DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 74 Roller Coaster



Happy Reading 🤗


.


.


.


.


Lima tahun kemudian, Luffi berhasil bangkit dari keterpurukan selama dua tahun, semenjak kehilangan Adira, pria itu semakin kejam dan tidak memiliki hati, wajah dingin dan datar selalu menghiasi wajahnya bertahun-tahun, tanpa senyuman sedikitpun. Pria itu terlihat seperti seseorang yang kehilangan semangat hidup, di saat sendirian, ia akan terbayang-bayang sosok wanita yang bertahun-tahun bersamanya, melihatnya tumbuh serta menyambung hidupnya.


Kehilangan sosok wanita itu membuatnya benar-benar menyesali perbuatannya, yang bertindak kasar terhadap wanita itu, ia tidak bisa memaafkan dirinya. Ia bahkan telah mengerahkan seluruh koneksinya mencari Adira, akan tetapi jejak Adira bagai di telah Bumi, tak sedikitpun tertinggal, hingga membuatnya sulit menemukan wanitanya.


“Selamat pagi tuan, sepuluh menit lagi ada rapat bersama dewan direksi, saya sudah menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan tuan, saat rapat nanti" Seorang pria berkata, sembari membungkuk hormat kepada Luffi. Dia adalah sekretaris Han, yang tengah melapor perihal jadwal kerja Luffi. Sementara itu, Luffi mengangguk pelan dan segera beranjak dari kursi kebesarannya. Merapikan jasnya dan menuju pintu keluar, sekretaris Han mengekor di belakang, dua pria itu berjalan dengan tubuh tegak.


Dia tempat lain, tepatnya di sebuah kota pelosok Las Vegas, jauh dari pusat kota DownTown, terlihat sebuah rumah sederhana yang memiliki satu lantai, berwarna biru langit pada bagian dinding luar, serta bagian dalam rumah. Seorang anak laki-laki keluar ditemani dengan seorang pria dewasa, yang menggandeng tangan anak kecil itu. Mereka terlihat seperti ayah dan anak. Lalu kemudian seorang wanita keluar dari rumah yang sama, dengan pria dewasa serta anak kecil tadi. Wanita itu menggunakan gaun putih sebatas betisnya, serta tas selempang berbahan kain dan menyampirkan tali tas di bahu kanannya.


“Mom, kamu terlihat sangat cantik, seperti bidadari yang baru saja turun dari khayangan!” Seru anak laki-laki tersebut, matanya terlihat berbinar menatap wanita bergaun putih, pria dewasa didepannya melebarkan senyumnya, ia mengakui bahwa wanita itu sangat cantik. Apa yang diucapkan anak laki-lakinya, bukanlah sebuah gombalan, tetapi sebuah kebenaran.


“Oh, really? Terima kasih anak mommy, kamu juga sangat tampan” Balasnya yang membuat mereka tertawa lepas. Rumah mereka berada sangat jauh dari rumah orang-orang yang tinggal di komplek tersebut. Bahkan anak laki-laki itu sangat jarang bermain dengan anak seusianya, ia hanya menghabiskan waktunya di rumah dengan permainan yang dibeli oleh ibunya maupun ayahnya.


Mereka adalah Adira dan Ali. Mereka tinggal di atap yang sama, karena kehamilannya, Ali harus menikahi Adira, agar ketika bayi dalam rahim Adira memiliki seorang ayah, setidaknya anak itu tidak akan sedih jika mengetahui bahwa ia tidak memiliki seorang ayah, yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak pada umumnya. Oleh sebabnya Adira dan Ali menikah, namun Ali hanya menikahi anak tanpa meminta jatah sekalipun, selama bertahun-tahun, mereka tidak pernah melakukan hubungan suami-istri, bahkan tepat di hari pernikahan.


Hari ini, keluarga kecil Adira pergi ke taman bermain, yang berada di kota tempat mereka tinggal. Gadis itu bekerja sebagai seorang Bertender, di salah satu Café yang terkenal ditempat tinggalnya, ia menjadi tulang punggung keluarga, sebab itu adalah keinginannya, ia tidak mengizinkan Ali mencari uang untuknya, apalagi jika mengingat pengorbanan Ali begitu besar padanya, menyelamatkannya dari kandang Serigala. Yang, kapan saja nyawanya pasti akan terancam, jadi sebelum dirinya aman, ia harus segera pergi menghindari sekumpulan Serigala jahat.


Mereka ingin membangun keluarga kecil yang penuh kebahagiaan, mereka telah membuat agenda tiap minggu, akan berlibur bersama satu hari selama dua pekan, sementara Adira tidak ada hari libur baginya. Jika tiba waktu yang telah diatur, dia akan meminta izin untuk tidak masuk, dan untungnya pihak Café begitu mengerti dirinya, sehingga tidak kesulitan lagi, secara ia termasuk karyawan lama dan kinerjanya sangat baik, alhasil manajer tempat kerja Adira, mengizinkannya untuk liburan sebagaimana agendanya.


Tibalah mereka di taman bermain, Adira dan keluarga kecilnya segera turun dari mobil. Anak laki-laki tersebut bersorak gembira, anak itu bahkan sampai menarik tangan Ali dan Adira bersamaan untuk segera ke pusat permainan. Anak laki-laki itu memilih Roller Coaster untuk dinaiki, Adira dan Ali saling menatap satu sama lain, pasalnya dua orang dewasa itu tidak bisa menaiki permainan yang membahayakan jantung. Keduanya dengan serempak menggeleng keras, namun anak laki-laki itu menyilangkan kedua tangannya di atas dada, sembari menggeleng pelan dengan tatapan meremehkan.


“Hummm… daddy dan mommy sangat payah! Permainan begini saja sudah menyerah sebelum mencoba, bahkan kalah dari aku yang hanya seorang anak kecil, tetapi aku tidak takut” cemoohnya menyombongkan diri. Mendengar kalimat yang merendahkan keduanya, mereka sungguh tidak terima, pasalnya dua anak dewasa itu mementingkan ego ketimbang kesehatan mental, terutama kalah terhadap anak kecil, itu bukan prinsip mereka.


“Mom, dad, apa kalian yakin tidak akan pingsan setelah menaiki Roller Coaster? Masih ada waktu untuk menyerah, jangan berpura-pura kuat terhadap sesuatu yang tidak kalian sukai” Nasihatnya sekaligus melempar sindiran kepada orang tuanya.


“Cih! Kamu tidak tahu mommy dan daddymu adalah orang hebat, permainan kecil seperti ini, mana mungkin bisa menggoyahkan pertahanan kami, sebaliknya kamu yang masih kecil, hati-hatilah dengan tindakanmu, hmmm” anak laki-laki itu tertawa jenaka dan fokus menatap ke depan. Para pemain mulai memasang sabuk pengaman, sementara kedua tangan memegang sebuah setir, sebagai benda pertahanan ketika menaiki Roller Coaster. Kini Roller Coastel bergerak sangat cepat, hal itu membuat Adira dan Ali berteriak keras, dan terus-terusan berteriak untuk menghentikan Roller Coaster.


“Akkkkkkhhh tidakkk! Tolong hentikan ini!” Teriak pasangan suami istri. Tangan keduanya berpegangan erat, kepala mereka bahkan mulai pusing, namun benda yang mereka naiki, masih berputar. Adira ingin sekali menangis dan menyesali keberaniannya dihadapan sang putra.


“Tolong hentikan! Aku ingin turun, aku begitu mual sekali!” Teriakannya keras namun tidak berhasil, sebab permainan Roller Coaster, bergerak secara otomatis, dan tidak akan berhenti sebelum masa waktunya selesai.


“Hiks, hiks, aku sungguh menyesal, andai aku tidak menuruti egoku, aku mungkin tidak akan berakhir buruk seperti ini, aku seperti badut bagi putraku sekarang. Sungguh memalukan sekali” batinnya menyalahkan dirinya.


“Hahahah, mommy bertahanlah, bukankah sudah kubilang menyerahlah sebelum terlambat, tapi mommy tidak mendengarku, tapi tak masalah… aku yakin mommy pasti bisa melewatinya, aku yakin mommy adalah wanita hebat yang pernah aku temui!” teriak anak Adira, dan Ali tertawa kecil dengan jantung yang berdebar hebat. Bukan soal perasaan, namun debarannya disebabkan karena Roller Coaster.


Dua puluh menit berlalu, Roller Coaster berhenti, Adira dan Ali segera melepas sabuk pengaman dan berlari menuju tempat sepi, dan di sanalah mereka habis-habisan muntah… perut mereka seperti digiling dan diputar-putar, sangat mual.


“Hoeek! Hoeek!” Kedua pasangan itu muntah sejadi-jadinya, anak laki-laki mereka merasa kasihan melihat kondisi orang tuanya yang kesakitan.


“Jangan pernah lagi melakukan hal konyol, hanya demi membuktikan diri kalian hebat, tanpa bukti pun aku tahu bahwa mommy dan daddy adalah orang hebat di dunia ini” tuturnya mengelus punggung kedua orang tuanya.


“Dasar kamu ini, masih kecil tapi omongannya ada benarnya, hah!” Seru Adira, masih dengan posisi berjongkok. Anak laki-laki itu hanya tertawa kecil.


.


.


.


.


Bersambung