
Happy Reading 🤗
.
.
.
.
.
Tinggallah Adira di dalam ruangan yang luas itu, ia berjalan melihat-lihat ruangan dengan nuansa putih. Berjalan menuju meja Luffi dan meraih sebuah bingkai foto seorang anak kecil, Adira membelainya lembut dan tersenyum simpul, ketika melihat foto kecilnya berada di atas meja kerja Luffi. Ia baru menyadari jika pria itu menyimpan fotonya, bahkan memajangnya di atas meja kerja, bukankah itu terlihat sangat spesial? Hatinya meleleh seketika, ternyata sejak dulu, pria yang dipanggil daddy olehnya memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun, pria itu enggan menunjukannya.
Adira kembali meletakan bingkai foto di tempatnya semula, lalu duduk di kursi kebesaran milik Luffi, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang berbusa. Ia mengamati setiap sudut ruangan milik Luffi, terlihat sebuah patung wanita, dengan rupa yang sama, dengan di kamar Luffi di Mansion. Yang terletak di samping sofa namun berdekatan juga dengan jendela. Selain itu terdapat rak buku berukuran besar, yang dipenuhi dengan buku-buku berkualitas, yang terletak di depan meja kerja sekretaris Han... namun dengan jarak jauh.
Adira lantas berdiri dan berjalan ke arah jendela, membuka tirai yang menghalangi sinar surya masuk, ia kemudian menggeser tirai jendela itu, hingga terlihat jelas pemandangan indah kota Las Vegas dari atas gedung. Adira terpukau melihatnya, kotanya yang padat oleh bangunan-bangunan pencakar langit, yang berdiri kokoh di atas tanah, serta ribuan kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya, sungguh sebuah pemandangan yang baru ia lihat. Pemandangan kota yang menakjubkan.
“Benar-benar pemandangan indah” kagumnya, bahkan mulutnya sampai mangap karena keindahan kota Las Vegas. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, dan heels yang melengking menapaki setiap lantai yang dipijak. Adira membalikan badannya, dan melihat seorang wanita cantik dengan tubuh seperti gitar spanyol. Pinggul besar dan buah dada yang bulat, terlihat sangat jelas di mata Adira, sebab baju yang dipakai wanita itu begitu ketat, hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah, namun tidak dimata Adira, gadis itu merasa jijik melihatnya.
Adira tidak terkejut lagi, sebab ia tahu seperti apa wanita di hadapannya ini. Wanita dengan minim bahan baju itu, menjatuhkan pantatnya di atas sofa tanpa memperdulikan keberadaan Adira yang berdiri di dekat jendela. Dia bernama Sandra, putri dari pemilik perusahaan Gold, yang masih menjalin kerja sama dengan Luffi, bahkan dia termasuk dalam pemegang saham kedua pada pembangunan resort di beberapa tempat Las Vegas. Sandra membuka tas yang bermerek Louis Vuitton Tribute Patchwork, yang bernilai lima ratus delapan puluh Sembilan juta, wanita itu mengeluarkan lipstick berwarna merah dan mengaplikasikannya pada garisan bibirnya.
“Hei nak, lihatlah apakah aku sudah cantik? Tentu saja aku cantik, hari ini aku mau mengajak Luffi kencan denganku” Adira berdecak dengan senyum meremehkan, ia lalu berjalan mendekati Sandra dan berdiri di hadapan wanita berbaju biru. Adira melipat kedua tangannya di atas perut dan menatap datar Sandra.
“Apa aku boleh berkata jujur?” ucapnya, membuat Sandra mengalihkan perhatiannya kepada Adira. Tentu, wanita itu tertawa kecil dan mengangguk pelan.
“Make-up tante sungguh menor, itu sangat terlihat seperti wanita tua, dan bibir merah tante benar-benar jelek, daddy sangat tidak menyukai wanita yang mengandalkan make-up untuk kecantikan wajahnya” kalimat yang dilontarkan Adira membuat Sandra mendadak marah, ia memelototi Adira dan segera berdiri, kini keduanya saling beradu pandang dengan kilatan permusuhan.
“Beraninya kau mengataiku jelek!” teriaknya dan langsung menampar Adira, namun gadis itu tidak lemah, ia mencengkal kuat pergelangan tangan Sandra, membuat sang empu meringis sakit. Adira tidak melepaskannya, ia semakin mengeratkan cengkeramannya dan memutarnya hingga terdengar bunyi tulang yang patah.
“Ahhhhhkkkkk, tanganku berengsek! Lepaskan! Sakittt!” teriaknya keras, merasa sudah puas, Adira melepaskan cengkeramannya, membuat Sandra terduduk jatuh dengan rasa sakit di tangannya, bahkan sampai meninggalkan jejak merah kebiruan di pergelangannya. Sandra menatap tajam Adira, wajahnya memerah, ia bahkan menggertakan giginya karena saking geramnya kepada gadis muda di depannya.
