DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 60 Melanggar Aturan Sendiri



Happy Reading 🤗


.


.


.


.


.


Sebagaimana yang dikatakan Luffi ketika di dapur, untuk tidur bersama mulai sekarang, kini mereka telah berada di ruang yang sama, bahkan kasur yang sama. Dua pasangan yang baru berada di tahap pucuk itu sedang tidur saling berhadapan, wajah Adira tidak bisa dikondisikan, terus-menerus menunjukkan pipi kemerah-merahan, Luffi yang melihatnya hanya tersenyum simpul, sekalipun sebenarnya jantungnya sangat berdebar hebat saat ini. Namun, sebisa mungkin ia mengontrolnya, agar tidak diketahui oleh gadis di sebelahnya.


“Sayang” cicit Adira dengan suara pelan, sembari menatap wajah tampan milik Luffi. Pria itu berdehem dan menatap wajah gadisnya, pria itu mendekati gadisnya hingga wajah keduanya begitu dekat, bahkan Adira bisa merasakan napas Luffi yang menerpa kulit wajahnya.


“Emm, wajahmu sangat dekat, aku tidak bisa bernapas” tutur Adira semakin memerah kulit wajahnya. Jantungnya bahkan tidak dapat bekerja dengan baik, rasanya ada tekanan besar disekitarnya, hingga membuat jantungnya bekerja tidak seimbang.


“Aku bisa memberikan napas buatan untukmu” jawabnya menggoda gadisnya membuat Adira semakin salah tingkah, ia terlihat seperti kepiting rebus sekarang, memukul dada bidang Luffi karena merasa gemas dengan tingkah mesum kekasihnya.


Luffi terkekeh kecil dan membelai lembut rambut gadisnya. Adira segera mengontrol rasa dihatinya, dan lebih berusaha menenangkan jantungnya yang tidak bisa diajak kerja sama. Adira mendongak melihat wajah Luffi, keduanya saling beradu pandang, sementara tangan Adira mulai bergerak di dada bidang Luffi, menggambar pola hati di sana.


“Aku sangat bosan jika seperti ini terus, tidak ada yang bisa kulakukan… ummm, bolehkah aku bekerja di perusahaan, menjadi asistenmu? Aku ingin mengenal lebih dalam tentang dunia luar” tuturnya menggigit bibirnya, ia masih berkutat dengan pola yang digambarnya di atas dada Luffi.


Luffi bergerak, siku tangan kanannya berpijak di atas bantal, sementara telapak tangannya bersandar di rahangnya, ia tidur dengan posisi menyamping, dengan sebelah tangan kirinya, bermain-main dengan rambut Adira, mengelusnya terkadang bergerak menyentuh kulit wajah gadisnya yang memanas.


“Sepertinya itu ide yang bagus” jawabnya dengan senyum lebar di bibirnya. Tersirat sesuatu yang direncanakan oleh Luffi, itu bukanlah kabar yang baik, namun hanya dirinya yang tahu, dan Adira masih belum mengetahui rencana mesum Luffi. Mendengar jawaban Luffi yang mengizinkan dirinya untuk bekerja di perusahan, membuatnya sangat senang, ia tanpa sadar memeluk erat tubuh pria itu, tanpa takut konsekuensi yang akan diterimanya.


“Terima kasih sayang, kamu memang sangat mengerti aku” ucapnya bahagia, Luffi tertawa devil dan membalas pelukan dari Adira, namun tangannya tiba-tiba menjalar ke mana-mana seperti tumbuhan merambat yang cepat sekali sudah menguasai tempat yang ditumbuhinya. Adira segera menyadari ada sesuatu yang mengganjal di tubuhnya, ia langsung menjauhi diri dari Luffi, smirk aneh itu terlihat cukup jelas di wajah Luffi, membuat Adira bergidik ngeri melihatnya.


“Tidak boleh melakukannya! besok adalah hari pertamaku masuk kerja, jadi aku tidak boleh terlambat” serunya mengancam dengan tatapan tajam. Ia masih dengan posisi menjauh dari Luffi, sekitar satu meter. Adira mengambil bantal guling dan diletakan di tengah-tengah mereka, sebagai pembatas antara dirinya dengan Luffi.


“Bantal ini adalah pembatas antara kita berdua, kamu tidak boleh melewatinya, mengerti?!” tukasnya dengan wajah serius, Luffi mengangguk pelan tanpa membantah, tidak biasanya pria itu seperti itu, sedikit mencurigakan namun Adira acuh tak acuh, ia langsung menarik selimut dan memejamkan matanya sembari membelakangi Luffi. Terlihat pria itu tersenyum simpul, ia ikut memejamkan matanya dan tertidur bersama kekasihnya.


