
Happy Reading
.
.
.
.
Seorang wanita dengan casual style, celana jeans hitam, kemeja putih yang dimasukan ke dalam celana dan di sandingkan dengan jas hitam, tidak lupa sepatu flat shoes yang telah siap di kakinya. Tatanan rambutnya ia kuncir kuda agar terlihat rapi, tidak lupa juga polesan make-up ringan ia aplikasikan di wajahnya, bibir merah muda itu begitu cerah di bibirnya, hal itu tampak segar di mata siapa saja yang melihatnya. Tidak lama kemudian terdengar suara tapak kaki yang berjalan dari arah lift, sontak wanita yang duduk di sofa ruang tengah, melihat ke arah orang yang berjalan, matanya terbelalak dan tidak berkedip sedikitpun.
“Tampan sekali, padahal aku setiap hari melihatnya dengan stylenya seperti itu, namun hari ia seperti seorang pangeran” gumamnya seketika berdiri, masih dengan posisi memandang pria yang sudah berada di depan matanya. Ia bahkan tidak sadar jika pria itu menciumnya tadi.
“Aku sadar, aku sangat tampan, tapi lihatlah air liur kamu sudah jatuh” bisik Luffi di telinga Adira, membuat sang empu terkejut dan melap bibirnya, dia tertipu dan menatap kesal pada pria di depannya, mencebik kesal dan melipat kedua tangannya.
CUP
“Selamat pagi kesayanganku” pipi Adira berubah merah, mendapat kecupan singkat di bibir, serta sapaan mesra dari mulut prianya, hati siapa yang tidak berdebar jika diperlakukan seperti itu? hatinya seketika meleleh, ia bahkan ingin sekali mengunci dan mengikat pria itu di kamar, agar tidak seorang pun bisa menikmati ketampanannya, serta keromantisannya.
“Jantungku hampir saja copot, kamu membuatku tidak berdaya” ucapnya memonyongkan bibir. Keduanya tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sedang memperhatikan tingkah keduanya. Mereka masih asik dengan dunia asmara, seakan mereka adalah pemilik dari Bumi ini, sementara yang lainnya hanya kontrak.
“Apa sebaiknya kita tidak perlu ke kantor? Kita bisa menghabiskan masa-masa indah di kamar, bagaimana menurutmu sayangku?” bisik Luffi semakin mendekati Adira, gadis itu mundur ke belakang dan tanpa sadar ia terjatuh di atas sofa, Luffi tersenyum puas melihat wanitanya yang tidak bisa berkutik di hadapannya, ia sangat menyukai dirinya yang mendominasi, merasa paling hebat dalam menaklukan hati Adira membuatnya berbunga-bunga.
Wajah keduanya semakin dekat, bahkan deru napas di antaranya terdengar cukup jelas, terpaan napas membuat keduanya semakin hilang kendali, seperti sebuah magnet yang saling memikat. Mata saling bertemu, jantung berdebar hebat, iringan lagu pun terdengar di telinga, semakin membawa suasana yang hendak menyatukan kedua bibir dari dua sejoli itu. Saat hendak berciuman tiba-tiba suara deheman seseorang terdengar di samping mereka.
“Maaf mengganggu kegiatan tuan, tapi kita harus segera ke perusahan” dia adalah sekretaris Han, dari tadi ia melihat jelas keintiman antara Luffi dan Adira, sedikit tersirat ketidak sukaan dirinya terhadap Adira yang menjerat tuannya, entah kenapa dari dulu ia benar-benar membenci putri dari Mario, bukan karena Adira adalah musuh, melainkan kedekatannya dengan Luffi, membuatnya sangat tidak menyukainya.
Sementara itu, wajah Luffi sedikit terlihat kesal, menatap tajam ke arah sekretaris Han, sedangkan Adira segera bangkit dari sofa dan merapikan pakaiannya, dan melempar senyum hangat pada sekretaris Han, namun pria itu hanya membalas dengan tatapan dingin, membuat Adira menjadi kikuk.
“Kenapa paman Han tidak menyukaiku? Dari dulu tatapannya tidak pernah berubah, apa karena aku adalah putri dari musuhnya?” batinnya menunduk takut. Luffi yang menyadari tingkah Adira yang tidak nyaman di dekat sekretaris Han, segera meminta sekretaris Han untuk segera pergi ke perusahan.
“Tidak apa-apa, aku akan menjagamu” bisik Luffi dan Adira mengangguk pelan. Mereka kemudian naik ke dalam mobil, Adira dan Luffi duduk di kursi belakang, sementara sekretaris Han duduk di kursi kemudi. Selang lima menit, mobil pun bergerak meninggalkan halaman Mansion. Suasana, di dalam mobil tampak sunyi, tidak ada yang bersuara seorang pun. Sementara, Adira melihat ke luar jendela dan menikmati semilir angin yang masuk ke dalam mobil, menerpa kulitnya, ia sangat menikmatinya, memejamkan mata dan mengirup dalam-dalam udara pagi itu.
