
Happy Reading
.
.
.
.
.
Seseorang turun memijakkan kakinya di depan gedung pencakar langit, hotel Wynn Stave Las Vegas adalah tujuan pria itu. Dia adalah Luffi yang hendak mencari pemilik dari gedung yang ia pijaki sekarang. Kaki panjangnya melangkah lebar, memasuki pintu utama, ada begitu banyak pengunjung yang berlalu lalang di sana. Bola matanya terus bergerak melihat ke setiap penjuru hotel lantai satu, ia tidak menemukan Stave. Kemudian ia berjalan menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai dua, namun hasilnya nihil.
“Shit! Kemana dia? Jangan-jangan dia….” Luffi berlari ke arah lift, tujuannya adalah lantai lima puluh, di mana ruangan Stave berada, namun saat hendak masuk, sebuah notifikasi pesan berbunyi, dengan cepat ia meraih ponselnya yang berada di saku celana kanan depan. Ia berhenti di depan Lift dan membuka isi pesan yang di kirim oleh anggotanya.
Sebuah video terpampang jelas di layar ponselnya, ia lalu membukanya dan memutarnya. Terlihat empat pria menghampiri Billi di koridor toilet wanita, ia mengamatinya saksama, tiba-tiba ia menjeda video yang ia putar lalu mengambil tangkapan layar video. Salah satu dari mereka tertangkap kamera yang tengah membelaki kamera, ada sebuah simbol naga di leher pria itu.
“Ternyata geng Revandes yang melakukannya. mereka sungguh mencari mati” tangannya terkepal kuat, lalu berlari menuju tangga lantai satu. Entah kenapa jantungnya berdegub kencang, ia tidak tahu apakah hal tersebut pertanda baik atau buruk, ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Adira saat ini.
“Bertahanlah, aku akan segera datang” batinnya, menahan amarah kepada musuhnya. Setelah berada di samping mobilnya yang terparkir di dekat toko Dior depan hotel Wynn, ia lalu naik dan segera menyalakan mesin mobilnya. Tanpa ba-bi-bu ia menancap gas mobil dan terus menyalip setiap mobil di depannya, ia tidak memiliki waktu lagi, nyawa Adira berada di tangan musuhnya, dirinya tidak bisa menjamin keselamatan putri angkatnya itu.
Sementara di lain tempat, lantai putih berubah menjadi merah, genangan darah bercampur dengan debu. Cairan merah terus menetes dari pisau lipat yang dipegang oleh seseorang. Gadis kecil yang terikat, menatap takut pria yang memegang pisau, dan berjalan mendekat padanya, ia menggeleng takut meminta ampunan dengan tatapan memohon untuk tidak melukainya.
“Ja-jangan, jangan lukai aku!” cicitnya menangis tersedu-sedu, gadis itu meringkuk di sudut dinding, keringat dingin semakin membasahi bajunya, rambutnya kusut dan tidak tertata rapi, bahkan terlihat pipinya yang bengkak memar akibat tamparan keras Stave.
“Nona, ini aku. Anak buah ayah nona…. Aku akan membawa nona pergi dari sini” Adira terkejut kala pria itu bukanlah musuhnya melainkan sosok malaikat yang datang menyelamatkannya, gadis itu terdiam dengan bibir membisu, menatap wajah pria itu yang tertutup oleh kain berwarna hitam.
Perlahan-lahan tali yang mengikat tangan dan kakinya terlepas, ia hendak berdiri, namun tidak bisa. Kakinya keram dan merasa sakit akibat simpul tali yang begitu kuat melingkar di pergelengan kakinya, dan mengakibatkan goresan luka di kaki kecil itu.
Sementara seorang pria terbaring sekarat di dalam ruangan tempat Adira disekap. Pria yang mengaku adalah anak buah Mario, segera menggendong Adira dan membawanya pergi dari tempat menyeramkan bagi Adira. Gadis itu menutup matanya, memeluk erat tubuh kekar pria yang menolongnya.