“Ka-kau! Tunggu saja pembalasanku!” Sandra yang merasa malu, segera berdiri dan berjalan keluar ruangan, sementara Adira hanya melihatnya dengan tatapan dingin. Di luar ruangan, Sandra menghentakkan kakinya kesal dan meninggalkan koridor ruangan Luffi. Sementara itu, di ruangan sekretaris Jesika, melihat jelas wajah marah Sandra, serta pergelangan tangan yang terkilir dengan lebam di kulit. Senyum simpul tersirat di bibirnya, ketika mengetahui kepergian Sandra.
“Rasain kau ulat keket, nona Adira pasti yang melakukannya… temperamen gadis itu sangat bagus untuk menjadi tameng tuan Luffi, akhirnya pekerjaanku berkurang satu, hehehehe” gumamnya senang. Ia kembali mengotak-atik komputernya, setelah menutup kembali tirai jendela ruangannya. Kini, ia tidak perlu repot-repot untuk berurusan lagi dengan wanita yang sangat menyebalkan dan tidak tahu malu itu, sebab jika wanita itu datang, maka dirinya yang akan sengsara.
Sementara di lain tempat, di sebuah ruangan yang cukup luas dengan, meja panjang serta kursi berjajar di sana. Terlihat seorang wanita sedang mempresentasikan hasil produk yang telah dirancangnya, produk yang akan dipasarkan di Amerika, yang memiliki nilai jual tinggi terkait perhiasan emas. Target mereka adalah Megan Squer, merupakan seorang aktris yang sangat menyukai perhiasan Emas. Dan saat ini, Luffi sedang bekerja sama dengan salah satu desainer perhiasan yang cukup terkenal.
Mendengar penjelasan dari desainer yang akan membuat perhiasan untuk menarik perhatian aktris terkenal Amerika, membuat Luffi hanya melihat dengan tatapan datar. Melihat dari ekspresinya yang seperti itu, membuat orang-orang di dalam ruangan rapat merasa ketar-ketir, bahkan suasananya menjadi mencengkam sekarang.
“Apa alasanmu membuat desain cincin seperti itu?” tanya Luffi dengan nada datar, pria itu langsung ke intinya, bahkan wanita yang sedang menjelaskan berhenti seketika.
“Sesuai dengan namanya, cincin Vow Gold, memiliki desain yang sangat cantik, ada permata berlian besar di bagian tengahnya. Perhiasan emas yang terbalut berlian berbentuk bunga mawar, menandakan perjalanan cinta yang unik, dan cinta abadi. Siapa saja yang menggunakannya akan mengenang masa-masa indahnya bersama pasangan. Desain ini saya buat atas pengalaman saya sendiri dengan kisah yang rumit, hingga sampai pada tahap pernikahan, lika-liku hubungan terlarang, akhirnya terbantahkan, kerumitan menjadi sederhana dengan datangnya cinta sejati, hingga akhir hidup menjadi ending yang bahagia” jelasnya panjang kali lebar. Semua yang mendengarnya merasa terharu, kecuali Luffi. Pria itu masih dengan ekspresi datarnya bahkan tidak sedikitpun merasa tersentuh oleh cerita desainer wanita itu.
“Apa kau selama ini mendesain perhiasan berdasarkan kisah hidupmu? Tidakkah kamu merasa harus mengubah pemikiranmu? Bagaimana bisa kau membuat sesuatu berdasarkan kisahmu, kepada orang lain, untuk mengenangnya… target kita adalah seorang aktris legenda dan mendunia, dia memiliki watak yang keras, dan juga angkuh, bahkan ia tidak pernah mau tunduk terhadap pasangannya, kisah cintanya berantakan, dan tidak memiliki perasaan cinta kepada pasangan, bagaimana bisa kamu menawarkan perhiasan yang bukan karakteristiknya? Desain ini saya tolak, kamu cari tahu apa yang dia sukai, kisah hidupnya seperti apa, cari tahu kisah hidupnya sedetail mungkin, lalu kamu gambarkan kisah hidupnya pada desain perhiasan itu nanti!”
“Rapat sampai di sini dulu” Luffi segera beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan rapat, dengan ekspresi datar, dan diikuti sekretaris Han dari belakang. Sementara itu, orang-orang yang masih tinggal di ruang rapat, saling melirik dan bergidik ngeri. Desainer wanita itu mengepalkan tangannya kuat, merasa marah terhadap Luffi, sudah tiga kali desain yang dia ajukan selalu ditolak oleh Luffi, benar-benar menjatuhkan harga dirinya.
“Aku harus bekerja keras lagi” batinnya menyemangati dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
Bersambung