Di sebuah ruangan bernuansa gelap, abu-abu tua menjadi pilihan yang sangat cocok dengan karakternya sebagai boss dunia bawah tanah, bahkan semua peralatan di ruangan tersebut, memiliki warna yang gelap, mulai dari kasur, sofa, meja, gorden jendelanya, bahkan lampu gantung jenis kaca tergantung di atas plafon di tengah-tengah ruangan kamar itu memiliki warna yang sama. Hingga, terkadang saat siang pun, suasana di dalam kamar tersebut begitu gelap dan sangat mencengkam, tidak ada kehidupan di dalamnya, benar-benar tertutup dari dunia luar.


Selain itu terdapat sebuah patung wanita dengan pose berdiri, tangan kirinya tertekuk menyentuh sebuah kain di atas bahunya, sementara sebelah tangan kanannya memegang kain di bagian pinggangnya. Kain tersebut hanya menutupi bagian depan tubuhnya, sementara wajahnya menengadah ke atas.


Di sebuah kasur king size, seorang gadis yang memakai piyama pendek, menendang bantal guling yang menjadi pembatas, hingga terlempar jatuh ke atas lantai, tidurnya sangat berantakan, dan tiba-tiba dirinya sudah berada di dekat pria yang tidur telentang, Gadis itu seketika memeluknya dengan sebelah kakinya menindih paha pria tersebut.


Tiba-tiba mata Luffi terbuka lebar, dan melirik gadis yang tengah memeluknya erat, ia tersenyum sembari menggeleng. Ia mengubah posisinya dan memeluk tubuh gadisnya. Namun, sebelum itu ia tidak melepaskan kesempatannya untuk melahap bibir Adira, ia tersenyum puas setelah itu ia ikut memejamkan matanya dan tertidur pulas, hingga mentari mulai menampakkan wujudnya, dan mulai menyinari kedua sejoli yang masih tertidur pulas dalam mimpi indah.


“Eughh” lenguhan terdengar dari bibir seksi dan sensual, yang memiliki bentuk tebal bagian bawahnya, biasa disebut sebagai heavy lower lips. Perlahan-lahan mata seorang gadis terbuka, masih terlihat sangat buram, ia mengerjap-ngerjapkan matanya hingga benar-benar melihat dengan sangat jelas, namun seketika itu, ia terkejut melihat dirinya dengan posisi tengah memeluk pria kekar yang bertelanjang dada. Matanya membulat besar dan segera menjauh dari tubuh pria itu.


“Apa yang terjadi padaku? apa mungkin aku yang memeluknya dan melewati batas?” gumamnya pelan, namun masih terdengar oleh Luffi, diam-diam pria itu tersenyum nyaris tak terlihat, sementara Adira masih memperhatikan dirinya, dan bantal yang sudah terlempar di lantai.


“Tidak mungkin aku yang melakukannya, aku mana mungkin punya kebiasaan tidur yang buruk, pasti ini ulah daddy” gumamnya lagi tidak mau mengakui perbuatannya, namun hal itu membuat Luffi membuka matanya seketika, dan segera bangun melihat ke arah Adira, gadis itu langsung menjauh dengan wajah sedikit malu.


“Apa kamu bilang? Aku yang memindahkanmu ke sisiku? Aku punya bukti jika kau ingin melihat kebenarannya” Adira tersenyum malu, ia menggeleng dan perlahan-lahan turun dari atas kasur.


“Heheheheh, tidak perlu… aku, emmm… tidurku pasti sangat berantakan, aku harus turun ke bawah, dan bersiap-siap untuk mandi… bye” Adira segera berlari keluar dari kamar Luffi, pria itu tertawa puas melihat wajah malu Adira. Dirinya hanya asal mengatakan punya bukti, ternyata tidak memilikinya, mana sempat ia melakukannya sebab ada hal penting yang harus ia lakukan kepada Adira, tentunya hal mesum. Memikirkannya lagi membuatnya sedikit terlihat berengsek, sebab ia mengambil kesempatan dalam kesempitan.


“Dua gunungnya sangat kenyal, aku hampir ingin mengurungnya di sini seharian, jika tidak ada rapat penting hari ini… sial sekali”


.


.


.


.


.


Bersambung