DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 22 Dalang Penculikan



Happy Reading


.


.


.


.


.


Di sebuah ruangan dengan kondisi yang tak terawat, debu menyelimuti ruangan tersebut, ada begitu banyak sarang laba-laba di setiap sudut ruangan tua, terlihat seperti gudang terbengkalai. Seorang gadis kecil dengan gaun selutut berwarna biru laut, dua tangan dan kakinya terikat. Matanya masih terpejam, seakan menikmati suasana di tempat barunya. Tiba-tiba dari arah pintu, terdengar suara derap langkah kaki, bayangan besar itu semakin mendekat ke arah gadis yang sedang tertidur pulas. Seringai tipis terlihat jelas di wajah orang tersebut. Kemudian berjongkok memandangi wajah gadis di depannya.


“Akhirnya… aku menemukanmu, gadis kecil” pria itu menjentikkan jarinya, tiba-tiba seseorang datang membawa sebuah botol berisi air di tangannya, ia menyerahkan botol minuman kepada pria yang sedang berjongkok. Perlahan-lahan botol minuman di putar dan terbuka, pria itu kemudian mengarahkan botol ditangannya dan….


BYUUUUURRRR


“Ahhhhkkkkk, hosh-hosh-hosh” gadis itu terkejut bangun, napasnya memburu tak beraturan, dia mengira dirinya sedang berenang di tengah laut lepas, dan tenggelam di dalamnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, sampai terbuka lebar, pertama kali yang ia lihat adalah sosok asing, ia terkejut dirinya bukan di kamarnya, saat hendak bergerak, tubuhnya menjadi kaku seakan tak ada ruang baginya. Ia baru menyadari bahwa dirinya sedang di sekap.


Sesaat kemudian, ia menyadari bahwa ia berada di situasi bahaya, ia tidak tahu harus berkata apa, melihat senyuman jahat dari pria yang memiliki garis wajah tirus dan memiliki banyak rambut di dagunya membuatnya gemetar takut.


“Siapa dia? Apa yang mereka lakukan kepadaku? Apakah aku akan mati di sini?” batinnya. Adira berusaha menggerakan tubuhnya, untuk menjauh dari pria asing itu, namun ia tidak bisa melakukannya. sangat sulit melakukannya ketika dua tangan dan kaki dalam kondisi terikat.


“Apa kamu tahu, kenapa aku menculikmu?” Adira menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca merasakan sesuatu buruk akan terjadi padanya, ia tidak dapat membayangkan musibah yang akan diterimanya, ia berharap agar Cristian dan Billi segera menemukannya, sebelum nyawanya benar-benar akan melayang.


“Karena kamu terlahir menjadi putri dari orang yang dia benci, sebentar lagi kamu akan bertemu dengannya, dan ketika tiba waktunya, maka kamu tidak akan melihat dunia ini besok” ancaman itu sangat menakutkan bagi Adira, gadis itu bahkan menggigit bibirnya kuat, menahan tangis agar tidak menimbulkan suara. Ia benar-benar takut sekarang, berada di ruangan remang-remang bersama orang yang tidak dikenalnya, itu sangat buruk daripada bertemu raja neraka.


Pintu tiba-tiba terbuka, tampak seseorang berjas masuk, sepatu pantofel berwarna hitam terus melangkah menuju dua anak manusia berada, Adira memberanikan dirinya melihat pria yang menghampirinya, samar-samar ia mengingat wajah pria yang baru datang, terasa sangat akrab di ingatannya, ia memejamkan matanya, berusaha mengingat wajah pria paruh baya itu. Seketika matanya membulat sempurna, ia sekarang ingat, pria itu adalah orang yang pernah ditemuinya di hotel Wynn, Kasino.


“Di-dia… dia adalah pria yang kalah telak saat bermain dengan om Luffi, apakah dia datang ingin membalas dendam padaku?” ia berbisik dalam hati, mengingat jelas setiap rekaman wajah pria berjas itu.


“Kita bertemu lagi, apa kau merindukanku hmmmm?”


