DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 63 Di Serang



Happy Reading 🤗


.


.


.


.


.


Adira duduk di atas sofa dengan kedua tangan terlipat di atas dada, matanya tertuju ke arah pintu dengan pandangan kosong, bahkan seseorang yang masuk pun tidak disadarinya, pria yang baru saja masuk melihatnya dengan penuh keheranan, lalu segera menghampiri gadisnya itu. Bahkan, ketika menjatuhkan pantatnya di dekat gadis itu, tak sedikitpun menarik perhatian lawan di sampingnya, membuat pria itu berkerut dan menyentuh tangan gadisnya.


“Are you okay?” tanyanya, membuat sang empu tersadar dari lamunan. Ia menggeleng pelan dan tersenyum simpul.


“Hari sudah siang, ayo kita ke restoran”


“Baiklah, aku sudah sangat lapar” keduanya pun bangkit. Karena sekarang adalah waktu makan siang, dua sejoli itu keluar dari ruangan untuk menuju ke restoran sebagai tempat untuk mengisi perut. Seperti biasa, sekretaris Han mengekor dari belakang, berjalan tegak dengan ekspresi datar melihat jalan dan juga menjaga tuannya. Sementara Jesika, ia selalu makan siang di kantin perusahan dan tidak pernah mengikuti bossnya kemana-kaman kecuali atas perintah sang boss.


“Kamu ingin makan apa, sayang?” tanya Luffi sembari menggandeng tangan Adira, gadis itu sangat bahagia, karena Luffi begitu terang-terangan memperlakukan dirinya sebagai kekasih di depan umum, dengan begitu ia tidak perlu cemas akan kedatangan pelakor dalam hubungannya dengan Luffi, sebab ia tahu bahwa pria di sampingnya tulus mencintainya. Ia mengeratkan genggaman tangan, Luffi terkekeh merasakan tangannya begitu erat digenggam oleh gadisnya, mereka saling beradu pandang dan tersenyum mesra.


“Apa saja, sayang” jawabnya singkat. Semua pandangan tertuju ke arah keduanya dengan mata serius, bahkan karyawan di sana merasa heboh sampai memanggil beberapa rekan kerja, untuk melihat sebuah situasi yang tidak bisa dijelaskan.


“Aku ingat sekarang, dia adalah nona Adira… putri boss kita”


“Benarkah? tapi bukankah mereka terlihat seperti sepasang kekasih?”


“Mana ada, mungkin itu adalah perlakukan cinta seorang ayah kepada anak. Andai mereka bukan ayah dan anak, keduanya tampak serasi menjadi pasangan, nona Adira cantik, dan tuan Dannie sangat tampan, betapa beruntungnya bisa berdekatan dengan tuan Dannie, pegangan tanganpun rasanya sudah cukup sekalipun tidak memilikinya”


Para karyawan saling berbisik, saat melihat pemandangan mesra yang dilakukan Luffi dan Adira, keduanya tidak peduli akan omongan publik, yang penting hati mereka semakin kuat akan cinta dan perasaan kepada satu sama lain. Kini, mereka sudah di dalam mobil, sekretaris Han duduk di kursi kemudi, sementara Luffi dan Adira duduk di kursi belakang.


“Kita akan ke restoran mana tuan?” tanyanya, sembari melirik dua orang di belakang dari balik kaca spion bagian tengah.


“Restoran Steakhouse Las Vegas, tidak jauh dari perusahan, jaraknya tidak akan memakan waktu panjang”


“Baik tuan” mobil perlahan-lahan bergerak meninggalkan parkiran perusahan dan menuju ke jalan raya, butuh waktu enam menit untuk tiba di tempat yang di maksud. kini mereka sudah sampai di depan sebuah bangunan dengan nama Restoran Steakhouse Las Vegas. Sekretaris Han mencari tempat kosong untuk memarkirkan mobil, setelah sudah selesai, ia segera turun dan membuka pintu mobil untuk tuannya, sementara Adira membuka sendiri pintu mobil.


Mereka kemudian memasuki restoran tersebut, sekretaris Han mencari meja kosong untuk ditempati tuannya, ia memilih tempat yang berada di sudut ruangan, dekat dengan jendela yang memperlihatkan pemandangan taman di luar. Sementara itu, dia mempersilahkan tuan dan Adira untuk duduk, sementara dirinya mencari tempat lain.


“Paman, apakah tidak bergabung bersama kami?” tanya Adira heran, sekretaris Han membungkuk seraya menjawab.