“Kau begitu menikmatinya, apa kau ingin liburan?” tanya Luffi melirik gadis di sebelah kursinya. Adira tersenyum lebar dengan mata berbinar. Jujur saja selama ini ia belum pernah liburan ke manapun, Luffi begitu ketat menjaganya, dan tidak membiarkannya pergi.
“Apakah boleh aku liburan?” tanyanya memastikan pernyataan dari pria posesif.
“Tentu saja, sayang… asal itu membuatmu bahagia”
“Aku hanya ingin bersama kamu, kalaupun mau liburan, aku harus denganmu” jawabnya membuat Luffi tersenyum senang, sedangkan pria yang mengendarai mobil hanya mendengarkan dan fokus melihat jalan. Butuh dua puluh menit untuk sampai di perusahan milik Luffi. sekretaris Han segera turun dan membuka pintu mobil untuk tuannya, sementara Luffi membuka pintu untuk gadisnya. Hal itu, tidak disukai oleh sekretaris Han, terlihat dari sorot matanya yang tajam ke arah Adira, gadis itu mengalihkan pandangannya dari pria dengan setelan jas berwarna hitam.
“Siapa dia? Apakah dia adalah keluarga tuan Dannie?”
“Dia terlihat sedikit familiar, tapi aku tidak bisa mengingatnya”
“Dia cantik sekali, apa dia adalah adik tuan Dannie?”
“Aku ingin menjadikannya kekasihku, semoga aku bisa mendapatkannya, gadis cantik seperti dia, tidak boleh di sia-siakan”
Mereka berbisik sembari melihat kedatangan Adira di perusahaan Luffi dari jauh, mengamati setiap pergerakan dan tubuh rampingnya, bahkan ada yang sampai tidak mengedip karena begitu terfokus pada wajah cantik Adira, bahkan ketika pintu lift tertutup pun mereka tidak menyadarinya, tidak tahu saja jika gadis yang mereka taksir adalah milik boss mereka sendiri.
Tibalah tiga anak manusia di lantai paling atas, mereka keluar dari dalam lift dan berjalan menuju koridor yang akan membawa mereka ke ruangan Luffi, di sana terlihat sekretaris Jesika yang sudah siap menyambut bossnya dan menunduk hormat pada Luffi juga Adira.
“Hari ini, apa saja agendaku, Han?” tanya Luffi setelah duduk di kursi kebesarannya, sementara Adira melihat-lihat ruangan Luffi yang cukup luas dan besar.
“sepuluh menit lagi, akan ada rapat bersama perusahan dari group Berlian, tuan” jawab sekretaris Han dan Luffi mengangguk mengerti.
“Siapkan filenya, dan kamu duluan ke ruang rapat, ada yang mau kuurus sebentar” tanpa banyak tanya, sekretaris Han mengangguk, ia berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil dua dokumen di atas meja, setelah itu ia berjalan keluar, Adira menatapnya dengan tatapan santai, dan menghela napas berat. Tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya, ia tahu itu pasti ulah Luffi. Pria itu menjatuhkan dagunya di atas bahu Adira dan menghirup dalam-dalam aroma parfum mawar di tubuh gadisnya.
“Kamu tunggu di sini dulu ya sayang, aku ada rapat delapan menit lagi… kamu bisa berjalan-jalan melihat-lihat perusahan, aku akan meminta Jesika menemanimu” tuturnya, setelah itu mengecup leher Adira, membuat sang empu merinding geli.
“Jangan lakukan itu, bagaimana jika ada yang melihat tandanya?” tutur Adira berusaha melepas pelukan Luffi, namun pria itu tidak menggubrisnya, ia semakin memperkuat pelukannya dan mengecup leher Adira, bahkan sampai meninggalkan jejak stempel kepemilikan di sana.
“Bodoh amat, kamu adalah wanitaku… kenapa harus peduli dengan pendapat orang lain” ucapnya enteng, ia membalikkan tubuh Adira hingga menghadap padanya, dan langsung mencium bibir seksi Adira, ia ********** dan bermain-main dengan lidah Adira. Gadis itu mulai terbuai dengan permainan prianya, namun seketika ia tersadar, bahwa Luffi harus meeting sekarang, ia segera mendorong tubuh Luffi membuat ciuman mereka lepas. Ekspresi Luffi tidak dapat dikondisikan, ia sangat kesal karena harus mengesampingkan hasratnya untuk sesaat, padahal dirinya sangat ingin melakukannya, namun tuntutan kerja membuatnya harus mengurungkan niatnya terlebih dulu.
“Jangan membuat orang lain menunggumu, pergilah!” seru Adira, mengelap bekas liur Luffi di bibirnya. Prianya dengan lesu berjalan keluar dari ruangannya, Adira tertawa kecil melihatnya.
“Dasar pria mesum”
.
.
.
.
.
Bersambung