DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 38 Sang Pemarah



Happy Reading


.


.


.


.


.


Sinar surya memancarkan sinarnya, menghangatkan kota Las Vegas. Para pekerja mulai beraktivitas dengan kegiatan sehari-hari mereka. Namun, tidak dengan gadis yang terbaring di atas bangsal, matanya masih setia terpejam, dan terlihat sangat nyaman. Sementara itu, seorang pria dewasa terus menatapnya tanpa berkedip sekalipun, tatapannya begitu serius, ia tersenyum lebar melihat gadis itu tertidur, seperti mood booster baginya.


Tangannya terulur menyelipkan anak rambut yang mengganggu wajah gadis itu, bibirnya semakin lebar tersenyum, kala melihat dengan jelas rupa gadis di depannya.


“Bagaimana bisa, daddy membiarkanmu bersama pria lain, sementara kamu sangat polos tentang itu. Daddy tidak akan membiarkanmu berbincang dengan para pria, selain daddy, bahkan jika mereka adalah anggota Talaskar” gumamnya pelan, sembari mengelus lembut pipi Adira. tak berselang lama, seorang suster masuk membawa troli makanan dan menghampiri bangsal Adira.


"Ini bubur dan obat untuk pasien, pastikan untuk segera meminumnya” kata seorang suster sembari meletakan nampan di atas nakas yang berisi semangkuk bubur, segelas mineral dan sebuah obat.


“Baik, saya akan membangunkannya” jawabnya dan suster hanya mengangguk. Lalu setelah itu, suster keluar dengan mendorong troli makanan. Luffi duduk di kursi memandangi wajah Adira yang terkena paparan surya membuatnya menggeliat, tangannya terulur menghalangi sinar tersebut yang menyebabkan tidur Adira kembali tenang, tak sadar Luffi menarik sudut bibirnya tersenyum simpul melihatnya.


“Sayang, ayo bangun. Saatnya sarapan dan minum obat” bisiknya di telinga Adira, namun bukannya bangun, ia semakin mengerat selimut dan lanjut menikmati tidur indahnya. Luffi hanya menggeleng dan tertawa kecil.


“Astaga anak ini, kelakuannya tidak pernah berubah” gumamnya memandangi wajah Adira yang begitu imut.


“Baiklah kalau kamu tidak bangun, biarkan daddy meminta suster untuk menyuntikanmu saja” ucap Luffi yang langsung membuat gadis itu terbangun dengan mata melebar. Ia menatap Luffi marah, dan mencebikkan bibirnya dongkol. Gadis itu sangat membenci suntik, sekalipun hal itu tidak sakit seperti tusukan pisau, namun ia lebih memilih pisau daripada benda berjarum tipis dan kecil. Keimutannya membuatnya merinding, dari kecil ia sudah tidak menyukainya, rasa takut yang menanti saat di suntik itu lebih mengerikan daripada tergores oleh sebilah pisau tajam.


Bentuk kecilnya menimbulkan kekacuan pikiran, membawa suasana menjadi tegang, dan pikiran selalu condong ke hal negatif, ia membenci hal tersebut. Oleh sebabnya, ketika Luffi menyebut suntik ia langsung bangun, sebab suntik begitu menakutkan baginya.


“Menyebalkan!” gerutu Adira dengan tatapan tajam. Luffi acuh tak acuh padanya, ia kemudian mengambil nampan dan meletakan di atas bangsal. Adira menatap semangkuk bubur lalu melirik ayahnya, tatapannya mengisyaratkan ketidakmauan untuk memakan bubur.


“Makanlah sesuatu yang mempercepat kesembuhanmu, agar kamu bisa pulang dengan cepat" Adira menarik sebelah sudut bibirnya, ia benar-benar kesal pada pria di sampingnya itu. Pria yang tidak pernah peka pada situasi. Dirinya sedang sakit, dan ia tidak menyukai bubur, melihatnya membuatnya ingin sekali muntah.


“Aku tidak suka dad” jawabnya dengan tatapan memelas. Namun, Luffi tidak peduli, ia kemudian duduk di bibir bangsal lalu mengambil semangkuk bubur, ia mengaduk-aduknya dan menyendok bubur tersebut kemudian disodorkan di depan Adira.


“Makanlah biar sedikit” dengan penuh paksa, Adira membuka mulutnya dan bubur itu masuk ke dalamnya. Tidak ada rasa sedikitpun di dalam bubur itu, ia menutup mulutnya dengan tangannya dan berusaha untuk memakannya. Ia buru-buru menelan bubur di mulutnya, rasanya sangat hambar dan bercampur pahit, itu sungguh menyiksa.


“Daddy tahu kamu tidak akan menyukainya, tapi bersabarlah demi kesembuhan kamu, mengerti?” Adira mengangguk pelan dan kembali memakan bubur yang di suapi oleh Luffi. Pria itu tersenyum melihat putrinya yang penurut.


“Daddy tidak ke kantor?” tanyanya setelah menelan bubur di mulutnya.


“Tidak”


“Apa karena aku? daddy bisa meminta Arsenio untuk menjagaku, daddy pergilah bekerja, aku tidak ingin daddy libur hanya karena diriku” tutur Adira merasa tidak nyaman sebab Luffi adalah pria yang gila pekerjaan, namun Luffi rela libur demi menjaganya


“Sekarang minum obatnya” Luffi menyodorkan dua butir pil obat berwarna putih, dan segelas air mineral, Adira lalu mengambilnya dan segera memasukkan pil tersebut ke dalam mulutnya. Setelah itu, ia meminum air dua teguk. Adira menyerahkan gelas kepada Luffi, dan pria itu mengambilnya lalu meletakkannya kembali di atas meja nakas.


“Apa kau mau keluar?”


“Dad, aku sungguh tidak nyaman jika daddy menjagaku di sini, dan malah membiarkan pekerjaan daddy terbengkalai, daddy mengorbankan jutaan pekerja di perusahaan daddy demi mengurusku, aku baik-baik saja di sini… lagipula sebentar lagi Arsenio akan datang menjagaku, jadi daddy tidak perlu cemas” jelas Adira memberi pengertian. Namun, sepertinya, pria itu salah mengartikan, ia segera berdiri dan menuju sofa tempatnya tidur semalam.


“Baiklah, jika kamu tidak ingin daddy di sini… dan merasa tidak nyaman. Daddy akan pergi” tutur Luffi dan meninggalkan ruangan Adira dengan tatapan dingin. Tatapan saat pertama kali mereka bertemu, melihat itu Adira merasa jantungnya sakit, seperti ribuan jarum telah tertancap di daging jantungnya.


“Tatapan itu lagi” bisiknya pelan sembari menyentuh dada kirinya yang berdenyut sakit. Ia menghela napas kasar melihat kepergian Luffi dengan perasaan marah. Menatap langit-langit kamar inapnya merasa kesal pada dirinya sendiri.


Ia melakukan itu, murni karena tidak mau menganggu aktivitas Luffi, ia tidak ingin dirinya menjadi beban Luffi, oleh sebabnya ia mengatakannya tidak nyaman atas keberadaan Luffi.


“Semoga daddy bisa mengerti kondisiku” tuturnya berusaha tersenyum. Tak berselang lama, pintu kamar inapnya terbuka, seorang pria berjalan dengan senyum merekah, Adira melebarkan matanya dan membalas senyuma itu.


“Om datang membesukku. Apakah tidak sibuk, hmmmm?” tanya Adira senang.


“Kamu adalah prioritasku, bisakah memanggil nama saja? kedengarannya seperti aku sudah sangat tua” Adira tertawa kecil mendengar kalimat gombal dan jenaka.


“Baiklah, baiklah. Arsenio”


“Hahahaha, good girl (gadis baik)” Arsenio duduk di kursi samping bangsal Adira, ia membawa satu keranjang buah dan meletakannya di atas nakas.


“Bagaimana keadaanmu seakarang?”


“Jauh lebih baik sekarang, terima kasih sudah menjengukku” ucap Adira dan pria itu mengangguk pelan.


Sementara di tempat lain, seorang pria memukul setir mobilnya, mencengkeram benda berbentuk lingkaran dengan kuat, ia benar-benar kesal saat ini. Dia adalah Luffi, ketika keluar dari ruang inap Adira, ia lalu menghubungi Arsenio untuk menjaga putrinya. Namun, ketika melihat kedekatan Arsenio dan putrinya, ia merasa sangat marah. Saat Arsenio datang, ia belum meninggalkan rumah sakit, dan malah mengintip di balik pintu melihat tawa Adira yang begitu ceria. Ia sangat cemburu.


“Dia terlihat bahagia dengan Arsenio dibanding aku, apakah aku adalah daddy yang buruk? bukankah tawa lebarnya ia tunjukkan dihadapanku, bukan pria lain. Menyebalkan sekali!” gerutunya menghela napas kasar. Mobil Bugatti itu perlahan-lahan bergerak meninggalkan halaman rumah sakit. Ia melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.


“Baiklah, jika itu adalah kebahagiaannya, aku tidak akan mengusiknya lagi” tuturnya penuh tekad. Ia menyentuh dadanya yang terasa aneh, perasaannya menjadi kacau setelah mengatakan kalimat yang ia ucap tadi.


“Akkkkkhhhh menyebalkan! benar-benar sial, kenapa bukan aku yang membuatnya bahagia? kenapa harus pria lain? aiiiiish...."


.


.


.


.


Bersambung