DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 64 Terluka



Happy Reading


.


.


.


.


.


SREEET


“Awww, ssshhh” Ia merasakan tangannya terluka, menyentuh lengannya yang berdarah dan berdiri dengan tubuh tak seimbang.


“Habisi dia sekarang!”


“Berengsek! Lepaskan dia!” Tiba-tiba seorang pria datang dengan wajah penuh emosi, dan segera berlari menuju tempat peristiwa perkelahian terjadi, ia melihat Adira terluka cukup dalam, dengan darah yang terus mengalir keluar. Sementara tiga pria yang menyerang Adira, berhasil kabur setelah melihat Luffi. Mereka menuju pintu belakang untuk keluar dari sana.


“Sayang, kamu terluka, kita ke rumah sakit sekarang” wajah panik Luffi benar-benar ditunjukan di depan Adira, gadis itu tidak menjawab dan terfokus pada sikap peduli Luffi yang jarang diperlihatkan kepada siapapun, baru kali ini ia dengan sangat jelas melihatnya, rasa khawatir dan ketakutan dari sorot mata Luffi. Ia merasakan tubuhnya terbang, rupanya Luffi menggendong dirinya dan berjalan keluar dari restoran, semua pengunjung di sana melihat ke arah Luffi yang menggendong seseorang dengan tubuh bersimbah berdarah.


Sekretaris Han, segera menyelesaikan pembayaran makanan yang bahkan belum disentuh sama sekali, dan berlari mengejar tuannya. Sekretaris Han membuka pintu mobil, untuk Luffi, lalu setelah itu berlari menuju pintu mobil depan, ia segera naik dan memastikan dua anak manusia di belakang, telah benar-benar duduk dengan nyaman. Ia segera menyalakan mesin mobil, dan mobil itu bergerak perlahan-lahan, setelah masuk ke jalan raya, sekretaris Han langsung tancap gas.


“Sayang, apakah sangat sakit? Bertahanlah… maafkan aku yang tidak bisa melindungimu, aku benar-benar sangat takut melihatmu seperti ini” tuturnya dengan perasaan sedih, Adira mengelus wajah Luffi, dan melempar senyum tipis untuk menunjukan bahwa dirinya tidak apa-apa.


“Aku baik-baik saja, luka seperti ini bukanlah apa-apa untukku, bukankah kamu sudah membekaliku dengan mengikuti latihan militer? Itu membuatku menjadi tangguh dan tidak merasakan sakit” jawabnya menenangkan pria di sampingnya, namun tetap saja Luffi masih sangat khawatir, ia merasakan hatinya ikut terluka.


“Lihatlah, aku baik-baik saja, kamu jangan cemas sayang”


“Baiklah, tapi ini semua salahku, andai aku mengikutimu ke toilet, kamu tidak akan terluka, aku benar-benar marah pada diriku yang tidak berguna”


“Astaga, aku baru tahu jika kamu se-perhatian ini, hmmmm… kamu yang sekarang terlihat sangat manis”


CUP


Sebuah kecupan mendarat di pipi Luffi, membuat pria itu tertegun sembari melihat wajah Adira dengan tatapan yang sulit diartikan, terlihat semburan merah muda dipipinya, Adira tersenyum nyaris tak terlihat melihat wajah malu Luffi.


“Dia sangat lucu, aku ingin menjadi sakit terus, agar perhatiannya tidak berkurang” batinnya merencanakan sesuatu yang licik. Sebenarnya luka di lengan Adira tidak terlalu besar, namun ia merasakan kepalanya pusing dan mual, ia berpikir bahwa itu adalah karena dirinya belum makan, hingga menyebabkan kepalanya menjadi pusing. Tak berselang lama, mobil mereka berhenti di depan rumah sakit terdekat dari restoran yang tadi mereka datangi, hingga masalah ini terjadi.


“Diamlah, kamu terluka jadi aku harus menggendongmu.” Tegasnya membuat Adira terdiam, namun tersirat senyum tipis dibibirnya, itu menandakan bahwa ia sangat menyukai sikap Luffi yang seperti itu. Pria berhati dingin, dan tidak memiliki empati kepada orang lain, namun pria itu malah menunjukkannya kepada dirinya, sungguh sebuah momen yang sangat langka. Adira mengalungkan tangannya di leher Luffi, dan menatap wajah Luffi dari dekat, melihat dengan seksama garisan wajah, bentu alisnya yang tebal dan teratur, hidung yang mancung, bibir yang seksi, yang memiliki garis tebal pada bibir bagian bawah.


