
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Mentari pagi mulai menampakkan wujudnya, seorang gadis mengerjap matanya pelan, merasa terganggu dengan paparan sinar matahari di wajahnya, yang masuk melalui ventilasi dari jendela kamar. Namun, sinar tersebut tiba-tiba hilang dan membuatnya kembali tidur nyenyak. Seorang pria dengan tubuh atletisnya menutupi matahari dengan tubuhnya, sembari melihat pemandangan indah di depan mata. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis, tangannya terulur menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik gadisnya.
CUP
Tiba-tiba sebuah kecupan singkat mendarat di bibir gadis yang sedang tertidur telentang, merasakan kehangatan di bibirnya, matanya langsung terbuka. Orang pertama yang ia lihat ketika membuka mata adalah Luffi, pria yang terus berada dalam ingatannya. Adira tersenyum sekaligus malu, mengingat kejadian semalam yang ia lakukan dengan Luffi. Pipinya menjadi merah seketika membayangkan adegan panas bersama pria di depannya.
“Hayo, lagi mikirin apa hmmm….?” Bisiknya di telinga Adira, Luffi ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh Adira, hingga posisi keduanya saling berhadapan, sebegitu dekatnya, membuat Adira menahan napasnya, wajahnya tak dapat mengkondisikan rasa malu sebab debaran jantungnya berdetak hebat, ia takut jika Luffi bisa mendengarnya. Sekalipun, telah melakukan hubungan terlarang dengan Luffi, ia masih sangat malu, padahal ia tidak pernah merasa semalu ini, jika bersama Luffi sebelumnya. Dari kecil selalu bersama, namun entah kenapa ketika hubungan mereka telah resmi menjadi pasangan, ia sungguh malu.
"Hey, bernapaslah. Apa kau sedang malu? tanya Luffi mencolek hidung mancung Adira, gadis itu menutup mata tersenyum kecil.
“Sayang ingin mengulang kegiatan yang semalam lagi?” tanya Luffi membuat mata Adira melotot padanya, ia berbalik membelakangi Luffi, sementara pria itu memeluknya dari belakang. Luffi tertawa kecil melihat reaksi Adira yang lucu.
“Aku capek, jangan ganggu aku, aku ingin tidur” ketusnya memejamkan mata. Luffi tidak menjawab, namun tangannya yang tadinya berada di pinggang Adira merayap naik ke atas, hingga tepat pada gundukan yang terasa menggemaskan baginya, Adira memekik kaget ia terbangun dengan wajah kesal melihat kelakukan Luffi yang sungguh keterlaluan menurutnya. Matanya melotot dan mendorong tubuh Luffi agar menjauh darinya.
“Aku ingin istirahat daddy! aku masih kecil jadi jangan memintanya lagi!” teriak Adira yang langsung menarik selimut dan membungkus dirinya hingga tak terlihat. Sementara pria yang hanya mengenakan boxer, dan membiarkan tubuh atasnya telanjang, tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Sepertinya, pria itu menemukan keseruannya tersendiri untuk menjahili Adira, rasanya seperti mood booster jika melihat kemarahan Adira. Tidak tahu saja, jika kemarahan seorang gadis bisa meledak hebat karena waktu istirahatnya terganggu, mereka akan berubah menjadi binatang buas jika itu berkaitan dengan kesenangan tidurnya.
“Tapi aku ingin sekali mencicipinya” Luffi berbisik sambil mendesah dan meremas bokong Adira membuat gadis itu bergeser menjauh, Luffi terbahak-bahak melihat respon gadisnya. Ia kemudian bangun dan turun dari atas kasur, berjalan menuju bilik kamar mandi, membiarkan Adira untuk istirahat sebentar, sebab setelah itu ia tidak akan mengampuninya.
Sementara di lain tempat, empat orang pria sedang berdiri di sebuah bangunan tua yang jauh dari perkotaan, bangunan tersebut berada di area pelosok yang tak berpenghuni, salah satu pria menenteng sebuah tas jinjing pria yang berukuran besar. Di dalam tas tersebut berisi uang miliaran juta, digunakan sebagai transaksi ilegal. Mereka ber-empat adalah anggota Talaskar, yaitu Billi, Cristian, Arthur dan Rodalf. Mereka telah membuat janji temu dengan salah satu organisasi yang akan menjual senjata berkaliber tinggi. Terdapat dua jenis senjata, yaitu pistol dan sniper. Senapan sniper yang mereka beli adalah senjata dengan tembakan jarak sangat jauh, dengan kisaran jarak tembak seribu delapan ratus meter, dengan berat peluru tiga belas koma lima kilogram sampai dengan empat belas kilogram, senapan yang bernama Barrett M82- Amerika Serikat termasuk senapan yang cukup berat dalam daftar persenjataan. Panjang dari senapan Barret M82-Amerika Serikat ini, mencapai panjang seratus dua puluh senti meter sampai seratus empat puluh senti meter.