Pria itu bernama Ali, merupakan kaki tangan Mario di geng Crue Danger. Saat kepergian Mario yang hendak terbang ke New Zealand, ia mengikutinya dari belakang, dan ia tahu bagaimana nyawa Mario direnggut paksa oleh anggota geng Talaskar. Ia merasa sangat buruk menjadi asisten Mario, tidak bisa menolong tuannya kala tuannya berada di situasi bahaya, ia membenci dirinya yang tidak berguna, dan ia akan menebus kesalahannya pada Mario dengan menjaga nona mudanya, mungkin dengan begitu rasa bersalahnya akan berkurang.
Setelah tragedi menyedihkan itu, Ali tidak kembali ke markas mereka, sebab ia tahu bahwa Luffi akan mengambil alih anggota Mario, oleh sebabnya ia bersembunyi jauh dari anggota Crue Danger, agar identitasnya tidak diketahui oleh Luffi. Ia terus memantau nona mudanya, menjaganya dari jarak jauh.
Sebelum penculikan itu terjadi, Ali berada di tempat kejadian, menyaksikan perkelahian seru antara anggota Revandes dan Billi, ia mengamatinya dari jauh, dan tak sedikitpun niat untuk membantu Billi, namun ia tidak tahu jika sasaran dari anggota Revandes adalah Adira, setelah salah satu dari mereka membawa kabur Adira, ia begitu terkejut dan diam-diam mengikutinya. Pria yang mengendarai mobil Toyota Hardtop berwarna hijau melaju dengan kencang namun, tidak menutup kemungkinan bahwa Ali tidak bisa mengejarnya. Dia adalah mantan pembalap, dan ia tahu bagaimana cara mengendarai mobil dengan cepat tanpa terhalang oleh kendaraan lainnya.
Taktik yang ia miliki selama menjadi seorang pembalap mobil di lapangan, bisa ia gunakan di situasi yang sulit, hingga ia bisa dengan mudah mengikuti laju mobil Toyota Hardtop tersebut. Mobil hijau berbelok menuju sebuah gang kecil yang hanya muat satu mobil saja, dan Ali terus mengikutinya dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Jarak antara dua mobil itu kisaran 7 meter.
Jalan terus berbelok dan semakin jauh dari jalan raya, terus memasuki gang yang sempit, namun semakin jauh dia mengikutinya, semakin sepi dan tak seorangpun tinggal di gang tersebut. Tepat di depan gang yang sedikit luas, mobil Toyota hijau itu berhenti di depan bangunan yang sudah lama terbengkalai. Dilihat dari dindingnya yang penuh akan sarang laba-laba juga lumut yang hidup di tembok dan area sekitarnya. Sepertinya daerah tersebut sering lembab dan tak terurus.
Ali kemudian memarkirkan mobilnya jauh dari bangunan terbengkalai itu, agar kehadirannya tidak diketahui oleh sang musuh, setelah memastikan bahwa mobilnya aman, ia kemudian berjalan dan terus menatap pria yang menculik Adira. Tak berselang lama, seorang pria paruh baya muncul dengan senyum lebar di bibirnya, dan diikuti oleh pria berjas hitam. Ia mengernyit alisnya tinggi, bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat mereka menculik Adira. Boss besarnya selalu menutupi identitas putrinya, bahkan anggota Crue danger tidak tahu, keculi Ali itu sendiri.
“Apa yang sudah di lakukan nona Adira sampai bisa menyinggung orang-orang hebat?” gumamnya dengan suara kecil. Setelah melihat musuhnya masuk ke dalam bangunan tua, ia perlahan-lahan maju, dan terus melihat ke setiap penjuru arah, memastikan bahwa ia sudah aman dari pantauan musuh. Ia mengamati situasi di sekitar bangunan tua, dan di bagian dalam, namun dirinya tidak melihat adanya anggota Revandes lainnya, besar kemungkinan bahwa musuhnya hanya tiga orang, itu berarti ia bisa dengan mudah membawa Adira pergi.
Sepuluh menit berlalu, ia kemudian masuk ke dalam, ruangannya sangat luas, dan hanya ada satu ruangan di lantai satu. Bangunan tersebut memiliki 10 lantai. Ia bersembunyi di balik pintu, dan tidak sengaja melihat pria paruh baya keluar dari ruangan, dan berjalan menuju pintu keluar. Ali segera bersembunyi, dan pria yang keluar itu menaiki mobil hitam Bugatti. Ia tersenyum kecil kala melihat satu musuhnya pergi.
“Bagus, aku bisa dengan mudah membunuh mereka”
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung