DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 24 Bertemu



Happy Reading


.


.


.


.


.


Ali kemudian masuk dengan membawa tongkat kayu di tangannya, seorang penjaga yang berdiri di depan pintu, melihat kedatangan Ali, ia langsung mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Pertarungan itu pun terjadi, Ali dengan sigap menghindar dari tinju lawan, keduanya bersitatap, dengan posisi siap bertarung, kedua tangan pria itu membentuk kepalan, saling merapatkan tangan melindungi salah satu vital penting.


“Siapa kamu?” tanya pria gondrong itu. Ali tidak menjawab, ia lalu maju hendak menghajar bajingan di depannya. Ia melayangkan pukulan tetapi tidak tepat sasaran, musuhnya begitu cepat dalam bergerak, namun Ali terus mendesaknya, dan terpojok hingga tidak ada ruang baginya untuk bergerak bebas. Mendapatkan kesempatan emas itu, Ali segera memukul wajah musuhnya lebih tepatnya bagian rahang musuh, namun pria gondrong menangkisnya dengan tangannya, dan Ali langsung menendang titik aset berharga pria itu.


“Akkkkkkhhh, sial!” teriaknya kesakitan. Pria gondrong tersungkur jatuh dengan memegang aset hidupnya, meringkuk di atas tanah dengan kesakitan yang teramat dalam. Tidak membuang-buang waktu, Ali lalu masuk ke dalam ruangan, ia melihat pria berjas menggoreskan pisau di wajah Adira, melihat itu membuatnya naik pitam. Dengan cepat ia berlari dan menendang belakang Stave dan….


BUGH


PRAANKKK


Tubuh Stave terjatuh begitupun dengan pisau di tangannya, mata Ali memerah melihat wajah Adira yang dipenuhi darah akibat goresan luka di wajahnya.


“Berengsek! Bedebah sialan!” Ali menduduki tubuh Stave dan melayangkan beberapa pukulan di wajahnya, pria yang terbaring di lantai tidak punya waktu untuk melawan, bahkan pandangan Stave mulai kabur, tidak bisa melihat jelas siapa gerangan yang melawannya. Ali seperti kesetanan terus memukul wajah Stave, bahkan lebam di pipi Stave tampak semakin jelas, berwarna biru, dan berdarah.


“Apa yang kamu tabur itulah yang kamu tuai” seringai licik terlihat di wajah Ali, ia berdiri berjalan mengambil pisau Stave yang berada di dekat Adira. Lalu kemudian kembali mendekati Stave dengan mengayun-ayunkan pisau ditangannya. Stave menggeleng ketakutan melihat pisau itu, dengan sekuat tenaga menjauh dari jangkauan Ali.


“Bajingan sepertimu, pantas untuk mati” tutur Ali dengan tatapan dingin, tak sedikitpun rasa iba pada lawannya, kakinya semakin dekat dengan tubuh lemah Stave, pria itu seakan pasrah, karena ia tidak punya cukup tenaga untuk melawan.


SREEEET


SREEEET


“Akkkkkkkh! Akkkkkkkkhhhhh” dua sayatan terukir di pipi Stave, membuatnya menjerit kesakitan, ia memegang pipinya yang berdarah membuatnya sangat marah, namun amarahnya hanya bisa terpendam dalam hatinya, sebab melawan pun tidak akan sanggup.


“Jangan bunuh aku, aku akan memberikan sejumlah uang, berapapun yang kamu minta, aku akan memberikannya padamu” ucapnya memohon dengan tatapan penuh harap, Ali tertawa kecil, ia sangat muak terhadap orang-orang yang mengandalkan uang dalam kesalahannya, mereka tidak pernah menyesali perbuatan kejam mereka, ia akui bahwa ia adalah anggota mafia, namun ia tidak akan melakukan kejahatan terhadap anak kecil, ia memiliki prinsip bahwa ia akan bertarung dengan seseorang yang memiliki kemampuan melindungi diri, bukan alih-alih memamerkan kekuatan pada anak kecil yang jelas-jelas tidak dapat melindungi diri mereka.


“Memohonlah dengan tulus, maka aku bisa mempertimbangkannya” tuturnya menatap wajah takut Stave.


“Aku mohon, jangan bunuh aku… aku akan melakukan apapun yang kamu suruh, aku akan menjadi kaki tanganmu, jika kau menginginkannya, kumohon tuan, jangan bunuh aku, aku masih ingin hidup!” katanya dengan suara terbata-bata. Ali masih memainkan pisaunya, ia mendekati Stave dan….


JLEB


“Akkkkkkhhhhhhhhh"


Ali menusuk perut Stave menggunakan pisau milik Stave sendiri, darah segar keluar, merembes ke pakaiannya, lantai penuh debu itu berubah menjadi genangan darah, Ali sangat puas melakukannya, amarahnya kian sirna, ia kemudian membuang pisau dari tangannya dan segera menghampiri Adira. Terlihat wajah ketakutan Adira, ia menyadari itu, ia pun kemudian mengatakan identitasnya yang sebenarnya.


Ali membawa Adira keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan tubuh sekarat Stave, namun saat hendak keluar dari ruangan, ia mendengar langkah seseorang berjalan, yang hendak memasuki ruangan, ia terkejut rupanya itu adalah Luffi, karena tidak ingin ketahuan ia kemudian menurunkan Adira dan berjongkok di depan gadis kecil itu.


“Aku akan bersembunyi di sini, Luffi akan segera datang… jangan beritahu dia jika aku ada di sini” Adira mengangguk patuh, dan Ali kemudian bersembunyi di balik tumpukan kayu yang tidak terpakai. Dan benar saja, setelah Ali bersembunyi, seseorang membuka pintu, terlihat pria bertubuh atletis berdiri di depan Adira, wajahnya terlihat sangat khawatir. Pria itu adalah Luffi, melihat tubuh kotor dan luka di wajah Adira membuatnya terkejut. Ia pun berjongkok menyelaraskan posisinya dengan tubuh pendek Adira.


“Are you okay? (Apa kau baik-baik saja?)” tanyanya menatap ke semua tubuh Adira, ia menangkup pipi tembem Adira, melihat saksama luka yang tercetak jelas di pipi Adira, luka itu sangat dalam bahkan darahnya terus keluar.


“Kepalaku pusing, aku ingin pulang, om” jawabnya pelan dengan tatapan sayu. Tanpa bertanya lagi, Luffi memeluk tubuh kecil Adira dalam gendongannya, ia pun keluar dari ruangan tersebut. Di luar ada sepuluh anggota Talaskar yang telah mengikat pria gondrong yang berjaga di luar.


“Cristian, kamu urus pria di dalam sana!” titah Luffi terus berjalan keluar dari gedung tua itu. sementara Cristian dan dua rekannya masuk ke dalam ruangan, di mana Adira di sekap, ia melihat tubuh seseorang sedang terbaring dengan darah bersimbah di lantai.


“Tuan Stave?” kejutnya kala melihat wajah pria yang terbaring itu adalah pria yang di kenalnya, ia mengerutkan alisnya tinggi, merasa aneh dengan kehadiran Stave di ruangan tersebut.


“Apakah dia dalang dari penculikan nona Adira?” bisiknya dalam hati. Ia kemudian mengecek nadi Stave juga napasnya.


“Dia masih bernapas, ayo angkat dia….” Ke-tiga pria itu lalu membopong tubuh berat Stave dan mengeluarkannya dari gedung, mereka akan membawanya ke rumah sakit milik boss besarnya, kali ini mereka membiarkan Stave tetap hidup, agar bisa di interogasi oleh mereka.


Kini semua anggota Talaskar termasuk Luffi, telah meninggalkan gedung tua tersebut, Ali yang masih bersembunyi di sana segera keluar, ia harus pergi dari tempat itu segera. Sebab sewaktu-waktu musuhnya akan datang. Ali berjalan cepat menuju mobilnya yang lumayan jauh dari gedung tua. Setelah sampai di depan mobilnya, ia segera naik ke dalam.


Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kemudi, menghela napas berat, tangan yang penuh darah itu segera ia bersihkan menggunakan air minum di botol kecil, yang selalu ia siapkan di mobil. Ia mendesah memikirkan kondisi Adira.


“Bagaiman caranya agar aku bisa membawa nona Adira pergi dari tempat Luffi, pria itu sungguh kejam, dan berdarah dingin. Aku tidak yakin jika dia akan memperlakukan nona Adira dengan baik” gumamnya menatap lurus ke depan. Tangannya memijat pangkal hidungnya yang sakit.


“Aku tidak tahu apa tujuan Luffi merawat Adira, terasa sangat janggal, seseorang memelihara anak musuhnya, aku harus segera memikirkan caranya untuk segera membawa nona Adira pergi dari sana, yang terpenting sekarang, adalah aku harus mengumpulkan kekuatan untuk melawa Luffi” Ali tahu bahwa Luffi adalah boss Mafia misterius itu, sebab pada malam kematian Mario, ia menyaksikan perbuatan geng Talaskar, itu sebabnya ia sangat yakin bahwa Luffi adalah boss yang sebenarnya, yang di perbincangkan di kalangan dunia bawah.


.


.


.


.


.


.


Bersambung