DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 46 Pertama Kali



Happy Reading


.


.


.


.


.


Mobil hitam berhenti tepat di depan Kelab House Of Blue Vegas, seorang pria keluar dari dalam mobil dan berlari masuk ke dalam, sebuah pemandangan menjijikan bagi Luffi. Ada banyak sekali pasangan muda maupun yang single sedang bergoyang gembira ditengah-tengah ruangan yang ia pijaki saat ini. Mereka terlihat seperti pemeran utama yang sedang pentas, meliuk-liukan tubuh seksi mereka, untuk menarik perhatian lawan jenis. Luffi berdiri di antara orang banyak, matanya melihat ke penjuru ruangan tersebut, mencari seseorang namun tidak ia temukan.


“Hey tampan, sepertinya kamu sendiri… aku bisa menemanimu bermain” seorang wanita dengan tubuh ramping, baju yang digunakannya sungguh seksi, bahkan terlihat jelas belahan dadanya, betisnya yang panjang akan banyak menarik perhatian kaum pria, wajahnya pun tak kalah cantik. Sempurna! Adalah ungkapan cocok kepada wanita yang menggunakan gaun hitam ketat. Sementara itu, Luffi memandanginya dari ujung kaki sampai kepala, ia menatapnya dingin, dan menepis tangan wanita itu dari tubuhnya.


“Menjijikan!” ucapnya dengan mata penuh merendahkan, membuat wanita seksi itu kesal dan merasa terhina.


“Hah! Pria munafik… aku pasti akan membuatmu berlutut” gumamnya mendengus kesal. Tidak tahu saja, bahwa pria yang baru saja diumpatnya adalah boss mafia bawah tanah. Dia adalah orang yang menyukai nyawa setiap manusia yang mengusiknya, entah apakah perasaannya akan tetap sama jika mengetahui kebenaran dari identitas Luffi yang sebenarnya, atau malah merasa tertantang untuk memilikinya?


Luffi naik ke lantai dua, di sana adalah ruangan khusus VIP, ia membuka satu persatu ruangan, namun masih belum menemukan Adira. Tersisa satu ruangan yang belum dibukanya, ia berdiri di depan pintu yang terbuka sedikit, samar-samar mendengar suara seseorang yang mengatainya, matanya membulat sempurna kala mendengar kalimat yang menyakiti perasaannya.


“Kenapa… kenapa kau tidak pernah melirikku hmmm? Aku yang secantik ini tidak bisa membuat hatimu tergerak, apa jangan-jangan… oh my God (astaga) tidak mungkin, daddyku tidak mungkin penyuka sesama jenis!” itulah kalimat yang didengarnya. Sungguh besar nyali Adira sampai seberani itu mengatakannya. Luffi segera masuk ke dalam dan melihat penampilan Adira yang berantakan, serta seorang pria yang sudah mabuk berat tergelatak di atas sofa.


“Dasar, gadis pembangkang!” Luffi meraih ponsel di saku celananya, mengirim pesan kepada anak buahnya untuk datang ke lokasinya saat ini. Tak lama kemudian dua orang pria kekar masuk, dan menyapa Luffi sebagaimana yang dilakukan bawahan kepada atasannya.


“Bawa pria itu ke rumah sekretaris Han!” titahnya dan langsung dianggukin oleh dua pria dengan setelan jas hitam. Salah satu dari keduanya menggendong Arsenio di pundaknya, seperti memikul beras. Tak lupa ketika keluar, mereka membungkuk pelan dan menutup kembali pintu ruangan di mana sang boss berada. Kini tinggallah dua anak manusia yang berbeda gender, salah satunya tengah mabuk parah dan satunya lagi sedang duduk di atas sofa sembari menatap gadis amatiran itu.


“Hehehe, tetapi jika benar begitu, aku tetap akan mencintai daddy… oh, kenapa ada wajah daddy di sini? Bukankah aku bersama Arsenio, tapi di mana dia? Kenapa wajah daddy ada di depanku… apa mungkin karena aku terlalu mencintai daddy, sampai pikiranku tidak pernah lepas dari bayang-bayangnya. Aisshhhh, siapa suruh daddy terlalu mendominasi hmmmm….” Racau Adira mendongak menatap Luffi yang duduk di depannya, tangannya terulur ke udara hendak meraih wajah tampan Luffi, pria itu segera menariknya hingga membuat tubuh Adira tak seimbang dan….


BRUKK


Adira terjatuh di atas pangkuan Luffi, ia terkekeh dan menjatuhkan kepelanya di pundak Luffi, mengecupnya dan menghirup dalam-dalam aroma pria maskulin.


