahan tapi pasti, wajah keduanya saling mendekat dan….


“Boss….”


.


.


.


.


.


Bersambung