“Entah kenapa aku tidak ikhlas membiarkan orang lain melihat wajah tampanmu, aku ingin sekali mengurungmu di dalam kamar, bisakah kamu menutupi aura ketampananmu saat di depan umum?” tuturnya masih mengagumi wajah tampan Luffi. Pria itu melihatnya sekilas dengan senyum dibibirnya, senyumannya semakin membuat Adira terpesona, bahkan mulutnya sampai mangap.


“Dasar kau ini, lagipula tidak seorang pun bisa memilikiku, hanya kamu yang pantas, jadi kenapa harus peduli dengan tatapan orang lain, toh aku tetap milik kamu” jawab Luffi melirik gadisnya yang tersenyum lebar. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kecemburuan kekasihnya namun ia juga sangat menyukai itu.


Tiba-tiba beberapa dokter dan suster berlari sembari membawa bangsal, diikuti sekretaris Han, dialah yang membawa kabar kepada pihak rumah sakit atas kedatangan tuannya. Mereka kemudian berhenti di depan Luffi, mereka tahu bahwa pria itu adalah pria terkaya ke lima di kota Las Vegas, tentu menjadi sebuah sanjungan bagi pihak rumah sakit, karena didatangi oleh orang besar dan hebat seperti Luffi.


“Maaf membuat anda menunggu lama” ucap seorang Dokter wanita. Luffi membaringkan tubuh Adira di atas bangsal.


“Periksa dia, lakukan apapun untuk menyembuhkan lukanya, dan jangan biarkan dia kesakitan!” ucapnya tegas, membuat nyali dokter dan suster menciut, dengan ketegasan serta keseriusan yang dimiliki Luffi.


“Ba-baik tuan” Mereka mendorong bangsal yang dinaiki Adira, dan menuju ke ruang UGD untuk melakukan penangan darurat. Sementara itu, Luffi dan sekretaris Han menunggu di luar.


“Tuan, saya akan mencari tahu mereka yang menyerang nona Adira, saya juga sudah meminta rekaman CCTV dari pihak restoran, dan sekarang saya izin untuk menindaklanjut masalah ini” Sekretaris Han berucap dan segera berdiri dari kursi tunggu di luar ruangan UGD.


“Baiklah, kamu berhati-hatilah… aku tidak tahu, apa musuh kita yang melakukannya, dan sudah bergerak sampai mana? Kamu saat mencari tahu masalah ini, jangan sampai membuatmu terluka” ucapnya peduli pada sekretarisnya, yang merupakan sahabat baiknya, ketika ia baru pertama kali pindah ke Las Vegas.


“Tuan tidak perlu khawatir, apapun yang terjadi, itu demi kebaikan tuan… kalau begitu saya pergi dulu” Sekretaris Han membungkukkan badan, memberi hormat kepada Luffi, lalu berjalan meninggalkan pria yang masih menatapnya tanpa berpaling, sampai siluet bayangan sekretaris Han benar-benar hilang dari pandangannya. Luffi meraup wajahnya kasar, mendesah berat, tentang kejadian yang dialami Adira ketika di Restoran.


“Siapa sebenarnya yang mencelakai Adira? apa mereka adalah musuhku di dunia bawah? Mereka tahu bahwa kami akan pergi ke Restoran tersebut, sepertinya mereka telah memata-matai kami sejak keluar dari perusahan, lantas siapa orang itu? Apa anggota Talaskar ada yang mengkhianatiku?” Bisiknya dalam hati, terus bertanya-tanya tentang masalah yang sangat misterius. Sepertinya, Luffi mulai mewaspadai sebagian atau bahkan seluruh anggotanya, di dunia ini tidak ada teman yang tulus, jika tidak berhati-hati, maka kesengsaraan akan datang menghampirinya dengan mudah.


“Aku benar-benar telah meremehkan musuhku” batinnya lagi, dengan smirik setan.


.


.


.


.


.


Bersambung