DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 43 Diam-diam Keluar



Happy Reading


.


.


.


.


.


.


Malam itu Adira bersiap-siap untuk pulang ke Mansion. Gadis itu terus mendesak Luffi untuk membawanya pulang ke rumah, padahal jadwal kepulangannya masih tiga hari lagi, namun ia sangat tidak betah berada di rumah sakit, yang terus-menerus mencium bau obat-obatan yang begitu menyengat di hidungnya. Luffi tidak dapat berkutik ia hanya bisa menuruti kemauan anak gadisnya itu.


Sekarang mereka telah berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Cristian. Luffi dan Adira duduk di kursi belakang, tidak ada yang bersuara membuat suasana menjadi canggung. Adira melihat ke luar jendela mobil, menatap jalanan yang tampak ramai, tak satupun momen yang membuat kota Las Vegas sepi, selalu ramai dengan kebisingan kendaraan dan musik di mana-mana. Mobil hijau dengan empat kursi penumpang perlahan-lahan bergerak, keluar dari halaman rumah sakit yang luas, sesekali Cristian melirik ke arah kaca spion bagian tengah, melihat situasi dua anak manusia yang duduk di belakangnya.


“Ekheem” Cristian berdehem memecahkan kesunyian.


“Nona, bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Cristian melirik ke arah spion, tampak Gadis itu menatapnya dengan senyum tipis di bibirnya.


“Baik om” jawabnya singkat lalu kembali menatap ke luar jendela. Beberapa menit berkendara di jalan yang selalu ramai, akhirnya tiba di tempat tujuan. Sebuah pemandangan yang indah, terlihat bangunan megah nan mewah, sebuah Mansion berdiri kokoh dengan banyak tiang-tiang penyangga sebagai ketahanan pondasi bangunan agar tidak mudah runtuh. Dua orang pria kekar berlari menuju mobil yang baru saja berhenti, mereka kemudian membuka pintu mobil bagian belakang, mempersilakan para tuan dan nona mudanya untuk keluar.


Dua anak manusia itu pun turun, memijakkan kaki di atas setapak dan berjalan masuk ke dalam bangunan megah itu. Sementara itu, Cristian mengangkut barang milik Adira dan membawanya masuk ke dalam Mansion. Ia yang hendak menuju kamar Adira tak sengaja mendengar perdebatan tuan dan nona mudanya itu, membuatnya menghentikan langkahnya, dan segera berbalik arah menuju ruang tengah.


Di dalam kamar Adira, ia sedang merajuk, duduk di atas kasur tanpa peduli dengan kehadiran Luffi yang sedang menatapnya tajam.


“Apa kamu mau sakit seterusnya? Kamu tidak mau makan, apa ingin membuatmu masuk rumah sakit kembali hah!?” Adira melirik Luffi dengan ekor matanya, ia menaikkan sebelah sudut bibirnya, tersenyum sinis.


“Aku mau ke kelab” Jawaban Adira membuat mata Luffi melotot, sebab Adira adalah anak rumahan dan Luffi tidak pernah mengajaknya ke kelab ataupun mengatakan kata tersebut. Ia sangat tahu tentang tempat yang sangat bebas, yang diucapkan Adira. Apapun yang dilakukan di tempat itu tidak akan dilarang. Tindakan ****, ataupun kejahatan lainnya tidak akan digubris di tempat itu, sebab hal tersebut adalah sebuah kelegalan.


Dengan tatapan menusuk serta eskpresi dingin, Luffi melangkah maju ke ranjang, tempat Adira berada. Gadis itu merasa sedikit takut melihat ekspresi yang seperti ingin membunuhnya, pria itu semakin mendekat ke arah Adira, ia bahkan begitu sulit sekadar menelan salivanya.


“Jangan mengatakan kalimat itu lagi, atau jika kau ingin daddy mengurungmu selamanya!” bisiknya dengan nada datar di telinga Adira, perlahan-lahan keduanya saling menatap, tatapan membunuh masih tersirat jelas di mata Luffi, Adira mundur ke belakang, ia merasa takut ketika melihatnya.


“Benar-benar menakutkan” bisiknya dalam hati. Setelah itu, Luffi keluar dari kamar Adira meninggalkan gadis itu dengan perasaan campur aduk, antara kesal juga takut pada kemarahan Luffi. notabenya bahwa sifat Luffi sangat tidak menyukai seseorang yang pembangkang, ia bahkan tak tanggung-tanggung untuk menghabisi siapa saja yang melawannya, termasuk orang yang telah bersama dengannya


Setelah memastikan Luffi tidak terlihat lagi, Adira menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, merentangkan kedua tangannya, begitupula dengan kakinya, ia menatap langit-langit kamarnya, menghela napas panjang, kemudian menghembuskannya kasar.