Senapan Barret M82 memiliki keunggulan, bisa menembus batu bata, tentu ketebalan dan padat dari sebuah batu bata tidak diragukan lagi, selain itu bisa menghancurkan pesawat, beton, truk besar, serta digunakan untuk penghancuran bahan peledak dari jarak dekat maupun jarak jauh. Itulah sebabnya, Luffi menginginkan senapan Barret M82 tersebut. Selain itu ada pistol yang paling terkenal di dunia, yang sering digunakan oleh anggota elit atau pasukan khusus militer. Pistol tersebut bisa dikatakan sebagai malaikat maut, yang sekali datang langsung bisa mendatangkan kematian, dan hebatnya lagi, pistol yang menjadi transaksi kali ini pernah tercatat dalam daftar sebagai pistol mematikan di 242 negara.
Pistol tersebut adalah Smith R dan Wesson 600 Magnum yang memiliki warna perak serta bagian gagangnya berwarna hitam. Pistol ini jika digunakan untuk menembak manusia, akan memicu ledakan dan kehancuran yang sangat hebat, bukan hanya menembus bagian daging manusia, namun bisa menghancurkan, oleh sebabnya pistol tersebut dikategorikan sebagai pistol maut. Pistol tersebut memiliki panjang dua puluh empat senti meter, semakin panjang meriamnya maka akan semakin akurasi tembakannya. Kelebihan dari pistol Smith R dan Wesson 600 Magnum adalah pada bagian meriamnya, sebab jika meriamnya semakin panjang maka akan meningkat akurasi tembakan, serta dapat melontarkan peluru dengan kecepatan seratus sepuluh kilometer per jam.
Setelah sepuluh menit menunggu di luar bangunan tua, dua orang pria berjalan dari dalam gedung tua. Dua orang pria itu meminta Billi dan teman-temannya untuk segera masuk. Kini, mereka telah berkumpul, kedua pria botak membawa dua tas yang sangat besar. Billi mengambil tas yang berisi uang dari tangan Arthur. Ada sebuah meja panjang dan besar yang membentang di antara mereka, sebagai jarak kedua kelompok tersebut. Billi meletakan tas jinjing hitam di atas meja, sementara dua pria itu melakukan hal yang sama.
“Ya, kami juga” balasnya kemudian segera mengambil dua tas besar, dan diberikan kepada Cristian dan Radolf, Setelah melakukan transaksi ilegal. Empat anggota Talaskar segera pergi dari sana, memasukkan dua tas berisi senjata di dalam bagasi mobil. Sementara itu, di dalam gedung tua, kedua pria botak mengambil tas hitam, salah satu dari pria botak itu mengirimi pesan kepada seseorang. Tiba-tiba sebuah tembakan terdengar dari luar gedung. Di sana mobil yang dikendarai oleh Cristian segera tancap gas, meninggalkan tempat yang tadi mereka pijaki, suara tembakan yang terdengar disasarkan kepada anggota Talaskar, entah siapa yang melakukannya.
Cristian melirik kaca spion bagian luar, mengamati pergerakan musuh di belakangnya, matanya melotot besar, kala melihat dua mobil hitam tengah mengikuti mereka dari belakang. Cristian segera melajukan mobilnya, menyusuri jalanan hutan yang ditumbuhi oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi.
“Gawat! Kita diikuti, entah siapa mereka?” tutur Arthur dengan wajah cemas. Billi memberikan kode kepada kedua temannya, untuk bersiaga dengan senjata, sebab sewaktu-waktu musuhnya akan menyerang.
“Kamu menyetirlah dengan tenang, biarkan kami akan mengurus mobil di belakang” ucap Billi, dan Cristian mengangguk mengerti. Ketika hendak membuka kaca dan menyerang, dari belakang, sebuah tembakan terdengar lagi dan mengarah pada mobil mereka, dan itu mengenai dinding mobil.
DOR
DOR
DOR
“Tembak ban mobil mereka!” titah Billi dan Arthur mengangguk. mereka hendak bersiap-siap menembak namun tiba-tiba….
DOR
CETIIIIRR
Mobil mereka tiba-tiba oleh dan….
BRAKK
.
.
.
.
.
.
Bersambung