“Kau sangat ingin dihukum, katakan, hukuman apa yang pantas untukmu, gadis nakal?”


“Aiiiish, aku bahkan sampai dapat mendengar suara daddy, aroma ini? adalah milik daddyku, apa kau benar-benar pria yang kucintai?” ngelanturnya, masih belum menyadari situasi yang sebenarnya. Pria dengan setelan kaos hitam berkerah, dengan bawahan jeans berwarna biru dongker, tengah menatapnya dengan tatapan lembut. Senyum tipis terbit dibibirya yang sedikit tebal. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis mabuk di atas pangkuannya.


“Wow, bibir ini dulu sering menciumku, aku ingin mencobanya sekarang, kau! Harus mengizinkanku mencicipinya, anggap saja… hadiah untukmu, okay!” wajah Luffi menjadi tegang, tatapannya tak berpaling dari bibir merah merona itu, menahan napas dan membiarkan dirinya dicumbui oleh gadisnya. Wajah Adira semakin dekat, bahkan deru napas keduanya terasa hangat di kulit. Bibir mereka hendak saling bertemu namun….


“Boss….” Seorang pria berjas hitam datang menghentikan aksi kedua sejoli di atas sofa. Adira dan Luffi menatap tajam pria pengganggu itu.


“Hey! Jangan menggangguku, pergilah!” teriak Adira kesal. Pria berjas itu segera menutup pintu, dengan perasaan campur aduk, ia segera berlari meninggalkan tempat neraka baginya, karena sudah mengganggu kesenangan bossnya. Sementara itu, di dalam ruangan, Adira mulai melanjutkan aksinya, Luffi yang tidak mampu menahan debaran jantungnya. Menangkup pipi Adira dan….


CUP


Luffi ******* bibir Adira dengan sangat rakus, menggigit bibir bawahnya, melumerinya dengan liurnya. Lidahnya masuk ke dalam mulut Adira bermain-main dengan lidah gadis dalam pelukannya. Sebelah tangannya mengelus punggung dan pinggang gadis itu, sementara tangan lainnya memeluk tengkuk Adira. Ciuman keduanya semakin panas, Adira segera mendorong tubuh Luffi, sebab ia hampir saja kehabisan napas.


“Hosh! Hosh, hosh, hosh… seperti inikah berciuman? Enak sekali” tuturnya dengan wajah memerah. Luffi meraup wajahnya kasar, ia kemudian merapikan baju Adira dan menggendong tubuh Adira dalam pelukannya. Ia merasa bersalah karena sudah mencium gadisnya itu. Tak seharusnya ia melakukannya, sekalipun dirinya hanyalah ayah angkat, namun Adira adalah anak yang ia adopsi sejak kecil, ia membesarkannya dengan penuh cinta, ia tidak bisa menghancurkan masa depannya.


“Kau mengambil ciuman pertamaku, bukankah kau harus mengganti rugi, hmmm?” bisiknya di telinga Luffi, pria itu terkekeh jenaka.


“Kau juga mengambil ciuman pertama daddy, bukankah kamu harus bertanggung jawab?” jawabnya masih tertawa kecil. Adira berdecak dan memukul pelan punggung Luffi. Pria itu berdesir ngilu.


“Cih! daddy telah berciuman dengan tante Sandra, apa daddy berusaha melupakannya hmmmm? Aku akan selalu menyimpan kenangan buruk itu dalam memoriku” gerutu Adira mencebik kesal, ia memonyongkan bibirnya, dan itu adalah kesempatan Luffi untuk mencium bibir yang tidak bisa dilupakannya. Ia benar-benar mengakui kekalahannya sekarang, Adira terlalu menarik perhatiannya, hingga sulit baginya mengatasinya, walau dirinya telah berusaha sekuat tenaga, namun malam ini ia benar-benar kalah dan di taklukan oleh gadis remaja yang dianggapnya putri olehnya.


“Dia menarik tubuh daddy, hingga daddy kehilangan keseimbangan dan terjatuh, posisi kami memang terlihat seperti berciuman. Namun, itu tidak seperti yang kamu lihat, daddy menutup mulut daddy dengan tangan daddy, jadi tidak ada ciuman diantara daddy dengan tante Sandra” jelasnya sembari menuruni anak tangga dan melewati orang-orang yang berlalu lalang.


“Benarkah?” Luffi mengangguk pelan sementara itu, Adira tersenyum lebar dan mengecup bibir Luffi mesra.


“Thank you daddy, l love you so much. (Terima kasih daddy, aku sangat mencintaimu)”


.


.


.


.


.


Bersambung