“Tidak, saya akan mencari meja yang lain, kalian berkencanlah” Luffi diam-diam tersenyum ke arah sekretaris Han karena sudah memahami dirinya yang ingin berduaan dengan Adira, sementara gadis itu tersipu malu dan tidak bersuara lagi. Sekretaris Han memilih meja yang tidak jauh dari tuannya, agar bisa menjaga tuannya dari serangan apapun. Tak berselang lama, seorang pelayan pria datang ke meja Luffi.


“Selamat datang tuan, dan nona… kalian ingin memesan apa?” sapanya dengan suara lembut dan senyum tipis di bibirnya.


“Sayang tolong pesankan untukku, aku ingin ke toilet sebentar” bisik Adira yang merasa perutnya mules.


“Aku akan mengantarmu”


“Tidak perlu, tunggulah aku di sini, aku bisa sendiri” tolaknya membuat Luffi mengangguk mengerti, ia pun membiarkan Adira pergi ke toilet sendiri, sementara dirinya memesan beberapa menu yang merupakan makanan favorit Adira. Ada sepasang mata yang terus melihat pergerakan Adira, orang tersebut segera mengotak-atik ponsel di tangannya, dan terus memperhatikan pergerakan Adira.


Adira yang benar-benar kebelet berjalan dengan langkah terburu-buru, mengikuti setiap arah panah yang menunjukan lokasi toilet di restoran tersebut. Saat tiba di depan toilet wanita, ia segera masuk ke dalam, butuh beberapa menit untuk sampai ke tempat tujuan, lokasinya terletak di belakang restoran. Kini ia sangat lega karena bisa mengeluarkan kotoran di tubuhnya yang ia tahan sedari tadi saat di dalam mobil.


“Hai manis, kau terlihat sangat cantik, apa kamu mau bersenang-senang dengan kami?” ucap seorang pria berjaket kulit berwarna hitam.


“Hehehe, kamu termasuk wanita beruntung, karena bisa menarik perhatian kami dengan mudah” timpal temannya. Adira hanya melirik datar dan tidak peduli, ia berjalan meninggalkan mereka, namun dicegat oleh tiga pria tersebut. Mereka bertiga membuang puntung rokok sembarangan, dan salah satu dari mereka, mencengkal pergelangan tangan Adira.


“Lepaskan! aku malas bertarung hari ini” tegasnya datar, membuat tiga pria itu tertawa jenaka, mereka semakin bersemangat mengganggu Adira.


“Hahaha, benar-benar wanita tangguh, kau terlihat sangat seksi jika seperti ini” Adira merasa jijik melihat wajah yang di penuhi tato bercorak naga.


“Eksekusi saja dia, aku tidak sabar lagi untuk membuatnya merintih dalam kungkunganku, hahahah” mendengar kalimat kotor dari mulut tiga pria itu, membuatnya benar-benar marah, ia langsung menggenggam tangan pria yang menghalanginya, lalu menariknya ke depan dan menendang aset berharganya membuatnya berteriak kesakitan.


“Akkkkhh, berengsek! Wanita sialan, dasar murahan!”


“Serang dia! Jangan biarkan dia lolos!” serunya dengan nada kesakitan. Pertempuran itu pun terjadi di koridor toilet, Adira dengan tangkas menangkis serangan musuh. Dua lawan satu bukanlah sesuatu yang sulit baginya ia bisa mengatasinya dengan mudah.


BUGH


BUGH


BUGH


Bogeman yang dilayangkan musuh tak sedikitpun masuk, melihat ada celah, Adira langsung melayangkan tinjunya, hingga mengenai rahang musuh, membuat sang empu terpental dengan rasa sakit di bagian rahangnya.


“Siapa yang menyuruh kalian? aku tidak akan perhitungan dengan kalian, jika kalian mengatakan pelaku utamanya” tutur Adira masih dengan posisi kuda-kuda yang terlihat siap bertarung.


“Cih! kamu tidak akan pernah tahu, teman-teman segera habisi dia!”


BUGH


BUGH


Tendangan musuh, berhasil ditangkis dengan tangannya, ia bergerak sangat lincah, dan menyerang dari satu musuh ke musuh lain. Ia menarik tangan musuh dan memelintirnya ke belakang, lalu menendangnya hingga tersungkur jatuh, namun tiba-tiba ia merasa pusing di kepalanya, membuat matanya buram dan tidak bisa fokus. Hal tersebut membuat musuh mendapat kesempatan emas untuk menyerang dan tiba-tiba saja.


SREEET


“Awww, ssshhh” ia merasakan tangannya terluka. menyentuh lengannya yang berdarah dan berdiri dengan tubuh tak seimbang.


“Habisi dia sekarang!”


.


.


.


.


.


Bersambung