DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 35 Maaf



Happy Reading


.


.


.


.


Seorang gadis segera menutup mata, tatkala mendengar suara pintu kamar inapnya di buka oleh seseorang, pandangan pria itu langsung tertuju pada gadis di bangsal yang memiliki ukuran lebih besar dari yanglainnya.


“Sayang”


DEG


Mendengar suara yang begitu familier di telinganya, membuat jantungnya berdebar hebat, memicu adrenalin kala derap kaki itu terus melangkah maju menuju ke arahnya. Sementara pria itu menatap penuh iba.


Berdiri di samping gadisnya tanpa suara, seakan tenggorokannya tiba-tiba ikut terasa sakit, tergores oleh sebilah pedang milik pendekar, dan jantungnya pun ikut merasakan, sakit yang teramat pedih, melihat sosok yang sangat disayanginya terbaring lemas di atas bangsal dengan gulungan kain di kepalanya. Ia sungguh tidak bisa menebus kesalahannya dengan kata maaf, namun ia harus melakukannya”


“Sayang” panggilan yang sama terucap, gadis itu masih setia mendengarnya, walau jantungnya terus berpacu layaknya sedang mengikuti lomba berkuda. Dirinya bahkan sulit hanya sekadar bernapas. Tiba-tiba, ada sesuatu yang lembut menempel di dahinya, terasa hangat dan basah, bibir Luffi menciumnya, membuat tubuhnya tidak berkutik, seakan terkena strok sementara.


“Maafkan daddy sayang, maaf” gadis itu semakin dibuat tidak keruan oleh Luffi, sikapnya berbanding terbalik kala dirinya masih sehat, baru kali ini ia merasakan ciuman hangat dari seorang pria yang dipanggilnya daddy. Bukan itu saja, pria sombong sekelas dirinya tidak akan pernah mengucapkan kata maaf, bahkan kesalahan apapun, ia tidak akan tunduk pada orang lain, bahkan jika dia harus memilih mati, ia akan memilihnya daripada mengucap kata keramat menurutnya. Namun, hari ini ia mendengarnya, sungguh itu di luar dugaan Adira.


“Apa yang membuat daddy sampai menurunkan egonya? meminta maaf padaku, benarkah itu?” bisiknya dalam hati. Ia yang ingin bangun karena merasa ingin kencing, namun tidak bisa sebab keberadaan Luffi yang tiba-tiba datang membuatnya tidak berpikir panjang, hingga harus berpura-pura masih dalam obat bius. Ia tidak bisa menahannya lagi, dengan kemampuan akting sekelas aktor drama korea, ia berpura-pura menggeliat dan mengeluarkan suara lemahnya.


“Euhg” lenguhan kecil itu terdengar dari mulut gadis yang terbaring lemas di atas bangsal, melihat ada reaksi dari tubuh Adira, Luffi segera menyentuh tangan gadis itu, mengelus kepalanya penuh kelembutan.


“Sayang, akhirnya kamu sadar. Daddy mengkhawatirkanmu, apa ada yang sakit?” tanyanya penuh perhatian, Adira menggeleng, dan berusaha bangun, ia kemudian dibantu oleh Luffi, menyusun dua bantal untuk dijadikan sebagai sandaran bagi putrinya.


“Aku ingin pipis dad” cicitnya dengan suara pelan.


“Oh, baiklah, daddy akan membantumu” ucapnya, namun langsung ditatap oleh Adira dengan tatapan dingin, gadis itu melepas tangan Luffi dari pundaknya dan berusaha untuk turun sendiri. Ia perlahan-lahan berdiri, namun ketika hendak mengangkat kakinya untuk melangkah, ia hampir terjatuh. Untung saja, Luffi begitu cepat dan menangkap tubuh Adira dalam pelukannya. Keduanya bersitatap, tatapan dingin dari mata Adira, membuat Luffi mengerutkan dahinya.


“Jangan membantah lagi, biarkan daddy membantumu” tegasnya, dan langsung menggendong tubuh Adira. Pipi gadis itu merona dan memalingkan wajahnya dari tatapan Luffi, takut jika pria itu menyadari bahwa sesungguhnya ia tengah malu saat ini. Setelah tiba di depan kloset, Luffi menurunkan tubuh Adira. Ia kemudian berjalan keluar dari toilet, dan berdiri di samping pintu Toilet.


“Dad, bisakah menutup pintunya? aku malu” cicitnya dengan suara pelan.


“Kenapa kau terlihat sangat waspada di depan daddy? apa daddy melakukan sesuatu sampai membuatmu seperti ini? daddy tidak akan melewati batas” jawabnya tidak suka dengan permintaan Adira padanya, dengan perasaan kesal ia menutup pintu toilet. Ekspresi Luffi semakin tidak bisa dikondisikan, tatapan dingin itu terpancar jelas di matanya, ia masih berada di posisinya, berdiri dengan kedua tangan melipat di atas dada. Pria itu menatap langit-langit kamar, lalu beralih melihat ke sekeliling ruang inap Adira.


“Siapa pria yang membantu putriku, bahkan sampai memesan kamar VIP untuknya?” bisiknya dalam hati.


BUGH


“Apa ada yang terluka sayang?” tanyanya dengan raut wajah khawatir, sementara itu, Adira berusaha bangun namun tangannya gemetar hanya sekadar menopang tubuhnya, ia seperti manusia lemah yang tidak dapat melakukan apa-apa. Gadis itu seketika menangis, tidak menyukai situasi seperti ini, ia menatap wajah daddynya yang langsung mengangkat tubuhnya.


Luffi membaringkan tubuh putrinya di atas bangsal, kemudian menarik selimut dan melampirkannya di atas tubuh Adira.


“Apa ada yang sakit sayang? apa kau terluka, hmmm?” tanyanya penuh kelembutan, ia menatap wajah gadis yang terbaring itu. Adira menggeleng, dan tersenyum tipis, namun air matanya mengalir keluar. Gadis itu menangis dan menggigit bibirnya, bukan karena luka kecelakaan, namun ketika mengingat kembali adegan ciuman Luffi bersama wanita lain membuat hatinya merasa terluka, ia tidak bisa menerima kebenaran yang ia lihat. Ia sangat membenci dirinya yang tidak bisa menahan kesedihan itu jika berada di hadapan Luffi. Ia menyadari bahwa Luffi adalah kelemahannya.


Perlahan-lahan tangan Luffi terulur menghapus air mata yang masih mengalir setia dari sudut mata Adira.


CUP


Ciuman singkat mendarat di kening Adira, matanya terpejam dan merasakan kehangatan serta kelembutan bibir Luffi, entah kenapa ada desiran hangat yang mengalir melalui arteri di tubuhnya. Keduanya saling menatap cukup lama, Luffi menggenggam jemari tangan Adira sesekali menciumnya.


“Apa kamu marah karena wanita kemarin itu?” Adira memalingkan wajahnya, tidak mau melihat, i berusaha menarik tangannya, tetapi genggaman Luffi sangat erat. Membuatnya menatap pria dewasa itu.


“Tidak” jawabnya singkat dan memalingkan wajahnya lagi.


“Kamu akan seperti ini jika berbohong, anak kecil berbohong itu dosa loh” guraunya namun mata Adira semakin dingin padanya, walau begitu Luffi tetap tersenyum pada gadis itu, ia menyelipkan anak rambut yang menutup sebagian wajah Adira, hingga matanya benar-benar menatap dengan jelas wajah cantik Adira.


“Aku sudah besar, dad. Bisakah untuk tidak memanggilku anak kecil lagi? aku tidak menyukai daddy memanggilku seperti itu”


“Baiklah-baiklah, daddy tidak akan melakukannya. Kamu jangan marah lagi yah sayang, jika daddy berbuat salah katakan saja, agar daddy tahu kesalahan daddy… jangan seperti ini lagi, daddy sungguh khawatir padamu” ucapnya tulus. Pria kejam tanpa pandang bulu, namun tidak bisa berkutik di depan gadis itu, ia bak anak kucing penurut yang tak sedikitpun memiliki jiwa bengis. Adira menatap Luffi dengan tatapan yang sulit di artikan, ia kemudian tersenyum lebar.


“Apa daddy akan menuruti permintaanku, bahkan jika aku melarang daddy berhubungan dengan wanita lain, yang sangat daddy cintai?” tanyanya penasaran. Keduanya saling menatap satu sama lain, Luffi mengangguk mengiyakan.


“Tidak ada wanita yang lebih penting dari kamu, daddy adalah milik kamu, jadi tidak usah takut ataupun cemburu dengan wanita lain, mengerti?” wajah Adira terlihat senang ia berusaha bangun dan memeluk tubuh Luffi dengan erat.


“Aku sangat mencintaimu, dad”


CUP


.


.


.


.


.


Bersambung