DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 71 Bullying



Happy Reading


.


.


.


.


.


Terlihat seorang gadis terburu-buru dengan nampan ditangannya yang berisikan sejumlah gelas berisi kopi murni yang diproduksi langsung dari Brazil. Gadis itu adalah Adira, setelah jabatannya diturunkan menjadi office girl, ia langsung berganti pakaian yang biasa digunakan oleh pegawai OB. Hari itu adalah meeting yang akan dilaksanakan sekitar lima belas menit lagi, dan Adira dimintai untuk membawa kopi di ruang meeting.


Sebelumnya ia tidak tahu cara membuatnya, alhasil ia diajari oleh salah satu rekan kerjanya yang sudah bekerja sangat lama menjadi seorang office boy di perusahan PT Plaza Shoping tersebut. Adira diajari bagaimana membuat kopi yang berkualitas dengan cita rasa kopi yang unik, tentu rasanya tidak kalah jauh dengan di Sturbucks.


Memiliki keahlian baru dalam menyeduh kopi membuatnya bahagia, rupanya musibah yang menimpanya tidak selalu buruk, jika dilihat dari hikmah yang didapatkannya. Pelajaran menyeduh kopi, mungkin suatu saat nanti akan bermakna dalam hidupnya, ketika merasakan kopi yang diseduhnya, rasanya sungguh enak. Ia menjadi bangga pada dirinya sendiri.


Di ruangan rapat, telah hadir beberapa petinggi perusahan termasuk, Luffi. Pria itu menatapnya dengan seringai licik, Adira yang menyadari itu sedikit tertekan dan merasa tak suka dengan tatapan menjengkelkan pria itu, ingin sekali menghajarnya sampai babak belur. Tiba dirinya ia di samping Luffi, meletakan segelas kopi buatannya di depan Luffi, pria itu langsung mencobanya, namun Luffi seketika memuntahkannya dengan ekspresi tajam menatap Adira.


“Apa-apaan ini? Siapa yang membuat kopi ini? Rasanya seperti aku meminum lumpur!” hinanya langsung menumpahkan segelas kopi di depan Adira, gadis itu terkejut melihat reaksi Luffi yang marah padanya, temperamen pria itu sangat-sangat buruk, ia yakin bahwa rasa kopinya sudah sesuai, namun entah kenapa ia merasa curiga terhadap Luffi, yang hanya mempermainkannya.


“Ma-maafkan saya, tuan… sa-saya baru pertama kali membuat kopi, saya akan membuat ulang kopi untuk tuan” Tuturnya dengan suara terbata-bata, ia merasa sangat malu terutama di hadapan orang-orang hebat di ruangan yang sama. Adira kemudian meraih gelas sisa kopi yang dibuang Luffi di atas meja lebih tepatnya di hadapan Luffi, namun tiba-tiba Luffi mencengkeram tangannya kuat, membuatnya meringis sakit.


“Aww, sa-sakit” lirihnya dengan suara pelan. Ia meringis karena pergelangan tangannya begitu sakit akibat cengkeraman yang dilakukan Luffi padanya, pria itu menyeringai dengan seringai setan, betapa senangnya Luffi melihat penderitaan Adira.


“Kerjakan dengan benar, kamu sungguh pemalas, menyeduh kopi saja tidak becus… benar-benar wanita yang tidak bisa diandalkan!” ketusnya lalu menghempaskan tangan Adira. jujur saja Adira begitu sakit hati mendengarnya, apalagi di depan banyak orang, ia dengan kepala menunduk bergegas pergi dari ruangan yang seperti neraka baginya, namun panggilan Luffi menghentikannya.


“Bersihkan lantainya! Apa kamu buta sampai lantai kotor pun tidak kamu lihat? Apa saya harus meneriakimu dan memberitahumu, pekerjaan yang harus kamu lakukan?! Wanita sungguh merepotkan.” Ujarnya tanpa welas asih sedikitpun. Adira mengepalkan tangannya geram akan tingkah Luffi yang kekanak-kanakan menurutnya.


