
Happy Reading
.
.
.
.
.
Malam semakin larut, dua sejoli yang baru saja melepas harta berharga mereka sedang beradu pandang dengan tatapan yang sulit diartikan, senyum yang terus terbit dibibir keduanya, menandakan bahwa mereka tidak akan pernah menyesal. Rasa bahagia karena dapat saling memiliki adalah gambaran nyata untuk situasi malam itu.
“Kita akan ke Apartemen” Adira tidak menjawab, sebab tubuhnya merasa remuk sekali, walaupun ia melakukan pekerjaan fisik atau latihan militer, rasa lelahnya tidak seperti yang ia rasakan ketika selesai bercumbu, bahkan rasa lelahnya sepuluh kali lipat dibandingkan, ketika melakukan pelatihan militer. Ia merasa ngeri jika mengingat beberapa waktu yang lalu. Pipinya berubah merah, ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya, ia benar-benar malu saat ini, ingin sekali tenggelam ke dasar tanah, menyembunyikan wajahnya dari pandangan Luffi.
Sementara, pria dewasa yang duduk di kursi kemudi tersenyum tipis mengamati setiap pergerakan kecil Adira, terlihat sangat lucu saat tak sengaja melihat ekspresi malu di wajah gadisnya.
“Dia begitu menggemaskan” batinnya tanpa memalingkan pandangan. Dengan sekuat tenaga, Adira bangun dari posisinya yang telentang, ia merapikan tanktop singlet yang tersingkap ke atas, dan duduk di kursi belakang. Rasa nyeri pada bagian ************ serta vaginanya membuatnya sangat sulit sekadar bergerak. Ia meringis pelan merasakan rasa sakit yang tak wajar.
“Apa itu terluka?” tanya Luffi melirik ke belakang. Adira tidak mengerti dan hanya mengernyitkan alisnya tinggi tanpa menjawabnya. Mata Luffi tertuju di balik celana Adira, gadis itu mengikuti arah pandang pria di depannya, ketika menyadarinya, ia langsung menutupinya dengan tangannya sembari memelototi Luffi. Pria itu tertawa jenaka, melihat reaksi Adira yang berlebihan menurutnya, padahal tanpa ditutup pun, ia telah melihat semuanya, bahkan bagian yang paling kecil pun ia dapat mengetahuinya. Ingatan itu kembali terlintas di otak Luffi, pipinya memerah ia menutup sebagian wajahnya karena tersenyum malu.
“Dasar mesum!” cebiknya dengan bibir mengerucut. Perlahan-lahan mobil yang ditumpangi Luffi dan Adira bergerak meninggalkan tempat yang menjadi saksi cinta keduanya. Untung saja, ketika sedang melepas kesucian, tidak ada satupun yang lewat di tempat mereka main, jika tidak, mungkin saja akan ada berita popular yang terbit besok pagi. Jarak yang mereka tempuh menuju Apartemen pribadi Luffi sekitar dua puluh menit dari tempat mereka berhenti. Sementara, jarak menuju Mansion memakan waktu satu jam setengah, karena waktu yang sudah sagat malam, hingga mengharuskan mereka untuk segera istirahat, apalagi olahraga yang mereka mainkan cukup ekstrem dan menghabiskan banyak tenaga.
Kini, tibalah mereka di tempat tujuan, Luffi memarkirkan mobil di parkiran mobil Apartemen, dan segera keluar dari mobil. Dan berjalan mengitari mobil, tepat di pintu mobil tempat Adira duduk, ia menarik gagang pintu dan menariknya.
“Daddy tahu kamu kesakitan, jadi biarkan daddy menggendongmu”
“Tapi aku malu dad” cicitnya dengan suara pelan. Namun, pria itu tidak peduli, ia langsung menggendong tubuh gadisnya dalam pelukannya. Sementara itu, Adira menyembunyikan wajahnya di balik leher Luffi, ia sungguh malu saat ini, apalagi Apartemen yang menjadi tujuan mereka masih sangat ramai, itu sangat memalukan bagi Adira.
“Kamu tidak mungkin berjalan dengan keadaan seperti ini bukan? Itu kamu pasti sakit, besok daddy akan membelikanmu salep agar tidak membuatnya cidera” jawabnya blak-blakan. Tidak tahu saja jika saat ini, wajah Adira memerah seperti kepiting rebus, mendengar perkataan Luffi yang tidak pernah disaring. Luffi berjalan memasuki lobi lantai satu, di samping kanan lobi, ada sebuah restoran, yang banyak sekali pengunjungnya.
Ada banyak pasang mata yang melihat ke arah Luffi yang tengah menggendong Adira. Namun, i acuh tak acuh pada mereka, ia dengan angkuhnya berjalan sangat gagah, dengan ekspresi dingin.
Luffi menuju lift, yang akan membawa mereka ke lantai yang dituju. Kini mereka telah berada di dalam lift, dan hanya mereka berdua, melihat ada kesempatan emas, Luffi benar-benar memanfaatkan kesempatannya untuk melahap bibir Adira lagi, di saat gadis itu tidak waspada sedikitpun. Luffi mencium dan ******* bibir Adira rakus, hingga ketika pintu lift terbuka, baru pria itu melepasnya. Adira menatap Luffi tajam, dengan bibir mencebik kesal, sementara sang pelaku utama terbahak bahagia karena bisa merasakan lembutnya bibir Adira yang sudah lama ingin ia rasakan.
“Dasar mesum!” katanya tanpa melihat Luffi. Pria itu tersenyum devil lalu berkata
“Biarin, siapa suruh kamu menjadi wanitaku, lagipula daddy mesum sama kamu seorang” diam-diam gadis itu tersenyum simpul, ia menyembunyikan wajahnya di balik leher Luffi, ia tidak mau jika Luffi melihatnya, sebab pria itu sangat mudah besar kepala. Berjalan beberapa menit, tibalah mereka di sebuah pintu dengan papan nama yang bertuliskan presidential suite. Luffi kemudian menekan beberapa tombol angka untuk membuka pintu kamarnya, sebenarnya mudah baginya menggunakan akses kartu, namun ia lupa membawanya.
Pintu kamar tersebut terbuka lebar, ia berjalan cepat dan membaringkan tubuh Adira di atas kasur king size, bed cover putih itu membentang di atas kasur besar, yang bisa menampung empat orang dewasa. Adira perlahan bangun, tubuhnya gerah karena berkeringat akibat kegiatan yang mereka lakukan saat di dalam mobil. Sementara Luffi baru saja keluar dari bilik kamar mandi, ia yang melihat Adira hendak turun segera berlari ke arah Gadisnya.
“Kamu mau mandi? Ayo mandi bersama” tuturnya tersenyum puas. Tanpa menunggu persetujuan, Luffi langsung menggendong tubuh Adira dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi, gadis itu memberontak, namun Luffi menatapnya tajam, membuat Adira seketika tenang, seperti bayi kalem.
“Tenang saja, daddy tidak akan melakukannya. Daddy hanya ingin membantumu mandi”
“Benarkah? awas saja jika berbohong, aku sudah tidak kuat lagi”
“Heeemm” dehemnya sebagai jawaban. Luffi menurunkan Adira ke dalam Bathub yang telah terisi air hangat, dan telah dituangkan sabun beraroma lavender. Setelah itu, Luffi masuk dan ikut duduk di belakang Adira, gadis itu melihatnya dengan penuh curiga, namun karena Luffi telah berjanji untuk tidak melakukannya sekarang, ia menurunkan kewaspadaannya. Terlihat sebuah senyuman tipis di balik bibir Luffi, ia mulai menggosok punggung Adira dengan spon. Namun, ada kejanggalan yang dirasakan Adira, kini ia merasakan tangan Luffi yang semakin kemana-mana, terutama sekarang posisinya saat ini tanpa busana, sepertinya ia telah masuk ke kandang Harimau. Benar-benar sial.
“Bukankah daddy berjanji hanya menggosok punggungku, kenapa tangan daddy kemana-mana?” Adira berbalik menatap Luffi dengan tatapan tajam. Pria itu tertawa kecil dan menarik tubuh Adira untuk duduk di pangkuannya.
“Daddy tidak berjanji. Lagipula kamu yang menggoda daddy duluan, jadi daddy harus menghukummu” pria itu langsung melahap bibir Adira dengan tangan menjalar ke gundukan yang mempesona. Kini mereka kembali melakukan adegan yang terjadi saat di mobil tadi. Adira yang tidak berkutik, membiarkan Luffi melakukan semaunya, sebab ia juga menikmati permainan prianya itu.
.
.
.
.
.
.
Bersambung