
Happy Reading
.
.
.
.
.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa hari sudah gelap, terlihat seorang pria sedang duduk bersantai di atas kursi kebesarannya, sembari memejamkan mata untuk rehat sejenak. Pekerjaan kantor yang tertumpuk perlahan selesai dengan waktu yang cepat, hari yang seharusnya di butuhkan adalah kisaran dua hari, namun pria itu memilih untuk lembur mentuntaskan pekerjaannya, untuk segera bersua dengan putri tercinta, ia merasa bersalah pada putrinya, sebab tak sedikitpun waktu ia luangkan padanya, ******* berat itu keluar dari mulutnya, ia membuka matanya. Menatap langit-langit ruang kantornya. Kemudian melirik pada sebuah bingkai foto yang terdapat gambar seorang gadis manis yang memakai gaun berwarna pink dengan bunga lily di tangannya.
Seutas senyum menghiasi wajahnya, uluran ringan itu meraih bingkai foto gadis cantik, yang tengah tersenyum lebar. Perlahan-lahan ia mengelusnya lembut, tatapan dalam itu menyorot sebidang rindu yang dalam, rindu yang tak bisa dibendung lagi.
“Dia tumbuh begitu cepat, menjadi gadis yang begitu manis… aku merasakan ketakutan teramat besar, seakan bencana buruk segera melanda, aku seakan tidak rela membiarkannya berkeliaran di luar, gadis ini akan menyorot banyak mata para pria berengsek di luaran sana… apakah aku harus mengurungnya? tapi… dia punya hak kebebasan, aiiiiish memikirkannya membuat kepalaku sangat pusing” gumamnya masih menatap bingkai indah itu. perlahan-lahan bingkai itu bergerak dan berhenti di atas dadanya, detakan jantungnya berirama, seakan sedang menari di hadapan gadis itu.
“Lebih baik aku pulang sekarang, gadis itu pasti marah padaku” Luffi kemudian meletakan kembali bingkai foto di tempatnya semula, ia kemudian bersiap-siap pulang. Pria itu memasuki ruangan pribadinya, dan membuka sebuah pintu, ia pun berjalan masuk ke dalam, di sana terdapat sebuah lift rahasia yang selalu ia gunakan di kala hendak pulang malam.
Lift itu terbuka dan segera masuk ke dalam. Perlahan-lahan lift bergerak turun ke bawah, membawa dirinya di ruang bawah tanah. Setelah tiba di lantai paling bawah, pintu lift terbuka, ia dengan segera melangkahkan kakinya keluar. Sebuah pemandangan yang memperlihatkan deretan mobil di sana, rupanya itu adalah Base camp, setiap mobil memiliki kunci yang sudah tersedia di dalamnya. Luffi memilih mobil Buggati Chiron berwarna hitam pekat, untuk dikendarainya, selain mereknya yang mahal dan terbatas, kecepatan yang di milikinya tidak dapat ditandingi dengan mobil lainnya.
Ia kemudian naik ke dalam, menjatuhkan pantatnya di atas kursi kemudi, dan segera menyalakan mesin mobil, ia membiarkannya selama lima menit untuk memanaskan mesin mobil, setelah merasa cukup, ia kemudian menginjak pedal gas, dan mobil-pun melaju dengan sangat cepat meninggalkan halaman belakang Perusahannya, yang dijadikan sebagai jalan rahasia miliknya.
Kini ia telah sampai di jalan raya, ada begitu banyak kendaraan di jalanan, ia dengan santai mengendarai mobilnya itu, dan terus menyalip setiap kendaraan di depannya. Tidak butuh waktu lama ia telah berada di halaman Mansion, seorang pria bertubuh kekar segera menghampirinya dan membuka pintu untuknya. Luffi turun menapaki jalan aspal, dan berjalan masuk ke Mansion. Seperti biasa, anak buahnya membungkuk memberi hormat padanya, yang merupakan boss bagi mereka.
Kaki panjangnya terus berjalan masuk, pandangannya selalu tertuju ke setiap penjuru ruangan Mansion, mencari seseorang yang sangat ingin ia temui, namun tak sedikitpun terlihat tanda-tanda kemunculannya, ia semakin mempercepat jalannya, menuju ruang tengah, ia berharap gadisnya berada di sana. Namun, harapannya sirna kala tak seorangpun ada di sana, ia kemudian melangkah menuju kamar dengan pintu berwarna merah muda.
CEKLEK
Dahinya berkerut mendapati ruangan Adira kosong, bahkan tampak terlihat rapi seakan belum di sentuh oleh sang empunya. Luffi kembali menutup pintu kamar itu dan berjalan menuju ruang tengah. Ia menjatuhkan dirinya di atas sofa menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Tangannya membuka tiga kancing atas bajunya, mengekspos dadanya yang bidang.
“Aiiiissshh, bisakah sehari saja tidak membuat pusing? entah kemana dia pergi?” gumamnya dengan mata tertutup.
“Biarka saja, nanti juga dia pulang. Lagipula dia telah dewasa” tuturnya dengan nada dingin, kemudian berjalan menuju tangga, kakinya berjalan menapaki setiap anak tangga yang akan membawanya ke lantai dua. Ia lebih menyukai menaiki sebuah tangga daripada menggunakan lift, sebab jarak yang ditempuh tidaklah jauh, bisa dibilang ia ingin berolahraga ringan, sekalipun ia benar-benar lelah saat ini.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di rumah sakit Kindred Hospital Las Vegas-Sahara, seorang pria dengan setelan jas rapi sedang duduk di kursi besi, namun memiliki sofa di bagian sandaran kursi dan bagian dasar yang dijadikan sebagai tempat duduk. Pria itu terlihat sangat cemas, sesekali meraup wajahnya kasar. Memikirkan keadaan nona mudanya yang berada di ruang operasi.
“Astaga, semoga kau baik-baik saja, nona” gumamnya dengan tangan saling bertaut di depan dadanya. Sudah satu jam Adira berada di ruang operasi, belum ada tanda-tanda dokter keluar, pria itu semakin berpikiran sempit tentang keselamatan Adira. Terlihat jari-jarinya ditekuk membentuk kepalan tangan, urat-urat tangannya terlihat sangat jelas, ia memukul kursi yang ia duduki, menimbulkan bunyi yang cukup keras. Orang-orang yang melewatinya hanya melihatnya dengan pandangan datar, terkadang merasa kasihan padanya.
“Aku begitu membenci situasi ini, situasi yang membuatku tidak berguna… seakan menggambarkan kelemahanku dua belas tahun lalu, kini terulang pada anak bossku” batinnya, begitu marah pada dirinya yang tidak berguna. Suara pintu terbuka mengagetkannya, ia lantas berdiri dengan wajah penuh harap, berdiri di depan dokter wanita yang bercucuran keringat, seakan telah melakukan pertempuran sengit di dalam. Ali semakin tak karuan, tangannya bahkan sampai gemetar, melihat wajah dokter tanpa ekspresi sedikitpun.
“Ba-bagaimana keadaannya dok? dia baik-baik saja bukan?” ia memberanikan diri bertanya, terdengar suaranya yang parau, sekelas dirinya yang merupakan agen mafia, tentu memiliki jiwa yang tangguh, namun dia akan menjadi luluh dan merasa khawatir bahkan sakit hati, jika itu menyangkut orang yang berharga dalam hidupnya. Ia seperti seorang penjaga yang tak berguna, ia tidak layak sebagai penjaga jika tuannya saja sampai terluka separah itu. Pikirnya.
Kepalanya menunduk, menatap lantai dengan perasaan menyesal, merasa takut akan jawaban dokter yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
“Dia telah melewati masa kritis, setelah obat biusnya habis, dia akan siuman” jawaban dokter membuat Ali mendongak, ada secercah cahaya kebahagiaan di matanya, ia tersenyum lebar dan berterima kasih pada dokter wanita di depannya.
“Terima- terima kasih banyak, dok”
“Pasien akan di bawa ke ruang rawat, anda bisa menjenguknya setelah perpindahan dilakukan”
“Tolong untuk mengaturnya ke ruangan VIP”
“Baik tuan, anda bisa menyelesaikan administrasi terlebih dulu" Ali mengangguk semangat, kali ini ekspresi yang ia tunjukkan bukanlah sesuatu yang sedih, ia benar-benar mendapat keajaiban dan merasa sangat senang. Dengan segera ia berjalan menuju meja administrasi untuk melakukan pembayaran.
.
.
.
.
.
.
Bersambung