“Saya ambil kain pel dulu, tuan”


Setelah menyelesaikan perintah Luffi, Adira buru-buru keluar dari ruangan yang menyiksanya, tidak ada aura positif baginya jika berlama-lama dengan Luffi. Ia kemudian berjalan menuju lift untuk ke pantry di lantai dua puluh tujuh, setiap lantai memiliki pantry tersendiri untuk masing-masing karyawan yang bekerja di lantai tersebut. Sementara lantai dua puluh delapan adalah khusus ruangan rapat dan aula besar pertemuan, tentu lantai tersebut tidak memiliki pantry. Sementara lantai dua puluh Sembilan hanya dikhususkan sebagai ruangan Ceo dan sekretarisnya.


Satu jam berlalu, rapat pun usai. Namun, terlihat wajah Luffi yang semakin tak terkontrol, ekspresi masam dan kesal tampak jelas di wajahnya, ketika seorang office boy yang membawa kopi ke ruangan rapat, tentu pria itu tidak suka. Karena yang diinginkannya adalah Adira, namun gadis itu tiba-tiba tidak bisa karena merasa dirinya kurang sehat. Namun, tetap saja Luffi tidak peduli, setelah rapat selesai, Luffi langsung menuruni lantai perusahannya menuju tempat Adira berada.


Gadis itu sedang beristirahat di ruang istirahat khusus pegawai office girl, ia bersandar dengan mata terpejam di atas sofa, dengan kepala menyandar di sandaran kursi sofa. Beberapa pegawai di sana seketika berdiri ketika melihat kedatangan Luffi yang mendadak sekali. Luffi mengangkat tangannya dan menggerakan jarinya sebagai isyarat agar mereka keluar dari ruangan tersebut.


Luffi bertepuk tangan cukup keras, hal itu mengejutkan Adira yang tertidur, ia terbangun gelagapan dan langsung berdiri membungkuk hormat kepada Luffi. Pria itu tertawa kecil melihat reaksi takut Adira, sementara gadis itu meremas tangannya, dan merasa bersalah karena istirahat di saat jam kerja.


“Mohon maaf tuan, saya hanya istirahat sebentar, tadi kepala saya pusing dan perut saya juga sakit” ucapnya masih dengan kepala menunduk. Luffi berdecak dan menjatuhkan pantatnya di atas sofa, pria itu duduk dengan kaki menyilang sembari menatap wajah Adira yang tengah ketakutan.


“Hahahah, apakah tidak ada alasan yang lebih bagus lagi? Kamu membuat saya muak, kinerjamu benar-benar buruk… apakah kamu benar-benar bisa kerja?” provokasinya dengan senyum lebar di bibirnya. Adira hanya menunduk dan tidak mengelak, sebab perbuatannya sebenarnya salah. Seharusnya ia tetap bekerja sekalipun dalam keadaan sakit, apalagi ia hanya sebagai pegawai biasa yang tidak memiliki kenalan yang baik.


“Dia bahkan tak sedikitpun peduli padaku, rasa sakit pada fisikku seketika menghilang, hatiku sungguh perih” batinnya menahan tangis.


“Gugurkan anak dalam kandunganmu, jika tidak ingin merasa tersiksa” bisik Luffi tanpa perasaan. Adira menatap tajam Luffi, sorot kebencian terpancar jelas di matanya.


“Aku akan tetap mempertahankan bayi dalam kandunganku, bahkan jika nyawaku menjadi taruhannya, jangan pernah mengatakan kalimat itu lagi Luffi, jika tidak ingin menyesal dikemudian hari” jawabnya penuh penekanan, Adira langsung meninggalkan Luffi dengan linangan air mata. Hatinya semakin hancur, merasa patah hati akan sikap Luffi yang semakin keterlaluan, ia memang masih mencintai Luffi, namun ia harus menguburnya sekarang, sudah tidak ada gunanya bersabar terhadap pria yang tidak memedulikannya, biarkan anak dalam rahimnya menjadi pengganti sosok Luffi yang sangat dicintainya, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk pergi jauh dari kehidupan pria itu…


“Mommy akan selalu melindungimu nak, kamu yang sabar yah sayang, baik-baik di dalam perut mommy… mommy sangat mencintaimu, sayang” bisiknya dalam hati.


.


.


.


.


Bersambung