DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 50 Datang Di Waktu Yang Tepat



Happy Reading


.


.


.


.


.


Ban mobil hitam yang ditumpangi anggota Talaskar, terkena tembakan hingga membuat salah satu bannya kempes, hal itu mengakibatkan laju mobil berkurang dan tidak seimbang. Situasi yang tidak menguntungkan bagi anggota Talaskar, Cristian yang mengendarai mobil hitam seketika banting setir dan menyebabkan mobil oleng hingga….


BRAKKK


PRANGGG


Mobil itu keluar dari jalur jalan aspal dan menabrak pohon rindang di sisi jalan. Sementara dua mobil yang mengikuti mereka dari belakang pun berhenti, ada enam pria bertubuh tinggi, keluar dari mobil sembari membawa pistol di tangan mereka. Salah satu pria menodongkan pistol ke arah mobil anggota Talaskar, dan siap menarik pelatuknya. Sementara itu, empat anggota Talaskar menundukkan kepala, dan tidak bisa keluar, sebab ada musuh di luar yang siap menembak.


DOR


DOR


DOR


Tiga tembakan terdengar nyaring, empat pria yang di dalam mobil menutup telinga, dan merasa cemas jika misi kali ini akan gagal. Mereka tidak tahu jika ada musuh yang menghalangi jalan mereka, entah siapa musuh yang sebenarnya, bahkan keluar pun bukanlah jalan yang tepat sebab mereka telah dikepung oleh musuh. Tembakan yang dilontarkan musuh mengenai ban mobil, itu adalah sasaran dari musuh.


“Keluar kalian!” titah seseorang sembari mengetuk jendela mobil. Mau tidak mau mereka harus keluar dengan kedua tangan terangkat di atas kepala, hal itu menandakan bahwa mereka mengaku kalah dan tidak akan menyerang. Sementara musuh, menodongkan pistol di kepala masing-masing anggota Talaskar, dan dua musuh mencari sesuatu di dalam mobil.


“Siapa mereka?” batin Billi, melihat setiap pergerakan enam musuhnya. Dua pria yang menggunakan jaket levis membuka bagasi mobil, lantas mereka tersenyum kala melihat dua buah tas besar yang berada di depan mata. Dua pria itu pun mengambil tas yang mereka cari dan membawanya di atas aspal, tentunya di depan mata anggota Talaskar.


“Siapa kalian? kenapa kalian mengambil barang kami?” tanya Rodalf dengan pandangan datar. Sementara pria yang menodongkan pistol ke arahnya langsung menendang bagian dalam lututnya, menyebabkan dirinya tersungkur jatuh. Ia meringis sakit merasakan sedikit goresan di lututnya.


“Tidak perlu tahu, barang ini milik kami. Jika tidak ingin mati maka jangan lakukan perlawanan, jika tidak, maka tubuh kalian tidak akan selamat dari senjataku ini” jawab seorang pria berambut gondrong. Billi dan Cristian melihat dua tas jinjing besar di bawa oleh musuhnya, tatapan tak berdaya itu terlihat cukup jelas di mata mereka, namun ketidakberdayaan mereka tak mampu mencegatnya. Kini musuh kembali masuk ke dalam mobilnya, dan meninggalkan empat anggota Talaskar di tengah hutan, padahal mobil milik anggota Talaskar sudah tidak dapat digunakan, entah bagaimana cara mereka bisa pulang.


Ketika duduk di bibir aspal, tiba-tiba terdengar suara baku tembak di arah yang dilewati musuhnya, ke-empat pria itu saling melirik satu sama lain, masih dengan tatapan bingung, seketika mereka tersadar dan segera berlari menuju suara tembakan. Namun, mereka harus bersembunyi, dan melihat siapakah yang melontarkan peluru itu. Mereka berjalan menyusuri semak-semak, butuh dua puluh menit untuk sampai di tempat tujuan. Adegan baku tembak masih terdengar, kali ini sangat jelas di telinga mereka. Saat mereka menonton tanpa kedip, tiba-tiba….


DOR


DOR


“Akkkhhhhhhh”


“Keluarlah!”


“Itu? bukankah suara boss?” ucap Rodalf berbisik, dengan tatapan heran, dan tiga temannya juga sama, mereka dilanda kebingungan, apa mungkin Luffi datang begitu cepat dan menyelamatkan mereka dari musuh yang tadi merampok senjata yang dibeli. Pelan-pelan, Cristian mengintip dari balik batu besar dan betapa terkejutnya kala melihat seorang pria sedang melakukan sebat sembari menyandar di dinding mobil. Melihat bahwa pria di sana adalah boss besarnya, ia langsung berdiri dan menyuruh rekannya untuk keluar.


Mereka bernapas lega melihat Luffi datang di waktu yang tepat, kali ini mereka tersenyum setelah mati-matian ketakutan. Sementara itu, Luffi masih asik merokok, dengan pandangan tertuju pada anak buahnya yang tengah berjalan menghampirinya, ia kemudian melirik lima mayat yang tergeletak di atas tanah dengan genangan darah mengalir mengotori jalan aspal.


“Terima kasih boss sudah menyelamatkan kami” tutur mereka ber-empat sembari membungkuk hormat. Luffi mengangguk dan mengepulkan asap rokok ke udara, ia kemudian memberikan kode melalui matanya kepada anggotanya. Billi dan Cristian mengangguk mengerti, setelah itu Luffi mengangkat dua tas berisi senjata dan di masukkan ke dalam bagasi mobil berwarna biru langit, setelah itu ia masuk ke dalam dan duduk di kursi kemudi. Luffi menekan tombol klakson sebagai tanda bahwa ia akan pergi, beberapa anak buah Luffi segera membungkuk hormat. Mobil Mercedes Benz melaju cepat meninggalkan tempat yang menjadi pertempuran ringan baginya.


Dua puluh menit sebelum kedatangan Luffi


Di kamar presidential suite, seorang pria keluar dari bilik kamar mandi, yang hanya menggunakan boxer tanpa lilitan handuk. Beberapa titik-titik air mengalir dan membasahi tubuhnya yang atletis, delapan kotak yang tercetak jelas di bagian perutnya terlihat sangat menggoda, pria itu berdiri tegak dengan tangan mengibas-ngibaskan rambutnya, otot lengan serta perutnya benar-benar menarik perhatian gadis di atas kasur, gadis itu diam-diam memperhatikan setiap lekukan di tubuh Luffi, alih-alih menelan ludah dengan mata terus melotot pada mahakarya sempurna Tuhan. Ia menyelimuti kepala hingga seluruh tubuhnya, dan hanya menampakkan matanya, sementara Luffi masih berpose menggoda, ia menyadari jika ada pasang mata yang terus menatapnya penuh nafsu, namun ia berpura-pura tidak melihat. Biarkan gadisnya melihatnya sampai puas.


Kaki panjangnya berjalan menuju kasur, ia menjatuhkan bokongnya di bibir kasur, dan membelakangi Adira yang tiba-tiba menutup matanya. Luffi mengambil ponselnya di atas nakas, dan melihat isi pesan yang baru saja masuk. Betapa terkejutnya kala mengetahui ada bahaya yang menimpa anak buahnya, ia segera ke ruang ganti, memakai pakaian.


Enam menit pun berlalu, ia keluar dengan style kasual, celana jeans hitam, dan atasan sweater rajut berwarna coklat. Ia kemudian mengambil ponselnya dan menghampiri Adira yang berpura-pura tidur.


“Sayang, daddy keluar dulu, ada yang mau daddy lakukan, oh iya daddy sudah pesan makanan untukmu… jangan kemana-mana yah, tunggu daddy di sini”


CUP


Setelah memberikan kecupan singkat di kening gadisnya, Luffi buru-buru keluar dari kamar Apartementnya. Sementara itu, Adira langsung terbangun dengan wajah penasaran, sambil menatap pintu yang berada di sebelah kanannya.


"Daddy mau ke mana yah? sepertinya sangat penting" gumamnya kemudian ia turun dari kasur, sebab ia harus mandi sekarang.


Luffi mendapati pesan dari Cristian, jika mereka dikepung oleh musuh, ia kemudian menyuruh sekretaris Han untuk pergi ke lokasi yang dikirimkan Cristian padanya, oleh sebabnya senjata yang dicuri oleh penjahat telah diamankan. Luffi datang setelah musuhnya mati, sementara itu sekretaris Han membiarkan salah satu musuh tetap hidup, untuk diinterogasi.


Setelah memastikan musuhnya mati, sekretaris Han membawa seorang pria dan pergi dengannya. Sedangkan, Luffi yang melihat anggotanya baik-baik saja ia segera menyusul mobil sekretaris Han untuk melihat siapa sebenarnya yang berani main-main dengan dirinya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung