
Happy Reading
.
.
.
.
.
Keluarga kecil Adira duduk di sebuah kursi taman panjang berwarna putih. Tiga anak manusia berbeda usia itu, tengah menikmati sebatang es krim rasa buah. Mereka terlihat sangat bahagia dan begitu menikmati hari sore itu. tertawa lebar bercanda ria bersama, dibandingkan dirinya yang masih berada di sebuah bangunan megah nan mewah, serta hidup lebih dari kata berkecukupan, hidup santai layaknya tuan putri kerajaan, belum pernah merasakan kebahagiaan ketika memiliki keluarga kecil. Pandangannya tertuju pada anak kecil di samping, yang duduk di antara dirinya dan Ali.
Wajah anak kecil itu mengingatkannya pada sosok pria yang mencampakannya, setelah memberikan harapan palsu dan membuatnya melahirkan seorang anak. Ia berjanji akan melindungi anak itu dari para penjahat terutama kepada pria yang menanam benihnya dalam rahimnya, ia tidak akan pernah melupakan tentang apa yang dilakukan pria masa lalunya itu.
Tidak sengaja Ali melihat tatapan Adira yang tidak biasa, tersirat kesedihan dan rasa marah bercampur satu, Ali mengulurkan tangannya dan mengelus rambut Adira penuh kelembutan, seakan mengerti perasaan Adira saat ini. Pria itu adalah sosok dewasa yang begitu mengerti dirinya, pria dengan rasa peduli dan tanggung jawab, tatapannya saat melihat Adira, membuat hati gadis itu sejuk, lantas Adira melebarkan bibirnya tersenyum.
“Jangan khawatir, aku akan menjaga kalian berdua” Adira tertawa kecil melihat Ali yang berbicara namun tidak terdengar suaranya sedikitpun, ia hanya menggerakan bibirnya, namun Adira mengerti maksud dari pria itu. sementara anak laki-laki sedang menatap mereka berdua, dengan terus mengisap es krim di tangannya.
“Mom, dad. Apakah kalian baru saja melakukan bahasa cinta? Lakukan saja aku akan berpura-pura tidak mendengar, jika kalian malu terhadapku” Celetuknya membuat Adira dan Ali saling pandang, mereka tertawa bersama membuat anak laki-laki itu mengernyitkan alisnya tinggi, tampak kebingungan diwajahnya, anak itu terlihat sungguh polos, sampai Adira dan Ali sangat gemas padanya.
“Mengerti apa anak kecil tentang cinta” Tutur Ali menatap anaknya, pria kecil itu membalas tatapan Ali dengan seringai, seakan seakan sedang menunjukan bahwa dirinya sangat memahami makna cinta.
“Dad, jangan pernah meremehkan anak kecil tentang cinta… apa kalian tidak tahu bahwa anak kecil sangat memahami apa itu cinta suci dan tulus” Adira melebarkan matanya kala mendengar ungkapan anaknya, pasalnya anak laki-laki itu berusia lima tahun, namun cara bicaranya layaknya orang dewasa, Adira bahkan sampai sulit menelan ludah mendengar cerocosan putra sulungnya perihal cinta.
“Noah, siapa yang mengajarimu cinta? Dan tahu dari mana tentang kata tersebut?” Adira melempar pertanyaan kepada putranya, yang sedari tadi terpendam dalam hatinya. Pria bernama Noah itu menatap Adira dan tersenyum simpul. Es krim ditangannya telah habis dilahap, dan menyisakan steak yang telah kosong, ia pun melemparnya di tempat sampah. Tiba-tiba Noah memegang tangan Adira, lalu tangannya yang sebelah meraih tangan Ali dan menyatukannya bersama tangan Adira, di atas pahanya.
“Ini adalah sebuah cinta, pasangan yang saling mencintai, cinta yang nyata adalah sebuah pernikahan, hidup bersama dengan pasangan namun tidak dengan berlandaskan pernikahan, adalah cinta palsu… karena jika perasaan tentang cinta antara keduanya menjadi hambar dan memudar, maka hubungan mereka pasti kandas. Jika itu dilandasi sebuah pernikahan, maka mereka akan berpikir-pikir lagi untuk saling meninggalkan, karena sebuah pernikahan bukanlah sebuah mainan yang harus dipermainkan.” Jelasnya panjang kali lebar dengan wajah serius. Sementara Adira dan Ali masih dengan wajah bengong dengan mulut yang mangap. Mereka seperti sedang diceramahi oleh pakar cinta. Diusia mereka yang sekarang, tidak terlalu memahami soal cinta, apalagi Ali yang sudah berpuluh tahun hidup dalam kejombloan.
“Apakah Noah adalah dewi cinta yang bereinkarnasi menjadi manusia, kenapa dia lebih hebat dari padaku soal cinta, padahal usianya baru lima tahun” Bisik Adira dan Ali bersamaan. Kedua pasangan itu menatap satu sama lain, lalu melihat Noah yang sedang melempar senyum tipis di bibirnya.
“Kalian tidak perlu melihatku dengan tatapan aneh seperti itu, wajar saja jika kalian tidak tahu tentang cinta, kalian menjomblo sangat lama, tetapi aku sudah mempelajarinya sejak usiaku kecil” Katanya lagi. Adira dan Ali tidak bisa berkata-kata, entah apakah pengetahuan Noah adalah sebuah kelebihan atau semacamnya, namun jika pengetahuan cintanya tidak akan membuatnya menjadi playboy ketika dewasa nanti.
Di lain tempat, seorang pria yang baru mendapat pesan dari seseorang yang tidak dikenalnya, begitu terkejut melihat beberapa foto yang memperlihatkan seorang gadis yang sangat dirindukannya. Ia melihat seorang pria yang tampak tidak asing di matanya, ia memejamkan matanya mengingat siapa sebenarnya pria yang duduk bersama gadisnya itu.
“Apa karena pria ini, kamu meninggalkanku, Adira?” gumamnya dengan kepalan tangan memperlihatkan urat-urat tangannya yang nampak dipermukaan kulit. Ia yang berharap Adira akan kembali padanya, rupanya malah mengkhianatinya. Ia pikir bahwa Adira pergi karena perlakuannya yang kejam, bahkan memperlakukannya dengan buruk, namun kini ia sadar bahwa ia telah dikhianati.
“Dia telah bahagia bersama keluarga kecilnya, jangan mengganggunya jika tidak ingin dianggap sebagai parasit”
“Berengsek! Aku akan membunuhmu Adira, beraninya kamu mengkhianatimu… kamu semakin berani padaku, tunggu saja aku akan membunuh pria selingkuhanmu itu!” Serunya dengan perasaan marah. Ia menggertakan giginya, menatap tajam dua gambar yang terlihat sangat mesra, bahkan senyum lebar Adira tidak pernah diperlihatkan padanya, semakin memicu rasa benci pada Adira.
Tidak tahu saja jika keputusan Adira karena dirinya yang telah kelewat batas, hati siapa tidak hancur kala menerima perlakuan buruk pasangan, mungkin satu dua kali masih bisa dimaklumi tapi jika sudah terus-menerus, dan di depan orang banyak, siapa yang akan peduli tentang cinta? Namun, pria itu salah paham, merasa dirinya yang paling tersakiti, padahal dirinya adalah pelaku sesungguhnya yang membuat hubungannya menjadi kandas.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan, pria itu melihat orang dikenalnya masuk, ia kembali memejamkan matanya dengan posisi duduk di atas kursi kebesarannya, dengan kaki menyilang namun berada di atas meja kerjanya.
“Dari mana saja kamu?” tanyanya masih dengan mata tertutup.
“Saya beli makanan untuk tuan, makanlah jangan sampai sakit” Jawabnya menyodorkan sebungkus kotak makanan yang dibelinya di sebuah restoran terkenal di kotanya. Luffi membuka matanya, dan melihat kantong plastik hitam, di atas meja kerjanya, ia kembali menutup matanya, seakan tidak berselera makan.
“Tidak. Kamu makan saja, aku tidak ingin makan apapun!” Tegasnya dan menyuruh sekretarisnya keluar.
"Aku pasti akan membalasmu berkali-kali lipat, Adira!!" Batinnya masih memendam marah dalam hatinya.
.
.
.
.
.
Bersambung