“Maaf, paman. A-aku tidak ingat, apa kita saling mengenal?” Adira berkata bohong, berharap pria itu percaya bahwa ia berkata jujur. Tawa menggelegar dalam ruangan tersebut , membuat tubuh Adira merinding takut, pria itu seperti Psikopat yang siap memangsa targetnya.


“Hahahaha. Kau sungguh pintar seperti ayahmu, namun kini aku tidak akan mudah tertipu, kali ini aku akan membuatmu menyesal telah lahir di dunia ini” ujarnya dengan tatapan datar, pandangan dingin dan penuh dendam itu menyelimuti matanya. Sebuah pisau lipat, ia mainkan di tangannya, mengayunkannya di depan mata Adira. Gadis itu menelan ludahnya sulit, ia beringsut mundur dan menggeleng pelan. Namun pria itu, terlihat seperti sudah kehilangan akalnya, ia menyeringai, sudut bibirnya terangkat sebelah menatap wajah takut Adira.


“Salahkan ayahmu, berani membawa seluruh uangku, mempermalukanku di depan rekan-rekanku, kau tahu bahwa uangku adalah segalanya, bahkan nyawamu harus kuambil jika kau berani membawanya kabur” tuturnya mengarahkan pisau itu di wajah Adira, gadis itu menahan napasnya, ia ingin sekali menangis, namun ketakutannya membuat air matanya sulit keluar.


Di tempat lain, di sebuah Mansion mewah, seorang pria kian kemari terus menerus, sesekali melirik pintu utama, kadang bergantian melihat ponsel di tangan kanannya. Sudah satu jam lamanya ia tidak tenang, menghubungi dua anggotanya namun tidak bisa dihubungi, ia ingin sekali menghajar kedua anggotanya jika kembali nanti.


Ketika pulang dari kantor, pria itu tidak mendapati Adira dan dua baby sitternya, saat bertanya pada penjaga di pintu, mereka mengatakan bahwa Adira dan dua rekannya sedang pergi keluar, namun ketika ia menghubungi salah satu anggotanya, nomor mereka tidak aktif, hal itu membuatnya kesal. Ia membenci situasinya yang sekarang.


Beberapa saat kemudian, terdengar deru mesin mobil berbunyi, Luffi segera berlari keluar, terlihat dua anggotanya keluar dan berjalan menuju Mansion. Luffi menatap lama wajah Billi yang babak belur, ia mengamati keduanya ada yang tidak beres, dan dengan cepat ia menghampiri Cristian dan Billi.


“Di mana Adira? kenapa tidak bersama kalian” Billi dan Cristian saling menatap satu sama lain, tampak wajah kedua pria itu lesu, mereka menunduk merasa bersalah.


“Maafkan kami boss, nona Adira, se-sebenarnya di culik, aku tidak tahu siapa mereka, empat pria itu datang tiba-tiba dan menyerangku” mata Luffi membulat sempurna, mendengar kabar buruk itu.


“Di mana kalian terakhir dia di culik?” tanya Luffi.


“Hotel Bellagio, lantai empat tepatnya di koridor toilet, kami saat itu hendak makan di Cafe namun, saat Billi menemani Adira ke toilet… aku melihat Billi sudah terbaring di atas lantai dengan memar di wajahnya” jelas Cristian


“Kalian lacak CCTV di lantai empat tempat kejadian itu, segera kirim jika sudah mendapatkannya, aku ingin melihat siapa yang telah berani bermain-main di belakangku” titahnya pada dua anggotanya, ia kemudian bergegas naik ke dalam mobil yang digunakan oleh Billi tadi. Mobil Ferarri merah itu melesat jauh dari halaman Mansion. Ia mengendarai dengan kecepatan penuh.


“Aku tidak yakin jika itu adalah ulahnya, namun aku akan memastikannya sendiri” gumamnya pelan. Kini ia akan menuju ke jalan Paradise Las Vegas, di mana kali terakhir ia bermain Bacarat di salah satu Kasino terbesar di kota tersebut. Ia sangat yakin bahwa penculikan ini adalah perbuatan Stave, ia sangat mengenal kepribadian pria asal Inggris itu.


“Aku tidak akan mengampunimu, jika seujung kukunya terluka. Aku, adalah pria yang tidak pernah mengenal ampun”


.


.


.


.


.


Bersambung