“Dasar pria kaku! Tidak bisakah peka sedikit, aku begini juga karena dia. Benar-benar daddy, pria yang sangat dingin, aku bahkan sampai beku dibuatnya” gerutunya menendang kakinya ke udara, ia kemudian bangun, meraih ponselnya dan membuka pesan, ia mengetik beberapa kata lalu mengirimkan kepada seseorang yang tidak ada di daftar kontaknya. Setelah itu ia memejamkan matanya sejenak.


TING


Kaki panjangnya berlari ke arah pintu, ia menutup dan menguncinya. Setelah itu, ia berjalan menuju lemari pakaian, dan mengambil setelan favoritnya. Celana jeans hitam sobek-sobek di bagian lutut dan pahanya, sementara atasannya ia memilih menggunakan baju kaos lengan pendek berwarna hitam, tidak lupa jaket kulit berwarna coklat. Kemudian ia masukkan ke dalam tas ransel hitam.


Adira melihat ke jendela ia tersenyum lebar, kali ini aksinya tidak akan diketahui oleh Luffi, ia benar-benar bangga sekarang.


“Jika daddy tidak mau denganku, maka aku akan mencari pria lain untuk kukencani” gumamnya dengan seringai setan. Ia kemudian membuka kunci jendela kamarnya dan melempar tasnya ke luar jendela, sementara itu ia mengganti bajunya menggunakan piyama berwarna ungu. Setelah mengunci kembali jendelanya, ia berjalan keluar menuju dapur, namun ia harus melewati ruang tengah terlebih dahulu, di sana terlihat Luffi, Billi dan Cristian sedang duduk di atas sofa. Dengan angkuh ia berjalan melewati mereka tanpa suara, Luffi melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Semoga mereka tidak mencurigaiku” batinnya berdoa. Ia mengambil air di dalam kulkas dan menenggaknya, setelah itu ia meletakannya kembali, ia berdiri selama lima menit di depan pintu dapur, memastikan tidak ada yang datang ke dapur, setelah memastikan semuanya aman, ia kemudian berjalan ke arah dinding dan membukanya, rupanya ia akan menuju basement tempat kendaraan Luffi berada. Ia berjalan terburu-buru hingga tibalah ia di bawah tanah.


Kali ini ia memilih motor sport berwarna putih, ia mendorongnya keluar dari basement, sedikit berat namun ia tidak akan menyerah. Demi keluar ia harus mengorbankan sedikit tenaganya. Usahanya membuahkan hasil, motor sport itu akhirnya keluar dari ruang bawah tanah, ia kemudian pergi di bagian kamarnya, mengambil tas yang ia jatuhkan tadi. setelah mendapatkannya, ia kembali lagi ke lokasi motornya berada.


Adira pun naik di jok depan motor, dan mulai menyalakan mesin motornya itu. Ia harus segera pergi sebelum, Luffi menyadari kepergiannya, setelah memanaskan mesin motor ia langsung tancap gas. Ia tahu bahwa penjaga di depan Mansion akan melihatnya, namun mereka tidak tahu jika Adira di larang keluar, mereka tidak akan mencegatnya. Benar saja, dua penjaga itu hanya melihat Adira pergi, sungguh gadis itu sedang tertawa puas setelah bisa keluar dari sarang Harimau.


Kali ini ia akan bersenang-senang bersama Arsenio, sebab seseorang yang ia hubungi tadi adalah Arsenio. Kini ia telah berada di depan gerbang, setelah membunyikan klakson, pintu gerbang tinggi itu pun terbuka lebar, dengan ajaibnya. Di depan sana, terlihat sebuah lampu motor sport sedang menyala di sisi jalan, ia tahu bahwa orang tersebut adalah Arsenio, yang sedang menunggunya.


“Kamu sudah lama di sini?”


“Baru saja kok… kamu ternyata berani juga melawan tuan Luffi, itu sangat keren” ucap Arsenio tertawa kecil.


“Dia sayang padaku, itulah sebabnya aku berani” jawabnya enteng. Adira kemudian turun dari atas motornya lalu naik di motor Arsenio, ia duduk di jok belakang, tangannya melingkar di pinggang pria dengan jaket hitam.


“Pegangan yang erat, aku akan tancap gas!”


“Baiklah. Ayo kita bersenang-senang, hahahha” tawanya bahagia, sementara motornya ia tinggal di depan gerbang, entah apa yang terjadi jika Luffi tahu bahwa Adira keluar bersama cowok lain, mungkin saja pria itu akan menggila saat ini.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung